Ilmu - Ibadah dan Maksiat
Ilmu Ibadah dan Maksiat
Seseorang Ahli ilmu, ahli ibadah, hafal Al Qur'an dan berkedudukan kyai atau Syaikh bisa saja maksiat. Tapi pandangan kita harus tetap realistis. Bukan berarti maksiat itu halal. Bisa saja seseorang yang beribadah tapi juga bermaksiat. Misalkan seseorang melakukan perbuatan ibadah sunnah tapi pada saat yang sama ia meninggalkan kewajiban (segala yang takkan boleh ditinggalkan, misal: membantu menjaga istri yang sedang melahirkan atau perkara yang kalau ditinggalkan akan berakibat buruk), maka itu juga ber maksiat. Maka mengatakan bahwa setiap ahli kebaikan tak seharusnya bermaksiat itu adalah sebuah hal yang tak realistis. Sebab kenyataannya maksiat itu bisa (bukan boleh) dilakukan siapa saja.
Manusia dilarang berbuat dosa tapi koq Allah memberi syahwat ? Misal orang yang di sindir tapi tak tersinggung itu sama dengan keledai (kata Imam Syafi'i). Sebab keledai itu tak ada respon tak peka. Hanyasaja tersinggungnya tidak membuatnya bermaksiat tapi pemafaan / tak membalasnya. maksiat. Seseorang yang memiliki syahwat itu adalah tantangan dan prestasi jika mampu menantang. Tidak bersyahwat kepada kursi, meja, dinding itu bukan prestasi, sebab bukan suatu hal yang diminati syahwat. Tapi saat seseorang berkesempatan dengan syahwatnya dan ia tak malakukannya maka itu ptestasi. Berkesempatan bisa korup tapi tidak korup. Berkemampuan membalas tapi tak dilakukan itu prestasi.
Berbuat sesuatu perbuatan atau mencegah suatu perbuatan dikaitkan dengan kehadiran orang lain adalah riya'. Baik ia sedang bersama maupun saat sendirian. Orang yang riya' itu tak lepas dari mengkaitkan perbuatannya dengan orang lain. Hal itu bertentangan dengan ikhlash yang perbuatannya dikaitkan dengan Allah, baik saat bersama manusia maupun sendirian. Mencegah perbuatan maksiat sebab ada pengawasan manusia itu bukan prestasi, sebab maksiat itu akan terlaksana jika ia sendirian. Orang yang tidak melaksanakan Ihsan maka akan sering melakukan kesalahan: Pertama: Tidak peduli kepada kehadirat Allah. Kedua: Mengutamakan pengawasan manusia atas Pengawasan Allah. Ketiga: Riya' saat beramal sebab yang dijadikannya ukuran adalah pengawasan manusia.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar