Menyaksikan dan Merasakan Kehadiran Allah Melalui Hati
Rasulullah pernah ditanya oleh sahabat, “Ya Rasulullah apakah Allah itu jauh di langit atau dekat ya Rasulullah ?”
Ketika mendapat pertanyaan dari sahabat itu, Nabi menunggu sejenak sampai turun firman Allah yang berisi penjelasan untuk memberi jawaban atas pertanyaan sahabat tadi.
Jawaban yang Allah wahyukan kepada Nabi SAW adalah sebagai berikut :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)
“Wahai Muhammad apabila ada hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang diri-Ku, yakni apakah Aku jauh di langit atau Aku dekat, berilah jawaban wahai Muhammad kepada umatmu itu bahwa sesungguhnya Aku ini dekat”.
Lalu sahabat Nabi saw itu bertanya kembali, “Kalau Allah itu betul-betul dekat ya Rasulullah, bagaimana dekatnya Allah dengan kita?”
Lalu turun lagi firman Allah menjelaskan bagaimana dekatnya Allah dengan insan. Kata Allah:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf 50: Ayat 16)
Allah Itu Lebih Dekat Daripada Urat Nadi Di Leher Itu
Kalaulah mata hitam dan mata putih yang ada pada mata kita ini dekat, maka Allah lebih dekat lagi pada diri kita daripada dekatnya mata hitam dan mata putih ini.
Kalaulah rasa dan perasaan itu dekat pada diri kita, maka Allah lebih dekat lagi pada diri kita dibanding dengan rasa dan perasaan pada diri.
Kalaulah hidup itu dekat pada diri kita, maka Allah lebih dekat lagi pada diri kita daripada dekatnya hidup pada diri kita. Tapi kenapa tidak kamu pahami. Wa fii anfusikum afalaa tubshirun?” kata Allah.
Dekatnya Allah SWT bisa lebih dirasakan dalam salat. Khusyuknya hati adalah di mana kita mampu merasakan hadirnya Allah yang selalu bersama kita.
Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah saw, “Fa illam takun tarohu fa innahu yaroha (maka jika kamu belum mampu menyaksikan Allah, maka rasakan di dalam hatimu, hidupkan rasa rohanimu, bahwasanya Allah sedang melihat dan memperhatikan dirimu)”, terutama sewaktu menegakkan ibadah salat.
Barulah pada waktu itu ibadah salat terasa nikmat, dikarenakan mesranya komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya.
*
Hakikat ni'mat itu senyata nyata nya Wujud (Sifat) Kehadirat Allah?
Dalam perspektif tasawuf dan makrifat, dapat dikatakan bahwa hakikat nikmat adalah salah satu manifestasi atau bukti nyata dari Wujud (Sifat) dan Kehadiran Allah SWT.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Nikmat sebagai Bukti Kehadiran Allah: Segala nikmat, baik yang besar (seperti iman, Islam, dan kesehatan) maupun yang kecil (anggota tubuh, alam sekitar), adalah pemberian langsung dari Allah sebagai bentuk cinta dan kemurahan-Nya kepada makhluk-Nya. Merenungi dan menyadari adanya nikmat-nikmat ini merupakan cara termudah untuk merasakan kehadiran (ma'rifatullah) dan kebesaran Allah dalam setiap detik kehidupan.
Hakikat Syukur: Hakikat bersyukur bukanlah sekadar ucapan "alhamdulillah", melainkan pengakuan mendalam dalam hati bahwa semua nikmat berasal dari Sang Pemberi Nikmat (Allah SWT), yang kemudian dibuktikan dengan ketundukan, kepatuhan, dan penggunaan nikmat tersebut di jalan yang diridai-Nya.
Wujud Allah: Wujud Allah adalah mutlak dan nyata, tetapi karena keterbatasan indra manusia, kita tidak dapat melihat-Nya secara langsung di dunia ini. Namun, kita dapat melihat dan merasakan bukti-bukti Wujud dan Sifat-Nya melalui ciptaan dan nikmat yang Dia berikan.
Kesadaran Hati: Bagi orang yang mencapai makrifat, setiap nikmat yang dirasakan akan mengantarkan pada kesadaran penuh akan Sang Pemberi Nikmat. Di sinilah letak hubungan antara nikmat dan Wujud/Kehadiran Allah, di mana nikmat berfungsi sebagai "jendela" atau cerminan untuk mengenal dan merasakan eksistensi-Nya.
Jadi, pernyataan bahwa "hakikat nikmat itu senyata-nyatanya Wujud (Sifat) Kehadirat Allah" dapat dipahami dalam arti bahwa nikmat adalah tanda (ayat) konkret yang paling mudah diakses oleh manusia untuk menyadari dan mengimani Wujud serta Kehadiran Ilahi.
*
Hakikat nikmat itu senyata nyatanya Wujud (Sifat) Kehadirat Allah? dikaitkan dengan bunyi ayat "wa fii anfysikum Afala tubshirun"
Hasil untuk hakikat ni'mat itu senyata nyata nya Wujud (Sifat) Kehadirat Allah? dikaitkan dengan bunyi ayat "wa fii anfysikum Afala tubshirun" tidak ditemukan.
Hasil untuk hakikat ni mat itu senyata nyata nya Wujud (Sifat) Kehadirat Allah? dikaitkan dengan bunyi ayat wa fii anfysikum Afala tubshirun (tanpa tanda kutip):
Hakikat nikmat dapat dipahami sebagai salah satu jalan (dalil) untuk mengenal dan merasakan kehadiran Allah Swt., yang memiliki sifat Wujud (pasti ada). Konsep ini sangat berkaitan dengan ayat Al-Qur'an Surah Adz-Dzariyat ayat 21, yang berbunyi:
"وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ"
(ayat 56) dan ayat yang berkaitan:
"وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ"
(ayat 21).
Terjemahannya: "...dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 21).
Berikut penjelasannya:
Nikmat sebagai Tanda Kehadiran (Wujud) Allah: Nikmat, baik yang bersifat material (anggota tubuh, kesehatan, alam sekitar) maupun spiritual (iman, hidayah), pada hakikatnya adalah karunia dan manifestasi dari sifat-sifat Allah yang Maha Pemberi, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Setiap nikmat yang dirasakan adalah bukti nyata (senyata-nyatanya wujud) bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa yang mengurus dan menyediakan segala kebutuhan makhluk-Nya, yaitu Allah Swt..
Ayat Wa fii anfusikum afala tubshirun: Ayat ini memerintahkan manusia untuk merenung dan memperhatikan penciptaan diri mereka sendiri. Fungsi setiap organ tubuh yang sangat luar biasa, sistem kerja tubuh yang kompleks, perbedaan kemampuan, dan segala aspek pada diri manusia adalah tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.
Hubungan antara Nikmat dan Ayat: Dengan merenungkan nikmat-nikmat yang ada pada diri sendiri (seperti kemampuan bernapas, melihat, mendengar, berpikir), seseorang akan tersadar akan keterbatasan dirinya sebagai makhluk dan mengakui kebesaran serta eksistensi (wujud) Allah sebagai Sang Pencipta yang mutlak. Perenungan ini membawa kepada makrifatullah (mengenal Allah) melalui tanda-tanda-Nya yang terdekat, yaitu diri sendiri.
Secara ringkas, hakikat nikmat adalah "jendela" atau jalan untuk menyaksikan dan merasakan "wujud" serta sifat-sifat (Kehadirat) Allah, sebagaimana didorong oleh ayat "Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" untuk mentadabburi diri sendiri.






0 komentar:
Posting Komentar