Selasa, 30 Agustus 2022

SAYYID ABDURRAHMAN ATAU MBAH SAMBU

Rembang - Sayyid Abdurrahman atau Mbah Sambu merupakan salah satu tokoh ulama legendaris di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Mbah Sambu merupakan putra Pangeran Benowo, putra dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, Raja Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam. Dia wafat pada 1671 M silam.

"Mbah Sambu merupakan pendatang dari Kerajaan Pajang, ia melarikan diri karena permasalahan jabatan yang ada di Kerajaan Pajang. Setelah melarikan diri kemudian Mbah Sambu belajar mengaji di Ampel. Karena Adipati Tedjokusuma atau Mbah Srimpet itu yang merupakan Bupati Lasem saat itu sedang membutuhkan seorang pengajar agama Islam, akhirnya Mbah Sambu dipanggil ke Lasem," kata pemerhati sejarah Kabupaten Rembang, Ernantoro kepada detikJateng, Sabtu (02/4/2022).

Ernantoro menuturkan Mbah Sambu kemudian diangkat menjadi wali negara atau guru agama Islam. Mbah Srimpet kala itu juga menjadikan Mbah Sambu sebagai menantunya.

"Setelah kedatangannya ke Lasem itu langsung diangkat menjadi walinegara Kadipaten Lasem oleh Mbah Srimpet kemudian baru dijadikan menantunya. Ia tentunya menjadi ulama besar pertama kali di Lasem pada tahun 1558 M," terangnya.

Ernantoro menyebut referensi sejarah tentang Mbah Sambu terbilang minim. Namun atas jasanya sebagai wali negara Lasem, Mbah Sambu diberi sebidang tanah yang kini menjadi area Masjid Jami' Lasem.

"Belum diketahui sampai sekarang kapan lahirnya Mbah Sambu. Atas jasanya itu, Mbah Sambu diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami' Lasem. Saat ini setiap tahunnya ada kegiatan rutin haul Mbah Sambu yang digelar pada tanggal 14,15,16 Dzulhijjah dan diisi dengan berbagai kegiatan," terang dia.


MAKAM MBAH SAMBU RAMAI DIDATANGI PEZIARAH

Salah satu peziarah, Sumiyati (38), mengaku memanfaatkan momen menjelang Ramadan untuk berziarah di Lasem, salah satunya di makam Mbah Sambu.

"Bersama-sama rombongan ke sini, momen jelang Ramadan ini sering digunakan untuk berziarah ke makam para wali, diantranya ke makam Mbah Sambu ini," kata Sumiyati peziarah asal Tuban saat ditemui di lokasi, hari ini.

Hal senada juga diungkapkan Ratman (32), peziarah asal Blora. Dia memanfaatkan waktunya sebelum Ramadan untuk datang ke masjid Jami' Lasem dan berziarah ke makam mbah Sambu.

"Tiap tahun menjelang Ramadan saya rutin datang ke sini. Ya berdoa meminta barokahnya dari Mbah Sambu," ujarnya.

Salah satu pengurus Masjid Jami' Lasem, Abdullah Hamid mengatakan para peziarah biasa berdatangan menjelang Ramadan. Saat ini, tercatat ada sekitar 600 peziarah yang datang per harinya menjelang bulan Ramadan ini.

"Sebelum puasa ini banyak peziarah, per harinya itu ada 600 orang peziarah yang datang, biasanya ada rombongan dari luar kota pakai bus dan ada pula dari wilayah lokal Rembang sendiri. Kalau puncaknya diperkirakan hari ini, satu hari menjelang Ramadan," pungkasnya.


TOKOH LEGENDARIS

Mbah Sambu atau dikenal juga dengan Sayyid Abdurrahman merupakan tokoh legendaris di Kota Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

"Ia adalah salah satu penyebar ajaran Islam di daerah Lasem. Mbah sambu adalah walinegara (Guru Agama Islam) di Lasem yang merupakan pendatang dari Tuban. Ia dipanggil di Lasem oleh Adipati Tedjokusuma I (Mbah Srimpet) untuk diangkat sebagai Walinegara Kadipaten Lasem dan dijadikan sebagai menantu," kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah di Lasem.

Oleh masyarakat sekarang yang akrab dikenal dengan sebutan Mbah Sambu yaitu berasal dari namanya Syech Maulana Sam Bwa Asmarakandhi. Ia merupakan salah satu ulama’ tersohor sampai sekarang. Kebanyakan para ulama’, kyai, dan orang-orang besar menisbatkan nasabnya pada Mbah Sambu.

"Bahkan, ada yang mengatakan bahwa hampir seluruh ulama’ di Jawa adalah keturunan dari Mbah Sambu," ucapnya.


MBAH SAMBU DI LASEM

Awal Mbah Sambu di daerah Lasem yaitu karena undangan Adipati Tedjokusumo I (Mbah Srimpet) dan diangkat sebagai walinegara di Kadipaten Lasem untuk membantu Syiar Islam.

Mbah Sambu dikenal  berjasa dalam meredam aksi perompak yang menimbulkan kekacauan yang  berlarut-larui di pusat kota Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara. Atas jasanya itu Mbah Sambu yang  juga menantu  Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec.Lasem sampai ke selatan di Kec.Pancur.

Mbah Sambu juga berhasil mengusir Kompeni VOC dari Rumah Gedong yang bermarkas di Kauman Desa Karang Turi. Setelah kosong dikuasai Mbah Sambu memberi kesempatan menempati sementara kepada warga termasuk yang berstatus Boro ( mencari kerja ) selama tidak mampu membeli rumah atau kontrak.

Sampai sekarang Rumah Gedong tua peninggalan abad 17 itu masih berdiri megah dan ditempati oleh beberapa kepala keluarga. Pemerintah seharusnya tanggap dengan menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya.

Kedatangan beliau di Lasem selain untuk meredam aksi perompak, ia juga berjuang untuk menyebarkan ajaran Islam.

Atas jasanya itu Mbah Sambu yang juga menantu Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec. Lasem sampai ke selatan arah Kec. Pancur yang lebih jauh luas dari yang ada sekarang.

Warga Lasem selama 3 hari memperingati haul Sayid Abdurrahman Basayaiban wafat 1671 atau yang lazim dikenal masyarakat dengan sebutan Mbah Sambu di Masjid Jami’ Lasem, Rembang.

 SILSILAH MBAH SAMBU.

Kelahiran Mbah Sambu sampai sekarang belum diketahui, karena belum menemukan catatan sejarah. Dan sampai sekarang belum ada sejarah lengkap tentang Mbah Sambu. Sedangkan wafat beliau menurut sejarah singkat yaitu pada tanggal 1671 M. Sampai sekarang ada kegiatan tahunan di Lasem yaitu haul Mbah Sambu yang dilaksanakan pada tanggal 14, 15, 16 Dzulhijjah dan diisi dengan berbagai kegiatan, bukan hanya ritual keagamaan akan tetapi berbagai kegiatan berdimensi budaya seperti Karnaval dan Lomba Hadroh.


Ada Dua Versi Yang Menceritakan Silsilah Mbah Sambu.

Versi pertama mengatakan bahwa beliau adalah Pangeran Sambudigdo Hadiningrat putra Pangeran Benawa, putra dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, Raja dari Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam.

Versi kedua mengatakan bahwa beliau adalah putra dari Sayyid Muhammad Hasyim dan juga masih keturunan Sayyidah Fatimah az-Zahro’ al-Bathul binti Rasulullah Muhammad Shollallahu 'Alayhi Wa Sallam. "Demikian silsilah Sayyid Abdurrahman al-Basyaiban (Mbah Sambu)," ungkapnya.


Sayyid Abdurrachman al-Basyaiban alias Mbah Sambu (Lasem)

  • bin Sayyid Muhammad Hasyim.
  • bin Sayyid Abdurrachman al-Basyaiban
  • bin Sayyid Abdullah
  • bin Sayyid Umar.
  • bin Sayyid Muhammad
  • bin Sayyid Achmad
  • bin Sayyid Abubakar Basyaiban
  • bin Sayyid Muhammad Asy'adullah
  • bin Sayyid Hasan At-Taromi
  • bin Sayyid Ali
  • bin Sayyid Muhammad Al Fagih Muqoddam (makam di Hadramaut Yaman)
  • bin Sayyid Ali
  • bin Sayyid Muhammad Shohibi Mirbat (makam di Zafar, Hadramaut Yaman)
  • bin Sayyid Ali Khaliq Qosim (makam di Tarim, Hadramaut Yaman)
  • bin Sayyid Alwi (makam di Bait Jubair, Hadramaut)
  • bin Sayyid Muhammad (makam di Bait Jubair, Hadramaut)
  • bin Sayyid Alwi (makam di Samal, Hadramaut)
  • bin Sayyid Abdullah Ubaidillah (makam  di Al-Ardli Burt Hadrai)
  • bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir (makam di Basra Tarim, Hadramaut Yaman)
  • bin Sayyid `Isa An-Naqib (makam di Basrah, Iraq)
  • bin Sayyid Muhammad An Nagib (makam di Basrah, Iraq)
  • bin Sayyid Ali Al -'Uraidi (makam di Madinah)
  • bin Sayyid Ja'far Ash-Shodiq (makam di Madinah)
  • bin Sayyid Muhammad Al-Bagier (makam di Madinah)
  • bin Sayyid Ali Zainal Abidin (makam di Madinah)
  • bin Sayyidina Husein
  • binti Fatimah Az-Zahroh RA, Isteri Sahabat Sayyidina Ali Al Murtadlo RA (makam di Baqi’ Madinah, saudi Arabia) 
  • bin Rosulullah Muhammad Shollallahu'Alayhi Wa Sallam (makam di Masjid Nabawi Madinah, Saudi Arabia)


MBAH SABIL

Sampai saat ini belum diketemukan siapa istri mbah Sabil. Dari data tulisan tangan/prasasti mbah Kyai Ahmad Rowobayan, diketahui bahwa Mbah Sabil mempunyai keturunan, 2 laki-laki dan 2 perempuan, diantaranya :

1) Kyai Saban

2) Nyai Samboe Lasem.

3) Moyo Kerti (Nyai Abdul Jabbar)

4) Kyai Abdurrokhim.

Dari anak pertama Kyai Saban, mbah Sabil menurunkan 4 cucu yaitu: Kyai Abdurrohman Klothok, Kyai Uju, Nyai Gedong, dan Kyai Wahid

Dari Kyai Uju inilah yang menurunkan mbah Kyai Ahmad Rowobayan, Kuncen, Padangan. Belakangan para cucu beliau menjadi tokoh penyebaran agama Islam di Desa Kuncen.

Sedangkan anak ke-dua yaitu Nyai Samboe Lasem. Tidak diketahui nama aslinya, yang jelas di panggil Samboe karena suaminya adalah: Kyai Samboe Lasem, Rembang atau yang disebut: Muhammad Syihabuddin dan lebih dikenal sebagai: Pangeran Syihabuddin Samboe Digda Diningrat.

