Selasa, 18 November 2025

TUNTUNAN BAGI PENUNTUT ILMU

 



TUNTUNAN BAGI PENUNTUT ILMU

AGAR AMAN DAN SELAMAT DALAM MENIMBA ILMU AGAMA

Apapun dalam *mendalami agama Islam* harus berpegang kepada fatwa salafush sholich. Jika tidak demikian, maka akan sangat sulit mendapatkan pencerahan keagamaan yang benar-benar lurus sesuai Nabi Muhammad ﷺ. Jika pendapat Ulama' kholaf (Ulama' kurun baru di atas tahun 300 H) berpandangan telah sesuai dengan pandangan ulama Salaf Sholih, maka barulah diikuti. Jika tidak, maka bisa celaka sebab menyelisihi Nabi Muhammad ﷺ.

Mengenal para As Salafush Sholich adalah suatu bagian pokok yang diwajibkan terkait menyerap ilmu-ilmu agama. Setelah itu, barulah menetapkan siapa-siapa yang aman untuk diikuti. Maka jangan mengikuti Wahhabi Salafi atau Kaum Mujasssimah Musyabbihah.

*Selamat & Aman* Allah memang membuat perbedaan keadaan masing-masing manusia. Baik kapasitasnya dalam berbuat dan berfikir. Itu kebijakan Allah yang dengan itu manusia bisa saling isi dan juga untuk membedakan mana baik & buruk, mana lurus & sesat. *Ummat Islam diperbolehkan dalam perbedaan tapi bukan untuk saling menyalahkan.*

_Selama yang diperbuat & diyakini sesuai dengan Nabi maka itu sudah pasti selamat & aman._ Namun kenyataan bahwa, Rosulullaah juga mengingatkan tentang adanya penyesat dari kaum sesat. Ada Nabi palsu, ada Ulama' Suu' yang mengajarkan & mengajak kepada keburukan & kesesatan. Maka itulah Para ulama penerus Nabi Muhammad ﷺ menerangkan mana yang lurus atau yang sesat.

Agar kita dapat mengenali mana yang harus kita ikuti, maka harus berupaya mengenali pengajaran Islam secara tepat. *Bagaimana caranya?* Wajib mengikuti pemahaman yang terjamin keamanan dan keselamatannya sebagaimana yang diterangkan oleh Rosulullah. Agar kita sampai kepada yang dimaksud oleh Rosulullah itu, kita harus meminta pendapat dari banyak orang terkemuka dalam agama.

Jangan sampai kita memutuskan sikap dengan apa yang ada diri kita sendiri. Karena hal itu tidaklah memadai. Sebagai calon murid dan ingin menimba ilmu agama, jangan sampai bersikap tergesa-gesa dalam mengambil keputusan lalu menerima secara asal-asalan suatu pemahaman keagamaan Islam tertentu sampai kita berwawasan luas.

Maka harus berusaha memilih dan benar-benar dapat merasakan pengajaran yang mendamaikan hati. Terlebih bagi mereka yang baru mau menimba ilmu agama, sementara sebelumnya berada dilingkungan yang kurang agamis.

Adapun ciri-ciri pengajaran yang dapat mendamaikan hati antara lain:  1. Mengajak kepada penyempurnaan  Iman dan amalan sholih pada diri sendiri. 2. Mengajak kepada kerukunan dan menjauhi pertengkaran antara sesama muslim. 3. Mendidik hati agar hati tetap bersih. 4. Mendidik jiwa berakhlaq mulia. 5. Memilih yang terbanyak dari ummat Islam yang sesuai dengan arahan Nabi Muhammad ﷺ yaitu Ungkapan *Assawaad Al A'zhom & Al Jama'ah, Ana Wa Ashchaabii* itulah kelompok yang baik dan lurus.

Saat bicara Al Qur'an maka wajib bawakan *Tafsir Ulama' Salaf.* Saat bicara Al Chadits maka wajib bawakan *Sarah Al Chadits Ulama' Salaf.* Saat bicara amaliyyah Saat bicara 'Amaliyyah maka wajib bawakan *Pendapat Ulama' Salaf dan Pengikut Al Madzaahib Al Arba'ah.* Kalau ngomong agama model asal-asalan, itu berbahaya (sesat _menyesatkan) bagi diri sendiri dan orang lain. 

Kalau level penimba ilmu, sebaiknya banyak-banyak mendengarkan saja dari banyak Ulama'. Walaupun tak membatasi, tetapi tak boleh *Tergesa-gesa Menyimpulkan*  sampai mendapatkan *FATWA TERBANYAK.* Dan Ulama' yang terbanyak di muka bumi adalah ASWAJA yang telah eksis memimpin sejak Abad ke 1 sampai abad ke 12H.

*BELAJAR DULU & MENIMBA ILMU DARI BERBAGAI ULAMA'!* Pendapat Ulama' Itu Banyak ulama' itu banyak,
*PILIH* yang paling sesuai dengan nabi Muhammad ﷺ .
Berdialog dalam rangka MENCARI KEBENARAN dan UNTUK MEMANTABKAN DIRI SENDIRI _(bukan memaksakan pemahaman sendiri kepada orang lain, terlebih lagi memaksakan pemahaman yang masih belum sempurna)._

*CARILAH DULU SEBANYAK-BANYAKNYA GURU*.
Terima pendapat terbaik,  *terbanyak, yang tersalaf, & tersholich.* Bukan AL QUR'AN & AL CHADIST yang salah, tapi manusia lah yang salah tentang cara memahaminya. Lebih baik *MELURUSKAN NIATAN* dahulu dalam menuntut ilmu daripada langsung membicarakan (Syari'ah) dan meyakininya ('Aqidah). Jangan *MEM_BLOKIR_DIRI* terhadap aneka macamnya pendapat ulama'. 

Lebih baik memperbanyak MENDENGAR & MEMBANDINGKAN, mana-mana yang LEBIH BAIK & SESUAI dengan *Rosulullah Sahabat, Tabi'iin, Tabi'uttaabi'iin dan Orang-orang Sholich yang hidup pada QURUN DIDEKATNYA.*

Dan *JAGALAH AKHLAQ*  agar tetap baik, jangan sampai SALAH UCAPAN atau SIKAPAN dalam membicarakan atau menerapkan ilmu, sebab SETIAP UCAPAN (TULISAN) & SIKAP PASTI DI TUNTUT DIPERTANGGUNG JAWABANNYA di hadapan Allah. Dan *JAGALAH KEBERSIHAN HATI* ... Jangan sampai menanam _penyakit-penyakit ke dalamnya._ Karena iblis yang sangat luas ilmunya saja hanya mendapatkan _gelaran kafir dan mendapatkan La'nat Allah_ oleh sebab *kedengkian dan kesombongannya.*

*

NASIHAT UNTUK PENUNTUT ILMU

Nasihat untuk penuntut ilmu adalah untuk memurnikan niat hanya karena Allah, bersungguh-sungguh, menghormati guru, berdoa dan bertawakal, serta mengamalkan ilmu yang didapat. Selain itu, penting untuk memiliki ketekunan, kesabaran, dan menjauhi pergaulan yang tidak bermanfaat, serta menjadikan ilmu sebagai cahaya untuk menerangi jalan hidup. 

ADAB DAN SIKAP

Luruskan niat: 
Niat mencari ilmu harus karena Allah SWT, bukan untuk duniawi. 

Hormati guru: 

Hormati guru dengan penuh adab, mulai dari mengucapkan salam terlebih dahulu, mendengarkan dengan khusyuk, dan berbicara sopan. Hindari menentang atau menyanggah guru tanpa adab. 

Bertawakal dan berdoa: 

Jangan hanya mengandalkan usaha, tetapi juga berserah diri kepada Allah melalui doa dan tawakal. 

Jauhi maksiat: 

Menjauhi maksiat dan menjaga hati serta perilaku agar terhindar dari hal-hal yang dapat menghalangi ilmu. 

USAHA DAN SEMANGAT

Tekun dan bersungguh-sungguh: 

Ilmu tidak datang dengan mudah, butuh kesungguhan, ketekunan, dan konsistensi. 

Beramal: 

Jangan hanya semangat menuntut ilmu, tapi juga semangat mengamalkannya. Ilmu yang tidak diamalkan cenderung tidak akan bermanfaat secara maksimal. 

Jadikan ilmu sebagai cahaya: 

Gunakan ilmu sebagai penerang hidup, bukan sekadar pengetahuan untuk menjadi pintar. Ilmu yang sejati akan membawa ketenangan hati dan kebijaksanaan. 

Jangan pernah merasa cukup: 

Dunia selalu berkembang, jadi jangan pernah puas dengan apa yang sudah dipelajari. Teruslah belajar dan jangan mudah menyerah. 

HAL-HAL PENDUKUNG

Pergaulan yang baik: 

Jauhi pergaulan yang tidak bermanfaat dan pilihlah teman yang saleh dan baik agamanya. Perilaku manusia cenderung meniru, jadi pilihlah lingkungan yang baik untuk tumbuh.

Manajemen waktu: 

Jangan sia-siakan waktu dengan berlebihan dalam istirahat atau hal-hal yang tidak produktif. Istirahat secukupnya untuk mengembalikan energi, namun jangan berlebihan. 

*

NASIHAT IMAM ASY-SYAFI'I UNTUK PENCARI ILMU MENEKANKAN ENAM SYARAT UTAMA: 

Kecerdasan, Kemauan kuat (rakus ilmu), Kesungguhan, Memiliki bekal, Kedekatan dengan guru, dan Waktu yang panjang. Beliau juga menekankan pentingnya kesabaran dalam belajar, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang bisa diamalkan, dan pentingnya ilmu sebagai penopang kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. 

ENAM SYARAT MENUNTUT ILMU

Kecerdasan (Dzaka'): Kemampuan akal yang sehat untuk memahami ilmu.
Kemauan kuat/Rakus ilmu (Hirsun): Keinginan yang tinggi untuk terus menuntut dan menyerap ilmu.
Kesungguhan (Ijtihadun): Keuletan, kerja keras, dan usaha yang bersungguh-sungguh.
Bekal (Dirhamun): Kesediaan modal atau biaya untuk menunjang proses belajar.
Kedekatan dengan guru (Suhbatu ustadzin): Keberadaan guru yang membimbing, dengan tetap menjaga adab.
Waktu yang panjang (Thulu zaman): Memahami bahwa ilmu membutuhkan waktu yang lama untuk diraih. 
Sabar: Siap untuk menghadapi kesulitan, karena siapa yang tidak sabar dalam pahitnya belajar akan menanggung kebodohan seumur hidup.
Ilmu yang bermanfaat: Ilmu yang hakiki adalah yang bermanfaat dan tercermin dalam kehidupan, bukan sekadar hafalan.
Kemuliaan: Ilmu dapat mengangkat derajat seseorang menjadi mulia, bahkan jika ia berasal dari keluarga yang tidak terpandang.
Manfaatkan waktu muda: Masa muda adalah waktu krusial untuk belajar. Kehilangan waktu belajar di masa muda, kelak akan terasa kerugiannya.
Prioritaskan akhirat: Jadikan akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia di tangan. Kesuksesan di dunia dan akhirat diraih dengan ilmu. 

PESAN IMAM SYAFI'I UNTUK PENCARI ILMU

Pesan-pesan Imam Syafi'i menekankan pentingnya keseimbangan antara akal dan wahyu dalam istinbat hukum, dengan menetapkan bahwa akal digunakan untuk memahami teks wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah), yang menjadi sumber hukum utama. Ia juga mengajarkan pentingnya akhlak yang baik agar ilmu yang dimiliki bermanfaat dan penguasaan bahasa untuk memperhalus budi pekerti. 

PESAN-PESAN PENTING IMAM SYAFI'I:

Menjaga keseimbangan akal dan wahyu: Imam Syafi'i menekankan bahwa akal harus digunakan untuk menafsirkan teks agama, dan semua penarikan hukum harus tetap didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Ini menciptakan keseimbangan antara nalar dan wahyu.

Pentingnya akhlak: Beliau berpesan, "Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat." Ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak dibarengi dengan akhlak yang baik akan sia-sia.

Manfaat penguasaan bahasa: Beliau menganjurkan untuk mempelajari bahasa, dengan mengatakan, "Barangsiapa yang mempelajari bahasa, maka akan lembut tabiatnya." Penguasaan bahasa akan membentuk kepribadian yang santun dan beradab.

Pengembangan ilmu logika: Imam Syafi'i juga menyarankan, "Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat." Ini menggaris_bawahi pentingnya logika dan penalaran yang tajam dalam berbagai aspek kehidupan.

Kebebasan dalam berijtihad: Beliau memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk mengikuti hasil ijtihad yang mereka anggap paling cocok, dan tidak harus selalu mengikuti ijtihadnya sendiri. 

Tinggi kedudukan: Orang yang memiliki kedudukan tertinggi adalah orang yang tidak sombong atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain karena jabatannya atau kedudukannya.

Banyak kelebihan: Orang yang paling banyak kelebihan atau kemuliaannya adalah orang yang tidak menganggap dirinya memiliki kelebihan, karena ia sadar bahwa segala kebaikan berasal dari Allah.

Kerendahan hati: Kata-kata ini adalah bentuk dari kerendahan hati dan kesadaran bahwa segala sesuatu yang baik adalah anugerah dari Tuhan.

Makna mendalam: Kutipan ini mengingatkan bahwa hakikat kemuliaan dan kelebihan sejati adalah ketika seseorang tidak merasa hebat, melainkan terus bersyukur dan merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. 

ORANG YANG PALING TINGGI KEDUDUKANNYA DI MATA IMAM SYAFI'I

Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya. Ungkapan ini menekankan pentingnya kerendahan hati dan tidak bersikap sombong, meskipun memiliki kelebihan dan kedudukan. 

"Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya...": Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi (misalnya dalam ilmu, kekuasaan, atau harta) akan tetap dianggap rendah hati dan tawadhu jika ia tidak merasa dirinya memiliki kedudukan tertentu.

Kata Imam Syafii Saat Berdebat dengan Orang Bodoh, Lebih Baik Diam

Imam Syafi'i adalah ulama besar yang sangat dihormati di kalangan umat Islam. Sebagai pencetus madzhab Syafi'i, imam besar ini sangat dikenal dengan keluasan ilmu dan kebijaksanaannya.
Salah satu petuahnya adalah tentang bagaimana menyikapi perdebatan, khususnya dengan orang bodoh. Berikut penjelasannya.

Kata Imam Syafi'i Saat Berdebat dengan Orang Bodoh

Pendapat Imam Syafi'i banyak diadopsi para ulama, bahkan kata-katanya atau syair darinya bisa menjadi acuan dalam bersikap. Salah satunya adalah sikap saat berdebat dengan orang bodoh.

Tidak Mencari Kemenangan

Mengutip Syarah Diwan Imam Asy Syafi'i oleh Muhammad Ibrahim Salim, pernah suatu ketika Imam Syafi'i berdebat dengan orang bodoh dan mereka mengira telah mengalahkannya. Padahal pada saat itu Imam Syafi'i mengalah.

Dalam sebuah syair Imam Syafi'i mengatakan, "Aku mampu berhujjah dengan sepuluh orang berilmu, tapi aku kalah pada satu orang jahil (bodoh) karena ia tidak tahu akan landasan ilmu."

Imam Syafi'i mampu berdiskusi dengan 10 orang berilmu, namun kalah jika harus berdebat dengan orang bodoh yang merasa paling tahu. Mengutip buku Empat Imam Madzhab yang Mempengaruhi Dunia oleh Ilham Wahyudi, berdiskusi dengan ahli ilmu berkemungkinan akan mendapat ilmu baru. Sedangkan, berdebat dengan orang bodoh yang tidak mempuyai landasan keilmuan hanya akan membuang waktu. Hal ini karena mereka biasanya enggan mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya.

Mengutip laman Pesantren Ar Risalah Cariu, dalam kitab Tawali Ta'sis oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani, Imam Syafi'i menjelaskan bahwa beliau memang tidak berdebat untuk mencari kemenangan. Imam Syafi'i pernah berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ إِلاَّ أَحْبَبْتُ أَنْ يُوَفَّقَ وَيُسَدَّدَ وَيُعَانَ وَيَكُوْنَ عَلَيْهِ رِعَايَةٌ مِنَ اللهِ وَحِفْظٌ وَمَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلاَّ وَلَمْ أُبَالِ بَيَّنَ اللهُ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِيْ أَوْ لِسَانِهِ

Artinya: "Tidakkah aku berdebat kecuali berharap agar lawan debatku diberi taufiq dan pertolongan serta dijaga oleh-Nya. Dan tidak pula aku berdebat kecuali aku tak menghiraukan apakah Allah menampakkan kebenaran lewat lisanku atau lisannya."

Diam dan Tidak Menanggapi

Saat menghadapi perdebatan dengan orang-orang bodoh, Imam Syafi'i memberikan saran untuk diam dan tidak menanggapi. Diam adalah penyelamat, dibandingkan diteruskan tidak menyelesaikan masalah. Berikut kata Imam Syafi'i dalam syairnya:

ﺍِﺫَﺍ ﻧَﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

Artinya: "Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi."

ﻓَﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ

Artinya: "Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati."

ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

Artinya: "Apabila ada orang bertanya kepadaku,'jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam?" Jawabku kepadanya, "Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya."

ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Artinya: "Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan."

Kemudian, mengutip scribd id oleh Muhammad Iqbal Kamil, dalam Diwan Asy Syafi'i karya Yusuf Asy Syekh Muhammad Al Baqa'i, Imam Syafi'i mengibaratkan diam seperti singa yang ditakuti. Dalam syairnya, beliau mengatakan:

أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌ
وَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ

Artinya: "Apakah kamu tidak melihat seekor singa ditakuti lantaran ia pendiam? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong?"

Sikap Imam Syafi'i jika diajak berdebat dengan orang bodoh ini tentu bisa menjadi inspirasi dan teladan umat muslim. Berbagai hal yang sekiranya merugikan umat Islam sudah seharusnya dihindari dan tak perlu diperhatikan.

*

0 komentar:

Posting Komentar