ETIKA BERDEBAT ILMIAH
Pada dasarnya, saat kalah dalam metodologi atau argumen, "lari ke soal adab" *tidak dapat dianggap sebagai respons yang valid dalam sebuah diskusi atau debat.* Tindakan ini sering disebut sebagai *sesat pikir atau fallacy* karena mengalihkan topik dari substansi masalah ke ranah *personal atau etika.*
*Perbedaan metodologi dan adab*
*Metodologi:* Merujuk pada cara, prosedur, atau kerangka berpikir yang digunakan untuk mencapai suatu kesimpulan atau tujuan. Dalam konteks debat, metodologi mengacu pada validitas argumen, data yang digunakan, dan kerangka logika yang dibangun.
*Adab:* Berkaitan dengan etika, tata krama, dan perilaku sopan santun dalam berinteraksi. *Adab adalah cara kita menyampaikan sesuatu, bukan substansi dari apa yang disampaikan.*
*Mengapa Lari Ke Adab Tidak Dibenarkan?*
*Mengabaikan substansi masalah:* Ketika seseorang kalah dalam perdebatan metodologi, fokus utama seharusnya adalah mengakui kelemahan argumen atau mencoba memperbaiki kesalahan logis. Mengalihkan pembicaraan ke soal adab merupakan cara untuk menghindari kekalahan faktual.
*Serangan personal (ad hominem):* Praktik ini sering kali menjadi bentuk serangan personal yang menargetkan karakter lawan, bukan argumennya. Ini bertujuan untuk mendiskreditkan lawan agar diskusinya dianggap tidak relevan.
*Tanda ketidakmampuan berdebat:* Seseorang yang beralih ke isu adab saat argumennya patah menunjukkan bahwa ia tidak memiliki cukup bukti atau alasan yang kuat untuk mempertahankan posisinya.
*Menghambat pencarian kebenaran:* Diskusi yang sehat bertujuan untuk mencari kebenaran atau solusi terbaik. Jika salah satu pihak menghindari pertanggungjawaban atas argumennya dengan mengalihkan topik, maka proses pencarian kebenaran akan terhenti.
*Beberapa adab berdiskusi yang baik antara lain:*
• Menggunakan bahasa yang sopan.
•. Menghormati pendapat orang lain.
•. Tidak memotong pembicaraan.
•. Fokus pada data dan referensi yang valid.
*Mengalah secara elegan:* Dalam situasi debat yang tidak lagi produktif, mengalah bukan berarti kalah. Meninggalkan perdebatan yang sia-sia atau tidak sehat lebih baik daripada terjebak dalam argumen yang tidak bermanfaat.
*Kesimpulan*
Secara umum, tidak boleh "lari ke soal adab" saat kalah dalam metodologi. Praktik ini adalah sebuah kesalahan logis. Namun, jika lawan debat memang menunjukkan adab yang buruk, etika yang dilanggar perlu ditegur. Sejatinya, adab dan metodologi harus berjalan beriringan: adab yang baik dalam menyampaikan argumen yang kuat secara metodologi akan menciptakan diskusi yang produktif dan berkelas.
*Seseorang yang berbicara dan menilai dalam debat ilmiah tanpa referensi lengkap.*
*Karakteristik pembicara*
*Percaya diri, tetapi dangkal.* Ia berbicara dengan nada tegas dan meyakinkan, seolah-olah menguasai materi sepenuhnya. Namun, jika didalami lebih jauh, argumennya sering kali tidak memiliki dasar yang kuat.
*Mengandalkan cara pemahaman pribadi.* Alih-alih merujuk pada penelitian atau data yang valid, ia menggunakan cara pribadinya sebagai "bukti".
*Menggunakan logika yang cacat.* Ia cenderung menggunakan analogi yang tidak relevan atau generalisasi yang berlebihan untuk mendukung poin-poinnya.
*Cenderung menyerang lawan secara personal (ad hominem).* Ketika argumennya mulai goyah, ia akan _mengalihkan fokus dari topik debat dan menyerang kredibilitas atau karakter lawan bicaranya._
*Menggunakan retorika yang manipulatif.* Ia mungkin menggunakan kata-kata yang memancing emosional atau retorika yang bombastis untuk mengalihkan perhatian dari fakta-fakta yang sebenarnya. Tujuan utamanya adalah untuk _memengaruhi audiens, bukan untuk mencari kebenaran._
*Tertutup terhadap sudut pandang lain.* Ia tidak tertarik untuk mendengarkan atau mempertimbangkan bukti dari pihak lain. Pikirannya sudah tertutup dan ia akan terus berpegang teguh pada pendiriannya, bahkan ketika dihadapkan dengan fakta yang bertentangan.
*Menciptakan kebingungan.* Argumen yang tidak berdasar dapat menyesatkan audiens yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang topik tersebut.
*Menimbulkan frustrasi.* Bagi lawan debat yang berpegang pada fakta, berhadapan dengan orang seperti ini bisa sangat menjengkelkan dan memancing kemarahan, *karena argumen yang tidak logis dan tidak berdasar tidak dapat dilawan dengan argumen logis.*
*Apa sebenarnya yang mungkin menjadi motivasinya ?*
*Mencari pengakuan atau validasi.* Individu ini mungkin merasa perlu untuk terlihat cerdas atau berpengetahuan di depan orang lain, bahkan jika ia harus mengarang fakta.
*Menjaga ego.* Mengakui bahwa ia tidak memiliki referensi yang lengkap bisa berarti ia harus mengakui kekalahan atau ketidaktahuannya. Bagi sebagian orang, hal ini sangat sulit diterima.
*Tidak terbiasa dengan metode ilmiah.* Ia mungkin tidak pernah dilatih untuk berpikir kritis atau memahami pentingnya referensi dalam sebuah argumen. Ia menganggap bahwa apa yang ia "rasakan" atau "pikirkan" sudah cukup sebagai bukti.
*Etika berdebat yang baik dan benar meliputi:*
Fokus pada argumen bukan pribadi, menggunakan data dan fakta, berbicara dengan sopan, menghargai lawan debat, serta mematuhi aturan yang berlaku. Selain itu, tujuan debat sebaiknya untuk mencari kebenaran, bukan untuk menjelek-jelekkan lawan atau menang semata.
*Etika Saat Berdebat*
Fokus pada argumen, bukan pribadi: Serang ide dan gagasan lawan, bukan kekurangan fisik atau personalnya. Ingat bahwa tujuan berdebat adalah mencari kebenaran, bukan memenangkan perselisihan dengan cara merendahkan lawan.
Bicara berdasarkan data dan fakta: Gunakan data dan fakta yang akurat untuk mendukung argumen Anda. Jangan mengandalkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Gunakan bahasa yang sopan: Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang baik, sopan, dan santun. Hindari kalimat yang menyinggung atau merendahkan.
Hargai lawan debat: Perlakukan lawan bicara dengan hormat, meskipun ada perbedaan pendapat. Dengarkan dan pahami argumennya sebelum merespons.
Dengarkan dengan saksama: Jangan menyela saat lawan berbicara. Beri kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan argumen sepenuhnya sebelum Anda memberikan tanggapan.
Patuhi aturan main: Patuhi semua peraturan debat yang telah disepakati agar debat berjalan tertib dan adil bagi semua pihak.
Kelola emosi: Jika merasa emosi mulai tidak terkendali, ambil napas dalam-dalam atau istirahat sejenak. Menunda perdebatan adalah pilihan yang lebih baik daripada berdebat dalam keadaan emosi yang memuncak.
Tata Cara Debat yang Baik dan Benar, Simak Juga Unsur, Etika dan Contohnya
Debat secara umum dikenal sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menguji argumentasi, yang diberikan antara individu ataupun kelompok.
oleh Silvia Estefina Subitmele
Diterbitkan 28 Juli 2023, 07:50 WIB
Liputan6.com, Jakarta Debat adalah proses komunikasi, yang melibatkan diskusi terstruktur antara dua atau lebih individu atau tim, yang memiliki pandangan atau pendapat yang berbeda tentang suatu topik. Adapun tata cara debat, membuat peserta berusaha, untuk meyakinkan pendengar atau juri bahwa pendapat atau posisi yang mereka pertahankan, adalah yang paling kuat dan layak diterima.
Tata cara debat umumnya melibatkan argumen yang didasarkan pada fakta, logika, dan bukti-bukti yang relevan. Peserta debat menggunakan strategi komunikasi, untuk menyampaikan argumen mereka dengan cara yang persuasif dan efektif. Tujuan debat bisa bervariasi, mulai dari meyakinkan orang lain untuk mengubah pandangan mereka, mempengaruhi keputusan atau kebijakan, hingga memperluas pemahaman tentang suatu isu.
Tata cara debat dapat terjadi dalam berbagai konteks, termasuk dalam lingkungan pendidikan, politik, bisnis, dan masyarakat. Debat sering digunakan dalam acara-acara debat formal, kompetisi debat, forum publik, debat politik, dan debat akademik. Debat juga dapat dilakukan secara lisan atau tertulis, serta melibatkan perdebatan langsung antara individu atau tim.
Tata Cara
Tata cara debat merujuk pada serangkaian aturan dan prosedur, yang mengatur jalannya sebuah debat. Tata cara debat memberikan kerangka kerja yang terstruktur, untuk memastikan bahwa diskusi berjalan dengan adil, terorganisir, dan produktif.
Berikut adalah langkah-langkah umum dalam tata cara debat:
Persiapan
Sebelum debat dimulai, persiapkan diri dengan baik. Lakukan riset menyeluruh tentang topik yang akan diperdebatkan. Pelajari argumen-argumen yang relevan, data-data terbaru, dan sudut pandang yang berbeda. Buatlah daftar pertanyaan dan tanggapan yang mungkin muncul selama debat. Pahami baik argumen Anda sendiri maupun argumen lawan.
Pernyataan Pembukaan
Mulailah dengan pernyataan pembukaan yang kuat dan menarik. Gunakan waktu ini untuk memperkenalkan topik, menyampaikan posisi Anda, dan menarik perhatian pendengar. Pernyataan pembukaan yang efektif akan membuat audiens tertarik, dan memperoleh pemahaman awal tentang argumen Anda.
Pengembangan Argumen
Setelah pernyataan pembukaan, presentasikan argumen-argumen Anda secara terstruktur dan logis. Sajikan argumen dengan jelas dan kembangkan dengan bukti, fakta, dan contoh yang mendukung posisi Anda. Susunlah argumen dalam urutan yang logis, untuk membangun kekuatan argumen Anda secara bertahap.
Penanggapan terhadap Argumen Lawan
Setelah presentasi argumen Anda, tanggapi argumen dari pihak lawan dengan baik. Dengarkan dengan saksama apa yang mereka sampaikan, dan berikan respons yang terukur dan berdasarkan fakta. Jangan menyerang secara pribadi, tetapi fokus pada kelemahan atau kekurangan dalam argumen mereka. Gunakan logika dan bukti untuk membantah argumen lawan.
Rebuttal dan Pertanyaan Silang
Tata cara debat selanjutnnya setelah penanggapan terhadap argumen lawan, ada kesempatan untuk memberikan rebuttal yang kuat terhadap argumen mereka. Gunakan kesempatan ini, untuk merespons argumen lawan secara langsung, mengungkapkan kelemahan dalam argumen mereka, dan memperkuat posisi Anda. Selain itu, ada juga kesempatan untuk melakukan pertanyaan silang kepada pihak lawan. Gunakan pertanyaan ini untuk menguji pemahaman mereka, tentang argumen dan memperjelas posisi mereka.
Di bagian penutup, rangkumlah argumen-argumen utama yang telah Anda sampaikan. Berikan kesimpulan yang kuat yang memperkuat posisi Anda. Hindari menambahkan argumen baru di bagian penutup. Gunakan kesempatan ini untuk memberikan kesimpulan yang jelas dan meyakinkan. Selama debat, patuhi etika debat yang baik dan dengarkan argumen lawan dengan saksama.
Mengenal Arti Debat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Anda juga bisa memaknai debat, sebagia kegiatan mengadu argumentasi antara dua pihak atau lebih yang bersifat perorangan, ataupun kelompok didalam mendiskusikan dan memutuskan masalah.
Asidi Dipodjojo (1982)
Menurut Asidi Dipodjojo di dalam buku Komunikasi Lisan (1982), pengertian debat adalah suatu proses komunikasi yang dilakukan secara lisan yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan gagasan atau pendapat. Dalam sebuah debat, setiap pihak berhak mengajukan pendapat dan memberikan alasan, sehingga pihak lawan atau pihak yang tidak setuju dapat menerima dan berpihak kepadanya.
Hendri Guntur Tarigan (1984)
Sedangkan pengertian debat menurut Hendri Guntur Tarigan yakni saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan satu pihak.
Dori Wuwur (1990)
Menurut Dori Wuwur di dalam buku Retorika (1990), pengertian debat yaitu saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak.
G. Sukadi (1993)
Pengertian debat menurut G. Sukadi yaitu kegiatan saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan.
Kamdhi (1995)
Selanjutnya, pengertian debat menurut Kamdhi adalah suatu pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu pokok masalah dimana masing-masing peserta memberikan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.
Unsur
Mosi
Unsur-unsur debat yang pertama dalah mosi. Dalam debat harus ada mosi yang akan diperdebatkan. Mosi merupakan unsur debat yang berkaitan dengan suatu hal atau topik, yang diperdebatkan oleh para peserta debat. Adanya mosi sebagai unsur debat sangat penting dalam sebuah debat karena terdapat pihak yang pro dan pihak yang kontra.
Afirmatif
Unsur-unsur debat yang kedua adalah tim afirmatif atau pihak pro. Tim afirmatif sebagai unsur debat adalah tim yang setuju terdapat hal yang diperdebatkan (mosi). Tim afirmatif bertanggung jawab untuk membela proposisi atau pandangan tertentu, sementara tim negatif bertanggung jawab untuk menentang atau menolak pandangan tersebut. Misalnya, dalam sebuah debat dengan topik "Apakah perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia?," tim afirmatif akan membela pandangan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia.
Unsur Negatif
Tim negatif/oposisi/pihak kontra merupakan unsur-unsur debat ketiga. Tim negatif memiliki tugas untuk memberikan argumen dan bukti yang menentang pandangan, yang diajukan oleh tim afirmatif. Mereka harus mencoba meyakinkan audiens bahwa pandangan atau proposisi yang diajukan oleh tim afirmatif tidaklah benar, tidak tepat, atau memiliki implikasi yang buruk
Pihak Netral
Selain tim afirmatif dan tim negatif, unsur debat harus ada pihak yang ada di tengah-tengah, yaitu tim netral ini. Dalam beberapa situasi, seperti mediasi atau penilaian objektif, tim netral dapat berperan sebagai mediator atau penengah yang membantu berkomunikasi antara pihak yang berbeda dan mencari solusi yang adil bagi semua pihak yang terlibat. Tujuan tim netral adalah mencapai hasil yang obyektif dan adil, tanpa keberpihakan kepada salah satu pihak.
Moderator
Moderator merupakan salah satu unsur-unsur debat yang tidak kalah penting. Moderator dalam unsur debat adalah orang yang memimpin dan membantu jalannya perdebatan. Unsur debat ini dimulai dari membacakan tata tertib debat, mengajukan pertanyaan, dan menengahi adu pendapat peserta debat.
Etika Debat
Etika debat yang baik adalah penting untuk menjaga keadilan, keterbukaan, dan kualitas diskusi. Berikut adalah beberapa prinsip dan pedoman etika debat yang baik:
Dengarkan dengan penuh perhatian dan menghargai pendapat lawan, meskipun Anda tidak setuju dengannya.
Jangan menghina, merendahkan, atau menggunakan bahasa yang kasar terhadap lawan. Hindari serangan pribadi atau mencampuri kehidupan pribadi lawan.
Sampaikan argumen dengan integritas dan kejujuran, dan jangan menyebarkan informasi yang tidak benar atau memanipulasi fakta untuk mendukung posisi Anda.
Sampaikan data, statistik, kutipan, dan informasi yang dapat diverifikasi dengan sumber yang kredibel.
Selanjutnya gunakan bahasa yang sopan dan hormat kepada semua peserta debat. Hindari penggunaan bahasa yang menghina, merendahkan, atau memicu perpecahan.
Jangan menggunakan bahasa yang diskriminatif berdasarkan ras, agama, gender, orientasi seksual, atau atribut pribadi lainnya.
Jangan memotong atau menginterupsi lawan secara tidak pantas.Tunggu giliran Anda untuk merespons argumen lawan dengan tepat
Ikuti aturan debat yang ditetapkan sebelumnya, dan patuhi tata cara yang berlaku. Berikan waktu yang adil kepada semua peserta, dan jangan mencoba untuk mengambil keuntungan yang tidak adil.
Jika ada pertanyaan atau ketidakjelasan mengenai aturan, sampaikan pertanyaan tersebut sebelum debat dimulai.
Menghormati etika debat yang baik akan menciptakan lingkungan yang sehat, adil, dan produktif untuk diskusi. Etika debat yang baik memungkinkan para peserta, untuk menyampaikan pendapat mereka dengan rasa hormat, memperkuat kualitas debat, dan mencapai pemahaman yang lebih baik tentang topik yang sedang diperdebatkan.
5 Etika dalam Berdebat yang Membuat Kamu Elegan dan Tegas
24 Agu 2024, 16:56 WIB
S U S A N
Dalam kehidupan sehari-hari, debat sering kali tak terhindarkan, baik di tempat kerja, di lingkungan sosial, maupun di rumah. Namun, cara kamu berdebat sangat menentukan bagaimana orang lain memandangmu.
Berdebat dengan elegan dan tegas tidak hanya membantu menyampaikan pendapatmu dengan jelas, tetapi juga menunjukkan bahwa kamu adalah pribadi yang matang dan bijaksana. Berikut ini lima etika berdebat yang dapat membuatmu terlihat elegan dan tegas.
1. Dengarkan dengan penuh perhatian
Saat berdebat, penting bagi kamu untuk mendengarkan argumen lawan bicara dengan seksama. Ini bukan hanya soal menghargai pendapat orang lain, tetapi juga memberikan kamu kesempatan untuk memahami sudut pandang mereka dengan lebih baik.
Dengan mendengarkan dengan penuh perhatian, kamu bisa memberikan tanggapan yang lebih relevan dan bijaksana. Selain itu, lawan bicara akan merasa dihargai, yang pada gilirannya membuat perdebatan menjadi lebih konstruktif.
2. Jaga intonasi dan volume suara
ilustrasi perdebatan (pexels.com/Mikhail Nilov)
Intonasi dan volume suara yang tepat dapat membuat perbedaan besar dalam cara argumenmu diterima oleh orang lain. Berbicara dengan nada yang terlalu tinggi atau agresif hanya akan membuatmu terlihat emosional dan kurang rasional.
Sebaliknya, berbicara dengan nada yang tenang dan jelas menunjukkan bahwa kamu memiliki kontrol diri yang baik. Ini juga mencerminkan keyakinanmu pada argumen yang kamu sampaikan, tanpa perlu terkesan memaksakan pendapatmu pada orang lain.
3. Hindari serangan pribadi
ilustrasi perdebatan (unsplash.com/Headway)
Saat perdebatan memanas, terkadang kita tergoda untuk menyerang karakter atau kepribadian lawan bicara. Namun, ini adalah kesalahan besar yang bisa merusak kredibilitasmu.
Fokuslah pada isu atau topik yang sedang dibahas, bukan pada orang yang menyampaikannya. Dengan menghindari serangan pribadi, kamu menunjukkan bahwa kamu bisa tetap profesional dan objektif, meskipun berada dalam situasi yang menegangkan.
4. Gunakan fakta dan data sebagai dasar argumen
ilustrasi perdebatan (pexels.com/Loveleen S.)
Argumen yang kuat adalah argumen yang didukung oleh fakta dan data. Saat berdebat, pastikan kamu memiliki dasar yang jelas untuk setiap pernyataan yang kamu buat.
Menggunakan fakta dan data tidak hanya memperkuat argumenmu, tetapi juga menunjukkan bahwa kamu telah melakukan riset dan tidak asal bicara. Ini memberikan kesan bahwa kamu adalah individu yang berpikir kritis dan dapat diandalkan.
5. Akui jika kamu salah
ilustrasi bersalaman (pexels.com/fauxels)
Tidak ada yang sempurna, dan terkadang kita bisa salah dalam berdebat. Mengakui kesalahan tidak membuatmu lemah, kok, justru sebaliknya, ini menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang dewasa dan rendah hati.
Jika kamu menyadari bahwa pendapatmu keliru atau kurang akurat, jangan ragu untuk mengakuinya. Ini akan membuatmu dihormati oleh lawan bicara dan menunjukkan bahwa tujuan utamamu adalah mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Menguasai etika dalam berdebat adalah keterampilan yang berharga dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya pendapatmu yang akan lebih didengar, tetapi kamu juga akan dianggap sebagai individu yang matang dan bijaksana. Semoga lima etika ini bisa membantumu menjadi lebih efektif dalam berdebat.
7 Cara Berdebat yang Baik dan Benar
Berdebat bukan hanya sekadar pertukaran argumen namun juga merupakan keahlian yang dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, menyampaikan ide dengan jelas, dan memahami sudut pandang orang lain. Di sekolah, kegiatan berdebat menjadi salah satu metode efektif untuk mengembangkan keterampilan komunikasi siswa. Dalam artikel ini, kita akan membahas cara berdebat yang baik dan benar di sekolah.
1. Memahami Aturan Berdebat
Sebelum terlibat dalam sebuah debat, siswa sebaiknya memahami aturan-aturan dasar berdebat. Contohnya yaitu pemahaman tentang waktu yang diberikan, struktur argumen dan etika berdebat. Pelajari aturan-aturan debat yang digunakan di sekolah dan pastikan siswa mematuhinya.
2. Penelitian Mendalam
Persiapan adalah kunci keberhasilan dalam berdebat. Siswa perlu melakukan penelitian mendalam tentang topik yang akan dibahas. Hal ini mencakup memahami argumen pro dan kontra, serta mengumpulkan data/fakta yang relevan. Dengan pengetahuan yang kuat tentang topik, siswa akan lebih percaya diri dalam menyampaikan argumen mereka.
3. Membangun Argumen dengan Logis
Sebuah debat memerlukan argumen yang logis dan terstruktur. Siswa sebaiknya dapat menyusun argumen mereka dengan jelas, mengikuti alur pikir yang teratur dan menyajikannya dengan bukti yang mendukung. Hindari argumen yang mengandung unsur emosional atau tidak berdasar.
4. Keterampilan Berbicara dan Menyimak
Seorang debater yang baik tidak hanya pandai berbicara tetapi juga pandai mendengarkan. Siswa sebaiknya mengembangkan keterampilan berbicara mereka, termasuk intonasi suara yang tepat, postur tubuh yang percaya diri dan kejelasan dalam penyampaian argumen. Selain itu, kemampuan mendengarkan dengan baik membantu mereka merespon argumen lawan secara efektif.
5. Etika Berdebat
Etika berdebat mencakup penghormatan terhadap lawan, penggunaan bahasa yang sopan dan sikap terbuka terhadap ide-ide orang lain. Hindari menggunakan serangan pribadi dan tetap fokus pada argumen. Sikap positif dan etika yang baik akan meningkatkan citra seorang debater.
6. Pertahankan Keberanian dan Fleksibilitas
Dalam dunia berdebat, kemampuan untuk tetap tenang dan fleksibel sangat penting. Siswa harus siap untuk menghadapi tantangan, merespon pertanyaan lawan, dan mengubah strategi mereka jika diperlukan. Pertahankan keberanian dan jangan takut untuk mengakui jika ada kesalahan.
7. Berlatih Secara Rutin
Seperti keterampilan lainnya, kemampuan debat memerlukan latihan secara rutin. Siswa dapat bergabung dengan klub debat di sekolah atau merencanakan sesi latihan bersama guru atau teman-teman. Praktikkan debat dengan berbagai topik agar dapat mengembangkan keahlian berdebat yang holistik.
Mengembangkan keterampilan berdebat yang baik dan benar di sekolah tidak hanya memberikan keuntungan selama masa pendidikan tetapi juga merupakan investasi untuk masa depan. Dengan mengikuti cara di atas, siswa dapat memperoleh keterampilan komunikasi yang kuat, meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan membentuk sikap yang terbuka terhadap berbagai sudut pandang.
Pahami Tata Cara Debat, Etika, dan Teknik Berbicara Saat Berdebat
Wilman Juniardi
Quipperian, apakah saat ini kamu sedang persiapan mengikuti lomba debat? Jika ya, maka kamu harus mengetahui tata cara debat yang baik dan benar.
Jadi, meskipun kamu berusaha mempertahankan pendapat dan membuat lawan debat setuju dengan pendapatmu, hal tersebut harus dilakukan dengan cara yang sopan. Tak hanya tata cara debat saja, tapi kamu juga perlu mengetahui etika dalam berdebat, kesalahan yang harus dihindari saat berdebat, dan teknik berbicaranya.
Nah, untuk mengetahui itu semua, kamu bisa menyimak ulasan berikut ini. Baca sampai habis, ya supaya mendapat keseluruhan informasinya.
Tata Cara Debat
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan debat sebagai pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Debat sering kali dianggap sebagai kegiatan yang negatif karena dilihat sebagai pembicaraan yang panas dan penuh emosi. Padahal, pada dasarnya debat tidak terlihat seperti itu jika dilakukan dengan benar, bahkan kamu bisa mendapat berbagai manfaat dari kegiatan debat.
Dalam berdebat pun tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ada tata cara debat yang harus diperhatikan, yaitu:
Memahami dan menjalani peraturan debat yang telah disepakati bersama. Apabila ada anggota debat yang melanggar peraturan, maka akan berpengaruh terhadap timnya.
Disarankan untuk menyampaikan pertanyaan secara profesional, tidak menghina, menguji, maupun merendahkan lawan. Pertanyaan harus berfokus pada permasalahan yang tengah dibahas. Tidak boleh mengajukan pertanyaan yang menyerang lawan secara pribadi.
Ajukan argumen dengan analitis yang kritis, sistematis, serta kemampuan retorika secara baik atau tidak terbata-bata.
Kenali dan pahami kelemahan maupun kelebihan dari lawan sebelum menyampaikan gagasan. Hal ini penting dilakukan guna menyusun strategi debat yang tepat sehingga efektif dalam menyangkal dan memengaruhi lawan, bahkan seluruh peserta debat.
Batasi argumen yang disampaikan, maksimal tiga poin karena adanya keterbatasan waktu. Susun argumen ke dalam poin yang singkat dan lugas, serta merujuk langsung ke permasalahan yang sedang didebatkan.
Pahami dengan baik kesalahan dalam berpikir lawan, terutama pada penyelesaian masalahnya. Hal ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengetahui kelemahan argumentasi yang diberikan oleh lawan.
Gagasan yang disajikan harus akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Sertakan juga data yang valid untuk mendukung argumentasi atau gagasan yang disampaikan.
Buatlah kesimpulan yang menunjukkan pernyataan final dengan kalimat yang lugas dan langsung menuju ke titik celah lawan. Penyampaian kesimpulan tidak perlu terlalu panjang, cukup poin-poin yang menegaskan argumentasi dan disampaikan dengan tegas untuk menunjukkan rasa percaya diri bahwa argumentasi tersebut benar.
Etika Berdebat
Selain tata cara, kamu juga harus memperhatikan etika dalam berdebat. Jangan sampai gara-gara tidak memahami etika berdebat, penilaian juri terhadap kamu atau tim berkurang.
Berikut adalah beberapa etika dalam berdebat.
1. Serius
Ketika menyampaikan pertanyaan kepada lawan debat, kamu harus menunjukkan sikap yang serius. Jangan main-main atau berbicara tanpa fakta dan data yang konkret.
Ingat, perdebatan bukan ajang untuk main-main. Argumentasi yang disampaikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius.
Ada baiknya, mengajukan segala pertanyaan berdasarkan riset yang telah dilakukan dan sesuaikan dengan pengetahuanmu.
2. Tidak menilai fisik
Etika berdebat selanjutnya adalah kamu tidak boleh menyerang ataupun menyinggung fisik lawan debat. Sebab, dalam berdebat, hal yang diutamakan adalah adu ide gagasan.
Jadi, jika ingin menyerang, maka seranglah ide gagasan lawan, bukan fisiknya. Hindari membawa hal apapun diluar ide, gagasan, dan data-data yang kamu miliki dalam sebuah perdebatan.
Menyerang atau menyinggung fisik lawan tidak akan menambah penilaian kamu dan tim karena yang dinilai dari sebuah debat adalah ide dan gagasan yang kamu miliki. Justru sikap menilai rendah fisik lawan berpotensi mengurangi penilaian kamu dan tim.
3. Bicara berdasarkan data dan fakta
Salah satu cara untuk mematahkan argumentasi lawan debat adalah dengan mengadu argumentasi tersebut dengan data dan fakta. Itulah mengapa, kamu harus melakukan riset mendalam sebelum melakukan debat.
Hindari sikap mengadu ide gagasanmu dengan informasi yang belum jelas kebenarannya atau berita palsu (hoax). Kumpulan fakta dan data sebanyak mungkin dari sumber-sumber yang terpercaya.
Semakin banyak fakta dan data yang kamu kumpulkan, semakin besar pula peluang untuk memenangkan perdebatan.
4. Mengikuti aturan main
Setiap pelaksanaan debat, pasti ada aturan main yang telah ditetapkan oleh tim penyelenggara. Mulai dari batas bicara, aturan menyanggah lawan debat, hingga tata cara bertanya.
Ikuti segala aturan main tersebut dan jangan menganggap remeh sebuah aturan. Melanggar satu aturan saja, bisa membuat kamu didiskualifikasi oleh tim penyelenggara sehingga segala sesuatu yang telah kamu persiapkan pun menjadi sia-sia.
Kesalahan dalam Berdebat
Terkadang, tanpa disadari maupun disadari, seorang debater melakukan kesalahan dalam penyampaian argumen. Kesalahan ini dapat disebabkan karena debater kurang menguasai materi atau terpengaruh faktor psikis yang membuatnya panik sehingga tanpa sengaja melakukan kesalahan yang berakibat fatal.
Konsekuensinya adalah debater tersebut bisa saja kehilangan poin dan membuat argumentasi yang diutarakan terkesan membosankan.
Agar hal ini tidak terjadi pada kamu saat berdebat, ada baiknya kamu mengetahui kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan seorang debater saat membawakan argumennya. Berikut daftar kesalahannya.
1. Logical Fallacy
Pernahkah kamu terlibat dalam sebuah debat yang tidak ada ujungnya? Atau menyaksikan debat di televisi di mana pembicaraannya hanya muter-muter saja, bahkan sampai bertengkar?
Nah, dalam situasi tersebut, biasanya kedua pihak yang berdebat tanpa sadar telah melakukan kesalahan, yaitu logical fallacy. Logical fallacy adalah kesalahan dalam berfikir logis yang berasal dari asumsi-asumsi yang keliru.
Kesalahan ini akan membuat kegiatan berdebat menjadi tidak berbobot dan tidak sehat. Oleh karena itu, hindari kesalahan ini jika kamu ingin menjadi debater yang handal.
2. Argumen repetitif
Argumen repetitif adalah argumen yang dibawakan secara berulang-ulang dan terus-menerus sepanjang perdebatan. Ini adalah kesalahan yang paling banyak dijumpai dalam kegiatan debat.
Kesalahan ini biasanya dilakukan karena berusaha menghabiskan waktu, tidak paham mosi, dan kurang baik dalam mengalokasikan waktu pada saat case building. Selain itu, terkadang debater tidak sadar bahwa dirinya sedang melakukan argumen repetitif karena menganggap bahwa hal tersebut adalah bentuk penegasan.
Mengulang-ulang pernyataan memang diperlukan untuk meyakinkan pihak lain. Namun, bukan berarti pernyataan yang sama harus disampaikan secara berulang.
3. Argumen yang terlalu umum
Menggunakan argumen yang terlalu umum tanpa membuatnya lebih merinci ke argumen-argumen pendukung yang lebih detail, akan membuat bangunan argumen kamu sangat lemah.
Untuk menghindari kesalahan ini, seorang debater sebaiknya membuat argumen yang langsung ke inti atau jika ingin memberikan contoh, maka contoh tersebut harus sesuai dengan mosi yang tengah diperdebatkan.
4. Menyinggung SARA
Menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) adalah hal yang dilarang dalam debat. Hal ini dikarenakan, SARA selalu menjadi hal yang sensitif dalam masyarakat sehingga mengungkapkan kalimat yang mengandung SARA dapat memicu pertikaian.
Oleh karena itu, debater harus hati-hati dalam mengutarakan argumennya dan jangan sampai menyinggung SARA. Selain dapat menyebabkan pertikaian, argumen yang menyinggung SARA juga dapat mengurangi poin dan membuat argumen menjadi tidak etis.
Teknik Berbicara dalam Debat
Berikut adalah beberapa teknik berbicara saat sedang berdebat yang bisa kamu gunakan.
1. Teknik mempertahankan usul
Adapun langkah-langkah untuk menerapkan teknik mempertahankan usul ini, antara lain:
• Menunjukkan inti
• Mengemukakan argumentasi- argumentasi
• Membeberkan contoh konkret, data dan fakta untuk memperkuat pembuktian
• Menarik kesimpulan yang bernada menuntut atau mengimbau
• Seruan untuk bertindak sesuai dengan argumentasi yang telah dikemukakan
Untuk menguasai teknik ini, ada dua taktik yang diperlukan, yaitu taktik penegasan dan taktik bertahan.
Pada taktik penegasan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti mengulang, memengaruhi, kompromi, mengiyakan, dan kesepakatan. Sementara pada taktik bertahan, kamu bisa melakukan mengelak, menunda, membinasakan, mengangkat, berterima kasih, menggambarkan, menguraikan, atau membiarkan.
2. Teknik mempertentangkan usul
Pada teknik mempertentangkan usul, langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu:
• Menyajikan inti
• Mengemukakan argumentasi
• Menguraikan hal-hal yang mungkin bertentangan
• Menjelaskan hal-hal yang bertentangan itu secara lebih konkret melalui pembuktian data dan fakta.
• Seruan untuk bertindak sesuai dengan argumentasi
Untuk menguasai teknik ini, ada dua taktik yang diperlukan, yaitu taktik menyerang dan menolak.
Pada taktik menyerang, kamu bisa melakukannya dengan cara bertanya balik, provokasi, antisipasi, mengagetkan, melebih-lebihkan, dan memotong. Sementara itu, taktik menolak dapat dilakukan dengan cara memungkiri dan kontradiksi.
Quipperian, demikian pembahasan mengenai tata cara berdebat. Perlu diketahui, setiap tim penyelenggara mungkin memiliki tata cara yang berbeda-beda, tapi pastikan kamu memahami dan mengikuti tata cara debat tersebut agar tidak didiskualifikasi atau mendapat pengurangan poin. Semoga berhasil!
Etika Berdebat Saat di Depan Umum
Etika berdebat saat di depan umum adalah salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan pendapat, mengungkapkan ide, dan memecahkan masalah.
Saat berdebat di depan umum, baik dalam konteks akademik, politik, maupun sosial, penting bagi setiap individu untuk memahami dan menerapkan etika yang baik dalam berdebat.
Artikel ini akan membahas etika berdebat saat di depan umum, struktur debat yang baik, serta hal-hal yang harus dilakukan saat berdebat.
Etika Berdebat Saat di Depan Umum
Etika berdebat saat di depan umum adalah prinsip-prinsip moral yang harus diikuti oleh setiap peserta debat agar prosesnya berjalan dengan baik dan mendukung pencapaian tujuan yang diinginkan.
Etika ini mencakup sikap, perilaku, dan tindakan yang dianggap pantas dan sopan selama berdebat.
Tim Afirmatif dan Tim Negatif
Saat berdebat di depan umum, sering kali ada dua pihak yang bertentangan:
Tim afirmatif yang mendukung suatu argumen atau tesis, dan tim negatif yang menentangnya.
Kedua tim ini memiliki peran penting dalam menjaga etika debat. Salah satu etika yang penting adalah “menghormati lawan debat”.
Ini berarti bahwa meskipun Anda memiliki pandangan yang berlawanan, Anda harus tetap menghargai lawan debat Anda sebagai individu. Kritik seharusnya terfokus pada argumen dan bukan pada pribadi lawan.
Selain itu, penting untuk “mendengarkan dengan cermat” argumen lawan debat. Ini akan membantu Anda memahami sudut pandang mereka dengan lebih baik dan meresponsnya secara tepat. Debater yang baik adalah pendengar yang baik.
Penyampaian Argumen yang Baik
Penyampaian argumen yang baik adalah kunci dalam berdebat di depan umum. Bagaimanapun, bahasa Indonesia yang digunakan harus jelas dan mudah dipahami oleh audiens.
Menggunakan bahasa yang terlalu teknis atau rumit dapat membuat pesan Anda tidak efektif. Sebagai tambahan, penting untuk bicara berdasarkan data dan fakta yang kuat dan terpercaya.
Mengutip sumber-sumber yang dapat dipercaya adalah cara untuk memperkuat argumen Anda. Hindari berbicara berdasarkan asumsi atau informasi yang belum terverifikasi.
Selain itu, dalam menjaga etika berdebat, “hindari penggunaan logical fallacy”. Logical fallacy adalah argumen yang tidak valid atau tidak memiliki dasar yang kuat.
Contoh umum dari logical fallacy adalah serangan pribadi atau mengalihkan topik dari inti perdebatan. Debater yang baik harus mampu mengidentifikasi dan menghindari penggunaan logical fallacy.
"“Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang"
Socrates
Model Debat Karl Popper
Struktur debat yang baik adalah fondasi dari perdebatan yang efektif.
Ada beberapa model debat yang digunakan dalam konteks berdebat di depan umum, salah satunya adalah model Karl Popper.
Model debat Karl Popper adalah pendekatan yang sangat terstruktur dalam berdebat. Dalam model ini, debat terbagi menjadi beberapa tahap yang jelas:
1. Pendahuluan
Setiap tim memperkenalkan argumennya secara singkat.
2. Pemaparan Argumen
Setiap tim memiliki kesempatan untuk menyampaikan argumennya secara rinci dan mendukungnya dengan data dan fakta yang kuat.
3. Rebuts dan Tanggapan
Setiap tim memiliki kesempatan untuk merespons argumen lawan dan mengajukan pertanyaan atau argumen kontra.
4. Penegasan Ulang
Setiap tim dapat merangkum argumennya dan menguatkan posisi mereka.
5. Kesimpulan
Setiap tim memberikan kesimpulan dari argumennya. Dengan mengikuti struktur ini, debat menjadi lebih teratur dan mudah dipahami oleh audiens.
Selain itu, model ini memungkinkan setiap tim untuk berpartisipasi secara adil dan mendalam dalam perdebatan.
Hal yang Harus Dilakukan Saat Debat
Selain memahami etika dan struktur debat yang baik, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan saat berdebat di depan umum.
1. Riset yang Mendalam
Pembelajaran debat dimulai dari riset yang mendalam, Anda harus mengumpulkan informasi yang relevan dan terkini tentang topik yang akan Anda debatkan. Ini akan membantu Anda membangun argumen yang kuat dan meyakinkan.
2. Persiapan yang Matang
Persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan dalam debat. Selain mengumpulkan informasi, Anda juga perlu merancang argumen Anda dengan baik, memahami posisi lawan debat, dan mempersiapkan respon terhadap argumen mereka.
3. Praktik Berbicara
Mental dan keberanian berbicara adalah keterampilan penting dalam berdebat. Anda harus berlatih berbicara dengan jelas dan percaya diri. Ini akan membantu Anda menyampaikan argumen dengan baik di depan umum.
4. Memahami Audiens
Pengertian interaksi sosial sangat penting saat berdebat. Anda perlu memahami audiens Anda dan bagaimana cara berbicara agar mereka lebih menerima argumen Anda.
Misalnya, jika Anda berbicara kepada audiens yang tidak memiliki latar belakang teknis, hindari menggunakan terminologi yang rumit.
5. Berpikir Logis dan Kritis
Penting untuk berpikir secara logis dan kritis. Ini akan membantu Anda dalam merancang argumen yang kuat dan merespons argumen lawan dengan bijak.
6. Menghormati Waktu
Selalu menghormati waktu yang diberikan dalam debat. Jangan melebihi batas waktu yang telah ditetapkan, dan gunakan waktu dengan efisien.
7. Berbicara dengan Bahasa yang Jelas
Gunakan bahasa Indonesia yang jelas dan mudah dimengerti, hindari penggunaan frasa atau kalimat yang rumit yang dapat membingungkan audiens.
8. Tetap Tenang dan Beradab
Tetap tenang dan beradab dalam berdebat, hindari konflik pribadi, serangan pribadi, atau tindakan yang tidak pantas. Debat adalah proses intelektual, bukan ajang pertengkaran.
9. Menerima Kritik dengan Terbuka
Terbuka terhadap kritik adalah tanda kedewasaan dalam berdebat. Jika ada kritik terhadap argumen Anda, pertimbangkan dengan serius dan bersedia untuk memperbaiki argumen Anda jika perlu.
"Perbedaan antara menang dan kalah yang paling sering adalah, tidak berhenti"
Kesimpulan
Debat adalah sarana penting dalam pembelajaran debat. Saat berdebat di depan umum, penting untuk menjaga etika yang baik, mengikuti struktur debat yang benar, dan melakukan persiapan yang matang.
Dengan memahami prinsip-prinsip ini dan mengikuti langkah-langkah yang disarankan, setiap individu dapat menjadi debater yang kompeten dan efektif.
Debat adalah cara yang baik untuk menyampaikan ide, memahami sudut pandang berbeda, dan memajukan pemikiran dan pengetahuan kita.
Oleh karena itu, mari kita terus mengembangkan keterampilan berdebat kita dan menjaga etika yang baik dalam setiap perdebatan selanjutnya.
Dengan mengikuti prinsip-prinsip etika berdebat saat di depan umum, kita dapat memastikan bahwa debat yang kita lakukan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat dan membantu membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai isu yang relevan.
Dengan pendekatan yang logis dan etis, kita dapat memperkuat argumen kita dan membantu mencapai pemecahan masalah yang lebih baik dalam debat selanjutnya.
Untuk diketahui, etika dan kualitas debat yang baik adalah aset berharga dalam dunia yang penuh dengan tantangan kompleks dan perbedaan pendapat.
5 Struktur Debat dan Etikanya, Jangan Menyinggung Lawan Ya!
Rika Pangesti - detikEdu
Debat dapat dikatakan sebagai kegiatan interaksi saling mempertahankan argumentasi. Meski demikian, di dalamnya juga terdapat struktur debat dan etikanya yang harus dipatuhi agar debat berjalan sesuai dengan topik pembahasan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), debat sendiri dimaknai sebagai pertukaran pendapat mengenai suatu hal. Biasanya dilakukan dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Adapun penjelasan struktur dan etika debat yang dilansir dari buku Bahasa dan Sastra Indonesia karya Sutji Harijanti dapat disimak pada ulasan berikut.
A. Struktur Pelaksanaan Debat
1. Pengenalan
Setiap debat, biasanya dibagi ke dalam beberapa kelompok seperti, pihak pro, pihak kontra, dan pihak netral. Nah, pada tahap pengenalan ini, setiap tim atau ketiga pihak tersebut memperkenalkan diri serta pengenalan isu yang akan dibahas.
2. Penyampaian argumentasi
Struktur debat selanjutnya adalah tahap penyampaian argumen. Pada tahap ini, setiap tim menyampaikan argumentasi terhadap topik yang dimulai dari pihak pro, disusul oleh pihak kontra, dan diakhiri dengan tim netral.
3. Debat
Selanjutnya, debat sudah bisa dimulai. Masing-masing tim mengomentari setiap argumentasi dari tim lainnya.
4. Kesimpulan
Diakhiri dengan kesimpulan, setiap tim memberikan ungkapan penutup terhadap pernyataan topik yang sesuai dengan posisinya.
5. Keputusan
Setelah diakhiri dengan kesimpulan, kemudian debat ditutup dengan hasil keputusan debat yang diambil dari hasil voting, mosi, resolusi, dan sebagainya. Keputusan pun diambil melalui tiga jenis pengambilan kepetusan yaitu, keputusan dari pendengar, keputusan dari hakim, dan keputusan dengan kritik.
B. Etika Debat
1. Bertanya dengan serius
Ketika bertanya kepada lawan debat harus bersungguh-sungguh dan serius. Bandingkan pernyataan yang dipaparkan dengan data yang sudah disimpan.
2. Tidak menyinggung lawan debat
Setiap debat berlangsung, tidak boleh menyinggung lawan debat mengenai kekurangan fisik. Kondisi yang diutamakan dalam debat yaitu. pertarungan ide gagasan. Untuk itu, jika akan menyerang lawan debat maka harus menyerang ide gagasannya, bukan fisik dari lawan debat.
3. Bicara sesuai data dan fakta
Agar debat lebih berjalan sesuai pembahasannya, penyerang dapat mematahkan argumentasi lawan debat dengan data dan fakta. Selain itu, juga tidak disarankan adu ide gagasan lawan dengan data yang belum jelas.
4. Patuhi peraturan debat
Etika debat yang terakhir adalah patuhi peraturan debat. Ketika melakukan debat dengan pebisnis, teman sekolah ataupun lainnya harus mematuhi peraturan yang berlaku dalam debat tersebut. Jika melanggar atau tidak mematuhi peraturan saat debat, maka akan didiskualifikasi.
Untuk diketahui, debat sebetulnya memiliki beberapa fungsi dan manfaat seperti melatih mental dan keberanian berbicara. Debat juga dapat meningkatkan kemampuan solutif dan sikap kritis pada diri kita.
Demikian pembahasan mengenai struktur debat dan etikanya. Semoga menambah pengetahuanmu ya, detikers!
Pentingnya Etika dalam Berdebat
Oleh Dr Amirsyah Tambunan, Sekjen MUI
JAKARTA— Banyak yang bertanya kepada saya, apa sih manfaatnya debat? Dan apa dasarnya melakukan debat? Pertanyaan ini sederhana, akan tetapi penting untuk di cermati, terlebih di tahun Politik 2024 agar umat dan bangsa tercerahkan dengan memperkuat literasi, sosialisasi dan edukasi.
Sebelum menjawab pertanyaan ini ada baiknya memaknai debat yang baik dan benar dengan merujuk Alquran dan hadits serta ulama sehingga terhindar dari berdebat kusir dan tidak menjadi berdosa.
Untuk itu bagi penyelenggara Pemilu dan semua pemangku kepentingan perlu memperkuat literasi kata "debat" bagi semua pihak dalam mempersiapkan debat yang lebih baik bagi calon pasangan calon Presiden 2024. Tujuannya agar tidak melanggar etika atau tidak, sopan, bahkan jangan sampai mencela atau melecehkan.
Oleh karena itu untuk memperoleh manfaat debat kita perlu memperkuat literasi yakni pertama, de·bat /dรฉbat/ yakni pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Bedanya, debat kusir yakni debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal. Kedua, ber·de·bat yakni bertukar pikiran tentang suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat.
Ketiga, men·de·bat yakni membantah pendapat orang lain dengan mengajukan alasan.
Keempat, per·de·bat·an soal yang diperdebatkan; atau perbantahan. Kelima, mem·per·de·bat·kan yakni menjadikan bahan untuk berdebat (berbantah) memperbantahkan. Keenam, pen·de·bat yakni orang yang mendebat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan secara terminologi debat adalah kegiatan argumentasi yang bertujuan untuk menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang lain.
Penyebab terjadinya debat adalah adanya perbedaan pendapat oleh pihak-pihak yang meyakini pendapatnya merupakan suatu kebenaran. Pentinya argumen yang benar dalam berdebat berdesarkan berfirman Allah SWt:
ุงُุฏْุนُ ุงِٰูู ุณَุจِِْูู ุฑَุจَِّู ุจِุง ْูุญِْูู
َุฉِ َูุง ْูู
َْูุนِุธَุฉِ ุงْูุญَุณََูุฉِ َูุฌَุง ุฏُِْููู
ْ ุจِุง َّูุชِْู َِูู ุงَุญْุณَُู ۗ ุงَِّู ุฑَุจََّู َُูู ุงَุนَْูู
ُ ุจِู
َْู ุถََّู ุนَْู ุณَุจِِْูููٖ ََُููู ุงَุนَْูู
ُ ุจِุง ْูู
ُْูุชَุฏَِْูู
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.Sesungguhnya Tuhanmu, Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl Ayat 125).
Jika kita telusuri lebih jauh para ulama sudah menaruh perhatian tentang pentingnya debat. Pertama, As-Sa’di berkata ketika menjelaskan tentang maksud dari melakukan debat atau bantahan yang terbaik dari ayat di atas:
“Jika orang yang didakwahi menyangka bahwa dia berada di atas kebenaran atau dia menyeru kepada kebatilan, maka bantahlah dia dengan cara yang terbaik. Maksudnya adalah metode dakwah yang lebih mendukung untuk diterimanya argumen, secara akal dan dalil syar’i."
Kedua, di antara metode tersebut adalah berargumen dengan dalil-dalil yang dia yakini kebenarannya. Karena yang demikian ini lebih mendukung untuk dapat mewujudkan tujuan dakwah tersebut.
Ketiga, bantahan tersebut hendaknya tidak menyebabkan munculnya permusuhan, atau saling mencela, sehingga sirnalah tujuan yang hendak dicapai.
Keempat, tujuan dari debat (jidal) tersebut adalah untuk memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan kebenaran, bukan untuk mengalahkan lawan bicara atau tujuan yang semisalnya.
Begitulah pentingnya debat dengan fokus kepada tema permasalahan untuk menunjukkan banyak hal pertama, mencari kebenaran sejalan hadits riwayat At Tirmidzi dari Abu Umamah, Nabi - shollallohu 'alaihi wa sallam - bersabda:
ู
َุง ุถََّู َْููู
ٌ ุจَุนْุฏَ ُูุฏًู َูุงُْููุง ุนََِْููู ุฅِูุงَّ ุฃُْูุชُْูุง ุงْูุฌَุฏََู، ุซُู
َّ َูุฑَุฃَ: ู
َุง ุถَุฑَุจُُْูู ََูู ุฅِูุงَّ ุฌَุฏَูุงً
“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah sebelumnya berada di atas hidayah kecuali mereka suka berdebat (jidal, berdebat kusir)”.
Kemudian Nabi membacakan ayat ‘Mereka tidak memberi perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan tujuan untuk membantah saja.” (QS. Az Zukhruf ayat 58).
ََููุงُْููุٓง ุกَุงَِٰููุชَُูุง ุฎَْูุฑٌ ุงَู
ْ َُููۗ ู
َุง ุถَุฑَุจُُْูู ََูู ุงَِّูุง ุฌَุฏًَูุงۗ ุจَْู ُูู
ْ َْููู
ٌ ุฎَุตِู
َُْูู
Artinya: Mereka berkata, “Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu, kecuali dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.
Kedua, menghindari kesesatan. Menurut al-Mubarakfuri mengatakan dalam Tuhfat al-Ahwadzi. “Maksud dari hadits di atas adalah tidaklah kesesatan dan terjatuhnya mereka dalam kekufuran melainkan disebabkan jidal yakni mendebat nabi mereka untuk membela kebatilan dan meminta didatangkannya mukjizat dengan penuh pengingkaran.”
Oleh sebab itu, begitu banyak diriwayatkan dari ulama terhadap debat kusir dan yang semisalnya agar dihindari. Misalnya Imam Malik pernah berkata, “Aku membenci debat dalam permasalahan agama. Dan penduduk negeri kita (Madinah) senantiasa membenci dan melarangnya.”
Begitu juga Imam Malik juga menegaskan tentang kebenciannya terhadap hal di atas, kecuali perbincangan yang dapat mendatangkan kebaikan (kebenaran).
Diperkuat Al ‘Awam bin Hausyab berkata, “Waspadalah terhadap perdebatan dalam agama. Karena hal itu dapat menggugurkan amal kalian.”
Begitu besarnya dampak debat kusir, kata Bakr bin Mudhar menyatakan, “Jika Allah menghendaki kesesatan pada suatu kaum, maka Allah akan menenggelamkan mereka dalam perdebatan dan menghalangi mereka untuk beramal.”
Dari 'Abdullah bin Mas’ud, radhiyallohu ‘anhu, disampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW.
ููุณَ ุงูู
ุคู
ُู ุจุงูุทَّุนَّุงِู ููุง ุงَّููุนَّุงِู ููุง ุงููุงุญุดِ ููุง ุงูุจَุฐูุกِ
“Seorang mukmin (yang berimaan) bukanlah orang yang suka mencela, atau suka melaknat, atau suka berkata kotor, atau suka berkata-kata cabul.” (HR Tirmidzi no 1977).
Oleh karena itu debat dengan tenang, pemikiran yang rasional, jernih akan bermanfaat untuk mencerahkan umat dan bangsa. Semoga.