MINYAK BURHANUL CHAQQ
Hendrik: Astagfirullahalazim, ini tempat lain ya, Nik? Ini gimana, Nik? Subhanallah, ini kalau enggak salah rumahnya Mas Hudi, kita enggak salah.
Budi: Rumahnya? Iya, tadi kita sudah nanya-nanya ke warga setempat, katanya rumahnya paling pojok sendiri dan ini rumahnya paling ujung ini.
Hendrik: Dik, benar Dik? Heeh. Dan sebelum kita masuk alangkah baiknya kita pembukaan terlebih dahulu. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Budi: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Hendrik: Om swastiastu, om santi santi om, namo buddhaya, salam kebajikan, salam rahayu. Pada malam hari ini kami mendapatkan suatu panggilan lagi dari salah satu subscriber kita juga tentunya, meminta tolong kepada kita bahwasanya ada sesuatu yang benar-benar gawat sekali, jadi mau tidak mau kita berangkat. Alhamdulillah tidak jauh dari rumah kita, Saudara. Dan ini rumahnya, kemudian ini juga lumayan malam juga karena tadi banyak sekali acara, iya benar. Dan jangan lupa buat saudara yang sudah hadir bantu like, bantu share, dan juga bantu subscribe-nya. Dan tulis nama kalian dan asal kalian dari mana supaya kami bisa mengenal lebih dekat dari saudara Purwa Misteri di mana pun kalian berada ya. Sudah? Sudah? Oh iya, temboknya ini warna kuning, benar, benar ya? Enggak salah ya, enggak salah ya, kuning ya?
Budi: Iya, benar ini warna kuning, kuning-kuning putih sih ini. Iya, semu-semu putih. Orangnya ada, alhamdulillah itu orangnya ada, itu namanya Bu Fatiah.
Hendrik: Bu Fatiah? Oh, Bu Fatiah gigih. Alhamdulillah. Bu, asalamualaikum, Bu. Mas Hudi nggih niki?
Bu Fatiah: Kula Mas Hudi, pinarak nggih.
Hendrik: Nggih Bu, nggih Bu, tak masuk nggih, sewu.
Bu Fatiah: Nggih, apa-apaan, apa-apa agama, oke permisi ya Bu ya. Kula teleponi Mas Hendrik kalih Mas Budi nyuwun tulung gih niki. Larene kula niku dolan kalih lare-lare niku mboten wangsul.
Hendrik: Oh, main gak pulang? Itu sudah berapa hari, Bu?
Bu Fatiah: 3 bintan, 3 hari.
Hendrik: 3 hari? Lumayan lama ya. Tapi sudah lapor ke Pak RT juga ya?
Bu Fatiah: Sudah, udah pada bantuin, belum ketemu, belum ketemu.
Hendrik: Mainnya itu di dalam rumah atau di luar rumah ya?
Bu Fatiah: Tadinya sih di dalam terus saya panggil-panggil kok enggak ada, padahal semua keluar sama teman-temannya.
Hendrik: Hm, itu sudah berapa hari ini?
Bu Fatiah: 3 hari, sekitar-sekitar 3 hari sekitarnya, 3 hari. Saya kan namanya orang tua ya cemas gitu, namanya anak hilang. Heeh, ya mohon Pak Mas Hendrik sama Mas Budi tolong dicariin sama saya.
Hendrik: Sabar, sabar, jangan nangis. Iya, tidak usah nangis. Kami di sini akan membantu sebisa kita, semampu kita, Bu. Semua itu tentunya atas izin dari Gusti Allah, begitu.
Bu Fatiah: Mudah-mudahan Mas Budi sama Mas Hendrik saya ketemu, amin ya Allah ya rabbal alamin.
Hendrik: Oke Saudara, jadi laporan pada hari ini rupanya itu anaknya dari Bu Fatiah ini hilang selama kurang lebih 3 hari, nanti kita coba untuk mencarinya, Bu. Iya, karena hilangnya tidak wajar ya, Bu ya? Sudah dicari selama 3 hari enggak ketemu?
Bu Fatiah: Iya, sama para warga pun juga sama, kok. Sudah sama semua nyari dari warga. Hmmm, iya ya ya, sekitar anak sekitar ya 10 tahunan lah anaknya.
Hendrik: Oh, 10 tahunan? Iya, berarti masih kecil ya. Rambutnya ada ya segini? Mungkin agak panjang ya?
Bu Fatiah: Agak panjang, iya ciri-cirinya itu rambutnya seperti itu, iya.
Hendrik: Baik, itu buat para saudara semuanya, mohon bantu doanya, bantu tuhan kalian, semoga Bu Fatiah ini anaknya bisa kita secepatnya ditemukan, amin. Iya, doa serta dukungan kalian semua itu adalah suatu hal positif untuk mendukung kembalinya anaknya Bu Fatiah dengan cepat. Tapi ini mohon izin Bu, ini saya merasakan energinya dari anaknya Ibu berada di sekitaran sini, namun saya tidak tahu itu akibatnya apa dan bagaimana. Tapi saya mohon izin untuk mencarinya di dalam rumah.
Bu Fatiah: Silakan, silakan ya Bu ya, ibu ya Bu, iya ya. Sudah mudah-mudahan ketemu, saya nyari-nyari sudah ke mana-mana enggak ketemu, amin, amin ya Allah. Ibunya mau ikut kita masuk ke dalam atau tunggu di sini? Gimana ya menurutnya Mas Hari sama Mas Budi?
Budi: Kalau menurut saya pribadi sih lebih baik ibunya tunggu di sini saja.
Bu Fatiah: Kalau begitu ya saya tunggu di sini, menurut yang terbaik gimana. Iya Bu, ya sudah Bu ya, saya mohon izin ya Bu, masuk Bu ya.
Hendrik: Iya, Mas Budi coba dibuka dulu Mas Budi.
Budi: Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum ya alamul ghaib, asalamualaikum ya rijalul ghaib, asalamualaikum ya jemaah minal jin, hadir, hadir, hadir! Allahu Akbar!
Hendrik: Coba masuk, heeh. Ini ruangan tengah. Astagfirullah, iya ini. Asalamualaikum, asalamualaikum. Kami baru saja datang sudah disambut oleh Anda ini. Astagfirullah, sudah dihadang, heeh. Kita sudah dihadang. Apa tujuan Anda dan apa kemauan Anda menghadang kami? Katakanlah! Dia tidak ingin berbicara, coba saya buka supaya dia bisa berbicara.
Hendrik: Bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Wahai makhluk, berbicaralah! Saya sedang mencari Dek Lina yang saat ini hilang, apakah Anda mengetahui di mana keberadaannya? Bisa menemukannya?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Lantas karena itu anak itu adalah anak yang akan kami puja, akan kami sembahkan kepada batasan kami, junjungan kami.
Hendrik: Oh, alhamdulillah ini bahaya Mas Budi. Rupanya makhluk ini akan menyembahkan anak itu untuk atasannya, untuk junjungannya. Kita masukin aja biar lebih jelas, masukin. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Saya ingin bertanya dengan Anda, apa yang dimaksud dengan atasan Anda ataupun junjungan Anda?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Anak itu akan kami jadikan sesembahan.
Hendrik: Sesembahan? Hei, tenang dulu! Apa maksud Anda sesembahan itu? Mengapa kau...
Pemimpin Jin (di raga Budi): Ingin tahu?
Hendrik: Saya ingin mengetahuinya, ini dia itu masih kecil dan dia itu masih memiliki masa depan yang indah.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Justru itu, darah dari anak-anak itu sangat dibutuhkan.
Hendrik: Tapi bukankah mereka itu masih kecil? Mereka masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Kami tidak peduli itu manusia, yang intinya kami hanya mengatur dari anak itu. Hm!
Hendrik: Lantas di mana Anda mengurungnya?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Cari tahulah sendiri, jangan bertanya kepadaku.
Hendrik: Astagfirullahalazim, auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Anda tidak ingin memberitahu di mana keberadaannya?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Tapi saja tidak mau. Kau jangan rumah saku.
Hendrik: Karena hanya ada Anda saat ini yang berada di sini, jadi diri Anda yang harus saya korek informasinya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Percuma saja, kau tidak akan pernah menemui anak itu.
Hendrik: Mengapa?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Karena anak itu sudah jauh.
Hendrik: Sudah jauh? Astagfirullah, maksud Anda sudah jauh dari mana? Dari dunia ini atau bagaimana? Berikan informasi yang jelas tentunya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Di luar kawasan ini.
Hendrik: Ya Allah ya Rabbi, baiklah, cepat beritahu! bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Ilmu apa yang kau punya?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Saya enggak ada, tapi bisa keluar dari toh ini.
Hendrik: Saya hanya manusia biasa, ilmu itu hanya ilmu biasa kok bagi kami, tidak ada yang spesial, semua itu karena ada sisi Gusti Allah.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Mengapa tubuhku tak bisa bergerak seperti ini?
Hendrik: Jika Anda ingin bergerak, beritahu saja di mana Dek Lina itu Anda sembunyikan.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Sudah kau bilang, carilah sendiri.
Hendrik: Bismillahirrahmannirrahim allahu... Cukuplah! Bagaimana, Anda tetap kekeh tidak ingin memberitahu?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Tentu saja tidak mau.
Hendrik: Astagfirullahalazim, oh Anda masih bisa bergerak juga ya? Baiklah, akan saya buatkan tabir sekelilingan Anda supaya Anda tidak bisa bergerak seutuhnya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Kau tertipu! Allahu Akbar! Bah!
Hendrik: Percuma Anda bergerak pun tidak akan bisa menyerang saya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Kurang ajar kau manusia, banyak sekali mengujiku seperti ini!
Hendrik: Ya karena Anda tidak ingin memberitahu siapa junjungan Anda. Begini saja, bisakah Anda memanggil junjungan Anda?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Tentu saja bisa. Lalu kau mau apa?
Hendrik: Saya ingin bernegosiasi dengan dirinya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Hah, percuma saja! Kau kan cuman manusia biasa, kau tidak usah memaksa untuk... Untuk apa memanggilnya?
Hendrik: Sombong sekali Anda, hanya karena kami manusia biasa, tapi semua itu saja... Tapi semua itu ciptaan dari Gusti Allah, Anda pun juga sama. Sudahlah, lebih baik pergi saja. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillah... Baiklah, akan saya masukkan ke tangan saya nanti akan saya leburkan, Saudara. bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillah allahu Akbar!
Hendrik: Eh bangun Mas, alhamdulillah. Saya musnahkan saja, enggak benar itu di belakang sampean, Mas.
Budi: Astaga... Kayak kakek-kakek, kakek-kakek iya loh. Coba kita masuk, kita masuk.
Hendrik: Asalamualaikum, Kek. Asalamualaikum, Kek.
