RENUNGAN DUNIA & AKHIRAT
Kekhawatiran antara persoalan atau kebutuhan dunia bila dibandingkan dengan kekhawatiran persiapan atau kenyataan di akhirat. Sudah seharusnya lebih mengutamakan urusan akhirat atau dengan kata lain: "Memposisikan persoalan dunia sebagai bagian dari tujuan meraih kebaikan akhirat". Bukan dari segi urusan dunia itu sendiri.
Lebih mengkhawatirkan persoalan keduniawian melebihi dari persoalan keakhiratan adalah gambaran kebodohan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya.
Kekeliruan yang sama juga terjadi pada orang yang mengutamakan kehidupan akhirat tapi mengabaikan tanggung jawab yang Allah wajibkan kepadanya dalam agama semisal kewajiban menafkahi, khususnya kepada keluarga atau membayar hutang dan lain-lainnya. Itu suatu kesalahan dalam menjalankan ajaran agama Islam.
Hal itu menunjukkan suatu kekurangan dalam memahami ajaran Islam dan suatu keteledoran dalam mempraktekkan ajaran Islam. Sebab menganggap remeh persoalan dunia ditinjau dari segi menjalankan tanggung jawab dunia atas orang lain yang diamanahkan kepadanya oleh Allah adalah pelanggaran agama.
Kesibukan antara mengurus diri sendiri dan orang lain dari segi memperbaiki dan menyebarkan kebaikan dan kebenaran. Mengurusi diri sendiri dalam sudut pandang memperbaiki diri sendiri adalah yang paling diutamakan. Dan mengurusi orang lain dalam sudut pandang "mengajak orang lain kepada kebaikan dan kebenaran" adalah kebaikan.
Bersikap lebih kepada memperbaiki diri orang lain dengan melupakan diri sendiri adalah kesalahan. Namun sikap tak mau peduli dengan kekeliruan orang lain dan membiarkannya tetap keliru juga suatu kesalahan, sebab ummat Islam diperintahkan untuk amar ma'ruf dan nahi munkar.
Beraktivitas dan berfikir dalam segi dunia dan segi akhirat adalah persoalan yang tak bisa dipisah-pisahkan bila ditinjau dari segi tugas dan tanggung jawab agama. Sebab dunia bisa menjadi lahan akhirat selama berpegang kepada apa yang dilakukan masuk kedalam urusan ibadah. Maka dunia yang digunakan buat perkara yang harom dan atau dosa, maka itu kesalahan. Sebaliknya, peribadatan yang dimaksudkan untuk tujuan keduniawian adalah suatu kesalahan.
Segala urusan tak bisa hanya ditinjau dari satu sudut pandang saja. Kita membutuhkan banyak sudut pandang dalam segala urusan. Terutama mensikapi apapun yang terjadi dalam kehidupan di atas dunia ini. Baik buruk seseorang dinilai dari bagaimana ia mensikapinya. Apakah ia berpegang teguh kepada Petunjuk Allah dan Rosulullaah, maka itulah yang baik dan benar. Ataukah ia hanya berpegang kepada pemikirannya sendiri, maka itulah yang salah dan sesat.
Bagaimana agar dapat selalu berpegang teguh kepada Allah dan Rosulullaah, maka tak boleh tidak "harus belajar dan dengan cara belajar yang dibenarkan". Menghindari kesalahan-kesalahan dalam menerapkan ilmunya. Ilmu yang benar dan cara yang benar yaitu ilmu yang harus didapatkan melalui guru-guru yang benar-benar bersanad ilmu bersambung kepada Rasulullah, sehingga dapat mempraktekkan ilmu dengan benar pula. Tanpa itu, tujuan baik dan benar tak akan benar-benar tercapai.
*Jangan Kosongkan Waktumu*
Pernahkah mendengar _stilah_ *Waktu itu tidak bisa diulang kembali,* jadi jangan disia-siakan‼️ _Waktu kosong itu tak netral_ kalau *tak segera diisi dengan kebaikan,* ia akan cepat _diambil alih oleh keburukan._ Kita sering pikir menganggur itu _aman dan hanya soal menunggu._ Padahal tidak‼️ Waktu yang tak terisi adalah *ladang gersang* yang siap ditanami apa saja, dan sayangnya, yang paling cepat _tumbuh di tanah kosong_ adalah *rumput liar.* Begitu pula *hati kita.* Begitu pula hidup kita. Jika tak disibukkan dengan hal baik, maka pelan-pelan *keburukan akan menyelinap, masuk, dan mengakar tanpa kita sadari ‼️
Lihatlah saat kita _membiarkan waktu berlalu tanpa arah._ Mulai dari *rebahan, scroll media sosial tanpa tujuan,* hingga _obrolan kosong yang tak berujung._ Mungkin tampak sepele. Tapi tanpa disadari, *perlahan hati mengeras, semangat meredup, dan hidup terasa hampa.* Kita jadi _mudah gelisah, mudah iri, mudah tersulut emosi._ Semua itu *bukan karena kita terlalu sibuk*… tapi justru karena kita terlalu sering _membiarkan waktu kosong tanpa isi yang bernilai‼️_ Padahal mengisinya tidak harus dengan sesuatu yang besar. *Mulailah dari hal kecil.* Lihat sekeliling & tolong satu orang. Ucapkan suatu dzikir dengan penuh kesadaran. Tulis satu paragraf kebaikan.
Lalu *renungkan suatu ni'mat Allah* yang selama ini _kita abaikan._ Suatu *kebaikan kecil* yang dilakukan dengan ikhlas, _bisa jadi penolong besar di akhirat nanti._ Karena *waktu itu seperti wadah.* Kalau tidak kita isi dengan air jernih, ia bisa diisi oleh racun tanpa kita tahu. Maka *jangan tunggu hidup ini terasa berat baru kita cari makna.* Jangan tunggu _kesepian baru kita cari Tuhan._ Isi waktu sebelum waktu mengikis kita perlahan. Sibukkan diri dalam hal yang menumbuhkan, bukan hanya menyenangkan sesaat. *Jangan salah,* _Setan tak selalu datang dalam bentuk dosa yang besar._ Kadang ia *menyusup lewat kelalaian kecil.* Lewat _waktu kosong yang tak dijaga.‼️_
*Lewat detik* yang kita biarkan _terlewat tanpa arah‼️_ Dan jika kita tak hati-hati, hal kecil itu akan menjauhkan kita dari kebaikan yang lebih besar. Ingatlah… waktu kosong _bukan sekadar jeda_ tapi ia bisa jadi *jebakan yang halus tapi mematikan,* jika tak segera kita isi dengan kebaikan‼️
Semoga bermanfaat dan amal kebaikan 🤲 Tetap semangat untuk *mengisi waktu kosong* semoga Allaah memudahkan kita dalam berbuat hal kebaikan‼️






0 komentar:
Posting Komentar