Selasa, 23 Desember 2025

MINYAK BURHANUL CHAQQ

 


https://youtu.be/nI_mzz5lpfw?si=cicBnvqUwqxURRRa

Syaikh Maulana Ischaq:

Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Hendrik Purwa Misteri:

Wa 'alaikumussalaam warachmatullah wabarakaatuh.

Syaikh Maulana Ischaq:

Kemarilah dan duduklah wahai cucuku.

Hendrik Purwa Misteri:

Baiklah. Kita disuruh turun ke depan.

Raden Permadi:

Belum lama sekali kita berjumpa dan kali ini kita berjumpa lagi wahai anak muda. Sekali lagi, aku adalah Raden Permadi, bukan seorang wali, bukan pula manusia suci. Aku hanyalah jiwa yang pernah tersesat lalu diberi kesempatan untuk kembali. Maka hari ini aku bicara bukan dari atas. panggung. Tapi dari dasar pengalaman, dari luka yang pernah kubiarkan membusuk dari gelap yang pernah kupeluk sebagai pelarian. Dan kini aku datang untuk mengajak dirimu kembali.

Wahai dirimu yang mendengar suara ini, pernahkah engkau merasa kosong meski tertawa di hadapan dunia? Pernahkah engkau bangun tengah malam? Tapi yang kau rasakan bukan damai, melainkan hampa. Jika iya, maka itu tanda bukan kutukan, bukan kebetulan, tapi tanda bahwa jiwamu sedang rindu pulang.

Dulu aku pun begitu. Aku mengejar ilmu tanpa arah.
menggulung di petang hari, Aku menyentuh kekuatan yang tak pernah ku mengerti. Aku sibuk menguasai yang gaib, tapi melupakan siapa yang maha gaib.
Aku mengira bahwa semakin besar kekuatan, semakin utuh diriku. Tapi nyatanya aku makin menjauh, makin rapuh, makin kosong. Sampai akhirnya aku bersujud dalam sepi. Tak ada mantra, tak ada pusaka, hanya air mata dan kejujuran. Dan di sanalah aku sadar yang paling sakti adalah tobatku.

Wahai dirimu, aku tahu mungkin dosa yang kau bawa seperti gunung, tapi Tuhanmu Maha Luas daripada langit, bumi, dan segala ilmu gaib yang pernah aku pelajari. Jangan tunggu hancur dulu baru ingin kembali. Jangan tunggu jatuh dulu baru merenung.
Karena kembalinya jiwa yang sadar lebih mulia daripada ribuan langkah kaki yang sombong.

Bukan seberapa banyak hafalanmu, bukan seberapa sering engkau dipuji orang, tapi seberapa jujur engkau di hadapan Tuhanmu.

Katakan malam ini dalam saya rindu menjadi manusia yang Engkau cintai. Saya ingin pulang.
Dan lihatlah, langit akan bersinar dalam gelap hatimu. Bumi akan kembali ramah di bawah kakimu.
Dan para makhluk baik yang tampak maupun yang tersembunyi akan kembali menunduk padamu. Karena engkau telah menundukkan egomu.

Aku Raden Permadi menyampaikan ini bukan karena aku lebih tinggi darimu, tapi karena aku tahu tobat bukanlah kekalahan. Tobat adalah kemenangan tertinggi bagi jiwa yang telah menanggung dosa.

Ratu Pantai Selatan:

Kita bertemu lagi wahai anakku. Anakku. Aku ingin menyampaikan pesan kepada umat manusia.  Sampaikan pesan ini kepada mereka. Dengarkanlah wahai manusia. Aku ratu pantai selatan berbicara dari kedalaman samudra dan keheningan malam.

Aku bukan sekedar sosok legenda, bukan pula sekedar bayang-bayang di balik ombak.
Aku adalah saksi atas
segala keluh kesah kalian yang tersembunyi dalam sunyi. Aku melihat yang berjalan dalam kehidupan namun lupa arah.  Kalian yang mengejar dunia namun meninggalkan jiwa. Kalian yang meminta rezeki, namun lupa bersujud. Wahai manusia, apakah kalian tak sadar ombak pun bersujud kepada sang pencipta?
Sementara kalian enggan menunduk, aku tak butuh dipuja.
Aku tak haus persembahan. Tapi aku ingin kalian ingat bahwa hidup di dunia ini hanya sekejap.
Dan setelah gelombang usia berlalu, kalian akan kembali bukan padaku, tapi pada yang Maha Kuasa. Lihatlah lautku, tenang ia di pagi hari, menggulung di petang hari, dan bisa murka saat manusia lupa batas.

Begitu pula hidupmu. Jangan sombong saat tenang, jangan putus asa saat badai. Karena setiap gelombang ujian selalu membawa pelajaran.

Hai manusia, berhentilah saling menyakiti. Berhentilah menebar fitnah, dengki, dan keserakahan.
Apalah artinya istana megah jika hati kosong dari cahaya Tuhan?  Apalah artinya kekuasaan jika kalian lupa pada nurani? Aku ratu laut selatan menyaksikan manusia datang kepadaku membawa harapan meminta penjagaan, perlindungan, dan pengabulan.

Tapi ketahuilah, tak ada kekuatan di samudera ini yang melampaui kehendak-NYA. Bertobatlah.  Kembalilah pada Tuhanmu sebelum nyawamu diambil oleh ombak terakir. Jangan tunggu langit berubah merah atau laut membelah daratan. Baru kau sujud dengan air mata.

Aku titipkan pesan. Bukan untuk takut padaku, tapi untuk takut pada hari ketika tidak adanya laut pun bisa menyelamatkanmu dari hisabnya.

Patih Gajah Mada:

Angger cucuku, kali ini aku mewujudkan diri dengan pakaian yang berbeda dari yang sebelumnya. Karena ini adalah pertemuan resmi dirimu dengan kami. Sekali lagi aku adalah Gajah Mada dan kali ini aku akan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh kalian. Sampaikan pesan ini kepada obat manusia yang lain.

Wahai dirimu yang hidup di zaman ini, banyak dari kalian ingin menjadi besar, ingin disegani, ingin menang. Tapi apakah engkau sudah menang atas dirimu sendiri?

Aku pernah menaklukkan banyak tanah. Aku pernah membuat Maj Pahit ditakuti. Tapi justru setelah semua itu, aku sadar bahwa kemenangan sejati bukanlah menaklukkan kerajaan luar,

Wahai dirimu yang kini sedang mencari arah, ketahuilah tidak ada satuun gelar pangkat atau kekuasaan yang dapat menyelamatkanmu dari kematian.
Kelak ketika nyawa di ujung tenggorokan, hanya satu yang kita bawa. 'Amal perbuatan bukan emasmu, bukan pasukanmu, tapi sujudmu, tangisan, tobatmu, dan ketundukanmu pada yang Maha Agung.

Aku bicara ini bukan karena aku suci, tapi karena aku tahu betapa besarnya kehancuran yang dibawa oleh kesombongan. Dulu aku bersumpah tak akan berhenti sebelum menyatukan Nusantara.
Tapi kini aku ingin engkau bersumpah untuk menyatukan hatimu dengan Tuhanmu. Jangan bangga pada tubuhmu yang kuat. Jangan bangga pada kuasa.  Karena semua itu akan membusuk dalam tanah. Tapi tobatmu, 'amalmu, baktimu kepada yang lemah itu yang akan jadi mahkota abadi di alam setelah dunia.

Wahai dirimu, jika hari ini engkau merasa tersesat, ingatlah jalan pulang itu tidak pernah tertutup.  Bangunlah sebelum ajal menjuputmu dalam keadaan lupa.
Sadarilah hidup ini tidak lama. Kejayaan pun akan putar. Tapi satu sujudmu malam ini bisa membuat langit bersaksi lalu menyerah pada kehendak Tuhannya. bahwa engkau kembali kepadanya.

Aku Gajah Mata telah belajar dari sejarah dan hari ini aku bersaksi orang yang paling kuat bukanlah yang menundukkan dunia, tapi yang sanggup menundukkan dirinya sendiri. Kembalilah selagi napas masih Tuhan izinkan mengalir.

Sunan Kalijaga:

Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Sudah lama sekali diriku tidak melihatmu wahai cucukku. Izinkan aku Kalijaga menyampaikan pesan kepadamu.  Banyak orang yang bertanya padaku, apa buktinya kebenaran itu milik Islam? Apakah cukup dengan kitab, dalil, dan kata-kata?  Diriku menjawab, "Tidak. Karena kebenaran sejati bukan hanya diucapkan, tapi dihidupi.

Dirimu bisa membaca 1000 kitab, dirimu bisa menghafal ribuan ayat. Tapi jika hatimu masih kasar, jika perilakumu masih menyakiti, jika engkau hanya merasa paling benar dan lupa bagaimana mencintai, maka semua tulis itu belum menjelma menjadi cahaya.

Wahai dirimu, dulu aku hidup dalam keraguan. Aku mengenal kesaktian, kekuasaan, bahkan kehormatan. Tapi itu semua belum menjawab pertanyaanku. Apa arti itu? Lalu aku duduk di malam yang sunyi. Aku lihat pohon-pohon tak pernah membanggakan tinggi badannya.
Aku lihat angin tak pernah pamer arah datangnya. Aku lihat air yang selalu menunduk tapi memberi kehidupan. Di situlah aku mengerti bahwa kebenaran sejati adalah ketika engkau merendah tapi meninggikan orang lain. Bahwa agama bukan hanya kumpulan dalil. Tapi jalan untuk menjadi manusia yang menyelamatkan manusia lain.  Kebenaran bukan sekedar menang debat. Kebenaran adalah saat engkau berdiri di hadapan orang yang membencimu. Lalu engkau tetap memilih untuk mendoakannya.

Wahai dirimu yang sedang mencari bukti. Apakah engkau tidak lihat bahwa hatimu selalu gelisah saat jauh dari Tuhan?  Apakah engkau tidak rasa bahwa dunia ini tidak pernah cukup? Itulah bukti. Bukti bahwa jiwa manusia hanya damai bila kembali kepada yang menciptakannya.

Apa tandanya iman itu benar? Bukan dari sorbanmu, bukan dari gelarmu, tapi dari akhlakmu, dari caramu menjaga lisan, menundukkan nafsu, dan memaafkan walau sakit.

Maka dari itu kami berkumpul karena kami ingin memberikanmu, suatu minyak dan minyak itu sebarlaskanlah kepada umat manusia yang membutuhkan. Aku kalijaga tidak menaklukkan hati orang Jawa dengan pedam. Aku mengetuk hati mereka dengan kesenian, kelembutan, dan cinta. 
 
Karena hati yang keras tak bisa dibuka dengan kekelasan, tapi dengan kasih, dengan keteladanan, dengan keikhlasan.

Maka wahai dirimu, niat ini kuberikan nama Burhanul Chaqq.
Jangan cari bukti kebenaran dari luar saja.  Lihat ke dalam rabb hatimu. Jika hatimu damai saat engkau menyebut nama Allah, itulah bukti terbesar. Jika engkau menangis dalam doa tanpa dipaksa, itulah cahaya yang sedang bekerja dalam dirimu. Kebenaran itu hidup dan yang hidup tidak selalu berbentuk khulf, tapi terasa di dada yang bersih.
Hanya itu yang bisa diriku sampaikan. Izinkan beliau, Syekh Maulana Ischaaq memberikan sedikit wejangan untukmu dan juga umat manusia yang lain. Karena minyak Burhanul Chaqq akan diperbarluaskan melalui lantaran dirimu.

Asy- Syaikh Maulana Ischaaq:

Apa yang dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga itu benar! Kami di sini berkumpul karena kami ingin memberikanmu suatu minyak,  yaitu minyak burhanul haqq.  Sebar luaskanlah minyak itu kepada umat manusia dan buatkanlah pembangunan untuk tempat istirahat serta tempat beribadah. Aku Maulana Ishak bukan orang besar dalam pandangan dunia, tapi seorang hamba yang pernah merasakan betapa mulianya suatu amat kecil yang dilakukan dengan ikhlas.

Wahai dirimu, hari ini aku tidak datang membawa dalil yang panjang. Tidak juga ayat-ayat yang tinggi yang sulit dimengerti.  Aku hanya ingin menyampaikan satu hal tentang kebaikan yang engkau lakukan tanpa pamrih dan tanpa ingin dibalas. Tahukah engkau? Setiap kali engkau menolong orang lain tanpa berharap kembali, bukan hanya orang itu yang tersenyum, tapi langit pun ikut bersaksi bahwa engkau telah menjadi cahaya di bumi.

Banyak manusia hari ini memberi, tapi berharap dipuji, menolong tapi ingin dikenal. Berbuat baik tapi hatinya penuh hitung-hitungan. Lalu ketika tidak dibalas, ia marah. Ketika tidak dihargai, ia kecewa. Padahal kebaikan yang sejati adalah yang engkau lupakan setelah engkau lakukan.

Karena engkau tahu bukan
manusia yang menyimpan balasan, tapi Allah yang mencatat dengan sempurna. Wahai dirimu,
ketika engkau mengangkat beban seseorang, sesungguhnya engkau sedang meringankan jalanmu sendiri menuju surga.

Ketika engkau menyekap air mata orang lain, sesungguhnya engkau sedang membasuh noda dalam hatimu sendiri. Barang siapa membantu saudaranya, maka Allah akan membantu dia dalam urusannya. Itu bukan janji dari manusia, tapi janji dari Tuhanmu. Dan janjinya tak pernah meleset.

Aku Maulana Ishak telah melihat bagaimana amal-amal tersembunyi justru menyelamatkan seseorang bukan karena banyaknya, tapi karena ikhlasnya. Maka jika engkau menolong orang, jangan dihitung berapa kali. Jika engkau memberi, jangan sebutkan kepada siapun.
Karena semakin sunyi amalmu, semakin nyaring ia terdengar di sisi langit.

Wahai dirimu, mungkin engkau pernah kecewa, pernah menolong lalu dikhianati, pernah memberi lalu dilupakan. Tapi ketahuilah,  engkau tidak sedang bertransaksi dengan manusia. Engkau sedang berdagang dengan Tuhan dan Tuhan tidak pernah bangkrut dalam memberi balasan, maka teruslah menjadi cahaya, teruslah menolong walau dirimu sendiri sedang berjuang. Karena bisa jadi pertolongan Allah datang lewat tanganmu sendiri ketika engkau menolong orang lain. 

Aku Maulana Ishak berdiri bukan sebagai hakim atas dirimu, tapi sebagai saudaramu yang ingin mengingatkan bahwa kebaikanmu adalah jalan pulangmu. Mungkin hanya itu yang bisa kami sampaikan kepada dirimu. Seberarluaskanlah minyak Burhanul Chaqq kepada orang yang membutuhkan. Kami mempersilakanmu untuk mengambil minyak itu. Dan jangan lupa, jangan sampai salah dan jatuh kepada orang yang salah. Kami mempersilakanmu untuk mengambilnya.

Hendrik Purwa Misteri:

Apa ini saudara? Masyaallah.
Terima kasih, Eyang. Terima kasih Nyai atas upeti yang sudah Eyang serta Nyai berikan kepada saya.

Ratu Pantai Selatan:

Sembuhkanlah anak kecil itu dengan minyak tersebut.

Hendrik Purwa Misteri:

Baik, Eyang. Baik, Nyai. Akan saya sembuhkan Dek Lina dengan lantaran minyak ini. Kami pamit. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

*

0 komentar:

Posting Komentar