PENTINGNYA SANAD OLEH GUS BAHARUDDIN NUR SALIM
Berikut adalah seluruh kalimat yang diucapkan dalam video tersebut secara urut dari awal hingga akhir (0:01):
"Ngoten kulo kepengin ngaji Habib Jindan malah saya ngaji gimana ini oh gak sudah sudah cukup Habib Novel ya sudah sudah (0:01). Sudah sudah ayo Habib Salim sekarang (0:08).
Maaf mungkin di Indonesia kelompok-kelompok ormas-ormas yang lain itu tidak memelihara sanad, tidak care terhadap sanad (0:08). Mereka mengatakan kalau sanad itu ya dari Imam Bukhari kepada Rasulullah, dari kita ke Imam Bukhari itu enggak perlu sanad (0:25). Ini tentu pemikiran-pemikiran yang harus kita jawab (0:32).
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (0:32). Waalaikumsalam warahmatullah (0:32). Nahmaduka Ya Ghafur Ya Syakur, wa nusalli wa nusallim (0:32) wa nubarik 'ala sayyidina maulana Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi amma ba'du (0:49).
Niki alhamdulillah kulo saget bayar utang ini sama Habib Jindan (0:49), karena beliau pernah rawuh di Mbah saya di Fakhriah dulu, 3 tahun yang lalu kalau enggak salah (1:01). Beliau rawuh di Pondok Fakhriah itu milik mbahnya Kiai Hamid Pasuruan, juga masih mbah saya, Kiai Abdullah bin Umar (1:11). Mbah saya namanya Fatimah binti Idrus bin Umar (1:11).
Masih ingat saya ketika itu beliau menyebut satu ayat "wattabi'u millata aba'i" (1:21). Ini kata beliau, "Ustaz Mansur, umumnya orang tuh ingat kehormatan bapak-bapaknya yang keren-keren (1:21). Tapi kata Habib Jindan baca "wattaba'tu", yang penting tuh ikutnya bukan bapaknya." (1:36) Masih ingat terus, Gus-Gus diam semua, sadar kalau dimarahin Habib Jindan (1:44). Jadi ya Gus-Gus diluk (menunduk) semua (1:44).
Tak tanya, "Kenapa di... ini orang dari Jakarta kok marah ya?" (1:44) Itu unik itu cara istidlal guru-guru kita (1:52). Jadi kalau "wattabi'u millata aba'i" kata beliau rohnya itu di "wattaba'tu" itu, awal ittiba awalan, baru bangga dengan bapak-bapaknya (1:52). Jangan bangga dulu enggak ittiba, gitu loh (2:01). Jadi alim dulu baru bangga Habib Jindan (2:14). Jangan bangga muridnya Habib Jindan gak alim-alim gitu ya (2:14).
Jadi memang saya secara sengaja cerita sanad ini (2:29). Saya baca Mas Jamal, ya panggilannya apa? Mas Jamal? Mas Jamal ya (2:29). Pertama saya baca Al-'Iqdul Farid, ini karangannya Sayid Muhammad bin Alawi (2:37). Di sini saya baca supaya barokah dari karangannya Sayid Muhammad (2:37). Di antara orang yang beliau sebut dari ulama Indonesia, beliau ngendikan:
Al-Habib Al-Mu'ammar Ali bin Abdurrahman bin Abdillah Al-Habsyi (2:48), wal Habib ya Kuitang (2:56), ini Habibadi iya Zadi juga ya (2:56), ini juga zat beliau dari omnya (2:56), wal Habib Ali bin Husein bin Muhammad Al-Attas Shahib_ul_Attas (2:56), wal Habib Hamid bin Muhammad bin Salim Asy-Syairi (3:04), wal Habib Muhammad bin Ahmad bin Zain Al-Haddad (3:04), wal Habib Syekh bin Salim bin Umar Al-Attas (3:12), nah ini wal Habib Salim bin Ahmad bin Jindan bin Syekh Abu Bakar bin Salim (3:12). Ini kitab karangannya Sayid Muhammad bin Alawi (3:19).
Terus ketika beliau cerita sanad Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, beliau ngendikan: "arwi Sunan Ad-Darimi 'an Sayyid Salim bin Jindan 'Alian 'an al-Habib Utsman bin Abdillah bin Aqil bin Yahya Al-Alawi mufti Batawi ya 'an Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi 'an al-Amir al-Kabir" (3:19). Jadi keberadaan Habib Salim ini mudawwan (dibukukan) (3:37), selain faktanya beliau sering taklim juga mudawwan dibukukan (3:37).
Saya pernah hormat haulnya Syekh Kholil, di situ di antara manaqibnya ditulis: "min ajalli talamidzihi Salim, al-Habib an-Nasib Salim maula Jindan Alu Jindan" disebut di situ (3:48). Jadi ini bukan cerita untuk tafakhur, bukan untuk fakhriah (3:59). Tapi ini memang fakta untuk fakhriah, karena pondoknya buyut saya juga namanya Fakhriah ya, minal Fakhriah ilal ya k lah (4:09).
Ini tentang sanad tadi saya sudah mentashihkan beliau dan beliau menguatkan hujah kita (4:19). Dulu ketika Habib Salim banyak orang yang menyalahkan orang pakai celana, Bib, nanti jenengan yang cerita, beliau juga bela kultur itu (4:19).
Saya pernah baca di kitabnya Sayid Muhammad Alawi, judulnya itu Manhajus Salaf fi Fahmin Nusus (4:28). Di kitab saya itu halaman 423, nanti bisa dicek halaman 423 (4:36). Di situ ada kata-kata: "wa jadat sunatu rasulillahi sallallahu alaihi wasallam annahu yat'amu ma yajiduhu fi ardhi, wa yalbasu ma yajidu, wa yarkabu ma yajiduhu mimma abahullahu taala" (4:49).
Terus beliau cerita: "Siapapun yang makanan yajidu fi ardhi, fahua al-muttabi' kama min madinati nafsiha hajal min madhua al-muttabi'." (5:01) Jadi supaya perasaan orang Indonesia ketika berpakaian seperti ini, seperti saya, seperti teman-teman ini, tetap tercantol, tetap terhubung oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam (5:18).
Misalnya Nabi, karena beliau itu orang Madinah, tentu hajinya atau miqatnya dari Dzulhulaifah (5:30). Karena kita orang Indonesia lewat Yalamlam, ya harus lewat Yalamlam (5:30). "waqqata Rasulullah li-ahlil Madinah Dzalhulaifah, wa li-ahlis Syam al-Juhfah, wa li-ahli Najdin Qarnan, wa li-ahlil Yaman Yalamlam" (5:40). Jangan mentang-mentang ikut sunah Nabi, terus orang Yaman miqatnya dari Dzulhulaifah, orang Syam juga dari Dzulhulaifah, semua itu harus min madinati nafsihi (5:50). Sama seperti Rasulullah yat'amu ma yajiduhu fi ardhihi, kita juga nat'amu ma najiduhu fi ardina (6:00). Sehingga jangan sampai umat Islam yang perilakunya keseharian ini sudah baik, kemudian merasa tercerabut dari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam (6:10).
Karena Nabi, sebagaimana kita ingin dan kita tahu ketika ada orang A'rabi bilang: "Allahummarhamni wa Muhammadan wala tarham ma'ana ahadan." (6:10) Ya Allah, hanya saya dan Muhammad yang perlu Engkau kasihani, yang lain jangan (6:19). Kata Nabi: "Laqad tahajarta wasi'an" (6:29), rahmat Allah yang luas ini kamu persempit hanya karena mungkin kita orang Jawa, orang Indonesia (6:29).
Makanya saya ini bangga ngaji sama Mbah Moen, beliau orang Jawa (6:38). Saya ngaji juga hanya di Indonesia (6:47). Tapi guyonannya Mbah Moen dulu itu lucu, Bib (6:47). "Wong koyok kon, koyok kon (orang kayak kamu, kayak kamu) itu kayak orang Jawa kayak kamu itu mesti ada yang alim, karena Islam ini kaffatan lin nas." (6:47)
Makanya yang ahli nahwu itu Imam Sibawaih, padahal beliau Persia (7:01). Imam Ghazali juga bukan orang Arab tapi alim, Hujjatul Islam (7:01). Karena Allah ingin memaklumatkan bahwa agama ini kaffatan lin nas, bukan milik orang Arab saja, bukan milik siapa saja, tapi kaffatan lin nas (7:09). Makanya kita harus bangga dengan tradisi para habaib (7:16). Ada Rauhah Bukhari (7:16).
Bukhari itu kita tahu namanya itu Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah (7:16). Setelah itu sudah namanya bin Bardizbah, maula Al-Ju'fi (7:27). Ini Bardizbah itu orang yang dulu diislamkan keluarga Al-Ju'fi (7:27). Itu Mbah Moen kalau guyon itu, "Bardizbah cara jawo mboh Parmin mboh Parlan (Bardizbah cara Jawa entah Parmin entah Parlan), tapi nyatane duwe putu alim 'allamah namanya Imam Bukhari." (7:34) Artinya kita tentu sepakat, sangat-sangat sepakat, sangat menghormati orang-orang yang arfa' minna nasaban (lebih tinggi nasabnya dari kita) kayak para habib (7:43). Tapi para habib juga mau mengakui kayak pakai Bukhari, ashahhul kutub ba'da kitabillah Al-Bukhari (7:57). Sehingga memang enggak pernah ada masalah secara sanad secara tradisi (7:57).
Di kitabnya Sayid Muhammad ini ada sanad dari ulama India yang orangnya juga macam-macam, dari marga macam-macam (8:05). Jadi saya mohon barokahnya sanad ini (8:12). Kemudian kita tahu apa sih sanad itu? Sanad itu ya kadang-kadang harus lewat orang yang mungkin kita gak cocok (8:12).
Dulu itu ada sahabat tanya kalau mencium istrinya pas Ramadan sah apa gak? (8:22) Kebetulan yang ditanya itu Maimunah, enggak tanya Saudah (8:30). Karena sangat yakin gak... itu kalau Saudah itu gak, itu Maimunah (8:30). Jawabnya Maimunah, "Kalau kita ndak ngalamin, coba tanya Aisyah." (8:30) Loh yang potensi ngalamin dicium pas Ramadan sebetulnya istri yang Nabi itu sama Aisyah itu ya agak gimana, namanya dharrah, dharrah itu ya rival (8:38). Akhirnya tanya, "Ya Aisyah, gimana hukumnya lelaki mencium istrinya pas Ramadan?" (8:45) Ya dijawab sama Aisyah, "qabalani Rasulullah wa hua sha'im" (8:54). Yang lainnya enggak bisa jawab wong gak ngalami (8:54).
Jadi sanad itu kadang ya cocok gak cocok, ya memang itu fakta (9:03). Cara mandi junub, mbok kayak apa pintarnya sahabat cowok, kalau mandi junub ya gak tahu (9:03). Akhirnya tanya sama Sayidah Aisyah, sama Sayidah Maimunah (9:10). Apapun dekatnya istri Rasulullah kalau perang ya ndak tahu wong itu lelaki (9:10). Begitu juga afdalus sahabah kayak Abu Bakar, kadang harus meriwayatkan hadis dari orang-orang yang nyuwun sewu agak deso, bahkan kadang maulah kayak Tsauban, kayak Rabiah bin Ka'ab, orang-orang yang orang-orang biasa sekali, khadim dulu (9:18). Tapi ini kan barokahnya khadim itu tahu keseharian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam (9:36).
Misalnya Anas, "Apa kenangan kamu dengan Rasulullah?" (9:36) "Kenangan saya itu, saya khadamtu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam asyra sinin (10 tahun) (9:46). Saya itu gak pernah melakukan sesuatu ditanya Nabi lima shana'ta, wa la li-syai'in taraktuhu lima tarakta." (9:46) Sehingga kalau saya pas baik itu ya enggak berani tanya, "Anak dalam ngapain kamu benangan pintar anut sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam." (9:54) Akhir candem kulo ngih sak enake, Beb, tau ditakoki (10:01). Jadi hal-hal seperti ini itu keseharian yang harus kita suka (10:09).
Di antaranya lagi: "inna min khiyari ummati fima nabani al-mala'ul a'la, qauman yadhakuna jahran" (10:09). Di antara nanti umat pilihanku adalah orang-orang kalau tertawa itu keras sekalian, jahr itu (10:20). Dulu juga padahal ada riwayat katsrat_ud_dhahki tumitul qalbi, banyak tertawa itu bisa mematikan hati (10:33). Tapi ini juga dilawan, kalau banyak cemberut bisa frustrasi (10:33).
Nah, sehingga di ilmu ini cerita, nanti di tas Habib Jindan semoga nashnya benar (10:42). Saya tamu pasti dihormati, lho enggak penting benar gak itu gak penting, penting tamu itu dihormati (10:42). Ya kebetulan saya ini tadi kan hormat Mbah saya, masih mbah saya Mbah Mutamakkin di Kajen (10:50). Terus pagi tadi hormat buka luwur di Sunan Kudus jam 7 (11:00). Saya tadi di Kudus, ya akhirnya sama teman-teman difasilitasi disuruh naik pesawat tadi jam 11.00 tadi, tapi saya gak capek (11:06). Karena memang saya senang cerita sanad, tapi yang lucu-lucu saja (11:06). Nanti yang serius jangan, saya yang lucu-lucu saja biar lucu sampean tuh ndak ngawur tapi ada sanadnya (11:14).
Ada seorang mufasir yang bilang ketika nafsiri "wa annahu hua adhaka wa abka" (11:20), Allah itu zat yang memberi kamu tertawa (11:20). Mbok kamu ingin susah, gak akan tertawa (11:29). Tapi kalau Allah menghendaki ya tertawa aja (11:29). Ada orang miskin frustrasi, maunya enggak tertawa, tahu-tahu jalan-jalan ngerti badut, ya akhirnya tertawa (11:29). Ya karena adhaka itu fi'lullah (perbuatan Allah) (11:36). Kalau Allah menghendaki mau apa? Karena adhaka itu fi'lullah (11:36). Enggak bisa orang yang baru senang kayak apa enggak ingin nangis, tapi kalau Allah menghendaki wa abka, dinangiskan ya tetap menangis (11:44). Karena kita ini semua adalah objek oleh kudrahnya Allah Subhanahu wa taala (11:53).
Saya itu sebenarnya paling gak ingin ngaji bareng Habib, selain kalah nasab ya kalah ganteng ya, tapi ditakdir mau apa mau apa (12:03). Ya sudah, sami'na wa atha'na (12:12). Jadi saya saat ini ndak nyari pahala benar, pahala tawadu karena diundang ya ndak penting benar salah, penting tawadu (12:12). Jadi saya tadi sedang ngayu (merayu) sama Allah, "Ya Allah, saya kali ini nak cari benar, cari tawadu sudah, mesti pahalanya besar, tawadu itu." (12:22)
Jadi supaya Islam ini gampang ya (12:27). Saya pernah cerita ke kiai yang khusyuk kalau salat lama sekali, tak cerita ini, "Hadis Nabi itu enggak pernah menegur orang yang salat cepat, yang ada itu sanad negur salat lama." (12:27) Terus tak ceritani hadisnya Mu'adz, tertawa-tawa, "Duh Gus, kamu itu kok masih punya dalil." (12:45) "Saya punya sanad, ada enggak sanad Nabi negur orang yang baca surat pendek? Enggak ada. Yang ada itu yang baca surat panjang." (12:45) Nanti bisa direvisi kok sama Habib Jindan kalau enggak cocok (13:00). Tapi ini yang rileks-rileks, karena potongan Islam jawo ini kalau tidak berat... beratak enggak akan kuat (13:00). Jadi ya sudah, "inna minkum munaffirin" katanya Nabi (13:09). Salat yang terlalu lama itu munaffir kata Nabi, "afattanun anta ya mu'adz" (13:09). Kamu bikin umat ini enggak nyaman karena kalau kamu jadi imam itu lama sekali (13:19). Ini alhamdulillah betul hadis ini harus kita hafal betul loh (13:26).
Nah supaya Islam ini, meskipun pilihan-pilihan keseharian itu ada sanad, itu saja kepentingan saya (13:26). Yat'amu ma yajiduhu fi ardhihi, wa yalbasu ma yajidu, wa yarkabu ma yajidu (13:36). Senging dit (sehingga ada) wong deso-deso, "Gus, anak kulo tahnik cetha Gus tapi mboten enten kurma." (Gus, anak saya mau ditahnik tapi tidak ada kurma) (13:36). "Nganggo degan ae (pakai kelapa muda saja)." Lho Gus kiai-kiai iku kurma, kurma itu halawiyat (yang manis-manis), lho degan juga termasuk halawiyat (13:46). Ya sudah, kalau kamu ingin sunah rasul, Nabi enggak pernah salat di Indonesia, berarti kalau kamu salat ke Makkah dulu? (13:52) Maksud saya supaya orang itu nyaman dengan Rasulullah, itu hadir di semua sisi kehidupan kita (14:00).
Kalau dalam istilah Sayid Umar Hafidz: "fa ruhuhu Muhammadin sallallahu alaihi wasallam awsa' wa asra'" (14:08). Kalau kamu bisa tawasul dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan beliau-beliau bisa datang ketika lailatal mikraj untuk hormat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di Baitul Maqdis, muhammadin asra' kata beliau, jadi bisa datang di kapan saja di mana saja (14:08). Jadi jenengan meskipun di Indonesia gak usah khawatir, kita semua ini dilihat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam (14:23). Dan cara ngelihat Nabi itu gampang gak kayak kita, kata Rasulullah: "Hayati khairun lakum wa mamati khairun lakum." (14:33) Saya kalau masih hidup juga baik untuk kalian, anda bisa cerita hadis dengan saya sering bercengkrama (14:40). Dan ketika saya wafat kata Nabi: "Saya sudah dekat sama Allah Taala, kalau melihat kamu baik saya muji Allah, kalau melihat kamu salah saya mintakan ampun." (14:49)
Makanya saya ini jenis kiai yang jarang istigfar, ini bukan karena sombong (14:56). Saya ulang lagi, bukan karena sombong (14:56). Saya itu pengagum Sufyan Ats-Tsauri, itu di antara kh... itu jarang berdoa bisal (secara lisan) (15:03). Ketika ditanya, "Kenapa kamu jarang berdoa?" "Selagi saya ngajar," kata beliau, ini selagi saya ngajar itu masuk hadis "ala khulafai rahmatullah" ya Rasulullah (15:03). Jadi kalau saya baca Bukhari, otomatis dapat doanya Nabi "al-khulafai rahmatullah" (15:19). Kamu doakan nangis-nangis gak jelas mandinya, mendingan mulang (15:19). Terus kedua, arsam wastagfiruna, kita semua sudah diistigfari sama malaikat hamalatul arsy (15:30). Rasulullah juga wastagfirika faru rasulillah, q... kafana kifayah kata beliau (15:30). Artinya gini, kalau kadang jarang istigfar, jangan karena sombong, manfaatkan fasilitas ini (15:50). Pentingnya jadi semua itu jangan sampai kita ada istigfar karena jafa, karena jafatul qalb, karena qoswatul qalb (15:50). Ada fasilitas enaklah kalau ada ada fasilitas gitu, ada fasilitas itu (15:59).
Kalau saya pidato di depan Gus-gus, kalau di depan HP mbak berani (tidak berani), di depan Gus-gus itu ada yang setengah beling, setengah gak alim, ada yang alim (16:09). Terus yang beling-beling pesan sama saya, "Gus tolong bela kami maksudnya." (16:15) Ya kadang-kadang mubaligh kan order pesenan itu (16:21). Terus tak bacain ayat: "walladzina amanu wattaba'at-hum dzurriyatuhum bi iman" (16:21). Orang bapak-bapaknya iman, anaknya iman, itu nanti surganya disertakan mbahnya meskipun kelas amalnya ndak sama (16:21). Jadi mbah-mbahnya alim 'allamah, anaknya yang gak alim nanti surganya sama yang alim (16:38). Kenapa sih kalau ada fasilitas enggak dipakai? Pakai aja enggak apa-apa kan, yang alim yang komplain (16:46). "Sudah, kamu yang alim dihormati, dicucup (dicium tangannya), salami templek, yang ikhlas saja gak usah protes," kata saya gitu (16:46). Artinya saya inginlah keseharian kita yang awam yang apa itu harus cari backupan hadis supaya semua keseharian kita itu ada apa, sanad (16:55).
Misalnya sampean kalau malam itu enggak bisa tidur, tahajud nak (tidak), witir ndak ya, mutalaah ndak, tapi lihatlah itu sebagai tarkul ma'ashi (17:04). Apa tarkul ma'ashi? "Alhamdulillah malam ini saya ndak zina, ndak maling, ndak dugem." (17:13) Coba kalau kamu malam-malam di kamar itu namanya apa? Ndak tahajud gak witir kan, tapi kamu harus syukur karena itu tarqu_z_zina, tarqu_s_sariqah, tarqu wa... supaya kamu tetap syukur sama Allah Taala (17:24). Setiap mubah yang kita lakukan, pasti di saat itu ada haram yang kita tinggalkan (17:41).
Makanya dulu banyak orang-orang saleh yang semalaman tu guyon tok, guyon sampai pagi (17:41). Bukan karena ingin urakan, enggak, karena mengalahkan setan malam itu (17:51). Godaan ingin mungkin ingin ngintip siapa itu masih kuat sekali, ingin nonton siapa itu kuat sekali (17:51). Terus setan dilawan dengan guyon (18:00). Ternyata setelah guyon tuh asyik tahu-tahu pagi, dan godaannya selesai (18:08). Ohoh itu setan bisa stroke ngelawan orang alimnya seperti ini, karena nilainya tarkul ma'ashi meskipun dengan cara guyon (18:08). Karena kalau yang cara wiridan itu calon wali, Bib. Kalau yang enggak calon wali, pokoknya tarkul maksiat (18:15). Maksud saya supaya harian kamu yang biasa-biasa saya ini menjadi luar biasa karena ada sanad, ada apa, ada sanad (18:23).
Makanya dulu ulama-ulama itu kalau ngelawan setan itu pakai farah, pakai senang (18:32). Karena setan tuh paling senang kalau melihat orang mukmin susah (18:32). Kalau susah terus ngersulo (mengeluh), kalau ngersulo gugat qada qadar (18:42). Disebut: "innama-n-najwa minasy syaithani liyahzunalladzina amanu" (18:42). Jadi setan itu targetnya supaya orang mukmin itu resah (18:51). Kalau resah gugat, pertama gugat orang tua, "Ngapain sih jadi anaknya orang miskin jadi susah." (18:51) Kita kan kalau yang enggak mulia, "Ngapain jadi anaknya Parman." Kalau saya Habib kan langsung mulia, kalau Gus kan langsung mulia (18:59). Ngugat orang tua, ngugat sana, gugat sini (19:05). Tapi kalau kamu sudah senang, wis wajahe pesek, welek, keriting, sowan karuan karena enggak menggugat siapa-siapa, ya sudah (19:05). "qul bifadhlillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafrahu" (19:13). Jadi saya ingin semua itu senang bifadhlillah birahmatih (19:13).
Yang rileks, yang saya ini kalau nuruti capek, capek (19:25). Tadi malam saya di Mbah Mutamakkin, tadi pagi hormat Sunan Kudus, terus tadi naik pesawat datang, mandi langsung hormat (19:25). Kalau itu dihitung capek, capek (19:33). Tapi kalau dihitung senang ketemu Habib Jindan, ketemu jenengan, kesempatan seperti ini enggak enggak gampang, ya sudah selesai (19:33). Makanya ini latihan ya, latihan terus saya ulang lagi apa latihan terus supaya Islam itu ada di semua sisi hidup kita (19:40).
Itu saya pernah cerita, sering cerita di mana-mana itu ada wali itu istrinya cerewetnya bukan main (19:50). Woh itu semua muridnya sudah, "Tak biayai kamu cerai, nanti tak ganti istri yang lebih baik lebih..." (19:59) Enggak mau nyerai, alasannya apa? "Ini wanita bahaya sekali kalau sampai dinikah orang lain, kasihan orang lain dapat musibahnya, biar saya aja yang ngalami." (20:06) Kata-kata wali itu, jadi dia ndak ingin (20:13). Makanya ada juga kiai, santri beling di rumah, "Santri iki nak pindah pondok ngerusak pondoke wong, mendingan pondokku wae." (20:13) Jadi dihandle, cara sekarang apa, dihandle daripada ngerusak pondok orang lain mendingan pondok saya saja (20:22). Jadi cerita-cerita seperti ini harus kita kaji supaya semuanya itu pakai sanad ilmu (20:29). Sampai lihat di kitab Ihya' itu ada bab-bab di Aja'ibul Qalb apa di bab apa Aja'ibul... di di situ kayak apa Imam Ghazali memerankan orang-orang pilihan Allah yang menjadi gampang melihat keseharian (20:29).
Misalnya gini misalnya ya, Islam zaman akhir kan katanya tantangannya banyak (20:47). Coba kalau baca ayat: "wa ya'ballahu illa an yutimma nurahu", "wallahu mutimmu nurihi" (20:59). Agama ini milik Allah, diurus oleh Allah Taala (20:59). Islam ke Indonesia itu enggak ditunggui Nabi, Nabi sudah intaqala ila-r-rafiqil a'la (20:59). Kadang di kampung-kampung diislamno modin, ya jalan karena ini agama Allah (21:08). Kita ditinggal-tinggal orang yang lebih baik ketimbang kita, Islam kita tunggui ya jalan, memang ini agama Allah yang ngurus Allah, kamu gak usah khawatir (21:19). Jadi senang kita, bukan karena dablek, karena yakin bidhamanillah, yakin bidhamanillah wa bikafalatillah (21:26).
Seperti senangnya Sayid Abdul Muthalib ketika Ka'bah mau dirubohkan Abraha, ada penyerangan Abraha (21:35). Ini yang Mbah Moen sering cerita ini, woh itu semuanya kalah terus takok (bertanya), "Man sayyiduhal wadi?" Siapa tuan di sini? (21:45) "Abdul Muthalib." Abdul Muthalib itu datang dengan wibawanya yang luar biasa, Abraha itu sampai bingung (21:53). Dia kalau duduk di singgahsana dia disalahkan orang banyak, karena raja kok duduk berdua sama orang yang tidak raja (22:01). Kalau Abdul Muthalib di bawah, dia enggak punya nyali karena ada haibahnya Sayid Abdul Muthalib (22:10). Oh oleh takzim luar biasa, setelah itu tanya, "Apa keinginan kamu?" (22:10) "Saya nak ingin perang, saya hanya ingin merobohkan Ka'bah." (22:18) Ternyata Sayid Abdul Muthalib jawabnya apa? "Unta saya yang 100 loh kembalikan dulu, gak usah cerita Ka'bah." (22:27) Kagetnya bukan main Abraha, "Kamu ini pemimpin yang enggak benar, Ka'bah itu dinuka wa dienu aba'ika itu kan agama kamu mau saya robohkan, kamu malah bicara unta, ini kamu itu pemimpin model apa? Jadi saya nyesal hormat kamu, ternyata kamu mental kamu hanya mikir apa, unta." (22:33) Tapi jawabnya Abdul Muthalib itu unik, "inna li-hadzal baiti rabban yahmihi" (22:50), unta itu milik saya kembalikan dulu, kalau Ka'bah itu milik Allah nanti diurus yang punya (22:50). Jadi jadi di balik seenaknya itu ada tauhid yang luar biasa (22:58).
Makanya saya termasuk kiai yang enggak susah kalau mau mati (22:58). Kalau mau mati, mati aja, saya gak mikir kalau setelah saya ini agama gimana, ya enggak gimana-gimana wong agamanya Allah Taala (23:06). Jadi dibalik ya secara lahir kan seenaknya, ternyata inna li-hadzal baiti rabban yahmihi, Ka'bah itu ada yang punya nanti biar diurus yang punya (23:10). Nah maksud saya, kalau jenengan ini kan insyaallah nablek semua (23:20). Kawin ya enggak mikir istri saya nanti makan apa ya kan, masa depan kamu ya gak dipikir kan, warisan enggak punya apa-apa, enggak punya (23:29). Ya sudahlah bukan karena dablek tapi karena tawakal (23:36).
Ya itu saja pokoknya saya ingin ngomong, pokoknya perilaku anda keseharian itu jadi energi taat, ya perilaku keseharian anda ini jadi energi apa itu saja (23:36). Barokahnya kamu ngaji nopo, sanad (23:43). Dulu ada ulama sama miskin sekali itu tiap pagi datang ke gunung paling tinggi terus dia duduk itu agak-agak angkuh itu, "Siapa yang lebih raja ketimbang saya?" (23:52) Terus ditanya, "Kamu gak raja kok merasa..." "Ukuran raja itu gak ada yang berani nyuruh, di sini juga enggak ada yang berani nyuruh saya." (24:00) Lho itu sudah bisa syukur sampai mati (24:08). Karena sekali dia kumpul orang, lihat orang naik Alphard mengeluh, lihat orang punya istri cantik ngenes, lihat apa ngenes (24:12). Daripada gitu, naik ke gunung, "Siapa yang bisa menandingi kelezatan saya dalam hidup ini? Ana ma'ahu wa billah," ngomel-ngomel sendiri tapi itu cara dia syukur, cara dia apa, syukur (24:19). Dan akhirnya betul dia punya sanad: "man ashbaha minkum aminan fi sirbihi, mu'afan fi jasadihi..." penting orang itu sehat ya (24:27).
Jadi ini ya ini mazhab saya, karena saya diundang di sini Habib Jindan juga ingin khas saya (24:38). Jadi kalau saya pura-pura tawadu, pura-pura baik kan kaget, "Kenapa Gus Baha sekarang jadi baik?" (24:59) Nanti ya ini anggap saja jujur ya, kok rubah (25:06). Nggih ngoten mawon, mugi-mugi barokah (25:06). Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (25:06), sudah cerita sanad (25:06).
Alhamdulillah tadi sudah kita dengarkan dari Gus Baha yang tetap memelihara orisinalitasnya ya, karena kalau berubah katanya nanti Habib Jindan nyesal ngundang kok malah berubah, katanya bukan yang saya lihat di YouTube katanya gitu ya (25:33). Alhamdulillah masih campur bahasa Jawa juga walaupun di sini banyak orang Betawi yang enggak ngerti (25:50).
Jadi gini, saya bahasa Jawa itu bentuk tawaduk saya, berarti saya kiai lokal, hanya kiai Jawa (25:57). Saya sering dikomplain orang, "Gus, Anda ini kiai nasional kok (tidak) bahasa Indonesia." (26:03) Justru bentuk tawaduk saya, kamu itu enggak pernah rasanya jadi kiai (26:09). Nabi-nabi saja dulu aja illa bi lisani qaumihi (26:09). Jadi hanya terus akhirnya jenengan ngawur saja masih punya dalil katanya (26:09). Jadi saya bahasa Jawa itu justru tawaduk saya, saya merasa kiai ya di daerah saya, di komunitas saya (26:19). Ndak merasa kiai global, kiai nasional, wong nabi-nabi dulu aja li qaumihi, kecuali banyak Habib Jindan ini ini yang kaffatan lil khalqi, yang lainnya itu kaumi semua sebenarnya (26:26). Saya nak ingin berargumentasi supaya kamu tahu bahwa pilihan saya itu ada sanad, itu aja (26:34). Al-Fatihah, auzubillahiminasyaitanirrajim bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi rabbil alamin arrahmanirrahim... (26:42)
Niki nderekaken permintaane Habib Jindan niki ada kitab namanya Tatsbitul Fuad (26:42). Ini kitab yang menerangkan kutbiahnya Sayid Abdullah Al-Haddad (27:08). Di antara kitab yang sering saya baca memang kitab ini, kitab Tatsbitul Fuad (27:08). Saya akan nerangkan tentang cara pandang beliau 'an kalimati la ilaha illallah muhammadur rasulullah (27:22). Kata beliau, kalimat ini mudah sekali karena ma'qul (27:22). Misalnya begini ya, kita secerdas apapun terus disuruh melogika bahwa alam ini diciptakan oleh ketiadaan, bisa enggak? Gak bisa kan (27:34). Karena hadzil maujudat, terus kita dilatih disuruh bilang khalaqahal adam, bisa enggak? Gak bisa (27:34). Kalau hadzil maujudat, mesti khalaqaha maujudun (27:48). Yang namanya maujudat mesti diciptakan yang maujud, karena maujud pencipta disebut wajib_ul_wujud (27:57). Jadi kalau kalimah ini sampai enggak bisa, itu karena salahnya sendiri (27:57).
Makanya di hadis Bukhari setiap ada orang musyrik masuk neraka, kata Allah: "A-ara'aita minka ahwana min dzalik." Sebagian riwayat aisara min dalik, hanya aisar itu kita disuruh menuhankan Firaun tuh kan berat (28:09). Wong tuhan kok mati, wong tuhan kok tenggelam, susah secara logika susah (28:18). Tapi kalau disuruh menuhankan Allah, itu gampang sekali (28:29). Hua al-kabirul muta'al, al-ghaniyyu, hua 'ala kulli syai'in qadir (28:29). Jadi hadadin dinun yusrun karena apa? Logikanya gampang sekali (28:38). Sebab itu di antara kenangan kulo Syekh Abdul Haddad cara menerangkan tauhid, tauhid itu justru mudah (28:38). Yang enggak mudah itu tasyrik, masa Firaun kita samakan dengan Allah, orang yang karuan mati tenggelam disamakan zat yang tidak akan mati (28:49). Maka ajaran la syarikalah itu ajaran yang benar dan mudah (28:57). Ini cara pandang Sayid Abdullah no Al-Haddad (28:57).
Jadi keliru kalau ada orang bilang, "Susah Gus, ngilangkan apa, syirik, ngilangkan enggak ikhlas." Justru ikhlas itu yang paling mudah, karena menuhankan Tuhan yang memang seharusnya sebagai apa, Tuhan (29:06). Terus niki kulo woco beberapa dawuh Sayid Abdul Haddad tabarruk mawon nggih (29:26). Bismillahirrahmanirrahim... (29:26) Jadi kita-kita ini kalau terlalu khawatir, kita salat jangan-jangan enggak diterima, kita salat jangan-jangan husnul... apa suul khatimah (29:26). Kita sudah dekat kiai, dekat habib, jangan-jangan tetap suul khatimah (29:48). Kekhawatiran seperti ini bisa yuhsya al-inqitha' (29:57), bisa fisik Anda tidak kuat, maka kata beliau: "ar-raja' awsa' minal khauf." (29:57) ar-raja' awsa' minal khauf, wasat dan ditulis di arsy inna rahmati sabaqat... ya ini jadi jelas nggih (30:05). ar-raja' awsa' minal khauf lianna-n-nafsa makrun... 'alaihil inqitha' (30:26), terus wa qila al-khaufu kulluhu li-rajulin, wa raja'uhu li-la'ifin... dan seterusnya (30:26).
Jadi saya punya cerita ya, ada orang fasik banyaklah, orang mungkin di semua negara juga banyak (30:26). Sampai berani hidup itu kalau ngandani anak-anaknya, "Nak, yang fasik saya tok, jangan sampai kamu nanti..." (30:41) Orang yang bodoh juga gitu, bapaknya enggak tamat SD, "Nak, yang goblok bapak kamu saja, kamu gak usah ikut goblok." (30:50) Ini gara-gara rahmat agama ini (30:57). Limangkane Arjuha, agama ini bagi selalu yang punya rojak (harapan), tidak bagi yang putus asa (30:57).
Rasulullah ketika di Abdu Yalil, ketika di Thaif, dia dilempari batu (31:05). Malakul jibal (malaikat penjaga gunung) ingin menghabisi mereka, tapi apa kata Nabi? "Allahummahdi fannahum la ya'lamun" (31:12). Ketika malaikat bilang, "Tapi mereka kafir semua." Nabi... kata Nabi apa? "Arju ay yukhrijallahu min ashlabihim may ya'budullaha la yusyriku bihi syai'a." (31:12) Yang memberanikan Nabi itu satu, saya tetap berharap kalau bapaknya kafir, saya berharap anaknya sudah gak kafir lagi (31:20). Jadi yang menggerakkan agama ini adalah liman kana yarju'a, bagi yang selalu punya harapan (31:30). Jadi yang fasik ya masih sedang fasik (31:37). Makanya di doa-doa para habaib: "an tuqabila-l-mudzniba minna bil ghufran, wal musi'a bil ihsan" (31:37). Ada satu tafsir yang menafsiri ruhamau bainahum... jadi enaklah beragama ini, enak karena kata beliau ar-raja' awsa' minal khauf (31:48).
Ngoten kulo kepengin ngaji Habib Jinder (Jindan) malah saya ngaji gimana ini (32:01), gak sudah sudah cukup Habib Novel ya sudah sudah (32:01). Ayo Habib Salim sekarang, ini satu kalimat sudah udah cukup begini tutup, selesai agama (32:12)."
Jika ada bagian ceramah atau penjelasan hukum tertentu dari teks di atas yang ingin Anda diskusikan lebih lanjut atau diterjemahkan maknanya, silakan beri tahu saya!
terima kasih
Sama-sama! Senang bisa membantu Anda menyalin transkrip video ceramah tersebut.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar