Senin, 30 Oktober 2023

MELAWAN LIBERALISASI

MELAWAN LIBERALISASI: Tafsir QS. Al-Baqarah: 62

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi'in—siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh—mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah: 62)


Makna Umum Ayat

Setelah menyebutkan sikap orang-orang yang durhaka terhadap perintah Allah dan akibat azab yang menimpa mereka, Allah menegaskan bahwa siapa pun yang taat dan berbuat baik di masa lalu akan mendapat pahala-Nya. Ini adalah prinsip abadi hingga hari kiamat: siapa yang mengikuti rasul pada zamannya, ia akan mendapatkan keselamatan.

Hal ini ditegaskan pula dalam ayat lain:

"Ingatlah, sesungguhnya kekasih-kekasih Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati."
(QS. Yunus: 62)

Juga saat kematian datang kepada orang-orang beriman, malaikat berkata:

"Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian."
(QS. Fushshilat: 30)


Sebab Turunnya Ayat (Asbāb an-Nuzūl)

Salman Al-Farisi bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang kaum sebelumnya yang ia kenal: mereka rajin salat, beribadah, dan beriman kepada Allah. Ayat ini kemudian diturunkan sebagai jawaban, bahwa mereka yang benar-benar beriman dan beramal saleh akan mendapat pahala.

Namun, saat Salman memuji mereka, Nabi bersabda: "Mereka termasuk ahli neraka." Hal itu membuat Salman sedih, hingga Allah menurunkan QS. Al-Baqarah: 62 sebagai pelurusan konteks dan rahmat-Nya.


Penafsiran Ulama

1. Iman Orang Yahudi dan Nasrani

  • Yahudi: Iman mereka diterima hingga datangnya Nabi Isa. Setelah itu, yang tidak mengikuti Nabi Isa akan binasa.
  • Nasrani: Iman mereka diterima hingga datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah itu, yang tidak mengikuti beliau termasuk orang yang binasa.

Sebagaimana ditegaskan:

"Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."
(QS. Ali 'Imran: 85)

Maka, setiap umat yang mengikuti rasul pada zamannya adalah berada di atas kebenaran. Namun setelah datangnya Nabi Muhammad ﷺ, hanya Islam-lah agama yang diterima.


2. Siapakah Orang-Orang Sabi'in?

Para ulama berbeda pendapat tentang mereka:

a. Pendapat Umum:

  • Mereka adalah kaum antara Majusi, Yahudi, dan Nasrani, tanpa agama yang jelas.
  • Ada yang menyebut mereka menyembah malaikat.
  • Ada yang menyebut mereka hanya mengesakan Allah, tanpa kitab dan syariat.

b. Pendapat-pendapat Khusus:

  • Abu Hanifah & Ishaq: Menganggap mereka Ahli Kitab karena mengakui Zabur.
  • Hasan Al-Bashri: Mereka menyembah malaikat.
  • Al-Khalil: Mereka mengaku mengikuti ajaran Nabi Nuh, salat menghadap arah datangnya angin selatan.
  • Qurtubi: Mengutip berbagai pandangan, sebagian menyebut mereka beriman pada bintang, sebagian seperti agama campuran.

c. Pandangan Ringkasan:

  • Mereka bukan Yahudi, bukan Nasrani, bukan Majusi, dan bukan musyrik. Mereka masih di atas fitrah, dan belum mendapatkan dakwah dari nabi mana pun.
  • Karena itu pula, kaum musyrik menyebut Nabi Muhammad dan para sahabatnya sebagai "Sabi’in" karena menyimpang dari semua agama lokal saat itu.

Penutup

Dengan turunnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi terakhir, maka keselamatan hanya melalui iman dan ittiba' (mengikuti) beliau. Siapa pun yang menolak, meskipun sebelumnya beriman kepada nabi terdahulu, maka imannya tidak lagi diterima.

Allah Maha Mengetahui siapa yang benar-benar beriman, dan siapa yang menolak kebenaran setelah sampai padanya.



0 komentar:

Posting Komentar