Agama, Ilmu Agama, dan Sikap Beragama: Sebuah Renungan Inklusif
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Memahami Perbedaan Tiga Hal: Agama, Ilmu Agama, dan Pengamalan Agama
Bapak, Ibu, dan saudara-saudara sekalian, marilah kita merenungkan satu hal yang penting: kita harus bisa membedakan antara agama, ilmu agama, dan sikap dalam beragama.
Agama telah sempurna sebelum munculnya ilmu agama. Allah SWT berfirman:
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Maidah: 3)
Ayat ini turun sekitar tiga bulan sebelum wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, saat itu ilmu-ilmu agama secara sistematik belum lahir, tetapi umat Islam sudah menjalankan agama dengan penuh keimanan dan kepatuhan. Jadi jelas, agama tidak identik dengan ilmu agama, apalagi sikap beragama.
Ada orang yang beragama tetapi belum memahami ilmu agama, ada juga yang punya ilmu agama, tetapi sikap beragamanya tidak mencerminkan akhlak agama itu sendiri.
Ketika Pendapat Benar tapi Sikap Salah
Pernah seseorang berkata bahwa hanya ada dua pandangan: pandangan Sayyidina Ali dan pandangan Muawiyah. Saya jawab: tidak hanya dua, sejarah mencatat lebih banyak lagi.
Misalnya, dari pendukung Sayyidina Ali muncullah kelompok Syi’at Ali, yang meyakini bahwa kepemimpinan harus dari keluarga Rasulullah ﷺ.
Sedangkan pihak Muawiyah berpendapat bahwa yang penting adalah kemampuan dan kelayakan, tak harus dari keluarga Nabi.
Dari konflik itu kemudian muncullah kelompok Khawarij, yang tidak hanya berbeda pendapat, tetapi juga mengkafirkan siapa pun yang tidak sepaham—termasuk Sayyidina Ali sendiri.
Inilah yang perlu direnungkan:
Pendapat mereka bisa jadi benar secara keagamaan, tapi sikap mereka sangat salah.
Tafkīr vs. Takfīr: Berpikir atau Mengkafirkan?
Ada dua kata yang hampir mirip: tafkīr (berpikir) dan takfīr (mengkafirkan). Hanya beda urutan huruf: satu mendahulukan fa, satu mendahulukan kaf.
Jika salah meletakkan huruf, bisa-bisa berpikir malah menjadi mengkafirkan.
Banyak orang berpikir keras tentang agama, tetapi hasilnya adalah vonis kafir kepada sesama muslim. Bahkan kadang dilakukan oleh orang-orang yang rajin ibadah — puasa sunnah, tahajjud, hafal Al-Qur’an — tetapi keras dan mudah menumpahkan darah sesama muslim.
Nabi ﷺ pernah menegur sahabat yang membunuh seseorang yang mengucap syahadat. Sahabat itu berdalih, “Dia hanya pura-pura masuk Islam.” Nabi bertanya:
"Apakah engkau sudah membelah dadanya dan mengetahui isi hatinya?"
Menghormati Pendapat Tanpa Harus Menyetujui
Salah satu prinsip yang kami pegang di Pusat Studi Al-Qur'an adalah:
“Kami menghormati semua pendapat, tapi penghormatan itu tidak berarti menyetujui semua pendapat.”
Dalam hadis tentang 73 golongan, sering kali masing-masing kelompok menyatakan hanya kelompoknyalah yang selamat. Namun perlu dicatat, hadis ini tidak diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim.
Dalam sebagian riwayat, bahkan disebutkan:
"Semuanya masuk surga kecuali satu."
Ini menenangkan hati. Kita tidak perlu terlalu mudah menjatuhkan vonis neraka atau sesat kepada sesama muslim.
Wawasan Sempit Melahirkan Fanatisme Buta
Orang yang wawasannya sempit akan bersikap sempit pula. Misalnya:
- Kalau Imam Syafi’i mewajibkan membaca basmalah dalam Al-Fatihah, lalu kelompok lain tidak mewajibkan, langsung divonis salah.
Padahal kedua pendapat punya dasar yang kuat.
Sering kali mereka yang baru belajar agama selama dua atau tiga tahun, langsung merasa dirinya sudah pantas menentukan halal dan haram seperti Tuhan.
Yang belajar lima tahun, merasa sudah seperti Rasul.
Sepuluh tahun? Ia sadar bahwa dirinya masih bodoh.
Imam Syafi’i berkata:
“Setiap kali aku menambah ilmu, semakin aku sadar betapa bodohnya diriku.”
Menghormati Ahlul Bait dan Menolak Fanatisme Mazhab
Saya dituduh Syi’ah. Bukan karena saya Syiah, tetapi karena saya menghormati Ahlul Bait. Padahal penghormatan kepada Ahlul Bait bukan monopoli Syiah.
Imam Syafi’i sendiri menulis:
لو كان رفضا حب آل محمد … فليشهد الثقلان أني رافضي
“Jika mencintai keluarga Nabi disebut sebagai Rafidhi (Syiah), maka biarlah seluruh alam menyaksikan bahwa aku seorang Rafidhi.”
Saya punya puluhan buku. Silakan baca. Jika ada satu kalimat saya yang menyatakan saya Syiah, saya akan beri hadiah. Tetapi kalau Anda temukan saya menguatkan pendapat Syiah, tentu ada. Dan Anda juga bisa menemukan sekian banyak pandangan Syiah yang saya tolak.
Perbedaan Sunni-Syiah: Bukan Soal Akidah, tapi Sejarah Politik
Syaikh Abdul Chalim Mahmud, mantan Rektor Al-Azhar dan guru saya, seorang ahli filsafat dan sufi yang rendah hati, menyatakan:
“Perbedaan antara Sunni dan Syiah pada dasarnya adalah soal politik, bukan soal akidah. Walau rumusannya berbeda, kedua-duanya adalah Muslim.”
Beliau mengajarkan sikap terbuka. Ia pernah berkata:
“Siapa yang langsung paham pelajaranku, mohon perlindungan kepada Allah. Siapa yang butuh mengulang-ulang, bersyukurlah!”
Sebab cepat paham belum tentu pertanda baik. Kadang justru orang yang lambat memahami adalah yang lebih selamat dari bahaya kesombongan intelektual.
Penutup: Beragama dengan Ilmu dan Akhlak
Agama ini adalah rahmat, bukan alat untuk saling mengkafirkan. Jangan mudah menuduh orang lain sesat hanya karena berbeda mazhab atau pendapat.
Mari kita bedakan antara agama, ilmu agama, dan sikap beragama.
Jangan sampai kita hanya berpikir (tafkīr) tapi malah terjebak dalam mengkafirkan (takfīr).
Mari beragama dengan akhlak, dengan ilmu, dan dengan kasih sayang.
والله أعلم بالصواب
Semoga bermanfaat dan menginspirasi.






0 komentar:
Posting Komentar