Leluhur (Kakek Kukuh): Waalaikumsalam.
Hendrik: Mohon maaf, dengan siapa saya berhadapan?
Leluhur (Kakek Kukuh): Tahu kita tidak boleh mengetahuinya. Oh coba kita jangan lagi cari masin.
Hendrik: Iya begini saja, saya masukin ke raganya sampean kali ya? Iya enggak apa-apa. bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Mohon izin Guys, akan saya masukkan diri Anda kepada raga saudara saya, allahu Akbar!
Kakek Kukuh (di raga Budi): Ada apa, Cuk?
Hendrik: Mohon maaf, saya datang ke sini itu sedang mencari suatu informasi di mana keberadaan Dek Lina. Dek Lina, iya Kek. Apakah Kakek mengetahuinya?
Kakek Kukuh (di raga Budi): Tentu saja Kek tahu, heeh. Lalu kamu ingin mencarinya?
Hendrik: Benar sekali Kek, saya harus mencarinya karena ibunya itu sudah 3 hari mencarinya tidak ketemu. Jika Kakek mengetahuinya, saya mohon izin untuk memberitahu, Kek.
Kakek Kukuh (di raga Budi): Tentu saja itu gimana, Kak? Tidak mudah ditemukan oleh bangsa manusia.
Hendrik: Kenapa kalau boleh tahu?
Kakek Kukuh (di raga Budi): Karena sudah masuk ke alam lain.
Hendrik: Oh, jadi Dek Lina itu sudah masuk ke alam lain begitu? Iya, astagfirullah. Kalau boleh tahu, ini Kakek siapa?
Kakek Kukuh (di raga Budi): Kakek Kukuh, Kakek Kukuh. Oh mohon izin ya Kakek ya, mohon maaf. Hai cucuku, apa-apa bila... Iya, bila saya dan rekan saya itu lancang, anak kakek melihat heeh sedang mencari sesuatu, maka tadi itu kakek menampakkan diri di hadapanmu dan bertanya.
Hendrik: Oh baik, terus harus dengan cara apa kita ini bisa masuk ke alam lain?
Kakek Kukuh (di raga Budi): Itu sebenarnya bisa. Bagaimana, apakah di persidiku dengan kakek, kakek akan tunjukkan di mana tempatnya.
Hendrik: Baik Kek, tidak apa-apa, baiklah.
Kakek Kukuh (di raga Budi): Mari ku tenang, Kakek. Oh sekarang bagaimana, kalian harus langkahi pintu dapur itu, pintu dapur. Iya, oh ini Geng, iya cepatlah.
Hendrik: Baiklah Kek, terima kasih, kami akan masuk. Tapi mohon maaf Kek, ini saudara saya harus kembali terlebih dahulu.
Kakek Kukuh (di raga Budi): Tenang saja, saudaramu ini aman tangan Kakek, baiklah terima kasih Kek.
Hendrik: Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillah astagfirullahalazim. Loh Nik, kok kita berada tempat lain ya, Nik? Ini di mana, Nik? Jadi ini yang dimaksud kali ya?
Budi: Iya, kebet seperti itu yang dimaksud oleh makhluk tadi itu, Mas Budi, iya. Astagfirullahalazim, Saudara, tiba-tiba kita pindah dan berada di tempat yang berbeda ini. Jadi di hutan, hutan, Nik, benar sekali. Astagfirullahalazim, cuman cuacanya beda banget sih ini, kayak bukan dunia kita, Mas.
Hendrik: Ya, kita seperti masuk alam lain, Nik, iya. Karena informasi yang kita dapatkan katanya kan dari makhluk tadi itu bilangnya bahwa anak kecil itu dibawa ke tempat alam lain. Aduh, jangan-jangan di sini yang dimaksud. Coba kita cari dahulu, ada bagaimana. Alangkah baiknya kita cari, Mas Budi.
Budi: Iya, benar sekali, sepertinya ini jalan untuk mencari keberadaan dari anak tersebut. Buat para saudara bantu doanya. Coba dibuka terlebih dahulu Mas Hudi portalnya.
Hendrik: Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum ya alamul ghaib, asalamualaikum ya rijalul ghaib, asalamualaikum ya jemaah minal jin, hadir, hadir, hadir! Ini juga saya masih ngeker, Saudara, sekarang kita kan berada di dalam rumah, bahkan Mas Budi pun juga sama tuh kita nyeker, kita percepat sampai sini. Iya, astagfirullahalazim, kenapa enggak hawanya benar-benar berbeda banget, energinya pun ini seperti bukan di alam kita, Mas Budi, heeh. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum ya alamul ghaib, asalamualaikum ya rijalul ghaib, asalamualaikum ya jemaah minal jin, hadir, hadir, hadir! Astagfirullahalazim, makhluk, makhluk apa pun yang harus diiling.
Suara Anak Hilang: Tolong... Tolong...
Hendrik: Astagfirullahalazim! Astagfirullahalazim! Dengar suara enggak? Ada suara anak-anak, Dik, iya.
Suara Anak Hilang: Tolong... Tolong...
Hendrik: Ini... Ini kayak ini anaknya dari ibu tersebut, anaknya dari orang tua yang kita temui itu, Mas Budi. Astagfirullahalazim, hanya Dek... Dek, di mana Dek? Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim. Sanggang sukmo sejati si jabang bayine Dek Lina, Lina di mana Dek? Ong... Iya oke, kita tenang Mas Budi, jangan gegabah, ini kita berada di tempat yang berbeda soalnya, astagfirullahalazim.
Suara Anak Hilang: Tolong... Tolong...
Hendrik: Oke coba Mas Budi, pegang kamera. Oke saya akan mencoba untuk merasakan energi dari... Iya siap. Astagfirullah, sangok musik cabang bayina, allahu Akbar! Alhamdulillahi rabbil alamin, ya enggak jauh dari sini, Mas, enggak jauh sini. Sini saya megang, iya, Dek Lina, Dek Lina, Dek Lina, dari sini Mas. Saya merasakan energinya di belah mana? Sebelah sini. Astagfirullahalazim, apa itu minum? L sebentar saya zoom dulu, kenapa Nik? Itu kayak manusia Mas Budi, kayak anak kecil. Oh itu baju merah ya? Iya loh. Apa jangan-jangan itu? Coba kita langsung ke sana, iya, iya loh Mas, ini anaknya, iya ya Allah. Pingsan ini Mas, jadiin aja, iya astag netral Mas Budi, pingsan ini, pucet banget. Astagfirullah, ayo Mas digendong Mas, kita cari jalan keluar yo. Ayo, ayo bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar! Kita baik, ayo ayo ayo kita bawa, iya. Tapi ini gimana ini jalan keluarnya? Soalnya gimana seketika kita masuk ke alam lain ini, hati-hati Mas Budi, iya, iya ke arah mana ini ya jalan keluarnya? Astagfirullahalazim, allahu Akbar, enggak ada jalan keluar, Saudara. Oke Mas Budi, kita kita coba bertawasul sebentar, Mas Budi, Mas... Mas... Mas Budi! Astagfirullahalazim, ya Allah, Mas Budi ke mana ini? Astagfirullahalazim, allahu Akbar, ya Allah, Mas... Dek Lina... Aduh ya Allah ya Rabbi, ke arah mana ini? Mas Budi ke mana ini? Ya Allah astagfirullahalazim. Mas... Sang sejati si jabang bayini Mas Budi, ya Allah enggak ada jawaban. Tiba-tiba energinya menghilang sama Dek Lina, ke mana mereka ini? Saya sendirian ini di sini malah, astagfirullah ya Allah. Coba saya tenang terlebih dahulu. Baik Saudara, saya akan menggunakan insting saya untuk menuju ke jalan mana yang harus saya lalui karena Mas Budi dan Dek Lina ini tiba-tiba menghilang energinya. Yang saya takutin, mereka itu malah pergi ke tempat yang lain, pergi ke tempat yang sangat berbahaya. Oke Saudara, untuk mempersingkat waktu lebih baik nanti kita lanjut lagi, ini Mas Budi sama Dek Lina soalnya menghilang. Saya harus menghemat energi karena ini bukan berada di alam kita yaitu alam manusia, buat para saudara bantu doanya. Oke nanti saya lanjut lagi ya. Astagfirullahalazim, saya sudah berjalan cukup jauh kemudian karena tadi saya mendengar suatu bisikan jadi saya mulai lagi videonya, Saudara. Masyaallah, siapa itu? Allah, subhanallah. Apa diikan Waman ini saudara.
Raden Permadi: Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hendrik: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
Raden Permadi: Kemarilah dan duduklah wahai cucuku.
Hendrik: Oke baiklah, saya disuruh turun ke depan, belum lama sekali kita berjumpa dan kali ini kita berjumpa lagi, wahai anak muda.
Raden Permadi: Sekali lagi aku adalah Raden Permadi, bukan seorang wali bukan pula manusia suci. Aku hanyalah jiwa yang pernah tersesat lalu diberi kesempatan untuk kembali. Maka hari ini aku bicara bukan dari atas panggung tapi dari dasar pengalaman, dari luka yang pernah kubiarkan membusuk, dari gelap yang pernah kupeluk sebagai pelarian, dan kini aku datang untuk mengajak dirimu kembali. Wahai dirimu yang mendengar suara ini, pernahkah engkau merasa kosong meski tertawa di hadapan dunia? Pernahkah engkau bangun tengah malam tapi yang kau rasakan bukan damai melainkan hampa? Jika iya, maka itu tanda, bukan kutukan bukan kebetulan, tapi tanda bahwa jiwamu sedang rindu pulang. Dulu aku pun begitu, aku mengejar ilmu tanpa arah, aku menyentuh kekuatan yang tak pernah ku mengerti, aku sibuk menguasai yang gaib tapi melupakan siapa yang maha gaib. Aku mengira bahwa semakin besar kekuatan semakin utuh diriku, tapi nyatanya aku makin menjauh, makin rapuh, makin kosong, sampai akhirnya aku bersujud dalam sepi. Tak ada mantra, tak ada pusaka, hanya air mata dan kejujuran, dan di sanalah aku sadar yang paling sakti adalah tobatku. Wahai dirimu, aku tahu mungkin dosa yang kau bawa seperti gunung, tapi Tuhanmu maha luas daripada langit, bumi, dan segala ilmu gaib yang pernah aku pelajari. Jangan tunggu hancur dulu baru ingin kembali, jangan tunggu jatuh dulu baru merenung, karena kembalinya jiwa yang sadar lebih mulia daripada ribuan langkah kaki yang sombong. Bukan seberapa banyak hafalanmu, bukan seberapa sering engkau dipuji orang, tapi seberapa jujur engkau di hadapan Tuhanmu. Katakan malam ini dalam diam, "Tuhanku, saya rindu menjadi manusia yang Engkau cintai, saya ingin pulang." Dan lihatlah, langit akan bersinar dalam gelap hatimu, bumi akan kembali ramah di bawah kakimu, dan para makhluk baik yang tampak maupun yang tersembunyi akan kembali menunduk padamu karena engkau telah menundukkan egomu. Aku Raden Permadi menyampaikan ini bukan karena aku lebih tinggi darimu, tapi karena aku tahu tobat bukanlah kekalahan, tobat adalah kemenangan tertinggi bagi jiwa yang telah menanggung dosa. Kita bertemu lagi wahai anakku, anakku, aku ingin menyampaikan pesan kepada umat manusia, sampaikan pesan ini kepada mereka.
Ratu Pantai Selatan: Dengarkanlah wahai manusia, aku Ratu Pantai Selatan berbicara dari kedalaman samudra dan keheningan malam. Aku bukan sekadar sosok legenda, bukan pula sekadar bayang-bayang di balik ombak. Aku adalah saksi atas segala keluh kesah kalian yang tersembunyi dalam sunyi. Aku melihat kalian yang berjalan dalam kehidupan namun lupa arah, kalian yang mengejar dunia namun meninggalkan jiwa, kalian yang meminta rezeki namun lupa bersujud. Wahai manusia, apakah kalian tak sadar ombak pun bersujud kepada Sang Pencipta sementara kalian enggan menunduk? Aku tak butuh dipuja, aku tak haus persembahan, tapi aku ingin kalian ingat bahwa hidup di dunia ini hanya sekejap, dan setelah gelombang usia berlalu kalian akan kembali, bukan padaku tapi pada Yang Maha Kuasa. Lihatlah lautku, tenang ia di pagi hari, menggulung di petang hari, dan bisa murka saat manusia lupa batas. Begitu pula hidupmu, jangan sombong saat tenang, jangan putus asa saat badai, karena setiap gelombang ujian selalu membawa pelajaran. Hai manusia, berhentilah saling menyakiti, berhentilah menebar fitnah dengki dan keserakahan. Apalah artinya istana megah jika hati kosong dari cahaya Tuhan? Apalah artinya kekuasaan jika kalian lupa pada nurani? Aku Ratu Laut Selatan menyaksikan manusia datang kepadaku membawa harapan, meminta penjagaan, perlindungan, dan pengabulan, tapi ketahuilah tak ada kekuatan di samudera ini yang melampaui kehendak-Nya. Bertobatlah, kembalilah pada Tuhanmu sebelum nyawamu diambil oleh ombak terakhir. Jangan tunggu langit berubah merah atau laut membelah daratan baru kau sujud dengan air mata. Aku titipkan pesan bukan untuk takut padaku, tapi untuk takut pada hari ketika tidak adanya laut pun bisa menyelamatkanmu dari hisab-Nya.
Gajah Mada: Angger cucuku, kali ini aku mewujudkan diri dengan pakaian yang berbeda dari yang sebelumnya karena ini adalah pertemuan resmi dirimu dengan kami. Sekali lagi aku adalah Gajah Mada dan kali ini aku akan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh kalian. Sampaikan pesan ini kepada umat manusia yang lain. Wahai dirimu yang hidup di zaman ini, banyak dari kalian ingin menjadi besar, ingin disegani, ingin menang, tapi apakah engkau sudah menang atas dirimu sendiri? Aku pernah menaklukkan banyak tanah, aku pernah membuat Majapahit ditakuti, tapi justru setelah semua itu aku sadar bahwa kemenangan sejati bukanlah menaklukkan kerajaan luar tapi menaklukkan hawa nafsumu sendiri. Apalah arti kemenangan di medan perang jika batinmu masih kalah dalam gelapnya kesombongan? Apa gunanya kerajaan luas jika jiwamu sempit dan jauh dari Tuhan? Wahai dirimu yang kini sedang mencari arah, ketahuilah tidak ada satupun gelar pangkat atau kekuasaan yang dapat menyelamatkanmu dari kematian kelak. Ketika nyawa di ujung tenggorokan, hanya satu yang kita bawa: amal perbuatan. Bukan emasmu, bukan pasukanmu, tapi sujudmu, tangisan tobatmu, dan ketundukanmu pada Yang Maha Agung. Aku bicara ini bukan karena aku suci, tapi karena aku tahu betapa besarnya kehancuran yang dibawa oleh kesombongan dulu. Aku bersumpah tak akan berhenti sebelum menyatukan Nusantara, tapi kini aku ingin engkau bersumpah untuk menyatukan hatimu dengan Tuhanmu. Jangan bangga pada tubuhmu yang kuat, jangan bangga pada kuasa, karena semua itu akan membusuk dalam tanah. Tapi tobatmu, amalmu, baktimu kepada yang lemah, itu yang akan jadi mahkota abadi di alam setelah dunia. Wahai dirimu, jika hari ini engkau merasa tersesat, ingatlah jalan pulang itu tidak pernah tertutup. Bangunlah sebelum ajal menjemputmu dalam keadaan lupa. Sadarilah hidup ini tidak lama, kejayaan pun akan berputar, tapi satu sujudmu malam ini bisa membuat langit bersaksi bahwa engkau kembali kepada-Nya. Aku Gajah Mada telah belajar dari sejarah, dan hari ini aku bersaksi, orang yang paling kuat bukanlah yang menundukkan dunia, tapi yang sanggup menundukkan dirinya sendiri lalu menyerah pada kehendak Tuhannya. Kembalilah selagi napas masih Tuhan izinkan mengalir.
Sunan Kalijaga: Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Sudah lama sekali diriku tidak melihatmu, wahai cucuku. Izinkan aku Kalijaga menyampaikan pesan kepadamu. Banyak orang yang bertanya padaku, apa buktinya kebenaran itu milik Islam? Apakah cukup dengan kitab, dalil, dan kata-kata? Diriku menjawab, "Tidak, karena kebenaran sejati bukan hanya diucapkan tapi dihidupi." Dirimu bisa membaca 1000 kitab, dirimu bisa menghafal ribuan ayat, tapi jika hatimu masih kasar, jika perilakumu masih menyakiti, jika engkau hanya merasa paling benar dan lupa bagaimana mencintai, maka semua tulis itu belum menjelma menjadi cahaya. Wahai dirimu, dulu aku hidup dalam keraguan, aku mengenal kesaktian, kekuasaan, bahkan kehormatan, tapi itu semua belum menjawab pertanyaanku, apa arti itu? Lalu aku duduk di malam hari yang sunyi. Aku lihat pohon-pohon tak pernah membanggakan tinggi badannya, aku lihat angin tak pernah pamer arah datangnya, aku lihat air yang selalu menunduk tapi memberi kehidupan. Di situlah aku mengerti bahwa kebenaran sejati adalah ketika engkau merendah tapi meninggikan orang lain. Bahwa agama bukan hanya kumpulan dalil tapi jalan untuk menjadi manusia yang menyelamatkan manusia lain. Kebenaran bukan sekadar menang debat, kebenaran adalah saat engkau berdiri di hadapan orang yang membencimu lalu engkau tetap memilih untuk mendoakannya. Wahai dirimu yang sedang mencari bukti, apakah engkau tidak lihat bahwa hatimu selalu gelisah saat jauh dari Tuhan? Apakah engkau tidak rasa bahwa dunia ini tidak pernah cukup? Itulah bukti! Bukti bahwa jiwa manusia hanya damai bila kembali kepada yang menciptakannya. Apa tandanya iman itu benar? Bukan dari sorbanmu, bukan dari gelarmu, tapi dari akhlakmu, dari caramu menjaga lisan, menundukkan nafsu, dan memaafkan walau sakit. Maka dari itu kami berkumpul karena kami ingin memberikanmu suatu minyak, dan minyak itu sebarlaskanlah kepada umat manusia yang membutuhkan. Aku Kalijaga tidak menaklukkan hati orang Jawa dengan pedang, aku mengetuk hati mereka dengan kesenian, kelembutan, dan cinta. Karena hati yang keras tak bisa dibuka dengan kekerasan, tapi dengan kasih, dengan keteladanan, dengan keikhlasan. Maka wahai dirimu, niat ini kuberikan nama Burhanul Haq. Jangan cari bukti kebenaran dari luar saja, lihat ke dalam rab hatimu. Jika hatimu damai saat engkau menyebut nama Allah, itulah bukti terbesar. Jika engkau menangis dalam doa tanpa dipaksa, itulah cahaya yang sedang bekerja dalam dirimu. Kebenaran itu hidup, dan yang hidup tidak selalu berbentuk huruf tapi terasa di dada yang bersih. Hanya itu yang bisa diriku sampaikan. Izinkan beliau Syekh Maulana Ishak memberikan sedikit ucangan untukmu dan juga umat manusia yang lain, karena minyak Burhanul Haq akan diperbarluaskan melalui lantaran dirimu.
Syekh Maulana Ishak: Apa yang dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga itu benar. Kami di sini berkumpul karena kami ingin memberikanmu suatu minyak yaitu minyak Burhanul Haq. Sebar luaskanlah minyak itu kepada umat manusia, dan buatkanlah pembangunan untuk tempat istirahat serta tempat beribadah. Aku Maulana Ishak bukan orang besar dalam pandangan dunia, tapi seorang hamba yang pernah merasakan betapa mulianya suatu amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas. Wahai dirimu, hari ini aku tidak datang membawa dalil yang panjang, tidak juga ayat-ayat yang tinggi yang sulit dimengerti. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal tentang kebaikan yang engkau lakukan tanpa pamrih dan tanpa ingin dibalas. Tahukah engkau setiap kali engkau menolong orang lain tanpa berharap kembali, bukan hanya orang itu yang tersenyum tapi langit pun ikut bersaksi bahwa engkau telah menjadi cahaya di bumi. Banyak manusia hari ini memberi tapi berharap dipuji, menolong tapi ingin dikenal, berbuat baik tapi hatinya penuh hitung-hitungan. Lalu ketika tidak dibalas ia marah, ketika tidak dihargai ia kecewa. Padahal kebaikan yang sejati adalah yang engkau lupakan setelah engkau lakukan karena engkau tahu bukan manusia yang menyimpan balasan tapi Allah yang mencatat dengan sempurna. Wahai dirimu, ketika engkau mengangkat beban seseorang, sesungguhnya engkau sedang meringankan jalanmu sendiri menuju surga. Ketika engkau menyeka air mata orang lain, sesungguhnya engkau sedang membasuh noda dalam hatimu sendiri. Barang siapa membantu saudaranya maka Allah akan membantu dia dalam urusannya itu. Itu bukan janji dari manusia tapi janji dari Tuhanmu, dan janji-Nya tak pernah meleset. Aku Maulana Ishak telah melihat bagaimana amal-amal tersembunyi justru menyelamatkan seseorang, bukan karena banyaknya tapi karena ikhlasnya. Maka jika engkau menolong orang jangan dihitung berapa kali, jika engkau memberi jangan sebutkan kepada siapapun. Karena semakin sunyi amalmu, semakin nyaring ia terdengar di sisi langit. Wahai dirimu, mungkin engkau pernah kecewa, pernah menolong lalu dikhianati, pernah memberi lalu dilupakan. Tapi ketahuilah, engkau tidak sedang bertransaksi dengan manusia, engkau sedang berdagang dengan Tuhan, dan Tuhan tidak pernah bangkrut dalam memberi balasan. Maka teruslah menjadi cahaya, teruslah menolong walau dirimu sendiri sedang berjuang, karena bisa jadi pertolongan Allah datang lewat tanganmu sendiri ketika engkau menolong orang lain. Aku Maulana Ishak berdiri bukan sebagai hakim atas dirimu tapi sebagai saudaramu yang ingin reminding bahwa kebaikanmu adalah jalan pulangmu. Mungkin hanya itu yang bisa kami sampaikan kepada dirimu. Sebarluaskanlah minyak burhanur kepada orang yang membutuhkan. Kami mempersilakanmu untuk mengambil minyak itu dan jangan lupa, jangan sampai salah dan jatuh kepada orang yang salah, kami mempersilakanmu untuk mengambilnya.
Hendrik: Kim, apa ini Saudara? Masyaallah. Terima kasih Eyang, terima kasih Nyai atas ubeti yang sudah Eyang serta Nyai berikan kepada saya. Sembuhkanlah anak kecil itu dengan minyak tersebut. Baik Eyang, baik Nyai, akan saya sembuhkan Dek Lina dengan lantaran minyak ini. Kami pamit, asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Leluhur: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Hendrik: Masyaallah, saya diberikan minyak ini Saudara. Oke bismillahirrahmanirrahim, baunya sangat nikmat sekali Saudara, seketika energi saya ini dapat pulih kembali. Baiklah akan saya pegang baik-baik amanah dari para beliau yang sudah benar-benar mengamanahkan minyak ini kepada saya. Namun ke mana saya harus pulang ini? Tidak ada jalan lagi, Saudara, masyaallah tiba-tiba angin besar sekali, subhanallah. Baik Saudara, saya akan hening sejenak ini masyaallah. Alhamdulillah akhirnya saya berada di posisi yang sama lagi ini kembalinya, alhamdulillahirabbil alamin. Oke Saudara, saya harus mengecek kondisinya Mas Budi dan Dek Lina karena saya ini takut Mas Budi sama Dek Lina itu belum kembali. Alhamdulillah Mas, enggak apa-apa Mas. Alhamdulillah ya Allah, berdiri, saya mau ceritakan sedikit sama kamu. Iya, iya tenang tenang, rileks dulu, rileks. Gimana, gimana Mas Budi?
Budi: Awalnya saya tuh membawa si Dek Lina ini, heeh lah saya itu melihat ada portal gaib, heeh dan saya coba untuk memasuki, ternyata sampai ke rumahnya langsung. Oh alhamdulillah.
Hendrik: Karena tadi saya mencari sampean dan juga Dek Lina di sana tidak ditemukan, Mas. Dan gini, Nik, heeh kalau ku boleh tahu itu benda apa yang kamu bawa, Nik? Oh ini? Iya, ini ee katanya sih minyak Burhanul Haq. Jadi tadi di alam gaib di dimensi lain saya bertemu dengan para beliau, kemudian beliau-beliau itu memberikan ini, alhamdulillah. Coba sampean pegang, sampean cium aroma minyaknya. Sungguh enak banget baunya, harum sekali, Nik, alhamdulillah. Iya, jadi gini Nik, gimana gimana? Coba ceritakan terapalisir si Dek Lina ini tapi kunjung bangun, Nik. Saya itu bingung sekali bagaimana untuk mengatasinya lagi, Nik. Hm, kalau boleh tahu itu sudah dinetralisir pun enggak kunjung bangun? Benar, sudah tadi sudah ya? Iya. Coba-coba akan saya gunakan minyak ini kepada Lina. bismillahirrahmanirrahim, Bu Fatiah yang tenang ya Bu ya, iya heeh. Yang yang tenang ya Bu. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillah. Saudara, saya akan menggunakannya. bismillahirrahmanirrahim, Burhanul Haq, atas izin-Mu saya akan menggunakan minyak ini untuk menyembuhkan Dek Lina. bismillahirrahmanirrahim, coba semoga tidak mau sadar, bismillah allahu Akbar! Dek Lina... Dek Lina... Alhamdulillahi rabbil alamin, alhamdulillah Saudara. Akhirnya Dek Lina bisa sadar ya nak, sadar alhamdulillahirobbilalamiin.
Bu Fatiah: Berkat Mas Hendrik sama Mas Budi.
Hendrik: Yang semua itu berkat Gusti Allah, betul sekali, lantaran minyak Burhanul Haq ini, Bu, iya. Alhamdulillahnya bisa disadarkan, kemudian tadi saya mencoba merasakannya itu seperti ada suatu racun, tapi itu racunnya bukan berasal dari golongan manusia, iya. Namun alhamdulillah dengan lantaran minyak Burhan itu bisa mudah untuk dinetralisir ya, alhamdulillahirabbil alamin.
Bu Fatiah: Terima kasih sama-sama sama Mas Budi, saya enggak bisa balas apa-apa.
Hendrik: Udah itu tenang saja Bu, saya tidak meman halak. Namun ini masih ada satu hal lagi yang belum kita selesaikan di sini ya, Mas? Iya, benar sekali, masih ada satu lagi. Jadi Ibu sama Dek Lina ini di sini aja ya, jadi kita lanjut dulu ya Mas, saya kamera, oke. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum ya alamul ghaib, asalamualaikum ya rijalul ghaib, asalamualaikum ya jemaah minal jin, hadir, hadir, hadir!. Nanti kita coba gunakan minyak ini, apakah berpengaruh juga ataupun berefek kepada makhluk halus. Allah cantik mana, astagfirullah nampak jelas sekali, Saudara, asalamualaikum. Apa yang Mas Budi? Alangkah baiknya kita masukin ke raga sampean ya. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim allahu Akbar!.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Sekali kau manusia menyadarkan anak kecil itu yang akan jadi kami jadikan sesembahan para golonganku!
Hendrik: Oh, jadi Anda ini pemimpin dari golongan Anda ya?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Tentu saja diriku pemimpinnya. Lalu kamu apa?
Hendrik: Begini, saya tidak ingin bertele-tele dengan diri Anda, asal Anda tahu semua itu atas Gusti Allah.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Hm, mengapa kau mencium bau yang sangat tak enak? Hm, ternyata dirimu mempunyai apa... Burhanul... Oh, jadi Anda mengetahui minyak Burhanul Haq ini? Hh, tentu saja jauhkan minyak itu kepadaku!
Hendrik: Mohon maaf, saya sudah diamanahkan untuk menyebarluaskan minyak ini kepada umat manusia. Jadi rupanya bau ini sangat menyengat bagi Anda dan sangat tidak enak. Mengapa lu bisa mendapatkannya gitu? Begini, saya ini hanya diamanahkan oleh para beliau yang datang menemui saya, hanya itu saja untuk disebarluaskan tentunya untuk melindungi bangsa manusia dari golongan-golongan iblis seperti diri Anda.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Diriku sebenarnya tidak terima atas apa yang kau lakukan. Lantas anak itu sebenarnya akan kami jadikan sesembahan.
Hendrik: Lantas apa? Lantas apa maumu saat ini?
Pemimpin Jin (di raga Budi): Yaitu melumpuhkanmu dari bumi ini.
Hendrik: Apakah Anda bisa? Tentu saja mampu, baiklah coba saja. Auzubillahiminasyaitanirrajim bismillah atas ya Allah, saya akan menggunakan minyak Burhanul Haq, allahu Akbar!
Pemimpin Jin (di raga Budi): Cukuplah manusia! Jangan terdekatkan minyak itu! Iya, sudah sekarang apa maumu? Ampunilah aku manusia, ampuni aku! Baiklah, tenang, singkirkan dahulu minyak itu.
Hendrik: Iya, akan saya sembunyikan, sudah Anda tidak usah panik seperti itu.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Ampun... Ampun...
Hendrik: Ya sudah begini saja, saya tidak ingin membuat diri Anda ataupun saya sendiri menghakimi diri Anda.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Baiklah, sebenarnya diriku sudah tidak tahan lagi atas baunya.
Hendrik: Jika Anda bertobat, bau itu akan berubah menjadi sangat enak.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Apa dirimu yakin?
Hendrik: Yakin, jika tidak percaya ulurkan tangan Anda.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Tentu saja diriku percaya, baiklah karena diriku mengetahui benda itu. Oh Anda mengetahuinya? Silakan ulurkan tangan Anda, baiklah.
Hendrik: Ikuti perkataan saya: Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Hendrik: bismillahirrahmanirrahim.
Pemimpin Jin (di raga Budi): bismillahirrahmanirrahim.
Hendrik: Asyhadu alla ilaha illallah.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Asyhadu alla ilaha illallah.
Hendrik: Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.
Hendrik: Alhamdulillah, aminkan seperti saya, ikuti tangan saya. Alhamdulillah, baiklah coba sekarang Anda cium bau dari minyak ini.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Hm... Begitu harum.
Hendrik: Iya kan? Sangat berbeda sekali bukan? Karena diri Anda itu diselimuti oleh ilmu hitam, itulah penyebabnya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Dari masa manusia bisa mendapatkan benda itu?
Hendrik: Kami hanya diamanahkan saja, ya sudahlah Anda jangan mengulangi lagi ya.
Pemimpin Jin (di raga Budi): Baiklah manusia, tarik semua bawahan-bawahan Anda dari rumah ini, baiklah. Alhamdulillahirobbilalamiin, ini mau keluar dari ini silakan.
Hendrik: Di masuk kita kita keluar Mas, alhamdulillah. Buat para saudara di mana pun berada ya, semua itu atas kehendak Gusti Allah dengan lantaran minyak Burhanul Haq ini. Jadi kita akan mengamanahkannya kepada saudara semuanya, tentunya itu ditugas... Kami ditugaskan untuk membangun suatu tempat ibadah, semakin banyak tempat ibadah itu semakin sejuk dunia ini, betul kan Mas?
Budi: Iya.
Hendrik: Jadi hanya itu saja yang bisa kami sampaikan, kita akan menetalisirnya nanti setelah ini karena saya ingin ngobrol-ngobrol panjang lebar dengan Bu Fatiah dan Lina, betul. Jadi hanya itu saya Hendrik dan juga Mas Budi pamit undur diri, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Budi: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar