ADAT JAWA & SYAIKH SUBAKIR
Bahwa inti adat dan agama asli orang Jawa adalah berakhlak mulia (bermoral tinggi), bertuhan kepada Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak dapat digambarkan wujud-Nya, yang menciptakan semesta besar (alam raya) dan semesta kecil (manusia). Tuhan ini bersifat welas asih (kasih sayang), Maha Agung, dan sangat dekat dengan manusia melalui wakil-Nya berupa sukma (nyawa).
Inilah hakikat yang pernah diungkap oleh Sabdo Palon dalam kisah sejarah Kapitayan Jawa Kuna.
Jelas sekali bahwa ajaran Islam sangat sejalan dengan ajaran Kapitayan Jawa Kuna, yakni ajaran tentang budi pekerti luhur, akhlak yang mulia, serta pengakuan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Maka, Kapitayan tidaklah sama dengan agama-agama baru seperti Hindu atau Buddha yang datang belakangan ke tanah Jawa.
Inti ajaran orang Jawa adalah soal akhlak dan ketuhanan, bukan ritual-ritual luar semata. Dan ternyata, ajaran ini sangat selaras dengan Islam, baik dalam visi ketuhanan maupun nilai kemanusiaannya.
Yang merusak adat dan kapitayan orang Jawa bukanlah Islam, bukan pula orang Arab yang telah memeluk Islam. Justru, adat kuno Arab yang rusak (jahiliyyah) dahulu telah diperbaiki oleh Rasulullah. Dan kini, budaya Islam yang berkembang sudah membawa nilai-nilai luhur tersebut ke seluruh dunia.
Sebaliknya, pengaruh budaya Barat-lah yang justru banyak merusak adat, moralitas, dan spiritualitas masyarakat Jawa.
Maka, tak jadi masalah jika sisi luar bangunan ibadah di Jawa masih menampilkan ornamen-ornamen Hindu atau Buddha, sementara sisi dalamnya berisi nilai-nilai Islam. Ini bukanlah perkawinan agama, melainkan wujud akulturasi simbolik yang tidak menyalahi inti ajaran Jawa, karena:
Yang penting adalah isinya: akhlak dan tauhid. Bukan kulit luarnya.
Jika Anda menginginkan versi yang lebih ilmiah, sastra, atau bernuansa pidato, saya bisa bantu sesuaikan.






0 komentar:
Posting Komentar