Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

BELAJAR HARUS MEMILIKI GURU

  BELAJAR   HARUS M EMILIKI GURU Belajar ilmu aqidah haruslah memiliki seorang guru, karena tanpa adanya pembimbing yang mengarahkan kepada pemahaman yang benar akan menyebabkan kekeliruan yang fatal. Kondisi demikian membuat kalangan santri sangat beruntung karena difasilitasi secara lengkap:  ada guru yang mumpuni dan juga referensi yang mencukupi, sehingga ilmu aqidah atau sering disebut juga ilmu tauhid dapat diserap dengan mudah oleh mereka .    Beda halnya dengan orang yang mengenyam pendidikan di sekolah umum yang minim mendapatkan pelajaran keislaman secara mendalam, atau para pekerja yang waktu-waktunya sudah disibukkan dengan pekerjaannya. Bagi mereka mempelajari ilmu aqidah menjadi lebih sulit, pun halnya mencari guru serta waktu luang untuk mempelajarinya.   Keadaan itu membuat para santri, harus membuka mata dan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menghidupkan dan menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah-tengah masyarakat dengan...

AKIDAH SALAF IMAM AL-ṬAHAWI

  AKIDAH SALAF IMAM AL-ṬAHAWI Salah satu karya tentang itu yang menarik disinggung adalah buku  Akidah Salaf Imam Al-Ṭahawi , Ulasan dan Terjemahan.  Imam Abu Ja’far al-Thahawi (238-321 H.) merupakan salah satu imam dalam ilmu aqidah yang hidup semasa dengan dua imam besar dalam  ilmu   aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah,  Imam Abû al-Hasan al-Asy’arî (w. 324 H) dan Abû Manshûr al-Mâtûridî (w.333 H.). Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Salâmah ibn ‘Abd al-Malik ibn Salâmah ibn Abû Ja’far al-Thahâwi al-Azdî al-Mishrî (‘Ali Ridha & Ahmad Thaurân, Mu’jam al-Târîkh, Kayseri: Dar el-‘Aqabah, cetakan pertama, 2001, h. 467).   Dilihat dari tahun  Imam Abû Ja’far  hidup, maka beliau dapat digolongkan kepada ulama salaf.  Imam Abû Ja’far antara lain  BERGURU  kepada  ‘Abd al-Ghanî ibn Abû Rifâ’ah, Hârûn ibn Sa’îd al-Aylî, Yûnus ibn ‘Abd al-A’lâ, Bahr ibn Nashr al-Khawlânî, Muhammad ibn ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Hakam,’I...

BELAJAR KEPADA IBLIS ( SYETHAN)

  BELAJAR KEPADA IBLIS ( SYETHAN) Siapa yang  Tidak Mau Belajar Agama   Dengan Benar , maka ia akan menjadi PENGIKUT HAWA NAFSU DAN TEMAN -TEMANNYA SYETHAN. Kita semua sebaiknya Belajar Agama kepada seorang Guru Bersanad kepada Rasulullah SAW. Kemudian Carilah Berkah dan Idzin darinya agar kita selamat dan beruntung dalam dunia dan akhirat. Ilmu sebanyak apapun yang diperoleh tanpa guru tidaklah ada berkahnya. Ilmu agama yang didapat bukan dari belajar berhadapan dengan seorang guru, maka gurunya PASTI SYETHAN dan IBLIS PENDUSTA PENYESAT. Akan tersesat dari Jalan Yang Lurus dan Ilmunya tidak bermanfaat dan hanya akan menjauhkannya dari Keridhoan Allah SWT. Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik. Ada 4 Syarat untuk mencapai Syari'ah dan Rahasianya yaitu  Bertaubat dari dosa-dosa, Meninggalkan kefanatikan, Menolak kedudukan dimata orang lain, dan berinteraksi dengan harta halal dan dengan ridho Allah. Seperti orang yang bersuci untuk melaksanakan sholat.  Bersuci pada...

4 MAZHAB, INI HUKUM TAHLILAN & BERSEDEKAH UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA

  4 MAZHAB, INI HUKUM TAHLILAN & BERSEDEKAH UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA Sebagian umat Muslim di Indonesia mengamalkan Tahlilan yaitu kegiatan membaca serangkaian ayat Alquran dan kalimat thayyibah (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir), yang pahalanya dihadiahkan kepada ayah, ibu, kakek, nenek, sanak saudara atau kepada siapa saja yang diniatkan. Tahlilan tersebut biasanya dilaksanakan tiga hari atau tujuh hari berturut-turu setelah meninggalnya seorang anggota keluarga. Bagi yang mampu bisa mengamalkannya juga pada hari ke-40, ke-100, atau ke-1000-nya. Tahlilan juga sering dilaksanakan secara rutin pada malam Jumat atau malam-malam tertentu lainnya. Setelah tahlilan, biasanya pemilik hajat akan memberikan hidangan makanan untuk dimakan di tempat oleh Muslim yang ikut tahlilan, atau dibawa pulang oleh mereka. Dengan demikian, inti tahlilan adalah: Pertama, menghadiahkan pahala bacaan Alquran dan kalimat thayyibah kepada mayit. Kedua, mengkhususkan bacaan itu pada ...

BEDA NIYYAT AMALAN BEDA PULA AKIBATNYA

  BEDA NIYYAT AMALAN BEDA PULA AKIBATNYA GEBINGAN Gebingan: Panganan Brekat Memperingati Orang yang Sudah Meninggal Gebingan: panganan brekat yang dibuat saat genduren memperingati orang yang meninggal. Tradisi Jawa yang masih berakulturasi dengan tradisi Islam di Jawa adalah upacara adat atas kematian seseorang. Slametan atas meninggalnya seseorang dari 3 hari disebut Nelung Dina, 7 hari disebut Mitung Dino, 40 hari disebut Matang Puluh, 1 tahun yang disebut Mendak Pisan, 2 Tahun yang disebut Mendak Pindho dan 1000 hari yang disebut Nyewu masih banyak bisa ditemui ditengah masyarakat Gunungkidul. Bagi masyarakat yang masih merasakan tradisi slametan untuk orang yang meninggal tentu tidak asing dengan Tradisi Kenduri. Dan sego berkat yang dibagikan si empunya hajat tentu menjadi salah satu yang menarik untuk dipahami maksud dan tujuannya. Terkhusus untuk masyarakat dimasa kini yang sebagian besar sudah tidak memperdulikan lagi segala bentuk m...

MITOS NASI ORANG MATI

  MITOS NASI ORANG MATI Di sebagian Pulau Madura (dan di tempat lain mungkin), ada kepercayaan bahwa nasi yang dimasak di rumah orang yang meninggal dalam rangka selamatan untuk si mayit (dalam bentuk apapun) tidak boleh dimakan oleh beberapa orang. Diantaranya, orang yang sedang hamil, patah tulang, dan orang yang memiliki penyakit tertentu. Menurut kepercayaan, akan terjadi hal buruk jika nasi itu dimakan oleh orang-orang tadi. Mitos Nasi Orang Mati itu dikenal dengan istilah  nase’en  oreng   mateh  (Madura, Red). HUKUM MITOS Memang dalam banyak kesempatan mitos, seringkali terjadi. Ketika si-A mempercayai mitos B kemudian melanggarnya, maka pada realitanya dia akan benar-benar tertimpa apa yang dia percayai. Hal ini terjadi, meurut para ulama, sebagai balasan karena dia berprasangka buruk kepada Allah SWT, sedang Allah SWT akan menakdirkan apa yang menjadi prasangka hamba-Nya, baik atau buruk. Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي...

Susunan Bacaan Tahlil, Doa Arwah Lengkap, dan Terjemahannya

  Susunan Bacaan Tahlil, Doa Arwah Lengkap, dan Terjemahannya Tahlilan merupakan ritual pembacaan lafal tahlil yang lazim di masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun. Pembacaan tahlil biasa dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mendoakan jenazah baru di makamnya, ahli kubur yang telah lama dimakamkan, dan mendoakan ahli kubur dalam peringatan 1-7 hari, 15 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari di rumah ahli musibah. Pembacaan lafal tahlil juga dilakukan oleh masyarakat pada peringatan haul, arwahan (ruwahan) di bulan ruwah, akhir Sya’ban, akhir Ramadhan, saat kumpul keluarga untuk arisan misalnya, selamatan perkawinan (walimahan), selamatan aqiqahan, walimatus safar, muludan, Isra dan Mi‘raj, selamatan Syura’an (malam 10 Muharram), selamatan tujuh bulan, khitanan, ziarah kubur setelah lebaran Idul Fitri, ratiban, manaqiban, barzanjian, dan lain sebagainya. Adapun berikut ini adalah susunan bacaan tahlil yang dikutip secara utuh dari Kitab Majmu’ Syarif. Semoga susunan zikir, tahlil, d...

MAKNA LAFAZH ALLAH

  MAKNA LAFAZH ALLAH Lafazh Allah adalah lafal yang mengumpulkan semua nama dan sifat yang dikandungnya. Dzikir ini adalah tujuan utama dan paling puncak. Saat menjelaskan Lafal Allah,  Syaikhuna Maimoen Zubair  mengatakan; Jika huruf per huruf dihilangkan, maka akan semakin mempunyai makna yang lebih dalam. Jika huruf Alif pada lafadl الله dihilangkan, maka akan dibaca لله ‘lillah’, yang mempunyai makna “Karena Allah”. Hal itu karena amal yang dikerjakan tidak akan sampai dan diterima oleh Allah kecuali amal itu karena Allah. Jika huruf Lam Pertama pada lafadl لله dihilangkan, maka akan dibaca له Lahuu, yang mempunyai makna “hanya karena Allah”. Makna ini lebih dalam dari pada makna sebelum ini, karena pada lafadl لله menggunakan isim dhohir (kelihatan), sedangkan pada lafadl له menggunakan bentuk isim dlomir (disimpan). Hal ini diisyaratkan dalam Al-Qur'an saat menjelaskan tentang shodaqoh, sebagai berikut: إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَ...

ISRA’ MI‘RAJ

  GAMBARAN BALASAN AKHIRAT YANG  DIPERLIHATKAN KEPADA NABI SAAT  ISRA’ MI‘RAJ Pada malam isra dan mi‘raj, selain mendapat perintah shalat secara langsung, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga diperlihatkan pada sebagian hikmah dan tanda kebesaran Allah, sebagaimana dalam Al-Qur’an:   سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami,” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).   Banyak hadits yang mengisahkan tentang sebagain tanda kebesaran itu. Mulai dari diperlihatkan pada tujuh lapisan langit, baitul ma’mur, hingga disampaikan pada sidratul muntaha. Mulai dari dipertemukan dengan sebagian nabi terdahulu, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissala...

BATASAN BERCANDA

  BATASAN BERCANDA Penulis: Ummu ‘Aisyah Saudariku muslimah, berbeda dengan sabar yang tidak ada batasnya, maka bercanda ada batasnya. Tidak bisa dipungkiri, di saat-saat tertentu kita memang membutuhkan suasana rileks dan santai untuk mengendorkan urat syaraf, menghilangkan rasa pegal dan capek sehabis bekerja. Diharapkan setelah itu badan kembali segar, mental stabil, semangat bekerja tumbuh kembali, sehingga produktifitas semakin meningkat. Hal ini tidak dilarang selama tidak berlebihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun Bercanda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasul...

DOSA-DOSA BESAR !

  DOSA-DOSA BESAR ! DALAM BAHASA JAWA : "Yen ono wong sing Atine iseh ora akrab marang Gusti Allah, Yen Atine iseh ora biso apik marang Manungso lan makhluk, Yen Awake iseh ora biso akrab marang Ilmu ... Wong koyo iku ora bakalan biso Urip bagio" Artinya :  Cukup Menjadi Dosa-dosa Besar Itu Jika Saat Ini : * Hatinya tidak akrab (liar) dengan Allah dalam Beribadah / Berdzikir dalam Ketaatan. * Hatinya tidak akrab kepada Manusia dengan Berbuat Baik / Pelayanan dalam Kemanfaatan. * Dirinya tidak akrab dengan ilmu yang dapat memperbaiki kualitas dirinya.

PERCAKAPAN @MAIYYAH

PERCAKAPAN @MAIYYAH PERBINCANGAN MAS HELMI & MAS HARYANTO BERSAMA MBAH AINUN NAJIB. TENTANG FENOMENA HAY-YA 'ALAL JI-HAAD Kita ambil 3 Cara Pandang atau 3  PRESPEKTIF / SPEKTRUM. Saya ingin SPEKTRUM PERTAMA pasti adalah fiqih dalam syariat Islam artinya tata cara beragama yang diatur oleh agama Islam.  Termasuk di dalamnya ada adzan Adzan inikan tidak berasal dari teks Ayat tapi itu adalah perintah Kanjeng Nabi kepada Sayyidina Bilal bin Rabah untuk memanggil orang untuk Kasih tanda ini sudah saatnya shalat. Terus Bilal bin Rabah kalau tidak salah kemudian meneriakkan kata-kata yang sering kita kenal sebagai adzan itu. Jadi disebut mahzhoh dia memang peristiwanya mahzhoh. Tapi kalau disebut-sebut itu aturan baku, uraikan asal-usulnya kan dalam tanda petik "kreativitasnya" Bilal bin Rabah yang suaranya memang enak itu. Nah ... yang disebut oleh mas Helmi tadi adalah bersamaan dengan adanya kasus Sigi, Sulawesi Tengah itu, sebelumnya dan ketika itu berlangsung sudah ada...