Makam mbah Sambu dan istrinya berada di sebelah utara makam Adipati Tejokusumo I. Makam mbah Sambu dan istrinya berada dalam cungkup yang berdenah bulat dan beratap kubah yang seluruhnya terbuat dari bata merah berlepa. 

Di makam Mbah Sambu Lasem, Rembang, Jawa tengah, terdapat prasasti marmer ukuran kecil dalam bahasa arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang sebenarnya adalah Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban. 

Menantu Mbah Sabil ini keturunan Sultan Hadiwijaya yang biasa dikenal dengan sebutan populernya “JAKA TINGKIR”. Seorang pemuda dari Tingkir, suatu desa yang terletak di tenggara Salatiga pada tahun 1568 M, putra dari Adipati Pengging Pangeran Handayaningrat / R. Kusen, sedangkan R. Kusen sendiri putra dari Harya Damar Adipati Palembang. Adipati Palembang ini putra Prabu Brawijaya Majapahit. 

Jaka Tingkir menjadi raja Pajang yang pertama dan terakhir dengan gelar Sultan Hadi Wijaya dan sukses meng-Islamkan daerah Pasuruan dan sekitarnya. Karena kealimannya, beliau dinikahkan dengan putri Pangeran Trenggana, raja ke III di kerajaan Islam Demak. Maka lahirlah Pangeran Benawa yang selama hidupnya menjadi guru thoriqot dan menyepi di daerah Kudus, pernah sebentar menjadi Adipati Jipang-Panolan Cepu.

KH. Achmad Shidiq merupakan salah satu dari keturunan Kyai Samboe Lasem, atau cucu langsung dari mbah Sabil, yang memimpin Pondok Pesantren “AS-SHIDDIQI PUTRA (PONDOK ASTRA)” JEMBER. Beliau pernah menjadi anggota DPR-RI disamping lama di jajaran Rois-Am PBNU Kramat Raya Jakarta.

Dari anak ke-tiga Moyo Kerti, yang diperisteri mbah Abdul Jabbar yang makamnya ada di Nglirip nJojogan Tuban, mbah Sabil menurunkan mbah Iskak Rengel yang haulnya diadakan setiap Jum’at setelah tanggal 20 dibulan As-Syura/Muharam. Mbah Iskak Rengel menurunkan mbah Sholeh Tsani, pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan, Bungah, Gresik. Ditengah pondok inilah setiap tahunnya diselenggarakan haul terbesar di Jawa Timur pada bulan Robiul Awal setelah tanggal 20 guna memperingati meninggalnya mbah Sholeh Tsani.

Putra ke-empat Mbah Sabil yaitu Kyai Abdurrachim Kaliwuluh Sambeng, yang diambil menantu putra wayah R. Rachmad / Sunan Ampel Gading Surabaya.

Dengan  penelusuran data, Mbah Sambu memiliki nama asli  Sayyid Abdurrahman Basayaiban dan  wafat 1671. Beliau ada riwayat, adalah putera Pangeran Benawa, putera dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya , Raja dari Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam. Menantu Sultan Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak. (lemah).


MASJID JAMI' LASEM DAN MAKAM ADIPATI TEJOKUSUMO I

Masjid Jami' Lasem didirikan pada tahun 1588 dengan gaya arsitektur jawa kuno yang puncak joglonya terdapat terdapat makutapraba. latar belakang didirikan masjid jami' Lasem itu dulu selain untuk pusat keagamaan islam,juga karena pada masa itu Kadipaten Lasem melakukan pembangunan yang seperti arahan kerajaan mataram pada saat itu. yaitu : 

- Melakukan pembangunan masjid sebagai pusat syiar agama islam. 

- Membangun pasar sebagai pusat perekonomian (pasar kawak, sumurkepel sumber girang) 

- Membangun Alon2 sebagai pusat kegiatan, dulu ditandai dengan pohon ringin yg besar & rindang (skrg jdi Ruko2 / toko2)

- pusat pemerintahan (kadipaten) yang berdekatan dgn itu (cologowok soditan)


R.M. TEDJAKUSUMA I

Semuanya itu pada masa adipati Tedjakusuma I dan seorang ulama yaitu Sayyid Abdurahman

R.M. Tejakusuma adalah trah asli keturunan Lasem yaitu anak dari Pangeran Santiwira bin Pangeran Kusumabadra bin Santipuspa (kakak Sunan Kalijaga) & jika ditarik keatas terus maka sampai trah majapahit dari dewi indu. 

R.M Tejakusuma I mempunyai nama lain Kyai Ageng Punggur dan Raden Bagus Srimpet. karena kebijaksaan, keceradasan & keilmuannya, Beliau juga diambil menantu oleh Sultan Pajang yaitu Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). R. M Tejakusuma I wafat pada usia 77 tahun dan di makam kan di sebelah barat masjid jami' Lasem.

Sayyid Abdurahman adalah walinegara (Guru Agama Islam) di Lasem yang di ambil dari Tuban. beliau adalah keturunan Sunan Pwa Lang dari Tuban, yang dipanggil di Lasem oleh R.M Tejakusuma untuk diangkat sebagai Walinegara Kadipaten Lasem dan juga diambil sebagai menantu. beliau mempunyai juga mempunyai nama lain Syech Maulana Sam Bwa Asmarakandhi atau biasa dikenal Mbah Sambu. dari Sayyid Abdurahman terlahir ulama2 besar yang ada seluruh penjuru di jawa. Beliu meninggal di Lasem dan di makamkan di sebelah utara Masjid Jami' Lasem.

Berkat jasa adipati R.M Tejakusuma I (Mbah Srimpet) dan juga Walinagara Sayyid Abdurahman (Mbah Sambu) inilah LASEM bisa mempunyai sebuah masjid untuk tempat beribadah agama islam di Lasem hingga bisa bertahan sampai saat ini.

Adipati Tedjakusuma I sebagai Bupati Lasem dari generasi ke-empat setelah Bupati Santi Puspo, pada tahun 1585 dan menempatkan pusat kekuasaannya di Soditan. Tiga tahun setelah menjadi adipati, dengan membangun Masjid Jami' Lasem tahun 1588 berada di sebelah barat alun-alun. Hingga kini masjid ini masih megah setelah mengalami pemugaran-pemugaran. Adipati Tedjakusuma meninggal pada tahun 1632.

Untuk selanjutnya, karena jabatan adipati di Lasem kosong maka Sultan Agung dari Mataram mengangkat Cik Go Ing sebagai adipati dengan gelar Tumenggung Mertoguno. Setelah meninggal, Adipati Tejokusumo I dimakamkan disebelah barat Masjid Jami' Lasem yang sekarang terletak di dusun Kauman, desa Karangturi, kecamatan Lasem. Disebelah barat laut masjid juga terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama makam Mbah Sambu yang dikatakan merupakan seorang Cina yang menyebarkan agama islam di derah ini pada masa Tejokusumo I. Makam Tejokusumo I terletak di sebuah halaman yang dikelilingi oleh tembok bata.

Di dalam areal tembok bata tersebut terdapat tiga makam yang berderet dari barat ke timur. Makam Adipati Tejokusumo I terletak di bagian paling barat. Dua makam lainnya tidak dikenal hingga kini. Jirat makam Tejokusumo I terbuat dari batu bata yang disusun secara bertumpuk semakin ke atas semakin mengecil. Pada setiap sudut dan bagian tengah dari masing-masing sisi jirat terdapat hiasan dengan motif simbar.

Adapun nisan pada makam ini terbuat dari batu andesit yang dibentuk kurawal dengan hiasan medalion pada bagian tengah. 

Adapun makam Mbah Sambu dan istrinya yang berada di sebelah utara makam Adipati Tejokusumo I. 

Makam Mbah sambu dan istrinya berada di dalam cungkup yang berdenah bulat dan beratap kubah yang seluruhnya terbuat dari bata merah berlepa. Kemungkinan besar makam ini sudah dipugar. Di sebelah utara masjid terdapat bangunan terbuka yang terdapat makam-makam yang tidak dikenali identitasnya. Dengan melihat pada nisan-nisannya, tampak dengan jelas bahwa kompleks kuburan ini juga sudah cukup tua. Nisan-nisan yang bisa dilihat di situ sebagian terbuat dari batu andesit dengan bentuk kurawal dan gada. 

Berkat jasa adipati R.M Tejakusuma I (Mbah Srimpet) dan juga Walinagara Sayyid Abdurahman (Mbah Sambu) inilah Lasem bisa mempunyai sebuah masjid untuk tempat beribadah agama islam di Lasem hingga bisa bertahan sampai saat ini.

Menurut cerita Takmir Masjid, makam ini selalu "ingin terbuka". Pernah suatu ketika takmir masjid periode dulu pernah membuat cungkup (atap) dari bahan kayu dan genteng namun akhirnya cungkup itu terbakar. Daun pohon Keben yg menaungi makam ini sekarang, juga layu. Bahkan dulu ada burung melintas di atas makam lalu jatuh terkapar.

Tidak banyak peziarah yg mampir di makam ini, meski berada persis di depan ruang istirahat rombongan peziarah. Sebab yg biasa diziarahi di kompleks Masjid Jami' Lasem adalah makam Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman Basyaiban), Mbah Ma'shum dan Mbah Ahmad Thoifur.

Padahal, energi dari makam ini, menurut takmir masjid, sangat luar biasa. Pengunjung yang sering berziarah di sini malah kebanyakan dari luar pulau Jawa, dan air yang ada di makam ini (genangan di pusara makam), sering diambil oleh para peziarah untuk tabarrukan.


LASEM: MERAJUT PESONA KLASIK YANG MEMUDAR

Tak seperti halnya kota2 kecil lainnya di Jawa, Lasem mempunyai sejarah panjang dan catatan penting dan menarik untuk diikuti dan dikuliti. Sbg sebuah kota kecamatan, secara fisikal tampak lebih berkilau.

Denyut perekonomian lebih berkembang dibanding kecamatan2 lainnya di penjuru kabupaten Rembang. Bahkan sampai pada dekade 90′an lasem nampak lebih mempesona dibanding Kota Rembang itu sendiri. Jadi tak heran warga lasem jaman dulu atau bahkan sampai sekarang lebih bangga mengaku warga Lasem daripada warga Rembang.


AKAR BUDAYA TIONGHOA-ISLAM

Memasuki kota Lasem anda akan dibuat takjub dg bangunan2 super tua gaya arsitek tionghoa bertebaran disisi jalan utama. Apalagi jika anda mau “blusukan” di gang2 atau jalan2 kecil ke arah kanan atau kiri jalan sultan agung, untung suropati atau jalur selatan menuju jatirogo/bojonegoro yakni jalan eyang sambu, anda seolah berada di cina tempoe dulu. Dgn tembok putih setinggi 3-4 meter dan gaya pintu khas cina menciptakan perkampungan pecinan yang eksotis.

Aura kecina2an semakin tak terbantahkan dg bangunan 3 buah klenteng sbg bukti eksisitensi mereka masih terjaga sampai skrg. Julukan china town memang layak disandang kota ini, jejak kedatangan orang2 cina di lasem termasuk gelombang pertama orang2 cina masuk bumi jawa. Yakni sekitar abad 14 masehi. Di samping tembok2 menjulang tinggi di kawasan kota, anda juga bisa mendapati komunitas jawa (baca: islam). Ada belasan pondok pesantren bertebaran di kota yang pernah menjadi setting film “ca bau kan” ini.

Sejarah islam juga cukup mengakar, ini bisa diruntut dari kiprah sunan bonang yang dipercaya pernah hidup lama sampai wafatnya di desa bonang 3 km arah utara kota lasem. Di sini terdapat rumah beliau, masjid, makam dan petilasan (semacam tempat khalwat) beliau. Makam istri sunan bonang keturunan cina (putri campa) juga dapat ditelusuri jejaknya. Memang banyak versi ttg dimana sunan bonang dikebumikan.

Dalam buku2 sejarah perkembangan islam di jawa yg selama ini saya pelajari, selalu saja menyebutkan beliau seolah menetap dan hidup di wilayah tuban. Padahal situs2 peninggalan beliau tumpleg-bleg ada di desa bonang dan sekitarnya. banyak cerita2 yang beredar tentang keberadaan beliau di wilayah bonang. cerita perkelahian antara sunan bonang dan saudagar cina dampo awang di pantai binangun dekat bonang salah satunya.

Kapal sang saudagar karam jangkarnya terdampar di Rembang (jangkar raksasa ini sampai skrg msh bs anda saksikan di komplek Taman Rekreasi Pantai Kartini). Dan layarnya mendarat di bukit pantai binangun (masyarakat menyebut bukit tsb dgn watu layar). ada pula kisah tentang bendi becak, asal usul lontong tuyuhan, dan lain sebagainya yg disandarkan pada sosok sunan bonang.

Tapi menurut sebagian masyarakat lainnya, meski percaya sunan bonang pernah tinggal dan wafat di bonang-lasem tapi makamnya tetap mereka anggap berada di tuban. Sebagai seorang ulama, murid beliau menyebar di penjuru nusantara. Ketika beliau wafat di bonang, murid2nya dari daerah madura/bawean mencoba membawa jasad sunan untuk disemayamkan di daerahnya. Namun, santri2 dr tuban merasa berhak juga atas jasad kanjeng sunan.

Walhasil, pertempuran di perairan tuban tak bisa dihindarkan. Dan murid2 tuban dpt mendaratkan jasad beliau dan di kebumikan di komplek masjid agung tuban kota. Jadi jangan heran jika di tiap tahunnya haul sunan yang punya nama asli maulana malik makdum ini diselenggarakan di 3 tempat yang berbeda, yakni: Di bonang Lasem, Tuban dan Bawean.


BATIK TULIS LASEM

Ada banyak keistimewaan lain dari kota yang punya latar belakang 2 etnis ini (tionghoa-jawa). Salah satunya adalah batik tulis hasil karya perpaduan budaya yang sarat dg cita rasa khas dan bermotif sangat nglasemi (pesisir). Singkronisasi 2 unsur budaya cina dan jawa yg saling “ngeloni” satu dgn yg lainnya menghasilkan maha karya yang waskito dan unik. Cara pengerjaannya terbilang lebih rumit dibanding batik2 dr daerah solo, jogja ataupun pekalongan.


WISATA KULINER

Bicara ttg kota lasem memang tak ada matinya, coba rasakan kedahsyatan selera lidah anda. Sajian khas lontong tuyuhan akan memberi sensasi lain. Lontong berbentuk segitiga dg bungkus daun pisang ini disajikan dg kuah opor plus potongan ayam kampung yang pedasnya lumayan nonjok. Apalagi jk dinikmati di areal komplek warung lontong di desa tuyuhan, dg parkir luas dan tempat yang nyaman disertai latar blkg hamparan sawah dan bukit dan gunung lasem semakin menambah gayeng makan sore anda. Mau mencoba menu lain? Ada mangut khas lasem, sayur mrica, kue gedumbeg, atau sate serepeh.


WISATA ROHANI

Tak hanya budaya dan wisata kuliner bisa anda temukan di kota ini. Wisata religi juga dapat anda rasakan auranya. Seperti disebutkan sebelumnya, 3 klenteng di lasem bisa jadi rujukan jika ingin mengetahui lbh jauh ttg ajaran konghucu dan adat cina peranakan. Bahkan di salah satu klenteng digambarkan dg jelas perjuangan warga cina dan pribumi lasem yg bersatu padu melawan penjajah belanda yang dipimpin oleh 2 tokoh orang tionghoa dan 1 tokoh orang pribumi yang gugur pada tahun 1700an.

Wisata religi lainnya yg tak kalah masyhurnya tentunya peninggalan Sunan Bonang di Bonang, seperti rumah peninggalan beliau, masjid tempat menggembleng murid2nya, pasujudan di atas bukit, tongkat yang di pajang di sisi jalan raya pantura, makam dan sebagainya. Selain itu, anda juga bisa berziarah di komplek pemakaman disebelah utara masjid jami’ Lasem terdapat banyak makam ulama. Tercatat nama mbah sambu atau nama lengkapnya sayyid abdurrahman basyaiban.

Berbeda dengan makam yang disakralkan lainnya, makam ini cukup terbuka karena siapapun bisa berkunjung dan memasuki ruangan makam asalkan sopan dan bisa menjaga sikap. Tetapi yang jelas, ada aturan untuk mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan makam.

Tak jauh dari makam Sambu juga ada beberapa makam kuno lainnya yang juga dinaungi bangunan. Makam-makam itu juga sering menjadi tujuan wisata religi. Sayang, keaslian situs makam-makam kuno pudar karena bangunan makam yang sudah disemen dan dikeramik. Mungkin hal itu dilakukan karena demi faktor kebersihan dan kenyamanan bagi para peziarah.


*

Senin, 29 Agustus 2022

AKHLAQ & SIKAP ROSULULLAH TERHADAP ORANG KAFIR

TELADAN RASULULLAH TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR
Fathoni Ahmadi

Dalam banyak riwayat hadits, Nabi Muhammad SAW adalah teladan akhlak mulia. Hal itu terlihat ketika Rasulullah tetap mendoakan orang yang memusuhinya, menghormati jenazah orang Yahudi, bahkan hendak menshalatkan jenazah orang munafik sebelum Al-Qur’an turun menjelaskan larangannya.

Kasih sayang Rasulullah juga terlihat ketika beliau berhijrah dengan berjalan kaki menuju Thaif. Di kota itu, Rasul tinggal bersama Zaid bin Haritsah selama 10 hari. Di sanalah muncul optimisme bahwa masyarakat setempat akan menerima dakwah Islam.

Nabi bertatap muka dengan pembesar Bani Tsaqif: Abdi Talel, Khubaib dan Mas'ud. Kepada mereka kekasih Allah ini mengenalkan tauhid. Begitu tragis, utusan Allah ini justru menjadi target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor.

Lebih dari itu, Rasul dilempari batu hingga terluka. Dalam kondisi terserang, Zaid melindungi Rasul hingga mengakibatkan kepalanya terluka. Keduanya melarikan diri ke kebun milik Utbah bin Ra bi'ah. Di sana mereka beristirahat dan mengobati luka. Ketika itu Rasulullah bermunajat kepada Allah SWT agar dirinya dikuatkan menghadapi cobaan yang begitu berat.

Allah SWT menjawab doa sang Nabi. Malaikat Jibril dan penjaga gunung mendatanginya. Jibril bertutur kepada sang Nabi,” Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka (masyarakat Thaif)? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan.”

Namun, Rasulullah tidak menghendakinya. Bahkan dia mengharapkan Allah akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat di sana. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam haditsnya.

Teladan rahmah juga diperlihatkan Nabi SAW saat mendapati sikap gegabah putra Zaid bin Haritsah, yaitu Usama. Ada suatu riwayat ketika perang usai, tiba-tiba menyelinap seorang musuh ingin memasuki wilayah kekuasaan prajurit Muslim.

Usama bin Zaid bin Haritsah yang dikenal sebagai Panglima Angkatan Perang Nabi yang usianya masih muda memergoki dan mengejarnya. Musuh tersebut terjebak di sebuah tebing dan jurang sehingga tidak ada lagi jalan keluar. Tiba-tiba saja musuh tersebut meneriakkan dua kalimat syahadat di hadapan Usamah. Panglima Perang Nabi tersebut terperanjat. Namun dia dan pasukannya tidak ingin terkecoh dengan strategi musuh tersebut sehingga akhirnya Usamah tetap menghunus pedangnya dan membunuh orang itu.

Salah seorang sahabat yang menyaksikan peristiwa tersebut melaporkan kepada Nabi Muhammad bahwa Usamah sang Panglima Angkatan Perang telah membunuh musuh yang sudah bersyahadat. Mendengar dan menanggapi laporan tersebut, Nabi marah hingga terlihat urat di dahinya begitu jelas melintang.

Usamah dipanggil oleh Nabi Muhammad kemudian ditanya kenapa membunuh orang yang sudah bersyahadat. Usamah menjawab bahwa tindakan musuh tersebut hanya sebuah taktik belaka. Ia membawa senjata yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan pasukan Muslim. Ia dibunuh karena diduga syahadatnya palsu.

Mendengar secara seksama alasan Usamah membunuh musuh yang sudah bersyahadat, maka Nabi Muhammad mengeluarkan sabda: Nahnu nahkum bi al-dhawahir, wa Allah yatawalla al-sarair (Kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah SWT yang menghukum apa yang tersimpan di hati orang). (KH Nasaruddin Umar, Khutbah-khutbah Imam Besar, 2018)

Jawaban ini menunjukkan betapa tidak bolehnya memvonis keyakinan dan kepercayaan orang lain apalagi dengan mengafirkannya. Saling mengafirkan inilah yang menjadi fenomena umat Islam di zaman kini. Bahkan fenomena yang dilakukan oleh kelompok tertentu itu tidak hanya ditujukan kepada umat lain, tetapi juga ditujukan kepada sesama Muslim hanya karena perbedaan pandangan, dan lain-lain.

Jika seseorang secara formal telah mempersaksikan syahadatnya dengan terbuka, maka umat Islam tidak boleh lagi mengusiknya. Hal ini bukan berarti ketika dia masih kafir lalu umat Islam boleh mengusiknya. Umat Islam tetap harus menghargai dan menghormati keyakinan dan kepercayaan orang lain dengan terus berperilaku dan berdakwah dengan cara sebaik-baiknya.

Soal ada pelanggaran lain, biarkan hukum formal yang akan menyelesaikannya. Atas langkah yang diambilnya itu, Usamah pun langsung memohon maaf kepada Rasulullah dan berjanji akan berhati-hati jika menemui peristiwa serupa di kemudian hari. Karena jika seseorang dieksekusi dengan tuduhan tertentu, maka yang turut menjadi korban adalah keluarga dekat orang tersebut.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon

RASULULLAH TEGUR ABU BAKAR KARENA MELAKNAT ORANG KAFIR

Nabi Muhammad selalu menjaga perkataan yang keluar dari lisannya, dalam segala situasi dan kondisi. Bahkan dalam keadaan marah sekalipun, beliau tidak pernah mengeluarkan ucapan-ucapan yang kotor, merendahkan, apalagi bernada melaknat. Sehingga tidak ada orang yang merasa tersakiti atau terhina dengan perkataan Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad juga orang yang selalu menjaga kehormatan orang lain. Tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak layak dan membuat orang lain tersinggung –meskipun itu betul misalnya. Nabi lebih memilih menggunakan cara lainnya yang tidak membuat orang lain sakit hati. Beliau tahu betul cara menjaga perasaan dam kehormatan orang lain.   

Nilai-nilai itu kemudian diajarkan kepada para sahabatnya. Nabi Muhammad langsung mengingatkan apabila ada sahabatnya yang perkataannya menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Dalam hal ini, Nabi Muhammad pernah menegur Sayyidina Abu Bakar karena ucapannya membuat anak Sa’id  bin Ash marah.

Dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), suatu ketika Nabi Muhammad bersama dengan Sayyidina Abu Bakar, dua anak Sa’id bin Ash, dan beberapa sahabat lainnya pergi ke Thaif untuk suatu urusan. Di tengah jalan, rombongan melewati sebuah kuburan. Sayyidina Abu Bakar kemudian menanyakan siapa penghuni kuburan itu. Dijawab orang-orang, itu adalah kuburan Sa’id bin Ash.  

Mengetahui itu kuburan Sa’id bin Ash, Sayyidina Abu Bakar berdoa kepada Allah agar melaknat penghuni kubur tersebut karena semasa hidupnya memerangi Allah dan Nabi Muhammad. Doa Sayyidina Abu Bakar itu membuat telinga Amr – salah satu anak Sa’id bin Ash yang ikut dalam rombongan -- memerah. Amr marah dan mengadukan hal itu kepada Nabi Muhammad. 

Kepada Nabi Muhammad, Amr membandingkan kebaikan ayahnya dengan ayah Sayyidina Abu Bakar. Menurut dia, Sa’id bin Ash lebih banyak menolong orang yang kesusahan dari pada ayah Sayyidina Abu Bakar, Abu Quhafah.

“Wahai Rasulullah, ini adalah kuburan orang yang lebih banyak memberi makan dan banyak menolong orang yang kesusahan dibandingkan Abu Quhafah,” kata anak Sa’id bin Ash itu. 

Nabi Muhammad kemudian melerai mereka. Di satu sisi, beliau meminta Amr untuk tidak meneruskan perselisihan itu. Di sisi lain, Nabi menasihati Sayyidina Abu Bakar agar menghindari kata-kata yang khsusus jika membicarakan orang kafir. Alasannya, agar anak-anak orang kafir yang dibicarakan itu tidak marah.

"Wahai Abu Bakar, bila kamu berbicara tentang orang kafir maka buatlah kalimat yang masih umum. Bila kamu menyebut seseorang secara khusus, maka anak-anaknya tentu akan marah,” kata Nabi Muhammad kepada Sayyidina Abu Bakar. Umat Islam tidak pernah lagi menjelek-jelekkan orang kafir setelah peristiwa itu. (Muchlishon)


MEMAHAMI AYAT 'RASULULLAH KERAS KEPADA ORANG KAFIR' SECARA TEPAT

Islam merupakan agama paripurna yang menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian, persaudaraan dan kerukunan. Namun, kadang karena ulah segelintir orang yang salah memahami, Islam tak jarang dianggap sebagai agama promotor kekerasan, perpecahan, dan kekacauan. Akibatnya, citra dan nama baiknya kerap mendapat stigma akibat sikap dan pemikiran keliru dari sebagian pemeluknya.

Ada ayat yang cukup populer dan sering menjadi "stempel" untuk membenci dan bersikap keras kepada mereka yang berlainan agama, yakni surat Al-Fath ayat 29 yang berbunyi:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Artinya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al-Fath [48]: 29).

Ayat ini tak jarang dijadikan sebagai legitimasi dan bahan bakar untuk bersikap keras dan membenci orang-orang yang berbeda agama, meskipun mereka tidak mengganggu atau bahkan berbuat baik kepadanya. Benarkah sikap ini? Akibatnya, Islam akan terlihat sebagai agama teror dan beringas, sehingga ia tak lagi dikenal sebagai agama ramah yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, namun berjibaku dengan sikap intoleran.

Sebelum menjadikan potongan ayat ke-29 dari Al-Qur’an surat Al-Fath di atas sebagai dalil untuk bersikap keras, ada beberapa poin penting yang perlu dimengerti secara utuh, misalnya terkait sebab-sebab dan waktu diturunkannya ayat, penafsiran ulama, dan sikap Rasulullah dalam memerankan ayat tersebut. Mari mulai kita bahas dari poin pertama. 

Sebab Turunnya QS al-Fath Ayat 29 Syekh ‘Alauddin Ali bin Muhammad bin bin Ibrahim al-Baghdadi, yang lebih masyhur dengan sebutan Syekh al-Khazin (wafat 741), dalam kitab tafsirnya menjelaskan, ayat di atas diturunkan ketika Rasulullah hendak melakukan ibadah haji, kemudian dihalang-halangi oleh koalisi kafir Quraisy. Dengan kata lain, ayat itu turun dalam situasi tidak aman. Ada penyerangan dari orang kafir kepada Rasulullah dan umat Islam ketika mereka hendak melakukan ibadah.

Karena diserang, Rasulullah dan para sahabat merespons serangan mereka dalam rangka menjaga diri agar tidak diam dengan serangan orang kafir. Dengan kejadian itu akhirnya terciptalah yang namanya suluh (perjanjian damai) Hudaibiyah (Syekh al-Khazin, Lubabut Ta’wif fi Ma’anit Tanzil, [Lebanon, Bairut, Darul Fikr, 1979], juz VI, h. 214).

Dengan mengetahui sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) di atas, kita dapat memahami bahwa ayat tersebut turun bertepatan dengan konfrontasi dan suasana penuh ketegangan, tepatnya ketika umat Islam hendak melakukan ibadah. Sehingga, akan keliru ketika ayat 29 dalam surat al-Fath itu diterapkan dalam situasi damai.

Oleh karenanya, poin yang sangat penting sebelum menukil kemudian menerapkan suatu ayat Al-Qur’an, adalah memahami waktu dan konteks diturunkannya ayat, dan kepada siapa ayat itu ditujukan. Sehingga, kekeliruan memahami Al-Qur’an yang justru menjadi penyebab citra Islam tercoreng akan hilang dan tidak terulang kembali.

Penafsiran Ulama atas QS al-Fath Ayat 29 Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi (wafat 1270 H), dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat hanya dikhususkan kepada para sahabat Nabi yang terlibat dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah saat itu. Mereka yang tidak terlibat di dalamnya, tidak memiliki sikap sebagaimana yang tergambar pada ayat di atas. Sedangkan yang dimaksud ayat “orang yang bersama dengan dia” adalah sahabat Abu Bakar,   -

(وَالَّذِينَ مَعَهُ) أَبُوْ بَكْر (أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ) عُمَرُ (رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ) عُثْمَانُ (تَراهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً) عَلِى

Artinya, “(Yang dimaksud ayat) orang yang bersama dengan dia adalah Abu Bakar; bersikap keras terhadap orang-orang kafir adalah umar; tetapi berkasih sayang sesama mereka adalah Utsman; dan kamu melihat mereka rukuk dan sujud adalah Ali” (Syekh al-Alusi, Ruhil Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Adzim was Sab’il Matsani, [Bairut, Darul Kutubil Ilmiah, cetakan pertama: 1998], juz XIX, h. 241).

Tidak hanya Syekh al-Alusi, penafsiran yang sama juga disampaikan oleh mayoritas ulama ahli tafsir, di antaranya, (1) Imam Abdurrahman bin al-Kamal Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitab tafsirnya, ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, juz VII, h. 544; (2) Syekh Abu Ishaq an-Naisaburi, dalam kitab al-Kasyfu wal Bayan, juz IX, h. 66; (3)

Syekh Muhyissunnah al-Baghawi, dalam kitab Ma’alimut Tanzil, juz VII, h. 325; dan beberapa ulama ahli tafsir lainnya. Dengan mengetahui penafsiran yang benar, melalui pemahaman para ulama ahli tafsir, akan tampak bahwa segelintir orang yang menggunakan ayat ini sebagai landasan memusuhi hanya karena berbeda agama sejatinya berseberangan dengan ajaran Islam dan maksud ayat itu sendiri.

Oleh karenanya, sebagaimana penjelasan awal, ada hal yang sangat penting sebelum melakukan gerakan atas nama Islam, yaitu memahami secara utuh landasan atas gerakan tersebut. Sikap Rasulullah saat Turunnya Ayat Ada fakta menarik yang perlu diketahui terkait sikap Rasulullah dalam menerima ayat 29 dalam surat al-Fath. 

Ketika ayat itu diturunkan, secara bersamaan Rasulullah juga sedang mengupayakan perdamaian dengan pembesar-pembesar kafir Quraisy melalui perjanjian damai (suluh) Hudaibiyah. Bahkan, tak sedikit pun terlihat darinya sikap keras dan kaku dalam menghadapi mereka.

Ketika Rasulullah mampu melakukan pembalasan atas kekejian mereka yang pernah menghadang dan menghalanginya untuk melakukan ibadah itu, beliau tidak berkenan membalas sedikit pun, tepatnya pada peristiwa pembebasan kota Makkah (fathu Makkah), beliau menampakkan akhlaknya yang mulia.   B

Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam kitab Fiqhus Sirah Nabawiyah mengisahkan kejadian itu. Menurutnya, ketika Rasulullah mampu membalas semuanya, kala koalisi kafir Quraisy tidak memiliki kekuatan dan bekal apa pun untuk menyerangnya, justru Rasulullah memberikan pengamanan kepada mereka. Al-Buthi mengutip riwayat al-Baihaqi, yaitu:

قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ مَا تَرَوْنَ أَنّي فَاعِلٌ فِيكُمْ؟ قَالُوا خَيْرًا، أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ اذْهَبُوا فَأَنْتُمْ الطّلَقَاءُ

Artinya, “Rasulullah berkata, “Wahai orang-orang Quraisy! Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Mereka menjawab, “Kebaikan. Saudara yang mulia. Keponakan yang mulia.” Rasulullah bersabda, “Pergilah kalian. Sekarang kalian merdeka.” (Syekh al-Buthi, Fiqhus Sirah Nabawiyah, [Bairut, Darul Fikr: 2019], h. 284).

Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat kita pahami bahwa ayat di atas tidak sepatutnya dipahami secara tekstual tanpa melalui pengajian dan pendalaman perihal sebab, konteks, dan sikap Rasulullah ketika menerima ayat. Sebab, tanpa memahami semuanya, seseorang rawan terjerumus kepada pemahaman keliru yang justru tidak selaras dengan maksud dan kandungannya.

Akibatnya, semua perjuangan untuk membela Islam, sejatinya menghilangkan citra dan marwah Islam itu sendiri. Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan.

Sumber: https://islam.nu.or.id/tafsir/ayat-rasulullah-keras-kepada-orang-kafir-2gzpw

AKAL DAN HATI UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH

KECERDASAN AKAL DALAM BERAGAMA

Anugerah istimewa dari Sang Pencipta kepada setiap manusia adalah AKAL. Ia istimewa karena keunggulan dan keluhurannya.  Perbedaan mendasar dengan makluk lainnya itu terletak pada kecerdasan akalnya.  Manusia mampu secara relatif maksimal dalam mendayagunakan dengan tepat dan baik kecerdasan akalnya.

Fungsi akalnya terdapat potensi dan aktifitas untuk menimbang, berpikir, menentukan pilihan-pilihan, atau mengambil satu alternatif keputusan atas rangkaian setiap masalah yang datang silih berganti sepanjang hayatnya. Oleh sebab itu, eksistensi manusia sangat ditentukan oleh keberadaan dan kewarasan akalnya.


PERSPEKTIF

Antar manusia sesama berakal dalam segala halnya hanya berbeda pada perspektif yang melingkupinya. Bukan karena manusia lebih berakal dari manusia lain, melainkan karena setiap atau sebagian manusia mengarahkan potensi akalnya itu ke arah atau jalur yang berbeda.

Bisa juga karena tingkat potensi kecerdasan manusia yang berbeda sehingga sebagiannya melihat dengan akurat apa yang tidak terlihat oleh yang lainnya.

Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa kehidupan manusia di dunia ini menjadi statis atau dinamis, mundur atau maju, primitif atau berperadaban maju dan seterusnya adalah sangat dipengaruhi oleh aktifitas kecerdasan akal manusia yang terus berpikir, berinovasi, menentukan pilihan, dan atau memiliki kehendak yang berbeda-beda.

SYARAT TAKLIF

Bahkan agama samawi menjadikan akal sebagai syarat taklif (pembebanan hukum), sehingga manusia yang tidak waras akalnya (gila) sama sekali tidak dibebani kewajiban untuk melaksanakan ajaran agamanya. Hal ini menjadi bukti bahwa agama itu sejatinya hanya untuk manusia yang waras akalnya.

Oleh sebab itu pula, maka dalam beragama pun setiap orang berkewajiban menjaga kewarasan akalnya, yakni tidak memahami maksud dan menjalankan agama berdasarkan dorongan hawa nafsunya. Agar terhindar dari bencana.


AGAMA MENGUTAMAKAN KEWARASAN

Maksud baik dari diturunkannya agama di antaranya adalah untuk menjaga kewarasan akal manusia beserta segala potensinya. Ajaran Islam misalnya mengharamkan manusia mengkonsumsi segala zat yang memabukkan, dalam kadar yang sedikit atau banyak adalah untuk tujuan memelihara kewarasan akalnya.

Kewarasan dan kecerdasan akal sangat penting untuk terus menerus dipelihara, karena dengan kecerdasan akalnya itu manusia dapat membedakan mana yang bermanfaat dari yang sia-sia, mana yang benar dari yang bathil, apa yang halal dari yang haram, atau apa yang maslahat (manfaat) dari yang mafsadat (merusak)

AKAL BARU WARAS JIKA TAKLUK KEPADA WAHYU

Lebih-lebih jika akal itu dibimbing oleh wahyu, sedangkan wahyu dari Tuhan itu dipahami dengan sebenar-benarnya oleh akal yang waras lagi berisi ilmu. Dengan demikian, maka akal sehat itu menjadi penerang bagi pemiliknya menuju jalan kebenaran, kebaikan, hidayah dan segala kebajikan dunia dan akhirat.

Agama sangat mengecam manusia yang tidak menggunakan akalnya, dan sebaliknya memotivasi kita untuk banyak berpikir dan merenung agar memperoleh kebenaran yang hakiki, terhindar dari apa saja yang merusak, merugikan, dan apa saja yang bisa nembahayakan diri sendiri dan atau orang lain.

Beragama tanpa kewarasan dan kecerdasan akal berarti beragama dengan cara memperturutkan hawa nafsu yang memerintahkan kepada keseluruhan keburukan dan bahkan mungkin mengarah kepada bencana kemanusiaan. Akal sehat adalah pilar terpenting dalam beragama secara benar, manusiawi, lebih bijak, bermanfaat, dan lebih bermartabat.


BERIBADAH DENGAN HATI DAN AKAL SEHAT


Ibadah merupakan bentuk manifestasi penghambaan manusia (makhluk) kepada Allah swt (khaliq). Pengamalan ibadah ini juga merupakan bukti syukur yang dilakukan seorang hamba kepada Allah swt. Ketika seorang hamba tersebut sudah mengetahui hakikat ibadahnya sebagai bentuk syukur, maka pada saat itulah ibadah akan menjadi perisainya.

Allah swt berfirman dalam Surat an-Nahl ayat 18, "Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitungnya (karena banyaknya). Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyayang."

Sejatinya, bahwa hakikat ibadah itu adalah untuk melaksanakan apa yang dicintai dan diridhai Allah swt dengan penuh kepasrahan dan karakter rendah diri kepada Allah. Ibadah merupakan bentuk membangun jalinan komunikasi antara manusia dengan Allah swt (hablum minallah). Hal ini telah ditegaskan Allah swt dalam Surat adz-Dzariyat ayat 56, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Beribadah itu harus merujuk pada tatanan yang benar, yang dibangun atas rasa cinta dan pengagungan. Beribadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, semaunya sendiri. Tetapi harus mengikuti tuntunan dalam al-Qur’an dan mengikuti petunjuk dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Pernahkah kita merenung tentang praktik beribadah yang kita lakukan sehari-hari? Apakah kita sudah cukup baik dan benar dalam melaksanakan ibadah atau hanya semata-mata menjalankan rutinitas saja? Ataukah masih merindukan untuk mendapatkan nilai tambah dari aspek spiritualitasnya? 

Kita sering mendengarkan pengalaman ibadah dari teman-teman atau guru-guru kita sesama Muslim. Sehingga semakin dapat meningkatkan kualitas ibadah diri kita.

Kali ini, hadir, seorang mualaf yang menceritakan pengalaman ibadahnya secara alami. Seorang yang merupakan dosen dan peneliti bidang pendidikan matematika di Universitas Kansas, Amerika Serikat yaitu Jeffrey Lang.

Ia lahir dalam keluarga penganut paham Katolik, pada 30 Januari 1954. Selama perjalanan hidupnya, Jeffrey Lang sering bertanya-tanya yang tak kunjung mendapatkan jawaban, hingga akhirnya pada usia 18 tahun, Jeffrey Lang memutukan menjadi seorang atheis.

Alhamdulillah, akhirnya tidak bertahan lama. Jeffrey Lang berhasil mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang ‘menggelisahkan’ tersebut, saat bekerja sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika Universitas San Fransisco. Jeffery Lang berhasil menemukan petunjuk bahwa Tuhan itu ada dan nyata. Petunjuk tersebut, ia dapatkan dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam. Subchanallaah.

Jeffrey Lang– sebagaimana dalam sinopsis bukunya, menegaskan bahwa menulis buku memiliki tujuan pertama dan terutama untuk anak-anaknya –untuk menuntut mereka melalui al-Qur’an dalam cara yang mengagumkan dan memperkenalkan mereka kepada Lima Rukun Islam, dengan menekankan spiritualnya ketimbang rutinitas legalistiknya.

Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al-An’am ayat 162, “Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta alam”.

Dengan meresapi makna di balik Rukun Islam, menyeru kepada keimanan, keintiman dalam beribadah, pengalaman menjalankan rukun Islam: saat berpuasa Ramadhan, zakat, haji, dan ditutup dengan bahasan tentang ibadah dan tujuan hidup manusia.

Seorang mualaf yang juga profesor matematika berhasil menjelaskan bahwa ibadah-ibadah ritual merupakan bagian penting dalam ajaran Al-Qur’an untuk meningkatkan kualitas diri manusia.


ADA KETERKAITAN MENDALAM ANTARA AKAL DAN HATI

Cendekiawan Muslim Indonesia Prof HM Quraish Shihab mengatakan Ada keterkaitan mendalam antara akal dan hati manusia. Antara akal dan hati satu sama lain itu menyatu.

“Kita perlu meletakkan sedikit akal pada perasaan, agar berjalan lurus, tidak emosi. Kita juga perlu meletakkan sedikit hati, perasaan di dalam akal agar tidak menjadi orang yang arogan,” tuturnya.

Pendiri Pusat Studi Qur’an (PSQ) itu menyebutkan, akal memiliki kelemahan, bisa letih jika terus digunakan dan dapat mengalami kesalahan.

“Oleh karena itu, perlu berhati-hati dan akal perlu pendukung yaitu hati,” tandasnya.

Menurut Prof Quraish, akal juga memiliki bidang garapan tersendiri dan memiliki bidang operasinya sendiri. Sehingga tidak bisa membawa akal untuk mengukur moral karena akal hanya mendukungnya.

“Ada dua hal yang akal tidak dapat kerjakan tapi hati dapat lakukan, yaitu iman dan cinta. Akal tidak dapat berperan dalam hal itu, misalkan memang berperan pasti seorang ibu lebih memilih anak yatim yang gagah dan baik untuk dijadikan anak, daripada memilih anak kandungnya sendiri yang buruk. Di situlah hati berperan,” jelasnya.

ILMU DAN IMAN


Pengarang Tafsir Al-Misbah itu juga mengungkapkan, akal bisa menghasilkan sebuah ilmu, sedangkan hati dapat melahirkan iman.

“Ada banyak perbedaan ilmu dan iman yang dapat saling menguatkan. Ilmu itu memberi kekuatan pada manusia serta menerangi jalannya. Sedangkan iman itu menerapkan arah untuk memelihara niat suci manusia,” terangnya.

Prof Quraish menambahkan, ilmu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sedangkan iman akan menyesuaikan jati diri manusia dengan diri manusia itu sendiri, sehingga akan sesuai dengan apa yang diimani.

“Ilmu dapat diibaratkan dengan air telaga yang tenang, tetapi seringkali meresahkan. Sedangkan iman seperti air bah, tetapi selalu menenangkan. Karena ilmu adalah hiasan lahir dan iman adalah hiasan batin,” imbuhnya.

Pria asal Sidrap Sulawesi Selatan ini menegaskan, ilmu tanpa iman sama dengan lentera di tangan pencuri. Sedangkan jika iman tanpa ilmu sama dengan kompas di tangan bayi. “Keduanya tidak akan bermanfaat untuk manusia,” pungkasnya.

MENGHINDARI MODEL MODEL JAHILIYAH

MENGHINDARI KARAKTER JAHILIYAH

Oleh: H. Ahmad Zuhri Adnan, M. Pd. (Ketua LDNU Kab. Cirebon, Pengasuh PP Ketitang Cirebon)


KHUTBAH PERTAMA

الحَمدُ لِله الَذِي اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَرْسَلَهٗ اللٰه تَعالى دَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِۦ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ    

Jamaah Jumat rohimakumulluh Terlebih dahulu, dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT yaitu dengan menjalankan perintah Allah SWT dengan ikhlas, khusyu, lagi penuh tawakkal serta menjauhi larangan Allah SWT dengan penuh kesadaran dan keihlasan. Sholawat dan salam mudah-mudahan tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Jamaah Jumat rohimakumulluh Kondisi masyarakat arab sebelum kedatangan Islam dikenal dengan sebutan zaman jahiliyah yaitu, kondisi yang diliputi kebodohan tentang Allah dan rasulNya, dan bodoh syariat agama. Mabuk-mabukan dan Berjudi, berbangga-bangga dengan nasab, kesombongan dan sejumlah penyimpangan lainnya adalah hal yang biasa dilakukan di masa jahiliyah.   

Karakter jahiliyah ini setidaknya ditandai dengan beberapa kondisi antara lain kondisi sosial budaya, kondisi sosial politik dan kondisi agama dan kepercayaan. 

1) Kondisi sosial budaya yang paling nyata adalah kebiasaan menguburkan anak-anak perempuan mereka hidup-hidup. 

2) kondisi sosial politik ditandai dengan fanatik kesukuan dan berbangga-bangga dengan nasab sehingga resisten dalam perpecahan dan permusuhan. Sementara 

3) dari sisi agama dan keyakinan masyarakat Arab sebelum Islam adalah masyarakat yang tidak mengenal agama tauhid sehingga moralitasnya sangat minim. Agama masyarakat Arab sebelum Islam datang adalah paganisme, yahudi dan kristen. Agama pagan menjadi agama mayoritas mereka. Ratusan berhala ditempatkan disekitar ka'bah untuk disembah. 

Hadirin hadaniyallah wa iyyakum Ada empat sifat jahiliyah yang diungkap dalam Al-Qura’an dan ada empat yang diungkap dalam Hadits. Semuanya adalah sikap dan karakter bodoh dan mungkar yang dibenci Allah dan harus dijauhi.


4 PERKARA JAHILIYAH DALAM AL-QUR’AN

Pertama, zhannul jahiliyah, yaitu anggapan orang munafik bahwa Allah dan Rasul itu dusta. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali Imran: 154

 وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ 

Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?.” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (QS. Ali Imran: 154) 

Ayat ini bercerita tentang perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin mulai terdesak karena harus menerima tekanan dari dapan dan belakang. Meskipun demikian, Allah berikan ketenangan bagi para sahabat, sampai mereka dibuat ngantuk. Namun berbeda dengan orang munafiq yang terlibat dalam pertempuran itu. Mereka sangat cemas, sangat takut, hingga muncul anggapan tidak benar tentang Allah, Rasul-Nya dan agama islam. Muncul anggapan di benak mereka, jangan-jangan Allah dusta, jangan-jangan yang dijanjikan Muhammad itu palsu. Allah sebut sangkaan semacam ini sebagai dzan jahiliyah.

Kedua, hukmul jahiliyah, yaitu orang yang meninggalkan hukum Al-Quran dan membuat hukum sendiri tanpa menggunakan ilmu. Hal itu diungkap dalam QS. QS. Al-Maidah: 50 

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ 

“Apakah mereka mau mencari hukum Jahiliyah. Siapa yang lebih baik hukumya bagi orang yang yakin?” Allah mengkritik manusia yang meninggalkan aturan Allah yang penuh kebaikan dan yang menjauhkan dari berbagai keburukan. Orang jahiliyah menjadikan orang-orang sesat dan bodoh untuk diambil pendapatnya. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:

  مَنْ حَكَمَ بِغَيْرِ حُكْمِ اللٰهِ فَحَكَمَ  

“Siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah, itulah berhukum dengan hukum jahiliyah.”  

Ketiga, tabarruj ala jahiliyah, yaitur dandanan seperti orang jahiliyah. Yakni wanita yang menampakkan kecantikan dan keelokan tubuhnya di hadapan laki-laki lain. Sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Ahzab: 33

 وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ 

“Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan tegakkanlah shalat.” 

Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 433), wanita yang disebut berdandan ala jahiliyah yang pertama adalah berdandan yang dilakukan oleh wanita dengan berpenampilan cantik di hadapan para pria dan ini terjadi sebelum Islam. Sedangkan dalam Islam, yang boleh ditampakkan disebutkan dalam ayat,

 وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا 

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31). 

Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. 

Keempat, Hamiyyatil jahiliyah, yaitu Fanatisme golongan dan menolak kebenaran kelompok lain/ sebagaimana termaktub dalam Q.  Al-Fath: 26, 

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا 

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.”  

Ayat di atas menjelaskan perjanjian Hudaibiyah. Orang kafir tidak mau menuliskan bismillahirrahmanirrahim di klausul perjanjian. Mereka juga menolak kalimat, “Muhammad Rasulullah”. Padahal itu semuanya kebenaran. Mereka tolak itu, karena fanatik jahiliyah, yang membuat mereka benci kebenaran. Sifat seperti itu masih terpelihara di zaman sekarang ini. 

Fanatisme boleh asalkan tidak melemahkan persatuan dan tetap mengedepankan toleransi. Hendaklah kita sebagai muslim berpikiran terbuka, mengutamakan persamaan daripada perbedaan, dengan bertasamuh dan saling sayang menyayangi

Hadirin hadaniyallah waiyyakum...

Adapun karakter jahiliyyah yang disabdakan oleh Rasulullah adalah sebagimana diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Asy’ari RA,

  أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ: النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ 

“Ada empat perkara khas jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: 

(1) membanggakan jasa (kelebihan atau kehebatan) nenek moyang; 

(2) mencela nasab (garis keturunan), 

(3) menisbatkan hujan disebabkan oleh bintang tertentu, dan 

(4) dan niyahah (meratapi mayit)” 

Pertama yaitu Mereka membanggakan kebiasaan nenek moyang adalah karakter orang-orang jahiliyah. Mereka mempercayai bintang-bintang, pohon-pohon besar, gunung, kuburan, dukun-dukun tukang sihir dll. Di antara mereka bahkan ada yang menyembah bintang. Mereka meyakini ada bintang-bintang tertentu yang membawa keberkahan dan ada pula bintang-bintang tertentu membawa kesialan dan bencana. 

Yang kedua adalah kebiasaan membanggakan keturunan. Keturunan memang penting, tetapi menjadi bermasalah ketika terlalu membangga-banggakan keturunan (nasab).  Tak sedikit orang di dunia ini yang terus larut dalam aliran perasaan membanggakan diri sebagai keturunan bangsawan, keturunan pejabat, kyai, habaib, keturunan orang kaya dll. 

Tentunya itu bermasalah dengan makna kemuliaan sesungguhnya dalam ajaran slam. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, kemuliaan yang sesungguhnya ialah berdasarkan ketakwaan seseorang.  

Karakter jahiliyah berikutnya adalah menisbahkan hujan disebabkan oleh bintang tertentu atau peristiwa tertentu. Mereka meyakini bahwa bintang, pohonan, arwah nenek moyang  menentukan turunnya hujan. Atau tetap meyakini Allah akan tetapi dia mengaitkan antara turunnya hujan tersebut dengan bintang-bintang tertentu. Maka hal ini merupakan syirik karena telah menisbatkan (mengkaitkan) sesuatu yang merupakan takdir Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. 

Yang keempat adalah meratapi mayit. Adalah manusiawi ketika kita menagis dan merasa bersedih jika ditinggal orang yang paling kita sayangi. Namun menagisi mayit dengan cara niyahah (meratapi berlebihan) dilaknat oleh Allah. 

Rasulullah SAW menyatakan berlepas diri dari umatnya yang gemar meratapi mayit. Diriwayatkan dari sahabat 'Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ 

“Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap).” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103). 

Jamaah Jumat rohimakumulluh ... 

Demikianlah khutbah ini. Semoga kita semua senantIasa dapat menjaga diri kita dari perkara dan karakter jahiliyah yang dapat merusak iman kita. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua dengan hidayah dan Ridlanya Aamiin. 

 أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ  بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ , وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 

KHUTBAH KEDUA

  اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ  أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ 

Sumber: https://jabar.nu.or.id/khutbah/menghindari-karakter-jahiliyah-xPZYm

Jumat, 26 Agustus 2022

KEUTAMAAN ILMU DAN ULAMA DALAM HADITS NABI MUHAMMAD

KEUTAMAAN ILMU DAN ULAMA DALAM HADITS NABI MUHAMMAD

Mukasyafatul Qulub menyebutkan keutamaan Al-Qur’an, ilmu dan ulama pada bab tersendiri. Al-Ghazali mengutip beberapa hadits yang menerangkan keutamaan ilmu dan ulama pada bab ini dari sejumlah perawi hadits.

Al-Ghazali mengatakan, banyak hadits menerangkan keutamaan ilmu dan ulama. (Imam Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2019 M/1440 H], halaman 277). 

1. Orang alim merupakan orang yang dikehendaki sebagai orang baik.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ
وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ

Artinya, “Siapa saja yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya ia akan diberi pemahaman dalam agama dan diilhami petunjuk-Nya,” (HR At-Thabarani dan Abu Nu’aim).

2. Orang alim merupakan ahli waris para nabi yang mendapatkan derajat mulia.

الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ (رواه أبو داود والترمذي)

Artinya, “Ulama adalah ahli waris para nabi." (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Telah maklum bahwa tidak ada pangkat di atas derajat para nabi dan tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan ahli waris bagi derajat tersebut.

3. Orang alim adalah orang beriman yang bermanfaat melalui ilmunya baik untuk orang lain maupun untuk dirinya sendiri.

أَفْضَلُ النَّاسِ المُؤْمِنُ العَالِمُ الذِي إِذَا احْتِيْجَ إليه نَفَعَ، وإن اسْتُغْنِيَ عنه أغْنَى نَفْسَه

Artinya, “Orang paling utama adalah seorang mukmin alim yang bermanfaat bila dibutuhkan dan mencukupi dirinya bila ‘tidak diperlukan,’” (HR Ibnu Asakir). 4. Orang alim berjuang mengedukasi

4. Orang alim berjuang mengedukasi masyarakat sesuai petunjuk para rasul.

أَقْرَبُ النَّاسِ مِنْ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ أَهْلُ العِلْمِ وَالْجِهَادِ، أَمَّا أَهْلُ الْعِلْمِ فَدَلُّوْا النَّاسَ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُسُلُ وأَمَّا أَهْلُ الجِهَادِ يُجَاهِدُوْنَ بِأَسْيَافِهِمْ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُسُلُ

Artinya, “Orang paling dekat dengan derajat kenabian adalah ulama dan pejuang. Ulama memberikan petunjuk kepada manusia atas ajaran yang dibawa para rasul. Sedangkan pejuang berjihad dengan senjata mereka atas ajaran yang dibawa para rasul,” (HR Ad-Dailami).

5. Satu orang alim merupakan seorang warga yang berkualitas karena tingkat literasinya, sehingga setara dengan sekelompok warga tanpa kualitas.

 

لَمَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

Artinya, “Kematian satu kabilah lebih ringan daripada kematian seorang alim,” (HR At-Thabarani, Al-Baihaki, Abu Ya’la, dan Ibnu Asakir).

6. Tinta pada karya tulis ulama dan tetesan darah pejuang sangat penting. Tetapi bobot ganjaran tinta ulama kelak melebihi bobot tetesan darah syuhada.

يُوْزَنُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِدَادُ العُلَمَاءِ بِدَمِ الشُّهَدَاءِ

Artinya, “Pada hari kiamat tinta (karya tulis) ulama ditimbang bersama tetesan darah syuhada. (Hasilnya lebih berat nilai tetsan tinta ulama sebagaimana riwayat lain),” (HR Ibnu Abdil Barr, Ibnun Najjar, Ibnul Jauzi, As-Syairazi, Al-Marhabi, dan Ad-Dailami).

7. Orang alim adalah ia yang teidak pernah puas dahaganya pada ilmu sampai ia tiba di surga.

لاَ يَشْبَعُ عَالِمٌ مِنْ عِلْمٍ حَتَّى يَكُونَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةُ

Artinya, “Seorang alim tidak adakan pernah kenyang terhadap

terhadap ilmu sampai ujungnya adalah surga.” (HR Al-Qudha’i dalam Musnad As-Syihab). 8. Anti-ilmu dan gila harta bibit kerusakan umat Nabi Muhammad saw.


هَلَاكُ أُمَّتِيْ فِيْ شَيْئَيْنِ تَرْكِ العِلْمِ وَجَمْعِ

المَالِ
Artinya, “Kebinasaan umatku terletak pada dua hal, yaitu (1) meninggalkan ilmu, dan (2) menumpuk harta.” 9. Terkait ilmu, umat Islam hanya memiliki empat pilihan terbaik.

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنِ الخَامِسَةَ أي مُبْغِضًا فَتَهْلِكَ

Artinya, “Jadilah kamu seorang alim, pelajar, pendengar, atau pecinta (ilmu). Jangan kamu menjadi yang kelima, yaitu pembenci (ilmu), maka binasalah kamu,” (HR Al-Bazzar, At-Thabarani, Al-Baihaki). 10. Penolakan Allah atas seorang hamba ditandai dengan keluputannya dari ilmu.

إِذَا رَدَّ اللهُ عَبْدًا حَظَّرَ عَلَيْهِ العِلْمَ

Artinya, “Jika Allah menolak seorang hamba, niscaya Dia luputkan orang tersebut dari ilmu.” 11. Miskin harta berbahaya, tetapi miskin ilmu lebih berbahaya.

لَا فَقْرَ أَشَدُّ مِنَ الجَهْلِ

Artinya, “Tidak ada kefakiran yang lebih (parah) dari kebodohan,” (HR Abu Bakar bin Kamil pada Mu’jamnya, Ibnun Najjar, Ibnu Hibban, dan Al-Qudha’i). Terkait keutamaan Al-Qur’an, ilmu, dan ulama, Imam Al-Ghazali mengutip Surat Al-A’raf ayat 145, pandangan Imam As-Syafi’i, dan Sayyidina Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra. (Al-Ghazali, 2019 M/1440 H: 277). Wallahu a’lam. (Ustadz Alhafiz Kurniawan)

Sumber: https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/keutamaan-ilmu-dan-ulama-dalam-hadits-nabi-JMzPd

Rabu, 24 Agustus 2022

ADA YANG SALAH FAHAM TENTANG KESURUPAN DI PONDOK PESANTREN

ADA YANG SALAH FAHAM TENTANG KESURUPAN DI PONDOK PESANTREN 

"Dipondok koq bisa kesurupan, bukankah harusnya syethan nggak bisa berbuat apa apa jika diruang lingkup orang orang mengaji dan beribadah, padahal sebelumnya tidak pernah kesurupan"

Jawabannya begini ...

Jika diluar pondok, orang yang diganggu syethan dan ditemani jinn, mereka tak perlu disurup untuk di kuasai dan disesatkan. Ketika ada anak baru nyantri koq kesurupan, ternyata mereka sebenarnya sudah dalam keadaan disertai syethan atau Jinn saat dirumahnya. Dan syetan sangat leluasa mempengaruhi orang yang disertainya untuk berbuat tak sesuai dengan agama. 

Yang terjadi saat santri memasuki lingkungan pondok dan dipaksa mengikuti kegiatan secara disiplin dalam peribadatan dan menuntut ilmu, mengakibatkan "syethan tak leluasa lagi mempengaruhi orang nya (santri), sehingga muncullah perlawanan dari syethan yang sedang merasakan terganggu ulahnya. 

Itulah sebabnya kesurupan dipondok pesantren. Dan kebanyakannya hanyalah santri yang baru masuk saja.

Jadi tidaklah benar jika pesantren menjadi penyebab santri kesurupan dan semacamnya. Karenanya pertama kali di saat santri masuk dan mengikuti kegiatan dipondok pesantren, biasanya menangis karena enggan lalu maunya kembali pulang kerumah alias tidak mau mondok, menampakkan kesedihan lalu sakit, sering melamun dan malas-malasan mengikuti kegiatan pondok. Bahkan sampai membuat ulah yang buruk atau tidak menyenangkan. Itu semua pengaruh dari syethan yang sudah mempengaruhi saat mereka dirumah agar mereka berbuat yang buruk dan sia-sia.

PENYEBAB KEFAQIRAN MENURUT KITAB TA'LIM MUTA'ALLIM AL IMAM ZURNUJI

PENYEBAB KEFAQIRAN MENURUT KITAB TA'LIM MUTA'ALLIM AL IMAM ZURNUJI

1. Tidur dalam keadaan telanjang.
2. Kencing dalam keadaan telanjang (di wc tanpa atap)
3. Makan dalam keadaan berjunub.
4. Makan sambil tiduran.
5. Membiarkan sisa makanan berserakan.
6. Menyapu rumah di malam hari.
7. Membiarkan sampah mengotori rumah.
8. Memanggil orang tua dengan nama keduanya.
9. Mencongkel gigi dengan benda kasar.
10. Duduk di depan pintu.
11. Bersandar kaki pada gawang pintu.
12. Berwudhu di tempat qodlo hajat (wc)
13. Mengelap wajah dengan kain / baju.
14. Membiarkan sarang laba-laba di rumah.
15. Meremehkan sholat.
16. Bersegera keluar dari masjid setelah sholat shubuh (Tidak wirid).
17. Berlama-lama di pasar.
18. Berdoa keburukan kepada anak.
19. Mematikan lilin / lampu api dengan cara meniup.
20. Menulis dengan pena rusak.
21. Tidak mendoakan kebaikan bagi orang tua.
22. Memakai sorban sambil duduk.
23. Memakai celana sambil berdiri.
24. Bersikap kikir / pelit.
25. Berlebihan dalam kehidupan.
26. Suka menunda dan meremehkan pekerjaan.

MASUKNYA SYETHAN & SIHIR

MASUKNYA SYETHAN & SIHIR

Ada beberapa keadaan dimana memungkinkan masuknya syethan atau sihir diantaranya :

1. Fikiran Buruk seperti Kecemasan, Ketakutan, Kekhawatiran, Kegelisahan, Keresahan, Kegundahan, Kegalauan, Kebingungan, Keragu-raguan, Keputus-asaan dan Kebencian, Kedengkian, Dendam, Kemarahan dan
sebagainya.

2. Perilaku Dosa atau kemaksiatan yang dosa dosa yang nyata (zhohir) Seperti Mabok Alkohol, Berjudi, Berzina dan seumpamanya, Riba (Uang bunga) dan sebagainya.

3. Perilaku Dosa atau kemaksiatan yang tak nyata (bathin) seperti : Musyrik (mensekutukan Allah), Riya' (Pamer 'Amal kebaikan atau ber 'Amal karena ingin pujian), 'Ujub (mengherani diri sendiri) Sombong / Menolak kebenaran (Kibr / Takabbur), Tafakhur (Angkuh), Berdusta atau Menipu, Thoma' (Rakus / Ambisius) dan sebagainya.

4. Dan Kebiasaan Buruk seperti Lalai, Suka permainan, Berkhayal, Malas, Angan-Angan Panjang dan Kebiasaan yang Sia-Sia, Menurutkan keinginan, dan sebagainya.

Semuanya itu dapat menjadi jalan bagi syethan untuk memasuki diri seseorang, menguasainya dan dalam bentuk was-was ataupun sihir penyihir. Dan semua itu berakibat buruk bagi seseorang.

ALLAH, TUHAN YANG KU BANGGAKAN

ALLAH, TUHAN YANG KU BANGGAKAN

Allah, Tuhan yang ku banggakan,
DIA Maha Pemaaf, Maha Pengampun, Maha Pemberi Rahmat dan Keberkahan,
DIA mengajarkan Kalimat Kalimat Yang Di RIDHOI-NYA kepada Hamba-NYA,
AL Fatichah Aamanar Rosuul hingga akhirnya,
Membuat Marah Iblis Syethan semuanya.

Tak ada alasan bagiku untuk 'ujub dan menyombong ! Malu dan SADARI DIRIKU, karena semua kebaikan itu bukan berasal dari diriku sendiri, tetapi hanyalah Wujud Pemberian-NYA semata.

Sudah semestinya aku bersyukur, karena SADARI DIRIKU betapa besar Kasih Sayang-NYA kepadaku, dan Sudah kewajibanku Bermohon Maaf Ampunan, karena SADARI DIRIKU atas seluruh kelalaian, kebodohan dan kema'shiyyatanku terhadap Kasih Sayang-NYA,

Semoga seluruh Jiwa Ragaku Dihiasi-NYA dengan KETAQWAAN sehingga dapat ku ABDIKAN seluruh kehidupanku bagi-NYA.
DIA Yang Maha Pengasih Penyayang Lagi Maha Mulya, kuhadapkan wajahku kepada Wajah-NYA dalam Ichsan-NYA.

Tak ada satupun setitik atom pun kebaikan yang berasal dari diriku sendiri,
Maka tak sepantasnya ada Rasa 'Ujub Sombong dan Dengki, karena SADARI DIRIKU bahwa diriku ini sesungguhnya HAKIKATNYA FANA' sebab TANPA DIA HANYALAH TIADA !

Sungguh tiada yang Maha ADA (Wujud) selain DIA. Tiada yang dapat menghijab-NYA, karena sesungguhnya seluruh Alam semesta ini tak akan wujud, selain karena DIA. Dan sesungguhnya DIA TAMPIL SEBELUM dan SESUDAH dan PADA dan DALAM dan ATAS segala Ciptaan-NYA. Karena sesungguhnya DIA sama sekali tak membutuhkan seluruh alam semesta Ciptaan-NYA ini untuk menunjukkan ADANYA DIA ! Karena itu (alam semesta) hanya menjadi Ayat-ayat (tanda-tanda) bagi mereka yang BERIMAN namun belum terbuka hatinya oleh PENERANGAN ALLAH terhadap URUSAN-NYA.

SADAR DIRI

 SADAR DIRI

Masih selalu haus dan perlu air, Masih selalu  lapar dan perlu makanan, masih selalu mengantuk dan perlu tidur ? Jangan Sombong ! Sekali-kali janganlah menyombong !

Kalau masih mau menyombong juga, Jangan sekalipun minum air, makan makanan dan tidur ! Agar diri menyadari kelemahan dan kehinaannya.

Yaa Allah ....
Karuniai aku cahaya petunjuk MU
Karuniai aku cahaya dzikir MU
Karuniai aku cahaya syukur MU
Karuniai aku cahaya shabar MU
Karuniai aku cahaya sholat MU
Karuniai aku cahaya Sholawat MU
Karuniai aku cahaya Taqwa MU

Jika engkau benar-benar Takut kepada Allah, maka kurangi berbicara !

SISI KOREKSI DIRI TANGKAL BALA'

 HIKMAH

SISI KOREKSI DIRI TANGKAL BALA'

Namun secara benar menyikapi segala bala dan bencana itu sebagai sarana koreksi diri.

Mungkin pada soal hubungan silaturrohim dan ukhuwah Islamiyah dan kerukunan antar manusia yang merenggang, mungkin pada soal shodaqoh dan zakat yang kurang, mungkin pertikaian dan permusuhan antar manusia yang semakin menajam, mungkin pada soal sikap akhlaq budi pekerti yang baik yang tak diterapkan, sehingga menurun tingkat lapang dada terhadap perbedaan pendapat, mungkin pada soal ilmu dan amaliyyah yang kurang dilaksanakan, mungkin pada soal 'amar ma'ruf nahi mungkar yang diabaikan dan soal-soal lain-lainnya.

Sebagai suatu contoh :

Seorang bersilaturrohim kepada Nabi Shallalloohu 'Alayhi Wa Sallam telah dupanjangkan usianya bertambah 30 tahun, padahal usianya sebelum itu tersisa sebulan (Al Chadits Menurut kabar Izroo-iil AS kepada Nabi Shallalloohu 'Alayhi Wa Sallam).

AFIYAH

AFIYAH

Dalam sebuat riwayat hadits Nabi Muhammad SAW yang dikutip oleh Syaikh Nawawi dalam kitab Nashoihul ibad, Rosul menjelaskan makna afiyah :

وقال رسول الله: العافية على عشرة أوجه، خمسة فى الدنيا وخمسة فى الآخرة؛ فأما التي فى الدنيا فهي العلم، والعبادة، والرزق من الحلال، والصبر على الشدة، والشكر على النعمة، وأما التي فى الآخرة فإنه يأتيه ملك الموت بالرحمة واللطف، ولا يروعه منكر ونكير فى القبر، ويكون آمنا فى الفزع األكبر، وتمحى سيئاته وتقبل حسناته، ويمر على الصراط كالبرق الالمع ليدخل الجنة فى السلامة.

Rasulullah bersabda : “Al-Afiyah” itu terbagi sepuluh macam. Lima macam di dunia dan lima macam lagi di akhirat. Lima yang di dunia adalah : ilmu, ibadah, rejeki yang halal, sabar atas penderitaan atau ketika sulit, dan bersyukur atas segala nikmat. Sedangkan lima yang di akhirat adalah : didatangi malaikat maut dengan kasih sayang dan lembut, tidak dikagetkan atau ditakuti oleh malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, aman dari segala ketakutan, dihapus segala kesalahan dan diterima segala amal kebaikan, dan dapat melewati  “siroth” seperti kilat untuk masuk surga dengan selamat.

MAKNA 'AFIYAT

Lima kriteria afiat di dunia, menurut Rasulullah. Pertama, gemar mencari dan menambah ilmu. “Salah satu kriteria orang yang afiat adalah dia selalu gemar mencari dan menambah ilmu, terutama ilmu-ilmu Islam. Jadi, jangan bicara afiat kalau alergi datang ke tempat pengajian atau majelis ta’lim,” ujarnya.

Ia lalu mengutip kitab Al-Hikam yang ditulis Ibnu ‘Athoilah, “Ilmu yang bermanfaat adalah yang bisa memancarkan cahaya di dalam hati dan sekaligus bisa membersihkan penyakit-penyakit hati.”

Kedua,  karakter lain orang yang afiat adalah selalu gemar beribadah. Termasuk ke dalamnya shalat fardhu berjamaah. “Jadi, kalau orang bicara afiat namun beribadah masih malas, itu bohong,” tegas Taufiqurrohman.

Karekater ketiga orang yang afiat adalah selalu mencari rezeki yang halal. “Dia berusaha sungguh-sungguh mencari rezeki yang halal, dan menjauhkan dirinnya dari rezeki yang syubhat apalagi haram,” ujar Taufiqurrohman.

Kerakter keempat orang yang afiat adalah selalu bersabar dalam segala keadaan atau menghadapi segala macam ujian yang Allah berikan. “Seperti kata Nabi, sabar di sini mencakup tiga hal, yakni sabar dalam beribadah, sabar dalam menghindarkan diri dari kemaksiatan yang ada di depan mata, dan sabar dalam menghadapi musibah,” tutur da'i yang juga dikenal sebagai "Ustaz Pantun".

Adapun karakter kelima orang yang afiat adalah selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. “Kalau kelima kriteria tadi dilaksanakan, maka orang tersebut patut disebut orang yang afiat di dunia. Dan di akhirat nanti, ia pun akan memperoleh afiat,” papar Taufiqurrohman.

Dalam kitabnya Nashoihul 'Ibad, Syeikh Nawawi Al Bantani mengutip penjelasan Rosulullah saw tentang hakekat 'afiat. Ada sepuluh makna 'afiat, lima di dunia dan lima lagi di akherat.

Makna Pertama, 'afiat itu bermakna bertambahnya ilmu kita. Hal ini akan kita raih kita manakala kita belajar. Belajar membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Cakrawala kita meluas sehingga kita bisa memilih tindakan yang tepat tatkala berhadapan dengan sebuah masalah. Sayangnya, tak banyak orang yang menyadari hal tersebut. Mereka lebih suka berinvestasi untuk perut ke bawah ketimbang berinvestasi untuk dada ke atas. Walhasil, mereka tak pernah risau manakala hari berlalu tanpa bertambahnya ilmu.

Kedua, 'afiat itu bermakna bertambah amal kita. Tak ada gunanya ilmu yang banyak jika tak pernah diamalkan. Ilmu itu memperluas cakrawala kita, namun belum tentu menambah kualitas hidup kita. Karena itulah, Rumi, sang penyair sufi, membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu ilmu buatan dan ilmu hakiki. Ilmu pertama hanya berhenti sebatas pemahaman, sedangkan ilmu kedua menuntun pelakunya dalam kebijaksanaan. Adalah lebih baik memiliki ilmu yang sedikit tapi kita mengamalkannya, daripada memiliki ilmu yang banyak tapi hanya sedikit yang kita amalkan.

Ketiga, 'afiat juga berarti memperoleh rejeki yang halal. Apalah artinya harta yang berlimpah jika kita memperolehnya dengan cara yang haram. Terkait hal ini, saya teringat satu kisah menarik dari Imam Al Ghazali dalam master piece-nya, Ihya' Ulumuddin.

Suatu hari, Sarri Al Saqoti membeli sekarung buah kenari seharga 60 dirham. Dia hendak menjualnya kembali seharga 65 dirham. Tiba - tiba, situasi ekonomi bergejolak. Harga sekarung buah kenari naik menjadi 90 dirham. Saat itu, seorang pembeli yang shaleh hendak membeli buah kenari yang dijual Al Saqoti. Dia bermaksud membelinya susuai harga pasaran saat itu, 90 dirham. Namun, Al Saqoti bersikukuh untuk tetap menjualnya seharga 65 dirham. Akhirnya, transaksi itu batal diwujudkan karena masing - masing pihak tidak ingin menzalimi satu dengan yang lainnya.

Tengoklah, betapa hati - hatinya generasi terdahulu dalam memperoleh rejeki. Mereka tidak memanfaatkan situasi untuk kepentingannya sendiri. Mereka mengedepankan akhlak dalam bermuamalah karena menyadari bahwa rejeki yang halal akan mendatangkan keberkahan dalam hidupnya.

Keempat, âafiat itu bermakna bertambahnya syukur kita. Secara sederhana, menurul Al Ghazali, syukur artinya mengagungkan Allah atas nikmat yang dilimpahkan-Nya. Syukur sejati lahir dari kesadaran bahwa segala karunia yang kita nikmati berasal dari Allah, walaupun nampaknya kita peroleh melalui usaha yang kita lakukan.

Kesadaran ini selanjutnya menimbulkan cinta yang dalam kepada Sang Khalik. Karunia yang dilimpahkan-Nya tak sebanding dengan ibadah yang kita lakukan. Tengoklah, betapa sholat sering kita tunaikan sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Betapa sedekah kita sangat sedikit. Dan betapa puasa yang kita lakukan jauh dari kesempurnaan. Walau demikian, Allah dengan segala cinta kasih-Nya membalas amal kita yang cacat itu dengan nikmat-Nya yang tak terhitung. Alhasil, lisan kita akan senantiasa memuji Allah. Kita juga tak merasa berat menjalankan sholat, puasa, zakat, dan ibadah - ibadah lainnya karena memandang berbagai ibadah tersebut sebagai manifestasi cinta kita kepada Allah.

Akhirnya, yang keempat, âafiat itu bermakna bertambahnya kesabaran kita. Sabar itu mudah dipelajari karena banyak kitab dan buku yang telah membahasnya. Tak terkecuali buku ini. Namun, sabar itu tak mudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia itu secara naluriah mudah berkeluh kesah. Bahkan, ketika dia sudah memperoleh karunia yang berlimpah, tetap saja ada hal - hal kecil yang dikeluhkannya. Bila Allah menurunkan hujan, dia menggurutu karena pakaiannya basah atau jemurannya tak kering. Bila Allah berikan terik cahaya matahari, dia kesal karena udara terasa panas dan keringatnya bercucuran. Pendek kata, manusia itu memang makhluk yang tak pandai berterimakasih.

Bila perilaku kita masih ditandai kecenderungan semacam ini, artinya kesabaran belum terpatri kuat dalam diri kita. Kita tak layak mengatakan, saya sehat wal âafiatâh

ARTI DOA 'AAFIYAH

Artinya :
“Ya Allah, ya Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu (mohon diberi) iman yang langgeng, dan kami mohon kepada-Mu hati kami yang khusyu’, dan kami mohon kepada-Mu diberi ilmu yang bermanfaat, dan kami mohon ditetapkannya keyakinan yang benar, dan kami mohon (dapat melaksanakan) amal yang shalih dan mohon tetap dalam agama islam, dan kami mohon diberinya kebaikan yang melimpah-limpah, dan kami mohon memperoleh ampunan dan kesehatan, dan kami mohon kesehatan yang sempurna, dan kami mohon mensyukuri atas kesehatan kami, dan kami mohon kecukupan. Ya Allah ya Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, dan khusyu’ kami, dan pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama shalat, ya Allah, ya Allah, ya Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga Allah memberi kesejahteraan atas sebaik-baik makhluk-Nya yaitu Nabi Muhammad, atas keluarga dan semua sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”.