Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

BIOGRAFI AL IMAM SYAFI'I

🕌 Catatan Imam Asy-Syafi’i (Muhammad bin Idris asy-Syafi’i) 1. Kelahiran dan Latar Belakang Nama lengkap: Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abd Manaf. Silsilah beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada kakek yang sama, yaitu ‘Abd Manaf . Lahir di Ghazzah (Palestina) pada tahun 105 H / 676 M , dan wafat di Mesir pada tahun 204 H / 820 M . Beliau adalah pendiri Mazhab Syafi‘i , salah satu dari empat mazhab besar Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ibunya bernama Fatimah binti ‘Abdullah , seorang wanita salehah dan cerdas. Ayahnya wafat saat beliau masih bayi, sehingga Asy-Syafi‘i tumbuh sebagai anak yatim yang diasuh ibunya dalam keadaan sederhana. Perjalanan Awal: Saat berusia 2 tahun, ibunya membawanya ke Makkah agar dekat dengan keluarga besar Bani al-Muththalib , keturunan Nabi SAW. Ibunya berkata: “Engkau harus tinggal bersama keluargamu agar menjadi seperti mereka.” Di Makkah, belia...

BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH

BAB II – BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH A. Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah Nama Lengkap: Abu Hanifah an-Nu‘man bin Tsabit bin Zutha at-Taimi. Beliau dikenal sebagai Imam Abu Hanifah , pendiri Mazhab Hanafi — salah satu dari empat mazhab besar dalam Islam. Asal dan Kelahiran: Keturunan Persia (dari Kabul, Afghanistan). Lahir di Kufah pada tahun 80 H / 699 M , wafat di Baghdad tahun 150 H / 767 M . Hidup di masa pemerintahan Bani Umayyah dan Abbasiyyah . Julukan “Abu Hanifah”: Ada beberapa pendapat: Karena beliau memiliki anak bernama Hanifah. Karena kata hanif berarti condong kepada kebenaran. Karena selalu membawa tinta (alat tulis) — di Irak “hanifah” berarti tinta. Sifat dan Kepribadian: Rajin membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an (disebut hingga 60 kali di bulan Ramadhan). Berkulit sawo matang, tinggi, berwajah tampan, berbicara lembut, dan tidak banyak bicara kecuali hal penting. Sangat sopan, berwibawa, dan menjaga diri dari perkara yang tidak bermanfaat. Menyay...

RIWAYAT KEHIDUPAN AL IMAM ABU HANIFAH

🕋 Riwayat Menuntut Ilmu Imam Abu Hanifah Perjalanan ilmu Imam Abu Hanifah dimulai dari ketertarikannya pada berbagai bidang ilmu seperti qira’at, hadis, nahwu, teologi, hingga fikih , yang kemudian membawanya untuk berguru pada banyak ulama terkemuka. Beliau berguru selama 18 tahun kepada Syaikh Hammad bin Abu Sulaiman di Kufah dan mendalami ilmu fikih sebelum akhirnya menjadi seorang ahli fikih dan teologi yang disegani , serta pendiri mazhab Hanafi . 🌿 Awal Menuntut Ilmu 1. Awalnya seorang pedagang Sebelum mendalami ilmu, Imam Abu Hanifah adalah seorang pedagang kain sutra . Namun, beliau memiliki ketertarikan kuat terhadap ilmu dan mulai tekun menghafal Al-Qur’an . 2. Memulai dengan berbagai disiplin ilmu Beliau mempelajari beragam bidang ilmu, termasuk qira’at, hadis, nahwu, sastra, sya’ir, dan teologi (ilmu kalam). 3. Kecenderungan pada ilmu kalam Pada awalnya, beliau sangat mencintai ilmu teologi dan menjadi salah satu tokoh terkemuka dalam bidang tersebut. Nam...

PENGHAMBAT KEBERKAHAN ILMU

Enam Faktor Penyebab Santri Gagal dalam Menuntut Ilmu Rabu, 1 Januari 2020 | 22:30 WIB Suasana mengaji kitab kuning di salah satu pesantren. (Foto: NU Online) Cianjur,  NU Online Santri adalah harapan masa depan bagi tersebarnya pengetahuan agama di muka bumi. Karenanya, mereka selain memperhatikan sebab kesuksesan, juga harus tahu tentang penyebab kegagalan dalam menuntut ilmu agama.    Inilah yang menjadi salah satu pesan penting KH Abdurrohman Asnawi selaku Pengasuh Pesantren Talukagung dalam pengajian bulanan yang diadakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Cijati, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (1/1).   Dalam forum yang dikemas dengan pengajian kitab  Tafsir Jalalain  dan  Fawa’idul Makkiyyah  tersebut, Ajengan Abdurrohman menyebutkan setidaknya ada enam sebab seseorang gagal dalam menuntut ilmu agama.    “ Ngandelaken  hari esok,  gumantung  pada kacardasan,  cacagnakaeun , mengaji samb...

PEDOMAN SEBAGAI HAMBA ALLAH

 * KITA HAMBA ALLAH * yang berbuat atas perintah Allah. Perbuatan yang sekedar bahkan yang sebaik apapun itu hanya kedudukan sebagai * SESUATU. * Walaupun demikian, tak ada seorang pun boleh melecehkan perbuatan yang remeh dan tak ada yang boleh membanggakan perbuatan yang besar. Karena seluruhnya * Hanyalah Karunia Dari Allah * yang wajib disyukuri. * DENGAN RAHMAT ALLAAH * sajalah seorang hamba akan mampu melaksanakannya. Dan * seluruh  ketha'atan  itu hanya suatu upaya menjalankan perintah Allah. * Kecil ataupun besar perbuatan tha'at seorang hamba, hanya berkedudukan sebagai * Usaha Kehambaan * kepada Allah dimana itu masih membutuhkan pengakuan dan penerimaan dari-NYA. * HANYA RAHMAT ALLAAH * Tak satupun dari perbuatan kecilnya ataupun yang besarnya * Yang Mampu Menentukan Hasil. * Maka tak ada seorangpun yang boleh mengandalkan amalnya sendiri. Apapun yang berasal dari diri manusia itu tak ada yang bisa diandalkan apalagi disombongkan‼️ Tetap beramallah, tetapi hany...