Pidato Pak Prof Dr Mahfud MD



[Prof. Mahfud MD]:
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (0:00). Alhamdulillahi wahdah, as-shalatu was-salamu 'ala man la nabiya ba'dah, sayyidina Muhammadin sallallahu alaihi wasallama wa man tabi'a hudah (0:00). Wa ba'dah (0:17).

Al-mukarrom yang kita hormati, kita taati nasihat-nasihatnya, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah dan Bait Al-Hikmah, Kiai Haji Idris Hamid ibnu Abdullah ibnu Umar (0:17). Yang terhormat Nyai Kurnia Zakiah binti Hamid binti Abdullah binti Abdillah (0:38). Kemudian ada Kiai Syamsul Maarif, ada Kiai Syamsul Huda (0:38). Kemudian dari yayasan ada Bapak Dr. Abdullah Sodiq, Bapak Dr. Taufik Abdurrahman (1:02). Kemudian Gus Kiai Muda Haji Muhammad Nailur Rahman Ketua IKSAS (1:02), kemudian Bapak Hilmi ibnu Hasan dan lain-lain (1:21).

Terima kasih bapak moderator, saudara Misbahul Munir (1:21). Ini teman saya di kira-kira 20 tahun lalu saya ikut memimpin PKB bersama Gus Dur pada waktu itu (1:40). Terjadi banyak keributan antar pengurus sehingga Gus Dur itu banyak memecat pimpinan cabang (1:55). Nah, ketika banyak pimpinan cabang yang dipecat itu, salah seorang yang sering dijadikan bumper itu Pak Misbahul Munir ini (1:55), sehingga saya kenal betul beliau sangat aktif di PKB, di pesantren, dan di NU, dan sekarang ketemu di sini (2:08).

Hadirin sekalian, saya punya waktu 1 jam lebih sedikit, lebih sedikit (2:20). Saya bagi dua (2:32). Saya akan sampaikan dulu pengantar tentang peran santri di dalam menjaga NKRI (2:32). Kemudian nanti saya akan mendengar pertanyaan atau tanggapan, dan saya akan menjawab atau menanggapi biar suasananya hidup (2:32). Namanya juga seminar, jadi harus ada dua arah pembicaraannya (2:49).

Saudara sekalian, mengapa kita kaum santri itu harus menjaga NKRI? Karena menurut konstitusi dan menurut sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia itu merdeka atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa (3:05). Merdeka atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa setelah melalui perjuangan-perjuangan yang berat, mengorbankan jiwa dan raga, serta perdebatan-perdebatan intelektual di kalangan tokoh-tokoh masyarakat indonesia (3:29), termasuk peran besar para santri dan pondok pesantren, sehingga disepakati kita ini menjadi sebuah negara yang merdeka, yang merdeka (4:03). Nah, itu berkat rahmat Allah yang kemudian menghasilkan suasana seperti sekarang, suasana seperti sekarang (4:03).

Saudara, saya dua hari ini berkeliling atau pergi ke dua pesantren, bukan main hebat (4:17). Punya gedung seperti ini, kampus-kampusnya, gedung-gedungnya seperti kampus-kampus universitas yang maju di Amerika (4:29). Kemarin ke Situbondo Salafiyah Syafi'iyah, lalu sekarang di sini (4:42). Beberapa waktu lalu saya juga di Pesantren Tebuireng, di Lirboyo, luar biasa sudah maju (4:42). Itu karena Indonesia merdeka, saudara sekalian (4:59).

Sebelum Indonesia merdeka, pesantren-pesantren itu dianggap pendidikan kumuh dan kampungan, malu dulu kalau disebut santri karena memang dipermalukan (4:59). Tetapi sekarang lihatlah, pondok pesantren sudah maju (5:16). Lulusan pesantren sudah menempati berbagai posisi penting di dalam kenegaraan dan di dalam masyarakat (5:16). Jadi menteri, jadi presiden sudah, jadi wakil presiden sudah (5:27). Menteri banyak, Ketua Mahkamah Konstitusi sudah, Ketua Mahkamah Agung juga banyak yang dari kaum santri, Pak Artidjo itu dulu dari Situbondo yang sangat terkenal di Mahkamah Agung (5:27). Di DPR sudah banyak jadi ketua DPR, jadi gubernur, bupati sudah banyak (5:50). Itu karena Indonesia merdeka atas berkat rahmat Allah dan perjuangan kaum santri dan pesantren (6:01).

Apa yang harus diperjuangkan? Apa yang harus diperjuangkan dari NKRI ini? NKRI ini kan... itu kenapa harus menjaga NKRI sih? NKRI itu apa? NKRI itu adalah sebuah negara yang mempunyai ideologi sendiri yang namanya ideologi Pancasila (6:09), itu ideologinya. Kemudian punya konstitusi namanya Undang-Undang Dasar 1945, yang di situ menandaskan beberapa prinsip (6:29).

Satu, Pancasila ini mempersatukan berbagai ikatan primordial yang biasanya memecah kelompok-kelompok manusia (6:50). Misalnya karena perbedaan agama sebuah negara menjadi pecah (6:50). India Hindustan yang besar sebelum merdeka sudah pecah karena Pakistan ingin menjadi negara sendiri yaitu negara Islam, Pakistan (7:08). Sementara India yang di bagian utara itu menginginkan negara sekuler dengan dominasi Hindu (7:18). Pecah menjadi negara Pakistan, Pakistan kemudian pecah menjadi negara Bangladesh karena apa? Perbedaan warna kulit, perbedaan warna kulit (7:18).

Tapi kita di Indonesia tidak (7:35). Kita beda agama, ayo bersatu menjadi sebuah negara kesatuan (7:35). Agama di Indonesia ini banyak, enamlah kalau disebut di dalam undang-undang resmi, tetapi yang tidak disebut juga diakui, kalau ada agama-agama yang hidup dilindungi, tapi kita bersatu (7:44). Itulah kemudian kita memilih kalau gitu dasar negara kita ini apa? Pancasila, Pancasila (7:57).

Saudara, sebelum Indonesia merdeka memang terjadi perdebatan antara kelompok orang-orang yang menginginkan negara sekuler dan menginginkan negara Islam, itu timbul perdebatan (8:09). Kalau pada waktu itu orang Islam menyatakan saya tidak menerima negara Pancasila, maka Indonesia ini tidak akan pernah ada (8:25). Karena pada waktu itu ada kelompok Islam, ada Islam yang ingin kita harus mendirikan Negara Islam Indonesia karena apa? Karena Indonesia itu penduduknya 87% beragama Islam, jadi wajar menjadi negara Islam (8:39). Tapi ada yang menginginkan negara sekuler, yang menghendaki agar Indonesia tidak usah pakai agama, tidak usah pakai agama (9:01). Negara sekuler itu adalah suatu negara yang tidak ada urusannya dengan agama-agama, biar hidup sendiri di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah saudara (9:13).

Kalau pada waktu itu umat Islam, waktu itu umat Islam para kiai pondok pesantren itu menyatakan sikap 'saya tidak mau menerima kalau bukan negara Islam', Indonesia ini tidak akan lahir (9:20). Oleh sebab itu, Menteri Agama tahun '78, Alamsyah Ratu Perrawiranegara mengatakan begini: 'Pancasila itu jangan diganggu gugat, orang Islam tidak boleh mempersoalkan Pancasila karena Pancasila itu adalah hadiah terbesar umat Islam Indonesia kepada Republik Indonesia.' (9:29) Coba kalau umat Islam gak mau, gak bakal ada Republik, lah wong 87% saya nolak gak akan merdeka (9:55).

Tapi ketika saat genting ada yang mau negara Islam, mau tidak, lalu orang Islam berijtihad (10:06). Para ulama kita, ulama pesantren bertemu dengan masyarakat yang di BPUPKI, para pendiri negara bersepakat (10:06): 'Ya sudah kalau gitu kita buat kesepakatan, kita buat Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.' (10:18) Jadi Pancasila itu adalah mitsaqon gholidzo, saudara, tidak boleh diganggu gugat (10:31).

Sesudah Indonesia merdeka mau dihancurkan lagi (10:31). Pemerintah penjajahan Belanda membentuk pemerintahan pengasingan yang disebut NICA (Netherlands Indies Civil Administration), pemerintahan sipil Hindia Belanda (10:46). Negara Indonesia itu ada pemerintahnya Belanda yang memerintah di sana di Australia (11:04). Begitu Indonesia merdeka, mereka nyerang lagi mau dihancurkan Indonesia, hampir hancur (11:04). Keluar resolusi jihad, resolusi jihad dari Kiai Hasyim Asy'ari yang menyatakan setiap orang Islam wajib mempertahankan negara, bukan fardu kifayah tapi fardu ain lawan penjajah (11:13). Meletuslah peristiwa 10 November yang kemudian menjadi Hari Pahlawan itu (11:27).

Jadi para santri ikut mendirikan negara, kemudian mempertahankan Negara Republik Indonesia (11:27). Setiap ada upaya menghancurkan negara, kaum santri itu selalu tampil, selalu tampil membela (11:41). Di tahun '65 ketika PKI merajalela, yang paling depan adalah golongan santri yang diwakili secara politik oleh Nahdlatul Ulama (11:58).

Pengakuan kaum santri, pondok pesantren, dan Nahdlatul Ulama terhadap Pancasila dikuatkan pada tahun '84, bahwa Pancasila adalah ideologi yang final, sebagai ideologi yang merupakan mitsaqon gholidz kesepakatan (12:13). Maka Indonesia ini merupakan darul mitsaq kesepakatan, hasil perjanjian yang harus ditaati menurut syariah (12:27). Barang siapa mengkhianati kesepakatan tanpa melalui kesepakatan baru, maka dia adalah bughat, dan barang siapa bughat boleh diperangi sampai musnah (12:44). Itulah sebabnya kaum santri, pondok pesantren, Nahdlatul Ulama melawan gerakan-gerakan Islam radikal, melawan DI/TII, melawan Permesta karena melanggar kesepakatan kita bernegara, yaitu punya satu ideologi yang bukan komunis, bukan agama tertentu, tapi Pancasila (12:57).

Di dalam negara Pancasila itu semua agama dilindungi, dihormati pemeluknya, tetapi jangan merongrong kewibawaan negara (13:25). Itulah sebabnya NKRI terus maju, bertahan dari waktu ke waktu, dan umat Islam sendiri kemudian mengalami kemajuan secara vertikal maupun horizontal ke samping kita maju, ke atas juga kita maju (13:25). Itulah peran kaum santri, oleh sebab itu harus dijaga (13:38).

Apa gangguan yang harus dijaga? Saudara, dalam perjalanan sejarah Indonesia itu ada dua jenis rongrongan yang sangat berbahaya (13:50).

Satu, radikalisme (14:03). Radikalisme itu adalah gerakan yang anti negara Pancasila, pokoknya negara harus ganti, ganti negara Islam atau ganti negara komunis (14:03). Maka muncul gerakan TII, Permesta, Darul Islam di Sulawesi Selatan, PRRI di Sumatera Barat, itu merupakan gerakan ingin mengganti ideologi (14:18). Tapi kita kaum santri yang diwadahi oleh gerakan Nahdlatul Ulama sebagai wadah politiknya melawan setiap gerakan menentang Pancasila ini (14:30). Itu semua sekarang sudah teratasi, gerakan radikal pemberontakan untuk melawan Pancasila sudah tidak banyak lagi terjadi (14:45), karena negara sudah memberi kesempatan kalau mau mengganti Pancasila kah silakan ikut pemilu, lalu perjuangkan ganti Pancasila (14:56). Diadakan pemilu tahun '55, akhirnya tidak bisa mengganti negara Pancasila dengan negara nasional sekuler murni, tidak bisa mengganti Pancasila dengan negara agama (15:10).

Kemudian muncul Dekret Presiden. Pada tahun '99, Habibie bilang: 'Hei orang Islam, saya tahu orang Islam ini setuju Pancasila sebagai dasar negara, tapi masih ada kelompok-kelompok kecil yang ingin mengubah negara Pancasila ini menjadi negara Islam (15:23). Sekarang ikut pemilu. Saya Habibie mempunyai hak untuk menjadi presiden sampai tahun 2003 untuk menggantikan Pak Harto, tapi saya akan tantang anda untuk ikut pemilu tahun '99 kalau mau mengganti negara silakan perjuangkan melalui pemilu, jangan melalui gerakan senjata, jangan melalui bom, jangan melalui teror.' (15:43) Diadakan pemilu, ternyata 87% hasil pemilu menghendaki negara Pancasila, partai-partai yang memperjuangkan mengubah Pancasila itu rontok (16:03). Karena secara syar'i Pancasila ini sudah bisa diterima, apalagi pada Pemilu '99 itu sudah ada Muktamar NU di Situbondo sebelumnya tahun 1984 yang mengatakan bahwa Pancasila itu adalah ideologi yang final (16:17).

Jadi saudara, kita sudah berhasil bersatu dan itu ulama yang mempersatukan, ulama santri yang menjahit kebersatuan itu (16:42). Oleh sebab itu, jangan khianati prestasi ini, jangan khianati, dijaga NKRI ini karena ini adalah persembahan kita kepada Republik (16:42). Sehingga Republik Indonesia tuh sekarang ini bukan negara Islam, tapi penyelenggaraan negaranya sudah islami (16:53). Beda Islam dan islami (17:05). Islam itu nama, islami itu sifat substansi, sehingga yang diperjuangkan di dalam negara Republik itu adalah nilai-nilai keislaman yang sifatnya substantif (17:05). Al-ibratu fil Islam bil jauhar la bil mhar, patokan dasar kamu memperjuangkan Islam di negara ini adalah memperjuangkan nilai-nilainya, bahwa rakyat harus dilindungi hak beragamanya, harus ada kejujuran di kalangan para pemimpin, harus ada penegakan hukum, imam yang adil, pemerintah yang bersih melayani rakyatnya (17:18). Nah, itu nilai substansi Islam, dan kita berjuang untuk itu (17:50). Dan kita sudah banyak mempunyai orang-orang di DPR, di pemerintah, di pengadilan, yang sebagainya yang bisa memperjuangkan itu semua, saudara sekalian (17:50).

Jadi sekarang radikalisme dalam arti gerakan separatis itu sudah mulai kecil, tapi ada penyakit yang kedua yang mengancam negara ini, yaitu ketidakadilan dan korupsi yang merajalela (18:03). Kita boleh bersatu menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila, Aceh berunding melalui Perundingan Helsinki oke kami kembali ke Republik (18:23). Tapi belakangan ini, dalam 10 tahun terakhir ini kira-kira atau 15 tahun terakhir ini, korupsi marak (18:50). Radikalisme bisa ditumpas, bisa dikendalikan, sehingga kalau kekuatan aparat kita untuk melawan radikalisme, melawan terorisme, insyaallah kuat, tetapi melawan korupsi ini sulit (18:50). Karena korupsi itu terjadi berjaring-jaring (19:05). Kalau si A korupsi mau ditindak, ternyata dia korupsi bersama orang lain yang merupakan orang kuat, orang kuat ini berlindung lagi ke atas, orang atas ini membagi lagi ke orang tertentu di bawahnya yang akan memberi dukungan politik, sehingga sulit sekali korupsi itu diberantas (19:16). Dan itulah sebabnya Indonesia sekarang ini saya katakan jauh dari keadilan (19:33).

Oleh sebab itu, tugas para santri sekarang, kaum santri mempertahankan NKRI tidak terlalu penting untuk berdebat ideologi, itu sudah selesai oleh para ulama, sudah ditashih Pancasila itu sudah kompatibel, sudah sesuai dengan syar'i (19:33). Gampang kok alasannya apa? Alasannya mendirikan negara itu adalah satu keniscayaan menurut agama (19:56). Buktinya di dalam Al-Qur'an Allah banyak menyebut istilah negara, ada kata mulk, ada kata ad-daulah, ada kata apa namanya sultan, dan lain-lain, ada khalifah-khalifah itu negara (19:56). Nah kemudian saudara sekalian, kita sudah mendirikan negara, sudah berjuang untuk membuat negara Islam, tapi sudah lahir kesepakatan yang harus diikuti namanya Pancasila, maka itu yang harus kita jaga (20:21).

Menjaga NKRI peran ulama besar sekali (20:41). Tadi ulama dan santri itu berjuang melalui dua jalur (20:50).

Satu melalui jalur politik, masuk ke DPR, masuk ke BPUPKI, menjadi pemerintah, membentuk partai politik masuk untuk menjaga Pancasila ini, membangun kebersatuan (20:50).

Ada yang tidak jalur politik, Kiai Abdul Hamid, Mbah Hamid itu tidak dikenal sebagai politisi, gak pernah ikut partai politik, gak pernah jadi pimpinan politik, gak pernah punya gerakan politik, tapi perannya mempersatukan umat itu kuat sekali (21:01). Karena berbagai aliran politik, berbagai golongan kalau ada masalah berkonsultasi dengan Kiai Hamid, semuanya tahu itu (21:20). Pejabat-pejabat penting kalau ada masalah berkonsultasi dengan Kiai Hamid (21:31). Seluruh orang yang berbeda agama, beda golongan kalau ada masalah diterima dengan baik oleh Kiai Hamid (21:41). Jadi ada yang melalui politik, ada yang melalui kultur, dan itu sebabnya Indonesia kuat (21:41).

Tapi sekarang, saudara, yang saudara hadapi sekarang bukan soal perbedaan ras (21:50). Kita tidak lagi membedakan kamu Jawa, luar Jawa, kamu Bugis, saya Batak, kamu Madura, saya Sunda, gak ada lagi sekarang (21:50). Islam silakan kamu berislam dengan baik, negara melindungi (22:14). Kristen sudah ber-Kristen dengan baik, negara melindungi, semuanya dilindungi oleh negara (22:14).

Cuma hukumnya, kalau hukum publik itu memakai hukum bersama, hukum yang berlaku dari orang Kristen, Islam, Hindu, Katolik, Buddha, Konghucu, itu hukum publiknya sama (22:25). Misalnya hukum pidananya sama, hukum tata negaranya sama, hukum administrasi negaranya sama, hukum internasionalnya sama (22:40). Tapi yang hukum privat, perkawinan, bisnis atau jual beli, wakaf, ibadah dan sebagainya silakan anda masuk ke agama anda sendiri kalau mau, kalau mau menundukkan diri ke hukum lain ikut (22:40).

Itulah saudara sekalian yang harus diperjuangkan oleh kaum santri (23:07). Saya sangat khawatir situasi belakangan ini korupsi kita merajalela, terjadi proses saling sandera di mana seseorang mau bertobat tidak bisa karena disandera oleh perbuatannya sebelum itu (23:20). Kalau saya ambil contoh misalnya Pak Misbah Hakim (23:35). Pak Misbah Hakim suatu saat karena kepepet menerima suap kecil berapa? 10 juta, kecil (23:35). Tapi sekarang begitu dia mau berbuat baik, gak bisa (23:50). Kenapa? Disandera oleh yang menyuap: 'Kamu kemarin sudah menerima suap dong dari saya, kalau sekarang kamu mau tobat gak bisa, kalau gak saya buka perkaramu, bawa kamu, habis kamu.' (24:06) Maka saya katakan hati-hati, jangan sampai tersandera, jangan sampai berbuat salah kepada publik (24:14). Salah secara pribadi is oke, tapi salah kepada masyarakat itu menyebabkan orang tersandera (24:26). Saya sering memberi contoh ada seorang hakim gak bisa membuat putusan-putusan yang baik karena disandera oleh yang punya perkara: 'Kalau kamu hukum saya, saya laporkan kamu, kamu kemarin menerima suap dari saya, kamu menerima suap dari teman saya,' kamu dan sebagainya dan sebagainya (24:26).

Nah saudara sekalian, itulah pengantar dari saya (24:44). Mari kita jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, para kaum santri ayo kita bersama jaga NKRI ini (24:51). Sudah memberi berkah atau mendapat berkah kita dari Allah melalui NKRI ini sehingga kita maju sekarang, kaum santri sudah maju-maju (24:51). 2 minggu lalu saya ketemu dengan putrinya, putrinya Pak Misbah itu luar biasa pintar dia, anak pesantren loh bisa masuk UI, bahasanya Bahasa Inggris oke, Bahasa Arab oke, pintar sekarang itu santri (25:01). Yang dulu gak bisa dibayangkan kalau tidak ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (25:21). Di sini ada Gus Lailur, wah pintar sekali, saya tadi baca naskah akademik, jago nulis naskah akademik (25:30). Dan sekarang banyak anak-anak santri di DPR, di pemerintahan, di mana-mana (25:40).

Tinggal kita mengarahkan agar Republik ini selamat (25:40). Sekarang kita tidak terlalu takut kepada terorisme, kepada radikalisme, itu sudah ada yang ngurusi dan sekarang sudah reda, tidak ada lagi kekuatan memaksakan Republik ini, menghancurkan Republik ini (25:50). Tapi penegakan hukum yang lemah akan menyebabkan rakyat itu tidak percaya kepada pemerintah, dan kalau rakyat tidak percaya kepada pemerintah itu namanya terjadi public distrust (25:59). Kalau terjadi public distrust, orang tidak akan patuh kepada pemerintah, dan kalau orang tidak patuh kepada pemerintah kemudian melakukan perlawanan, itu yang disebut disobedience (26:09). Mudah-mudahan saudara-saudara kita di Aceh itu tidak sedang melakukan disobedience, tapi emosi sesaat saja (26:19). Tapi pemerintah juga harus sadar, hukum dan keadilan harus ditegakkan kalau negara ini mau kita jaga bersama-sama, dan kita semua kaum santri mempunyai panggilan sejarah untuk menjaga negara kita ini (26:28). Sekian sebagai pengantar saya kembalikan Gus Misbahul Munir, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (26:42)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Terima kasih Prof. Mahfud MD yang telah memberikan pencerahan kepada kita tentang sebenarnya apa peran santri selama ini yang berkembang gitu ya yang dilakukan (26:56).

Bapak sekalian, dapat saya ambil inti ya supaya nanti kita pertanyaan itu agak mengarah (27:17). Pertama bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah nopoanya... jawab, oh iya, dapat mempersatukan ikatan primordial (27:31). Ikatan primordial itu beda suku, beda golongan, beda bahasa, ini dapat disatukan melalui Pancasila (27:51). Dan itu adalah merupakan kesepakatan diperkuat oleh Nahdlatul Ulama pada khittah tahun '84 yang menyatakan bahwa satu-satunya asas Pancasila adalah satu-satunya asas dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat (28:14).

Yang kedua, hari ini yang kita khawatirkan bersama, termasuk yang dikhawatirkan oleh Prof. Mahfud MD, dan beliau selalu memberikan statement yang keras terutama soal supremasi hukum (28:29). Hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas (28:41). Dan para pejabat yang korupsi, dia tidak akan mampu menegakkan hukum karena dia tersandera oleh perilakunya sendiri (28:52).

Nah bapak ibu sekalian, para alumni dan alumniat, apa sebenarnya kontribusi yang akan diberikan kepada negara oleh para santri? Beliau menyampaikan banyak sekali para santri yang alim, pintar, dan hebat-hebat (29:05). Hanya satu yang beliau sampaikan bahwa marilah santri kita jaga bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini agar menjadi negara yang baik, negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (29:18).

Baik bapak ibu sekalian para alumni dan alumniat, untuk pertama kali kita akan buka pertanyaan empat, empat, dua dari bagian sebelah kiri yang cowok dan dua dari bagian cewek dari ibu-ibu dan bapak-bapak (29:37). Sekarang saya mulai dari sini dulu (29:50). Sekian oh dari Kalimantan nih Prof, Kalimantan Timur satu (29:50). Yang belakang namanya dari mana tuh? Ya ya ya ya ya ya nanti sampean gini ya (30:02). Baik, yang dari sini ada enggak nih? Ponten oh nggih bu nggih bu wah luar biasa ibunya nggih (30:09). Satu lagi kalau ada mungkin yang dari sini, yang dari sini hei monggo jangan... oh nggih itu ya sama ini (30:18). Baik kita berikan kepada Ustaz Muslih, beliau juga alumni Salafiyah yang ada di Balikpapan silakan, ketua PC ini (30:25)."

[Penanya 1 - Ustaz Muslih (Balikpapan)]:
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (30:35). Yang terhormat para kiai dan juga kepada moderator dan Prof. Mahfud MD (30:35). Ada tiga pertanyaan Prof (30:46).

Yang pertama, akhir-akhir ini santri dan pondok pesantren itu dipojokkan Prof ya, terutama di bulan Mei, Juni, dan ya di 2 bulan itulah, 3 bulan lah paling panjang (30:46). Dan itu biasanya kan penerimaan murid baru Prof ya (30:59). Ada kasus-kasus yang sudah lama sekali itu kemudian diangkat kembali Prof ya ketika menjelang penerimaan murid baru, termasuk pesantren-pesantren diserang habis-habisan (31:12). Mulai dari pesantren mana dulu itu Lirboyo ya langsung ke pesantren yang cukup besar (31:21). Kemudian pertanyaan saya, siapa itu kira-kira gitu Prof ya? (31:21)

Yang kedua, hari ini memang NKRI sedang diuji Prof, tidak hanya di Aceh (31:37). Di Kalimantan kemarin waktu 17 Agustus juga berkibar Bendera Borneo Raya, orang-orang Kalimantan asli Kalimantan menuntut 864 triliun yang masuk APBN kembalinya ke provinsi hanya 8 triliun (31:52). Ketidakadilan, ketimpangan terkait batu bara Prof, makanya batu bara ini rentan Prof ya (32:06).

Yang terakhir, pertanyaan saya... bukan pertanyaan, dukungan kepada panjenengan (32:06). Saya termasuk penggemar panjenengan Prof ya, selalu mengikuti podcast-podcastnya dan saya sangat suka sekali ketika panjenengan mengatakan 'setan ketemu setan' ya Prof ya, luar biasa (32:20). Mudah-mudahan profesor selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala (32:31). Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (32:45)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Waalaikumsalam. Yang belakang tadi mas, jangan yang baru, yang belakang tadi siapa sana ya silakan, iya Balikpapan (32:45)."

[Penanya 2 - Ahmad Musa]:
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (32:55). Perkenalkan nama saya Ahmad Musa, saya lulusan dari tahun 2021 (32:55). Di sini ada tiga pertanyaan Pak Profesor Mahfud MD, yang beliau telah menjabat dua apa namanya jabatan yang sangat penting di negara ini, yakni MK dan Kemenko Polhukam ya (33:18).

Di sini yang pertama, di era digital ini apakah santri sudah cukup siap menghadapi ancaman terhadap NKRI yang tidak lagi berbentuk perang fisik? (33:32) Kalau dulu perang dengan Belanda, kalau sekarang bukan berbentuk perang fisik, tetapi berupa hoaks, propaganda, ujaran kebencian, dan perang informasi, itu yang pertama (33:40).

Sedangkan yang kedua, jika kritik terhadap pemerintah dianggap sebagai bagian dari demokrasi, tetapi pada saat yang sama sering dianggap mengancam persatuan NKRI (33:55). Contoh sedikitlah gitu ya, seumpama Presiden Prabowo ngomongnya blepotan atau sak karepan contoh seperti itu (34:10), kemudian bolehkah mengkritik negara tanpa dianggap sebagai pihak yang tidak menjaga NKRI? (34:29)

Dan yang terakhir, ini agak keluar dari seminar ini nggih (34:48). Kalau memang betul hukum di negara ini tajam di bawah dan tumpul di atas, niki hanya orang-orang yang beruang nggih, berarti sila yang kedua bukan lagi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tetapi yang maha yang punya uang yang maha berkuasa, dan yang berkuasa menjadi sok bijaksana (34:48). Sekian dari saya, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (35:30)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Terima kasih Mas Ahmad Musa, ini angkatan dari Salafiyah tuh (35:30). Nah, baik sekarang ibu tadi ya di cd dua, monggo bu (35:43). Mungkin mic mic mic bisa disampaikan, sama tadi yang sebelah sana ya (35:43). Mana yang tadi sana acung iya oke s... ini dulu habis itu ini (35:54)."

[Penanya 3 - Ibu Jemaah]:
"Assalamualaikum (36:03)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Waalaikumsalam (36:03)."

[Penanya 3 - Ibu Jemaah]:
"Tapi kok sekarang itu banyak pemuda yang mengisi kemerdekaan itu dengan berminum-minuman keras dan apa itu narkoba, itu pecandu narkoba itu banyak sekarang (36:03). Bagaimana itu solusinya agar Negara Indonesia itu terbebas dari pemuda yang berandalan gitu loh Pak? (36:21) Assalamualaikum (36:34)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Waalaikumsalam (36:34). Wah, ini kegelisahan ibu-ibu yang tua ini nggih (36:34). Monggo yang belakang tadi, yang sebelah sana mbak, iya identitas ya disampaikan dulu ya (36:34)."

[Penanya 4 - Kunti Zakiyatul Lailiah]:
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (36:46). Saya Kunti Zakiyatul Lailiah, alumni Pondok Pesantren Salafiyah Putri Pasuruan angkatan 2023-2024, dan mahasantri aktif Ma'had Aly (36:46).

Ingin bertanya kiai, peran santri atau ulama dalam menjaga keistimewaan Negara Republik Indonesia ini sudah menjadi tugas pokok bagi kami sebagai santri, perannya sudah menjadi kewajiban (37:13). Tapi pengaruhnya yang masih perlu dipertanyakan (37:26). Jika semua usaha sudah dikerahkan, baik dengan memperbaiki lingkungan sekitar atau umat secara luas, tapi politik masih saja tidak mendengarkan, lalu dengan cara apa lagi suara kami bisa tersampaikan? (37:26) Terima kasih (37:45)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Tepuk tangan wah luar biasa, ini arahnya ke politik, kira-kira tak madi DPN ya silakan monggo dijawab (37:45)."

[Prof. Mahfud MD]:
"Oh terima kasih, pertanyaannya bagus-bagus relevan dengan topik (37:56). Kiai Muslih dari Balikpapan, belakangan ini pondok pesantren dan santri sering dipojokkan dengan berbagai isu-isu yang jelek terutama jika menjelang tahun baru (37:56). Nah saudara sekalian, Pak Muslih, pondok pesantren di Indonesia tuh ribuan, yang berkasus artinya kalau itu kasus kriminel itu tidak banyak, artinya pesantren itu masih tetap (38:32).

Oleh sebab itu, sekarang banyak orang-orang itu terutama orang-orang kelas menengah ke atas, kalau mau cari sekolah anaknya itu ke pesantren (39:14). Pada umumnya pesantren itu jauh lebih mahal dari sekolah negeri karena merasa lebih aman disekolahkan di pesantren (39:14). Di pesantren itu orang dapat pendidikan moral dan pendidikan yang umum yang sifatnya ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan kemasyarakatan, tapi moralnya ditempa di pesantren (39:36). Orang merasa aman, 'loh saya mau bekerja baik-baik karena saya suruh santri aja nanti seminggu sekali dilihat.' (39:45) Apalagi sekarang banyak pesantren itu pesantrennya memberi nomor kode tertentu, PIN tertentu kepada orang tua, 'ini kalau ada apa-apa tentang putri bapak atau putra bapak ibu ini PIN-nya, nanti akan diketahui perkembangannya sehari-hari, hari ini dia kerja apa, apa kesibukannya, belajar apa.' (39:53) Sudah di pesantren, di sekolah umum gak (40:14).

Bahwa ada orang iri atas perkembangan pesantren, itu biasa saja (40:14). Pasti ada orang iri karena satu rebutan murid, kemudian ada yang ingin pesantren itu jelek sehingga siapa... ada orang yang dari pesantren misalnya ditangkap atau dihajar ramai-ramai karena pencabul, dibesar-besarkan, itu terjadi di pesantren (40:21). Dan mari pesantren menyadari itu kita atasi, karena banyak mereka yang tertangkap itu mendirikan pesantren itu hanya untuk minta dana ke pemerintah (40:32). Sudah punya yayasan pesantren, pesantrennya gak jalan hanya ada beberapa belas murid di situ lalu terjadi pencabulan (40:45). Nah, kita ini pesantren tetap jaga jati diri seperti yang selama ini berjalan, bahwa ada gangguan itu iya (41:03). Tapi dilihat statistiknya gak ada sekarang yang meragukan bahwa pesantren itu sangat besar perannya masa lalu dan masa depan Indonesia itu (41:03). Ya orang nakal sih di mana-mana aja, di hakim ada yang nakal, jaksa ada yang nakal, polisi banyak yang nakal, menteri banyak yang nakal, di pesantren juga ada pasti yang nakal, itu biasa manusiawi (41:14). Itulah tugas kita menjaga Negara Republik Indonesia ini (41:33). Pelakunya siapa? Ya namanya pelaku bersembunyi-sembunyilah, biasanya pelaku tuh kalau begitu lempar batu sembunyi tangan, kita saja pak yang harus waspada Pak Muslih (41:33).

Kemudian ya bendera yang bernada separatis, kritis tetapi ingin memecahkan dari Republik, bukan hanya di Aceh (41:52). Kemarin ada Bendera Borneo, kemarin ada seorang wakil gubernur di salah satu provinsi Kalimantan ini mengatakan begini: 'hei pemerintah pusat, kalau anda tidak adil jangan hanya Aceh yang ditakuti, kami juga bisa minta merdeka karena kami punya kekayaan alam rakyat kami miskin. Konglomerat yang mengeksploitasi alam dengan tidak adil engkau biarkan sementara rakyat kami miskin. Segera berlaku adil, atur ini dengan baik, kalau gak bukan hanya Aceh, kami juga bisa.' (41:52) Papua saudara sekarang ini di daerah-daerah tertentu itu Tentara Pembebasan Papua tiap hari berkeliling bawa senjata, ngancam, nantang karena apa? Kuncinya ketidakadilan, 'kami ini kaya raya kok kami miskin' itu (42:48). Nah oleh sebab itu, mari pesantren ini beri penyadaran ini kepada pemerintah (42:59). Saudara jangan saudara berkata 'loh pak saya kan bukan pemerintah', loh senior-senior saudara itu banyak yang santri yang jadi menteri, jadi DPR, jadi gubernur, ya itu semuanya banyak yang santri (43:14). Sampaikan kepada mereka, kepada senior-senior kita itu 'ini kita harus turun tangan, Republik ini harus diselamatkan karena kita cinta kepada Republik bukan benci kepada pemerintah' itu saudara sekalian (43:32).

Oleh sebab itu, karena korupsi sudah terjadi di mana-mana maka saya katakan... kan ada itu polisi berkelahi dengan jaksa korupsi, pejabat ini berkelahi dengan ini rebutan korupsi, maka saya bilang 'biarin aja mereka bertengkar sesama setan.' (43:43) Kan kalau kita orang Nahdliyin itu kan punya Sholawat Asyghil: 'wa asyghilid dholimin bid dholimin, allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa asyghilid dholimin bid dholimin wa akhrijna min bainihim salimin' (44:12). Itu artinya apa? Ya Allah biarkan setan dan setan, orang zalim dan orang zalim itu bertengkar di antara mereka, dan bawa kami keluar sebagai orang yang selamat dari pertarungan mereka (44:24). Biar koruptor biar bertengkar sama koruptor kita di luar dulu, kalau mereka sudah hancur kita perbaiki, kan gitu, itu namanya asyghil (44:55). Biar mereka sibuk di antara mereka berebut harta di antara mereka (45:06). Kata yang satu 'kurampas hartamu', kata yang lain 'kembalikan hartaku' (45:06). Harta korupsi yang direbut belum jelas siapa pemiliknya sudah saling minta, nah itulah setan dengan setan (45:15). Bagus kita kampanyekan seperti itu, kenapa? Anggap aja para koruptor, para pelanggar hukum, pelanggar hak-hak rakyat kecil itu itu adalah setan zalim melawan kezaliman (45:27).

Kita cinta... coba saudara, saya melihat kemarin hampir nangis saya, seorang ibu-ibu tua lagi jualan di pinggir jalan didatangi oleh Satpol PP: 'bu jangan jualan di sini', 'pak udah pak saya minta tolong sebentar pak biar anak-anak sekolah lewat dulu biar beli ini' dan sebagain-sebagainya, ditendang itu jualannya oleh Satpol PP katanya sampai tumpah (45:38). Gak berperi kemanusiaan kamu, saya bilang koruptor kamu biarkan berkeliaran sementara ibu-ibu mungkin modalnya hanya Rp150.000, hanya mencari untung Rp50.000 dari Rp150.000 kamu usir-usir sedemikian, di mana keadilanmu, di mana Republik ini? (45:59) Ini siapapun, siapapun pemerintahnya kita tidak mengarah kepada siapa, Pak ini Pak itu gak, negara ini adalah milik kita dan rakyat harus dilindungi (46:18), saudara sekalian.

Saudara Ahmad Musa ini lulus tahun 2021 pak, di era global ini apakah santri kita cukup siap? Sekarang perang bukan lagi perang fisik, tapi perang digital, perang AI (Artificial Intelligence) (46:34). Ada sebuah buku yang pernah dikutip oleh Pak Prabowo bahwa tahun 2030 Indonesia itu sudah tidak ada di percaturan dunia, karena pada saat itu semua dunia sudah perang pakai digital, perang proksi, perang Artificial Intelligence, dan Indonesia tidak mampu menurut buku itu dikutip oleh Pak Prabowo (46:58). Oleh sebab itu, Indonesia harus siap mendidik saudara (47:27).

Berdasar pengalaman saya, orang-orang Indonesia tuh santri-santri ni kalau difasilitasi bisa kok main IT bagus (47:42). Salah satu anak muda terbaik yang mempelopori dan terkenal di Singapura itu adalah anak NU pesantren di Gresik namanya Ainun Najib, bisa program-program kayak gitu (47:53). Siapa yang sekarang melakukan survei digital pertama? Itu santri namanya Saiful Mujani yang mempelopori riset survei, Saiful Mujani itu dari mana dia? Dia itu adalah anak madrasah, madrasahnya sangat jelek namanya Madrasah Mathla'ul Anwar di Jawa Barat, sekolahnya aja sudah roboh gak ada sekarang, tapi dia menjadi sangat terkenal bisa sekolah ke Amerika lulusan madrasah pesantren (48:06). Ketika saya mulai ngurus PKB, saya masuk ke kantor itu wah anak-anak yang dari NU itu yang kerja di kantor PKB pintar main gini pak, bikin konfigurasi gambar apa-apa bisa, kenapa dibilang tidak siap? (48:27) Tinggal pemerintah ini mau mendayagunakan apa tidak (48:46). Dan sekarang anak-anak santri itu sudah berpengaruh di dunia kepariwisataan, coba dilihat dunia kepariwisataan sekarang memerlukan layanan-layanan yang islami, yang muslim, makanan Islam, tempat yang Islam dan sebagainya (48:53). Sehingga di Amerika, di Thailand, di Australia, dan di negara-negara yang tidak Islam itu sekarang ngundang santri-santri untuk menggarap IT-nya agar ini tempat wisata ini tidak terhalang untuk didatangi orang Islam, sehingga dibuat suasana makanan, tempat salat, masjid dan yang islami, bisa (49:04). Dan saudara sekalian sebagai orang santri harus percaya diri 'saya bisa', karena siapa ya kita orang Indonesia (49:25). Dan alhamdulillah pesantren sekarang sudah melakukan transformasi, sudah bagus transformasinya dari waktu ke waktu (49:39). Nah ini aja transformasi nih, dari dulu ketika belum merdeka kalau nyantri tidur di emper masjid, gak ada listrik, gak ada pengeras suara (49:39). Saya dulu waktu mondok di tahun '79 saudara, satu kamar gini nih isinya 20 orang, jadi gak bisa tidurnya, letakkan baju koper, koper-koper kayu itu tidurnya di luar di emper masjid (50:01). Nah sekarang sudah kayak gini nih gedungnya bagus, konsumsinya bagus, bersih, higienis (50:22), nah itulah saudara yang kita rasakan sekarang ini.

Jika kritik dianggap sebagai bagian dari demokrasi, kok sekarang sering dianggap sebagai musuh terhadap NKRI? Misalnya, misalnya ngeritik Pak Prabowo yang ngomongnya berlepotan kok dianggap musuh NKRI, rasanya gak sih (50:22). Itu banyak orang sekarang ngritik Pak Prabowo gak diapa-apakan, tapi anda jangan melanggar hukum (50:53). Melanggar hukum sedikit pada waktu yang sama ngeritik pemerintah, padahal anda juga melanggar hukum, itu bisa dicari salahnya (51:05). Saya tadi baru berdiskusi ada seorang rektor ditangkap hari ini bersama wakil rektornya, katanya korupsi ngatur penerimaan uang kuliah, iya saja saya kira namanya rektor kan ngatur kan (51:19). Tapi lalu ada yang mengatakan 'oh ini kemarin ngritik MBG (Makan Bergizi Gratis) loh ini rektorik katanya', sehingga lalu orang kait-kaitkan (51:34). Tapi kalau saudara merasa bersih gak apa-apa ngritik aja, karena Pak Prabowo bilang 'kritik saja' gitu (51:41). Persoalannya kata mbak itu tadi kita sudah ngeritik tapi gak ada pengaruhnya kan, itu masalahnya gak didengar, nah itu soal-soal yang lain nanti bagaimana agar ini didengar (51:49).

Kalau hukum pak tumpul ke atas, berarti sila kedua kita gak jalan (51:56). Bukan hanya sila kedua, orang kalau tidak menegakkan hukum, tidak mau keadilan berarti tidak ikut perintah Allah melanggar Ketuhanan Yang Maha Esa kan (52:06). Wa idza hakamtum bainan nasi an tahkumu bil 'adl, itu perintah Allah berhukum dengan adil (52:16). Melanggar kemanusiaan juga karena orang punya hak tapi anda langgar dengan ketidakadilan (52:16). Melanggar persatuan juga karena orang yang diperlakukan tidak adil itu akan melakukan perlawanan terhadap kebersatuan (52:25). Melanggar kerakyatan juga, melanggar demokrasi juga karena seharusnya setiap ketidakadilan itu dinilai oleh lembaga-lembaga demokrasi untuk diluruskan, dan melanggar keadilan sosial (52:25). Jadi melanggar Pancasila memang, itulah sebabnya saudara saya katakan mari kaum santri, rakyat Indonesia jaga ini Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila itu (52:48).

Sehingga kalau misalnya ditanyakan dikaitkan dengan ibu tadi: 'pak gimana pak ini di Indonesia ini banyak pemuda yang suka mabuk minuman keras, judi, dan mengganggu' (53:00). Nah itu tugas aparat ya, dan tugas anda semua nih anak-anak muda, anda jangan berpikir para santri 'wah ini saya kan hanya santri hanya bisa ngomong.' (53:10) Senior-senior anda tuh santri semua yang ada di pemerintahan itu sehingga mereka harus tahu adik-adiknya tuh punya pikiran begitu, saudara salurkan aja itu kan semua tuh menterinya sudah berapa yang dari pesantren gitu (53:21), masa gak mau menjaga negara Republik ini dengan watak kepesantrenan, kan banyak sekali sekarang, dulu gak bisa sekarang bisa gitu (53:40). Nah oleh sebab itu, ketertiban itu bu, banyaknya orang pemuda minum dan macam-macam itu ya karena korupsi aparat (53:52). Itu sudah tahu ada penjualan narkoba nanti dijual lagi, ditangkap orangnya dimintai uang disuruh nikmati, itu banyak yang sekarang tertangkap itu (54:01). Jadi yang harus kita peringatkan agar rakyat mau bisa tertib itu adalah aparat pemerintah, semuanya harus bersama-sama menjaga bangsa ini, itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia (54:09). Nah ajaran kita kan negara itu tidak harus bernama Negara Islam tapi masyarakatnya harus islami (54:25). Apa masyarakat islami? Masyarakat yang menerapkan nilai-nilai Islam sebagai sifat-sifat kebaikan gitu, nah itulah sebabnya kemudian pedomannya apa? Pedomannya adalah itu tuh, bahwa negara itu dianggap Islam kalau satu memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, melindungi keselamatan jiwa, melindungi hak-hak kebendaan, melindungi akal sehat (54:36), al-maqashid asy-syari'ah, melindungi akal sehat, melindungi kebersihan nasab, itu lakukan semua tidak usah disebut Negara Islam (55:15). Dan itu sudah ada di hukum-hukum kita, tidak boleh hidup bersama tanpa nikah itu melindungi nasab, tidak boleh mabuk-mabukan minuman keras itu melindungi akal dan keselamatan orang lain, tidak boleh mencuri melindungi harta benda yang kita miliki, tidak boleh membunuh melindungi keselamatan jiwa, tidak boleh sewenang-wenang terhadap orang yang beragama dan harus dilayani orang beragama (55:31). Itu namanya hifzuddin, hifdun nafs, hifdul mal, hifdun nasab wa hifdul aql, itulah al-maqashid asy-syari'ah itu (56:07). Kalau aturannya sudah ada tapi kok masih banyak kata ibu tadi ya pelaksanaan aparatnya (56:19).

Yang terakhir mahasiswi alumni tahun 2024, sekarang mahasiswi santri di Ma'had Aly ya tadi (56:30). Bagus ini pernyataannya: 'pak kami sudah tahu peran kami dan kami sudah lakukan, kami sudah melakukan peran kami tapi masalahnya gimana wong tidak berpengaruh tidak didengarkan' (56:30). Dik, mbak, kata siapa tidak didengarkan? Pasti didengarkan, perubahan-perubahan itu pasti dipengaruhi oleh keluhan-keluhan masyarakat (56:46). Coba nih kalau anda bilang gak didengarkan, kemarin Menteri Sekretaris Negara mengumumkan begini: para guru honorer akan diangkat menjadi guru tetap sebagai PNS, para guru P3K separuh waktu akan diangkat P3K penuh waktu, para guru P3K penuh waktu akan diangkat menjadi ASN (56:57). Itu kan berarti mendengarkan kritik rakyat karena 2 tahun rakyat ini berteriak: 'pak kamu jangan MBG (Makan Bergizi Gratis) aja tuh, guru tuh gajinya hanya Rp300.000 sementara MBG baru menjadi pegawainya itu sudah 6 juta gajinya.' (57:50) Kita teriak terus, MBG itu banyak korupsinya, didengarkan, ditangkap pimpinan MBG-nya, lalu sekarang MBG dirasionalkan diberikan ke siapa? Diberikan ke tempat-tempat yang memang memerlukan, ke orang miskin agar tepat sasaran sehingga lebih hemat, itu kan berarti kritik saudara itu didengar (58:02). Ya bahwa didengar semua itu juga ndak, tetapi kita harus berjuang, toh pada akhirnya anda semua ini akan merembes ke atas nanti gak bisa di... (58:30) Saudara di dalam teori sosiologi Islam, kaum muslimin di Indonesia ini akan merembes ke atas ke jabatan-jabatan penting nantinya, bukan karena diatrol tetapi seperti air mancur memancar sendiri karena dari masyarakat sendiri (58:39), seperti pesantren-pesantren itu sudah maju bukan karena dikatrol, bukan karena kolusi (58:57). Besok nih saudara, persaingan ke depan itu persaingan mutu dan persaingan semangat (58:57). Kalau saudara punya semangat seperti ini tadi, bisa nanti, dan kalau sudah di atas perbaiki ini semua, itulah menjaga Negara Republik Indonesia ini (59:08). Nah baiklah saya kira itu semua sudah terjawab, Pak Misbah saya kembalikan ke bapak (59:16)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Baik, terima kasih Prof. Mahfud MD (59:24). Bapak-bapak dan ibu-ibu para alumni yang kami hormati, rasanya... sebentar nggih, rasanya cukup banyak yang telah beliau jawab, terutama soal peran-peran santri tadi itu cukup gamblang begitu (59:24).

Yang terakhir tadi itu beliau menyampaikan soal anggaran ya, ternyata saya dapat browsing ini pak, anggaran hari ini yang terbesar itu adalah BGN (Badan Gizi Nasional) pak, 240,2 triliun (59:49), sementara ya BGN BGN... sementara pendidikan, pendidikan apa namanya kecil sekali pak (59:59). Pendidikan itu cuma 61,10 triliun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini prihatin bapak ibu, dan ini juga keprihatinan kita bersama (1:00:14). Saya tertarik... sebentar ya, satu satu kali kali ada permintaan harus disuda, kita sepakat tadi jam sampai jam, sampai jam 16.30 (1:00:32).

Saya sangat memahami soal kegelisahan ibu tadi itu sangat lugu dia bertanya soal narkoba dan miras (1:00:55). Nuwun sewu Pak Mahfud, narkoba dan miras itu saat ini di Pasuruan hampir merata di setiap desa (1:00:55). Saya tidak tahu itu apa serius atau itu pancingan, karena begitu dia dipanggil, diambil transaksional 30 kalau di Polsek, kalau di Polres itu sampai sekian dan seterusnya dan seterusnya, itu anak-anak kita bapak sekalian (1:01:06). Saya pikir apa yang disampaikan oleh ibu tadi itu adalah ungkapan kegelisahan orang tua terhadap situasi saat ini (1:01:18).

Anak sekalian, tadi ada permintaan satu ini ya, nuwun sewu Gus tambah itu nggih, Gus satu-satu nggih (1:01:27). Satu dari cowok mungkin di belakang, satu saja masih berkenan? Boleh boleh, satu saja di belakang atau di depan oke, terus cewek satu mungkin di atas supaya adil (1:01:36), atau mungkin di belakang masih ada? Kalau tidak ada satu saja nggih, saya satu aja silakan mas, satu ya, satu silakan satu ya, satu ya oke nggih nggih niku satu aja (1:01:46). Satu ini Prof, payah. Terima kasih waktunya (1:02:05)."

[Penanya 5 - Muhammad Lukman (Bojonegoro)]:
"Saya menyampaikan apresiasi kepada Bapak Mahfud MD, atas nama saya Muhammad Lukman dari Bojonegoro (1:02:05). Pak Mahfud, Bojonegoro itu bojone negoro pak, kalau IKN kan Ibu Kota Negara, sebenarnya Ibu Kota Negara itu wis di Bojonegoro (1:02:17). Situasi Bojonegoro hari ini ada ExxonMobil pak, yang mana ini menjadi bagian corporate pemerintah dari luar negeri, yang mana bahwa minyak kita dibawa ke Amerika (1:02:28).

Saya selalu teringat pada saat haulnya Mbah Hamid yang ke berapa itu, pada saat almarhum Yusuf Muhammad itu masih hidup, beliau sering mengatakan membawa ayat 'inna likulli syai'in...' artinya apakah kita sebagai santri itu bisa menerapkan ayat itu ketika terjadi model eksploitasi atau eksplorasi yang kemudian itu manfaatnya sangat sedikit untuk bangsa Indonesia? (1:02:38) Karena kita tahu di Bojonegoro itu minyaknya dari 100% itu yang masuk ke Bojonegoro itu... ke Indonesia itu cuma 20%, 10% untuk pusat, 5% untuk Tuban, 5% Bojonegoro, dan 5% untuk Blora (1:02:57), yang artinya kita ini sering dikadali oleh pemerintah luar negeri akibat kebijakan pemerintah yang di pusat (1:03:43). Intinya kami sebagai santri harus bagaimana melakukan menyikapi kondisi riil di... kebetulan kami berada di ring 1 Pak Mahfud (1:03:43).

Dan saya kecewa ketika Pak Prabowo... kami dulu mohon maaf kalau saya berlawanan dengan pesantren ketika saya dukung Prabowo, karena di sini dukung Pak Ganjar seperti itu (1:04:01). Harapan saya Pak Prabowo itu mempunyai apa istilahnya nilai tawar terhadap dunia luar sehingga pada masalah-masalah lokal seperti itu bisa diatasi, oke, artinya kita seperti itu itu saja. Terima kasih, cukup (1:04:09)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Baik jadi nanti usulan itu yang terakhir itu nanti disampaikan langsung aja ke Prabowo ya, monggo silakan (1:04:25)."

[Prof. Mahfud MD]:
"Baik, saya jawab dari sini karena yang terakhir Pak Lukman dari Bojonegoro masalah ExxonMobil pak, saya akan cerita bukan hanya ExxonMobil, saya mendengar langsung dari Pak Prabowo dalam beberapa kesempatan (1:04:25). Jadi begini, kita itu ditipu oleh para pengusaha-pengusaha kita sendiri dalam negeri (1:04:46).

Misalnya begini, laporan kita berapa ekspor udang, benur udang yang diekspor ke Korea, di dalam laporan ekspor kita itu tertulis dengan nilai 100 miliar tetapi di dalam laporan impor di Korea, impor udang dari Indonesia itu adalah 1 triliun (1:04:46). Jadi orang kita sendiri di dalam ini menipu kita, ngekspor 1 triliun tapi dilaporkan miliar sehingga dia keuntungannya banyak pajaknya menjadi kecil disampaikan kepada negara, dan negara rugi (1:05:20).

Nikel lapor dengan harga misalnya 2 triliun, ini laporan ekspor di Departemen Perdagangan tuh woh 2 triliun kita ngekspor nikel, ternyata diekspor ke mana? Diimpor ke Cina, nah di Cina laporan bursanya itu mengatakan ngimpor dari Indonesia triliun (1:05:48). Kita punya minyak nih, kita punya minyak-minyak mentah itu dijual ke negara lain dengan harga 20 dolar, besoknya kita membeli dari negara lain minyak kita sendiri itu dibeli sesuai dengan harga dunia, padahal minyaknya tuh gak kirim hanya tukar dokumen aja (1:06:14). Itulah korupsi besar-besaran yang sekarang sedang diperangi oleh Pak Prabowo (1:06:44). Kalau itu kita dukung, under-invoicing, under-pricing itu sedang diperangi oleh Pak Prabowo karena ini pengusaha-pengusaha kita menipu pemerintah kita sendiri, dan pegawai-pegawai pemerintah kita main-main juga cukai, pajak, dan sebagainya (1:06:44), ini yang sekarang sedang dihajar oleh Pak Prabowo (1:07:04).

Tetapi bapak benar ini kritiknya, nilai tawar Pak Prabowo ke luar negeri itu kok lemah, ke dalam begitu keras dan sudah mulai bertindak sekarang tapi ke luar negeri kok lemah, sampai membuat agreement apa namanya perjanjian tukar dagang dengan Amerika itu kita berada posisi yang sangat lemah (1:07:14). Katanya mau memproduksi mobil sendiri tiba-tiba datang ke India beli mobil Mahindra sendiri, sampai industri mobil dalam negeri kritik 'kenapa kita kan bisa, kalau cuma bikin pick up kayak gitu kita sudah siap kenapa harus beli ke India sampai 110 mobil atau 120.000 atau berapa tuh, 110.000 lah gitu.' (1:07:38) Nah yang begitu itu memang harus diingatkan pak, bapak benar (1:08:01). Tegas terhadap pencurian sumber daya alam kita oleh pejabat-pejabat kita dan oleh pengusaha-pengusaha kita, tapi juga harus punya nilai yang tinggi dong ke luar negeri itu juga bagian dari kritik kita (1:08:12).

Oleh sebab itu bapak jangan khawatir, kritik seperti ini ya kita sampaikan dan terbuka (1:08:22). Nanti kalau memang oh itu tidak benar ya nanti dijelaskan, namanya pemerintah kan harus menjelaskan gitu (1:08:31). Terima kasih Pak, Pak Lukman terima kasih (1:08:38)."

[Moderator - Gus Misbahul Munir]:
"Prof. Mahfud MD, saya pikir sudah cukup ya, cukup (1:08:38)."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAM NERAKA ATASNYA.... SIAPA SAJA MEREKA & YANG MEREKA LAKUKAN?

PARA SALAF SHOLIH DAN PARA PENGIKUTNYA

BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH