Ceramah Soal Bacaan Al-Qur'an Oleh Gus Baha'
Bagian 1: Urgensi Saktah, Wakaf, dan Ketepatan Membaca Al-Qur'an
Yaitu tadi, misalnya orang-orang kafir bangun dari kubur dan dia enggak tahu yang membangunkan siapa karena dia kafir (0:01). Kalau kita mukmin kan tahu yang membangunkan itu Allah (0:01). Ketika mereka bangun, mereka terus tanya:
“Man ba‘atsanā min marqadinā?” (0:08)
Saking lamanya tidur itu, orang kafir mungkirul ba‘ats (yang mengingkari hari kebangkitan) tanya, “Man ba‘atsanā min marqadinā?” (0:22) Terus Allah menjawab bi lisānil malā‘ikah (melalui lisan malaikat): “Hādzā mā wa‘adar-rahmānu wa shadaqal-mursalūn.” (0:22)
Karena yang awal ini ulul-mustafhim (orang yang bertanya), kemudian yang kedua itu ulul-mujāwib (yang menjawab), maka harus di-saktah (berhenti sejenak tanpa mengambil napas) (0:37):
“Man ba‘atsanā min marqadinā... (saktah)... hādzā mā wa‘adar-rahmānu wa shadaqal-mursalūn.” (0:37)
Nah, bayangkan misalnya bagi orang yang mengerti Al-Qur'an, itu kalau dibaca langsung, “...min marqadinā hādzā...”, maknanya akan kacau semua (0:47). Sehingga saktah itu secara qirā'ah—ya, kata kitab saya, saya punya kitab namanya Al-Qirā’āt al-‘Asyr karangan orang-orang yang sangat-sangat menekuni Al-Qur'an (0:59). Kata beliau: saktah, wakaf, tamtīq, atau apa pun namanya yang harus dipenggal itu memang harus dipenggal (1:13). Kalau tidak, itu bahaya (1:24).
Ya misalnya yang terkenal, di dalam Surah Al-Kahfi, Allah melarang atau mensifati kitab-Nya:
“Al-hamdu lillāhildzī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba walam yaj‘al lahū ‘iwajā.” (1:24)
Jadi, “walam yaj‘al lahū”—lan ora gawé sopo Allah Ta‘ālā lahu ing kitab Al-Qur'an, ora digawé ‘iwajan ingkang bengkok (dan Allah tidak menjadikan Al-Qur'an itu bengkok) (1:35). Kalau kamu baca langsung: “...‘iwajan qayyimā...” (1:44), berarti artinya: "Al-Qur'an itu tidak dijadikan bengkok dan tidak dijadikan tegak." (1:44) Itu fatal betul! (1:44)
Tetapi kalau di-saktah-kan, itu terus normal (1:54): “walam yaj‘al lahū ‘iwajā... (saktah)... qayyimā.” (1:24) Ora digawé ‘iwajan ing bengkok, (saktah) ora bengkok iku opo? Qayyiman, tegesé jejeg (Kitab yang lurus/tegak) (1:54).
Bagian 2: Logika Rasa Bahasa (Zauqiyatul Lughah)
Kata ulama-ulama, dalam dialog seluruh dunia, tidak hanya di Arab, di seluruh dunia karena lughah (bahasa) itu rasanya sama (2:04). Zauqiyatul lughah itu sama (2:16).
Saya misalnya bilang ke santri saya, “Cung, jangan belikan saya sate, pecel, rawon.” (2:24) Pasti semuanya ini manhiyāt (hal yang dilarang) (2:24). "Cung, saya jangan dibelikan sate, pecel, rawon." Ini semuanya apa? Manhiyāt, enggak boleh (2:24).
Tapi kalau kata-kata saya, “Cung, jangan belikan sate... mandeg (berhenti/saktah)... rawon.” (2:33) Berarti maknanya: "Jangan belikan sate, tapi belikan rawon." (2:33)
Jadi berkahnya saktah itu tidak ada tasalluthul ‘āmil (pengaruh faktor sintaksis di depan) (2:42). ‘Amil yang di depan itu tidak beramal pada kalimat yang berikutnya (2:42). Jadi lafaz “jangan” atau “walam yaj‘al” hanya berhenti di “‘iwajā” saja, yang menjadi maf‘ūl bih-nya “yaj‘al”, bukan pada “qayyimā” (2:52).
Nah, seperti ini ulama itu sangat tahu, bukan sekadar tahu, sangat tahu (2:52). Sehingga terus ijtihadnya Imam Ashim itu harus di-saktah (3:02).
Orang-orang perawi tajwid itu memang kadang-kadang hanya talaqqī (3:02). Talaqqī itu pokoknya manut guru (3:13). Sebetulnya juga harus dijelaskan bahwa saktah, wakaf, dan tamtīq itu fungsinya sama, yaitu kata-kata di depan yang harus terputus, ya harus terputus (3:13).
Bagian 3: Fatalnya Salah Wakaf (Kasus Malaikat Hamalatul ‘Arsy)
Terakhir, saya contohkan wakaf yang ini paling fatal, lebih fatal lagi karena bisa menyinggung banyak malaikat (3:23):
“Wa kadzālika haqqat kalimatu rabbika ‘alālladzīna kafarū annahum ash-hābun-nār.” (3:32)
Allah sudah menitahkan secara pasti bahwa orang-orang kafir itu pasti ash-hābun-nār, pasti penghuni neraka (3:32). Misalnya Anda wasal-kan (sambung bacaannya), itu bisa berurusan dengan malaikat Hamalatul ‘Arsy (3:45). Kalau Anda wasal-kan berarti kan gini: “...annahum ash-hābun-nāril-ladzīna yahmilūnal-‘arsy...” (3:32) Kau, itu kan fatal betul! (3:45)
Padahal sudah kepastian Allah kalau orang-orang kafir itu ash-hābun-nār (penduduk neraka) (3:56). Siapa kalimat berikutnya? “Alladzīna yahmilūnal-‘arsy” (4:11)—yaitu malaikat-malaikat yang membawa Arsy (4:11).
Jadi hal-hal seperti ini, makanya saya ya syukur ditakdirkan agak alim, ya syukur (4:11). Jadi kalau membaca Al-Qur'an itu malaikat tidak bingung, dianggap normal (4:22). Mengetahui cara membaca, kalau malaikat mendengarkan mbak-mbak yang belum sempat ngaji mendalam, dibaca digebut yang penting order selesai, khataman, semaan, wis yang penting itu, ya pancen masalah tenan (4:29). Because tadi, ada lafaz-lafaz atau kalimat atau untaian kata yang kalau di-wasal-kan itu masalah (4:41).
Ash-hābun-nār itu adalah orang-orang kafir (4:51). Sementara “alladzīna yahmilūnal-‘arsy” itu tarkib-nya menjadi mubtadā’ (kalimat baru) (4:51). Berarti yang benar: “Alladzīna—wong akèh utowo malaikat akèh sing yahmilūnal-‘arsya wa man hawlahū yusabbihūna bi hamdi rabbihim wa yastaghfirūna lilladzīna āmanū.” (4:51)
Saya mohon dalam bab-bab seperti ini, misalnya mbak-mbak mboten kober dirāyah (kajian mendalam) karena kepengin nikah, mbok arep-arep payu nikah, tapi tetap mengaji (5:02). Saya tahu sanadnya mengalir di sini dari Kiai Nawawi (5:20). Kiai Nawawi Ngrukem itu dahulu temannya Bapak saya zaman sama-sama di Kudus (5:20). Beliau dulu malah mondok di pondoknya buyut saya, bertempat di Damaran (5:28).
Intinya, ketika ini saya bicara hanya fokus Ulūmul Qur’ān (5:38). Maka dikaranglah kitab-kitab Ulūmul Qur’ān spesial membahas wakaf, karena wakaf itu kalau salah, paling fatal (5:38). Ya ada misal: “Wa kadzālika haqqat kalimatu rabbika ‘alālladzīna kafarū annahum ash-hābun-nār.” Kok terusannya di-wasal-kan “alladzīna yahmilūnal-‘arsy” (5:54), itu malaikat Arsy ini bicara benar biasa, kalau semakan ngawur: "Masa malaikat Hamalatul ‘Arsy jadi ash-hābun-nār?" (5:54) Itu kan fatal (6:10). Garuk-garuk malaikatnya (6:10).
Makanya doa saja sampeyan (6:10). Makanya kalau sampeyan Al-Qur'an-nya wakafnya benar, mau dibaca cepat ya silakan, malaikat tidak akan bingung (6:10). Jangan sampai membaca sok menjiwai tapi jebule salah, itu malah fatal (6:22).
Bagian 4: Al-Qur'an sebagai Solusi Ilmiah (Astronomi dan Sosiologi)
Sekarang yang kedua, saya cerita Al-Qur'an itu syifā’, obat atau solusi (6:29). Ini juga penting dijelaskan (6:40). Ketika kita menekuni ilmu astronomi atau falak, Al-Qur'an menceritakannya dan itu pasti benar karena bisa dibuktikan (6:40). Nggih niku, misalnya cerita: “Asy-syamsu wal-qamaru bi husbān.” (6:56) Allah itu bikin matahari dan bikin rembulan itu untuk hitungan (6:56).
Makanya ngendikane Allah di ayat lain: “Huwalladzī ja‘alasy-syamsa dhiyā’aw wal-qamara nūraw wa qaddarahū manāzila lita‘lamū ‘adadas-sinīna wal-hisāb.” (7:07) Kemudian ada tahun Syamsiah yang kebetulan terkenalnya di Indonesia itu tahun Masehi atau Miladiat (7:07). Sebetulnya itu tahun Syamsiah, enggak ada hubungannya secara mutlak dengan Miladiah (7:22). Kemudian yang satunya Qamariah, sebetulnya ya Qamariah (7:31). Karena yang Syamsiah sudah diklaim milik sebelah dikatakan Miladiyah, terus Sayyidina Umar itu memaklumatkan: "Ya sudah, yang Qamariah katakan Hijriah." (7:31)
Sehingga kita ini punya Miladiyah dan punya Hijriah, yang hakikatnya adalah tahun Syamsiah sama tahun Qamariah (7:45). Sehingga peneliti-peneliti astronomi itu juga suka karena Al-Qur'an memenuhi hasrat mereka yang suka ilmu (7:55). Dados, “Lasy-syamsu yambaghī lahā an tudrikal-qamara walal-laylu sābiqun-nahār,” dan seterusnya (8:08).
Kemudian ada orang itu juga suka sosiologi, suka ilmu sosial (8:08). Dan itu yang saya sering setiap mengisi di Jogja mesti saya cerita ilmu sosial (8:08). Ilmu sosial itu, kebetulan Bapak Sosiologi yang paling dikenal dunia adalah Ibnu Khaldun, punya kitab namanya Muqaddimah Ibni Khaldun (8:24). Saya pelajari beneran, pelajari secara tajribah (eksperimen/penelitian sosial) juga belajar kitab-kitabnya (8:31).
Kata Ibnu Khaldun begini, dan ini harus dihayati dilakukan ketika mbak-mbak pulang (8:40): "Andaikan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam itu setiap hari bisa terbang Makkah-Madinah, setiap hari Mikraj, tapi Nabi itu kikir misalnya, tentu—ini permisalan—kikir, setiap ketemu orang itu ngiso (mencaci), ketemu orang itu menyakiti, merugikan, itu tetap tidak akan diikuti." (8:40)
Jadi misalnya saya punya kiai atau punya teman yang tiap hari itu terbang ke Makkah, Jumatannya di Makkah, terbang boten numpak pesawat (artinya keramat) (9:03). Keramat tapi irit (9:23). Tapi dia pelit, kalau punya utang ke saya ya enggak disaur, ketemu saya misuh (9:23). Tetap enggak saya hormati (9:30).
Tapi kalau dia orang kebanyakan, enggak bisa terbang, enggak bisa apa-apa, tapi dengan saya dia lowo (loyo/rendah hati), dengan saya santun, enggak pernah merugikan saya, tetap saya hormati (9:30).
Sehingga para pakar di seluruh dunia itu menghormati betul sisi sosiologi Al-Qur'an (9:37). Allah ngendikan kepada kekasih-Nya:
“Fa bimā rahmatim minallāhi linta lahum...” (9:46)
Muhammad, kamu dicintai orang banyak itu karena layyinul jānib (kamu itu santun), kamu itu menarik, kamu itu simpatik (9:46). “Walau kunta fadhdzan ghalīdzal-qalbi lanfadhdhū min hawlik.” (10:00) Kalau kamu itu angkuh, keras hati, orang sekeliling kamu pasti bubar (10:00).
Misal bisa terbang ke Makkah, bar iku kok nyolong pitik (ayam) saya, tetap saya teriaki maling, enggak saya teriaki orang keramat (10:10). Orang bisa terbang ke Makkah tapi nyolong pitik, tetap saya arani maling (10:18). Tapi kalau ada orang enggak bisa terbang ke Makkah, tapi memberi sampeyan Alphard, tetep kamu matur nuwun, "wong apik" (orang baik) (10:18).
Bagian 5: Mukjizat Peradaban dan Keteladanan Akhlak
Nah, sehingga ini ngendikane ulama, bukan ngendikane saya (10:25). Mukjizatnya Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam itu ya peradaban itu, “Bu‘itstu li-utammima makārimal-akhlāq.” (10:32) Peradaban ya itu mukjizat Nabi terbesar, peradaban itu (10:32).
Sehingga kenangannya orang-orang kafir masuk Islam mesti ditanya, "Kenapa kamu masuk Islam?" (10:43) "Saya ini kenal—nyebutnya masih jangkar—saya kenal Muhammad itu lama, dan kenangan saya itu lam yakdzib ‘alān-nās (dia tidak pernah berbohong pada manusia), falan yakdziba ‘alāllāh (maka tidak mungkin dia berbohong atas nama Allah)." (10:43)
Makanya Islamnya orang Islam dulu itu unik, yang masuk Islam itu teman dekat semua (10:59). Istri sampeyan, mbak-mbak, istri itu paling jarang percaya sama suami (10:59). Kalau suaminya melarat dia jengkel karena miskin, kalau suaminya kaya dia curiga takut dipoligami, pokoknya wong lanang itu ruwet (11:10). Tapi Nabi, yang pertama iman adalah Sayyidah Khadijah (11:20). Ini tantangan luar biasa, jarang istri langsung mengimani suaminya (11:20).
Yang pertama iman dari kalangan laki-laki dewasa adalah Abu Bakar, teman dagangnya, diajak ke mana-mana paham (11:31). Zaid bin Haritsah, itu anaknya ketua suku, hilang di Makkah ditemukan orang terus jadi budaknya Khadijah, terus diberikan kepada Kanjeng Nabi (11:31). Zaid menjadi budak ikut Nabi tahunan, dia melihat: "Wong kok apike ngéné" (ini orang kok baiknya begini) (11:43). Sampai ketika diminta bapaknya untuk merdeka dan pulang, dia mboten purun (tidak mau), sampai dulu sempat dipanggil Zaid bin Muhammad (11:51).
Intinya ngeten, Islam itu apa? Dawuhe Pangeran: “Am lam ya‘rifū rasūlahum fahum lahū munkirūn.” (11:51) Muhammad ini figur yang kalian kenal, dan Anda bisa mengecek bapaknya siapa, keluarganya siapa, perilaku sosialnya kayak apa, punya reputasi bohong apa ndak punya (12:03). Makanya ketika Nabi pertama kali dakwah: “Lau akhbartukum... ara’aitum lau akhbartukum...” (12:13) "Kalau saya bercerita kepada kamu bahwa sekarang di balik gunung ini ada pasukan yang mau menyerang kita, akun-tum mushaddiqī? Apa kamu percaya sama saya?" (12:24) Semua kaumnya menjawab, “Mā jaratna ‘alaika kadziban.” (12:33) "Muhammad, selama ini kami tidak pernah mendapati kamu berbohong." (12:33)
Sehingga ketika Nabi memaklumatkan diri jadi Nabi, yang pertama-tama beriman ya Sayyidah Khadijah, Abu Bakar (12:40). Karena ya alasannya: "Selama ini kenangan saya tidak pernah dibohongi Muhammad. Kalau dia tidak bohong sama manusia, maka tidak akan bohong sama Allah Subhanahu wa Ta‘ālā." (12:40)
Bagian 6: Fikih tentang Halal Hukmi vs Halal ‘Aini
Sehingga mukjizatnya hādzad-dīn (agama ini) ya peradaban itu (12:56). Saya ulang, mukjizatnya ya peradaban (12:56). Sehingga agama ini dibawa mulai Rasulullah, sampai Wali Songo, sampai sekarang (12:56). Kiai yang diikuti orang banyak ya yang peradabannya baik, baik itu bisa memberikan manfaat atau paling tidak, tidak merugikan orang lain (13:08).
Coba kalau saya misalnya jadi kiai, terus dapat mukjizat tongkatnya Nabi Musa, itu untuk apa coba? Bingung kan? (13:17) Tak sabetkan ke segoro (laut), kalau enggak membelah ya saya malu (13:27). Kalau membelah, nanti dikomplain karena pas itu ada kapal-kapal tongkang, kapal feri, kapal pesiar, gara-gara saya latihan jaduk (sakti) malah tenggelam semua (13:27). Kok ada kiai disuruh ganti rugi kan malah repot (13:43). Nah kalau tidak membelah, katanya kiai ora mandi (tidak sakti) (13:43). Tapi hādzal Qur’ān, kata semua ulama, bukan satu ulama, adalah mukjizat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling top (13:43). Apa itu? Nggih iku, peradaban (13:52).
Saya sering cerita ke santri-santri (14:02). Kamu punya teman, Zaid (14:02). Ketika berteman dengan kamu, Zaid ini miskin, kamu kasih uang, kamu santun, kamu sayangi (14:02). Itu ketika dia jadi menteri atau pejabat di Jakarta, kamu ketemu dia, kamu PD (14:12). Karena apa? Hubungan kamu itu “yunfiqūn”, al-yadu al-‘ulyā khairun min al-yadi as-suflā (tangan di atas lebih baik) (14:12). Makanya pertama Al-Qur'an cerita orang baik itu siapa? (14:20)
Saya hidup di Jogja lama, sering ke Jakarta (14:33). Saya itu merasa dilindungi oleh konsep sosial Al-Qur'an (14:33). Kalau ketemu orang itu gimana? “Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i wad-dharrā’...” (14:42) Usahakan kalau ketemu orang lain itu berkontribusi (14:42). Ketika kecewa, “wal-kādhimīnal-ghaīzh” (14:42)—ketika kecewa itu ya tidak usah meledak-ledak terus misuh-misuh, mengutuk (14:42). Mengutuk kalau tidak mandi (manjur) ya malu, kalau mandi merugikan sesama orang Islam, jadi kemungkinan dua-duanya itu buruk (14:52). Terus, “wal-‘āfīna ‘anin-nās” (14:59)—ketika kecewa itu mudah memaafkan (14:59). Semua orang yang diterima banyak orang itu pasti ya itu, dia dermawan, paling tidak tidak merugikan orang lain (14:59). Ketika kecewa, wal-kādhimīnal-ghaīzh, bisa mengendalikan emosi, wal-‘āfīna ‘anin-nās (15:09).
Sebab itu saran saya terakhir kepada mbak-mbak, saya mboten kepengin ngaji sing aneh-aneh, ini yang otoritatif (15:16). Sayyidina Ali itu kalau menasihati orang masalah sosial itu gampang, kata beliau (15:25):
“Ahsin ilā man syi’ta takun amīrah.” (16:26)
Kamu berbuat baik saja kepada seseorang, pasti kamu jadi pemimpinnya (secara maknawi) (15:25). Kita misalnya pergi pakai Innova, Innova itu milik kita, yang ikut menumpang ya tetep kamu warungno (kamu traktir) (15:36). Kamu baik, takun amīrah, pasti kamu pemimpinnya karena kamu al-muhsin (yang berbuat baik) (15:46).
Terus, “Wahtaj ilā man syi’ta takun asīrah.” (15:46) Silakan saja jadi orang murahan (15:56). Ketemu menteri ingin dikasih uang, ketemu kiai ingin dikasih uang, ketemu teman kepengin dikasih, takun asīrah, pasti kamu jadi pecundangnya (tawanannya) (15:56).
“Wastaghni ‘amman syi’ta takun nadhīrah.” (16:04) Kamu jangan pernah butuh sama orang lain, maka kamu akan setara (16:04). Karena kita ndak butuh dia, kita setara (16:15). Orang itu sampai nyuwun sewu, murahan dan tidak punya harga diri, karena sering butuh sama orang lain (16:15). Kalau ndak, pasti kita setara (16:26). Lah itu eling-eling: “Ahsin ilā man syi’ta takun amīrah, wahtaj ilā man syi’ta takun asīrah, wastaghni ‘amman syi’ta takun nadhīrah.” (16:26)
Sehingga ketika Islam dibawa ke Eropa oleh Abdurrahman ad-Dakhil dari Bani Umayyah, dan Islam dibawa ke mana-mana termasuk Wali Songo di Jawa, di Indonesia, itu mesti yang ditontonkan, yang disejarahkan mesti hal-hal sosial (16:37). Seperti Sunan Giri, ya terkenal: “Ké klambi wong sing wudo, ké mangan wong sing lesu, ké tongkat wong sing wuto.” (Berilah pakaian pada orang yang telanjang, berilah makan pada orang yang lapar, berilah tongkat pada orang yang buta) (16:50). Mesti filosofinya semuanya sosial (16:58). Dan sosial ini yang akan mengawal kita ilā yaumil-qiyāmah (17:05).
Makanya saya suwun, pun mboten usah membanggakan wiridan terus berniat menjadikan jenengan keramat, mboten (17:05). Saya bolak-balik matur di semua kesempatan mengaji, dawuh Ibnu Khaldun: Rasulullah itu ahabbul-khalqi ilāllāh (makhluk paling dicintai Allah) (17:16). Rasulullah orang paling dicintai Allah, itu saja kena khitab, harus sosialnya baik (17:16). Padahal Nabi, orang yang kalau Allah menghendaki bisa memanfaatkan alam raya ini sebagai mukjizat-Nya (17:26). Nabi bisa ngendikan sama katak, nabi bisa ngendikan sama biawak biawak pasang, “Wadh-dhabbu wal-ghazālatu yasyhadāni laka bir-risālah”—hewan-hewan yang enggak bisa ngomong saget ngomong menyaksikan kalau Nabi itu Rasul (17:26). Batu bebatuan di Makkah salam sama Nabi, "Salam alaika ya Rasūlallāh" (17:48). Itu pun, kalau Nabi salah secara sosial, misalnya Nabi kok senang misuh, senang merugikan orang lain, itu tetap “lanfadhdhū min hawlik”, orang akan bubar (17:55).
Makanya Ibnu Khaldun menekankan, Rasulullah ahabbul-khalqi ilāllāh itu saja kena aturan harus sosialnya baik, kalau tidak, lanfadhdhū min hawlik (18:03). Padahal Nabi-ne, kata Ibnu Khaldun, man lau arādallāhu bihil-kaun, orang yang kalau Allah menghendaki bisa memanfaatkan seluruh alam raya ini sebagai kekuatan mukjizat, itu saja harus mengikuti tatanan sosial, tidak boleh nopo? Fadh-dhan (kasar) (18:13). Sekali itu terjadi, pakai lām taukīd (18:36). Jadi kalau dimaknani model makna kiai kuno: “Walau kunta—diparil—diandaikan ono sopo siro Muhammad, fadh-dhan—wong sing angkuh utowo sing sombong sing atos atiné—lanfadhdhū—yaktiné mesti bubar sopo wong akèh min hawlik—saking sekeliling kamo.” (18:36)
Bagian 7: Pentingnya Menjaga Identitas Ilmu Keulamaan
Saya suwun niki, nggih kudune terakhir (18:57). Saya itu orang yang banyak belajar sampai sekarang, saya itu masih belajar (19:19). Bukan karena kepengin pinter, nggih mboten, saya belajar itu karena senang, senenge nggih pokoke senang (19:19). Saya termasuk kiai yang mboten kon sombong, saya nggih mertamu, saya nggih pendak ngaji (19:26). Saya kalau mengaji ramah, tapi kalau disuruh membela diri, mboten (19:33). Karena saya kepengin, kepengin mawon konstruksi tafsir di Indonesia itu ya mengikuti ulama-ulama dulu (19:38). Caranya gimana? Ya kita baca (19:48). Kalau kita tidak baca itu ya akhirnya Islam menurut saya, itu kan lucu (19:48). "Islam kok menurut saya," nabi ora, kiai ora, wali ora, Islam menurut saya gini, Islamnya mbahmu! Kok menurut saya, itu kan aneh (19:56). Tapi kalau orang itu kalau enggak baca, itu pasti akhirnya "menurut saya" (20:04). Tapi kalau baca, dia terbentuk oleh yang dibaca (20:04).
Misalnya wong apik pelit, ya malu, Al-Qur'an-nya: “Wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn.” (20:10) Wong apik sopo? Yang kalau punya rezeki itu yunfiqūn, melakukan infak (20:10). Jebule mulai kecil sampai mati itu hidupnya yunfaqūn (hanya diberi saja) (20:20). Itu kan ya ora mutu to, urip mboten kan mboten mutu (20:20).
Begitu juga di misal, “Qul huwallāhu ahad.” (20:29) Qul itu katakan! Katakan itu ada iklan (maklumat) (20:29). Sehingga ketika kamu tauhid itu pribadi atau sendiri, berarti tidak membentuk orang lain menjadi ahli tauhid (20:36). Karena qul itu katakanlah! Katakanlah itu ada maklumat yang dimengerti orang lain (20:36).
Saya sering cerita ke santri-santri, sampai anaknya Islam, engko bapake marahi syahadat, gurune marahi (20:44). Ada interaksi sosial yaitu anak mulai kecil diwarahi nopo? Syahadah (20:53). Dimulai apa? Qul! Katakan! Katakan untuk diri kamu, untuk orang lain, untuk anak didik kamu (20:53). Berkahnya dikatakan, yang diajari menjadi tahu, lah menjadi tahu (21:03). Terus Islam keberlangsungannya sampai ilā yaumil-qiyāmah (21:03). Lah misalnya terus kiai gendang-gendem tahu mulang, sing penting gak ngelarani wong, takoki iso meneng, kan ya ruwet (21:12).
Dirāyah-nya gimana? Dirāyah itu kajian (21:19). Ono wong takok alamat pundi pondok Darul Qur’ān, meneng (21:19). Pundi Langitan, meneng, kan mangkel (21:30). Makanya dawuh ulama-ulama: “As-sākitu ‘anil-haqqi syaīthānun akhras.” Orang yang diam dari menyampaikan kebenaran itu setan yang bisu (21:30). Karena sebagian kebenaran memang harus qul, katakanlah (21:40). Lah saya mengerti seperti ini barokahe membaca, kenapa harus ada qul (21:40). Andaikan Nabi itu tidak mengatakan kebenaran, ya kita gak tahu kebenaran itu apa (21:50). Ya setidaknya kebenaran itu dimaklumatkan, disosialisasikan, sehingga kebenaran menjadi nilai bersama, disebut “Qul huwallāhu ahad.” (21:50) Jadi ini mukjizat-mukjizat yang akan menemani kita ilā yaumil-qiyāmah (21:59).
Sesi Tanya Jawab (Q&A)
Pertanyaan Tertulis:
"Gus, para sahabat sangat menghormati Rasulullah, tetapi Rasul sendiri melarang bentuk penghormatan yang berlebihan. Bagaimana cara memahami titik tengah penghormatan yang benar kepada Nabi? Dan dalam konteks ulama yang disebut sebagai warasatul ambiya, bagaimana memastikan penghormatan kita kepada kiai, guru, ustaz dan sebagainya tetap dalam koridor adab tawadu yang tetap memakai nalar kritis, bukan berubah menjadi ketakutan, ketergantungan, atau kepatuhan tanpa berpikir?" (3:43:09)
Jawaban Gus Baha:
Bismillahirrahmanirrahim. Ini pertanyaan yang mudah dijawab asal sampean enggak punya sentimen, biasa aja (3:44:14). Saya ini kan kata orang banyak, saya ini kan ya Gus, ya Kiai, ya Gus asli, wong Bapak saya kiai, bapak saya kiai (3:44:14). Tapi ya saya enggak ingin dihormati berlebihan (3:44:25). Buktinya disuruh Mas Fikri ya mau saja, dipidatoni Pak Nazar ya saya dengerin, kan berarti saya juga sopan (3:44:25).
Jadi begini ya, ini yang harus diketahui, bukan sekedar sunat, harus (3:44:32). Nabi itu sering memaklumatkan diri: “Innamā ana basyarun mitslukum.” (3:44:41) "Aku ini hanyalah manusia." Ini karena beliau jadi Nabi setelah Nabi Isa yang dihormati sedemikian rupa sampai dituhankan (3:44:51). Ya terus Nabi itu ya memperlihatkan kalau sering tersinggung (3:44:51). Misalnya ada orang yang enggak suka sama Sayyid Abbas pamannya Nabi, ya Nabi tersinggung (3:45:01). Kalau enggak suka keluarganya, tersinggung (3:45:01). Tapi setelah itu Nabi membenahi dirinya sendiri bahwa saya ini Nabi, rujukannya hak bukan sentimen keluarga (3:45:08).
Nah, sahabat juga sama, hormat sekali sama Nabi, tapi tetap kaidahnya itu: “Lā tuthriūnī kamā athrat-nashārā bna Maryam.” (3:45:08) Kamu jangan berlebihan memuji saya sampai mentaklih (menuhankan) (3:45:16). Kalau hormat yang berlebihan dengan arti loyalitas atau bahasa tubuh, itu ya mulai dulu ada di semua tradisi (3:45:16). Sampean lihat di kerajaan-kerajaan atau di film-film Cina itu kan semua, baik versi ketua suku maupun ketua geng, ketua apa saja kan ya dihormati oleh anak buahnya (3:45:25).
Tapi yang unik dari Nabi itu, kalimat penghormatannya itu malah mengarah ke meng-Esakan Tuhan (3:47:13). Sebetulnya, shīghat (redaksi) selawat—saya berkali-kali matur—di kitab Ithāfus-Sādah al-Muttaqīn, shīghat selawat itu shīghat terbaik (3:46:19). Karena ada kata-kata gini: "Allahumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammad" atau yang tanpa sayyidina "Shalli ‘alā Muhammad" (3:46:30). Itu kan kelihatan, Allah itu Pemberi, Nabi itu yang diberi (3:46:38). Saya ulang lagi, ya Allah kasihkan selawat Engkau ke Nabi, berarti Allah itu Pemberi, Nabi yang diberi (3:46:38). Nah, kata kitab Ithāf, nabi apa pun hebatnya, hubungannya dengan Allah itu Allah Pemberi, nabi penerima (3:46:46).
Makanya hādzihil ummah (umat ini) tidak akan terperosok mentalih (menuhankan) Muhammad karena redaksinya sudah: "Ya Allah saya minta selawat-Mu kasihkan ‘alā ‘abdika wa rasūlika Muhammad" (3:46:54). Disebut ‘alā ‘abdika (atas hamba-Mu), maka redaksi selawat itu ekspresi kita mencintai Nabi (3:47:04). Maka kita berselawat sekaligus memaklumatkan porsi masing-masing: Allah selamanya Pemberi dan nabi apa pun hebatnya adalah yang diberi (3:47:13). Jadi penghormatan sahabat itu ya terukur semua (3:47:22).
Lah nanti kultur-kultur tertentu di daerah tertentu, misalnya di Kesultanan Jogja, Kesultanan Maluku, semua di pondok, di apa, saya yakin semua orang saleh itu inginnya semuanya proporsional (3:47:22). Enggak tahu kalau yang sentimen, tapi semua orang saleh itu inginnya pasti proporsional, itu pasti, tak jamin itu (3:47:33).
Pertanyaan Jamaah (Ibu Wahyu dari Depok):
"Asalamualaikum, saya Ibu Wahyu dari Depok. Mau tanya ke Gus Baha, mau bagi ilmu sakleknya Gus. Dalam ibadah, segala ibadah itu kan tergantung ikhlas. Ikhlas itu kadang hati ikhlas pikiran enggak, kadang pikiran ikhlas hati enggak. Nah itu cara menyinkronkannya bagaimana Gus Baha? Makasih." (3:53:30)
Jawaban Gus Baha:
Ini alhamdulillah ada yang berani tanya ikhlas ini (3:54:13). Semua yang datang juga banyak yang belum ikhlas sempurna karena ikhlas itu maqām (tingkatan) yang susah (3:54:25). Tapi justru itu tantangannya (3:54:37). Jadi begini, ini sekaligus mengerti teman-teman semuanya yang hadir, ikhlas itu nomor kesekian, yang penting protap (prosedur tetap) ibadahnya itu benar dulu (3:54:49).
Misalnya gini, Anda salat gak ikhlas tapi berjamaah (3:55:01). Enggak ikhlas ingin dapat pujian, tapi jemaah itu di situ kan ada pengakuan kalau salat itu wajib (3:55:11). Jadi selalu ada kebaikan dalam kebaikan meskipun gak ideal (3:55:11). Misalnya Anda jemaah tidak ikhlas, tapi mengekspresikan diri sujud, mengekspresikan diri rukuk, itu sudah luar biasa (3:55:19).
Makanya sebagian ayat ini—Pak Quraisy sangat paham—ada mukhlisīn (orang-orang yang berusaha ikhlas), ada mukhlasīn (orang-orang yang diikhlaskan/dimurnikan oleh Allah) (3:55:29). Sebetulnya ada harapan, kalau Allah menghendaki kita gak ikhlas, tapi di-mukhlas-kan, dimurnikan sama Allah karena berkahnya protap yang benar (3:55:39).
Misalnya gini, saya sedekah sama fakir miskin gak ikhlas, ingin jadi DPR—kayakinya saya gak potongan—atau ingin nyalon bupati, kan gak ikhlas (3:55:39). Tapi berkahnya sedekah ini, hal yang dilakukan itu nyata manfaatnya (3:55:49). Saya didoakan sama fakir miskin karena saya kasih sesuatu yang manfaat (3:55:58).
Jadi menurut saya, Anda jangan hanya mengaji ikhlas, juga mengaji pentingnya amal saleh, itu pasti bermanfaat (3:55:58). Makanya di Al-Qur'an itu sering seorang nabi dipuji: “Innahū min ‘ibādinal-mukhlasīn.” Pakai isim maf‘ūl, yang dimurnikan oleh Allah (3:56:05). Lagi-lagi kita harus selalu berdoa supaya Allah yang menyelamatkan kita, bukan amal kita, bukan ikhlas kita, bukan semuanya (3:57:14). Kita hanya bergantung ingin diselamatkan Allah, disebut: “Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.” Kita hanya minta pertolongan dari Allah (3:57:31).
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar