Ceramah: Pikiranmu adalah Takdirmu (Gus Baha)


Ceramah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)

Judul Ceramah: Pikiranmu adalah Takdirmu (Gus Baha)

Orang itu kalau cara berpikirnya menuruti nafsu, itulah yang bahaya (0:02). Makanya Al-Qur'an mengkritik: “Ara’aita man ittakhadha ilāhahu hawāh” (Tahukah kamu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?) (0:02). Cara berpikir orang yang menuruti hawa nafsu itu berbahaya (0:02).

Kalau zaman Nabi, zaman sahabat, dan zaman ulama terdahulu, cara berpikir mereka tidak seperti itu, sehingga hidup terasa mudah (0:11). Makanya Nabi bersabda:

“Absyirū yā ma’syaral muslimīn.”
(Bergembiralah, wahai sekalian umat Muslim) (0:22).


Allah sekarang membuka pintu langit yang sebelumnya tidak pernah dibuka (0:22). “Wa Allāhu yubāhī bikumul malā’ikah” (Dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya) (0:32). Kenapa umat Nabi Muhammad ﷺ ini begitu dibanggakan (0:32)?

Resep Menghadapi Kematian Setiap Saat

Umat Nabi Muhammad ﷺ itu, kalau kalian ingin siap mati setiap saat dengan status yang baik, resepnya sangat gampang (0:42). Kata Nabi:

“Addū farīḍatan wantaẓirū ukhrā.”
(Tunaikanlah satu kefarduan, lalu tunggulah kefarduan berikutnya) (0:50).


Jadi Allah memberi tahu, "Wahai Muhammad, umatmu ini luar biasa." (0:50)
Misalnya tadi kita selesai shalat Subuh, lalu ditanya, "Baha, kamu sekarang sedang apa?" (0:50)
"Sedang menunggu shalat Zhuhur, Ya Allah." (1:01)
Setelah shalat Zhuhur ditanya lagi, "Menunggu apa?" (1:01)
"Menunggu shalat Ashar." (1:01)

Sehingga berlaku hadis: “Fa man kānat hijratuhū ilallāhi wa rasūlih, fa hijratuhū ilallāhi wa rasūlih.” (Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya) (1:01).

Ini saya ijazahkan kepada kalian: jika setelah shalat Subuh niatnya menunggu Zhuhur, setelah Zhuhur menunggu Ashar, maka ketika kita mati, status kita tercatat sebagai "Penunggu Shalat" (1:10).

Tetapi kalian kan terkadang tidak begitu (1:19). Saat miskin, yang ditunggu adalah: "Kapan saya kaya?" (1:19) Nah, itu namanya "Penunggu Kekayaan" atau "Penunggu Kemapanan" (1:19). Berarti yang ditunggu adalah sesuatu yang menjadi selera nafsu (1:29). Beda halnya jika menjadi penunggu shalat, berarti selama di dunia kita hanya menunggu ritual ibadah (1:29).

Maka di antara ijazah Nabi adalah melakukan satu fardu kemudian menunggu tugas berikutnya (1:42). Niatkan saja seperti itu (1:53). Meskipun kita sedang berada di prapatan (perempatan jalan) sedang cangkrukan, niatkan saja sedang menunggu waktu Ashar (1:53). Tapi ya shalat Ashar betul, jangan hanya menunggu saja tapi pas waktu Ashar tiba malah tidak shalat (2:02).

Sebetulnya beragama bagi umat ini sangat gampang sekali (2:02). Di antara alasan mengapa Allah yubāhī (bangga) kepada para malaikat-Nya adalah karena umat ini mengamalkan addū farīḍatan wantaẓirū ukhrā (2:11).

Konsep dinamis ini juga berlaku dalam urusan kemaslahatan (2:11). Dari yang awalnya mengabdi di kampus, ingin mengabdi di masyarakat (2:21). Dari satu masyarakat lokal di Semarang, berkembang sampai ke Banjarmasin, seperti UNISULA yang mau membuat kampus di sana (2:21). Terus bergerak dari satu tugas ke tugas yang lain (2:31). Makanya Islam mengajarkan, setelah satu tugas selesai, “Fa idzā faraghta fanṣab” (Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain) (2:31).

Sehingga hidup kita itu dinamis: dari satu kebaikan menunggu kebaikan yang lain (2:39). Bayangkan kalau rekam jejak kita di hadapan Allah isinya begini: "Gusti, kulo ampun mati nek dereng sugih" (Ya Allah, jangan matikan saya sebelum saya kaya) (2:50). Padahal sudah telanjur melarat puluhan tahun (3:00). Berarti kita mati dalam keadaan menunggu sesuatu yang sifatnya nafsu (3:00).

Sudah begitu, ingin kayanya pun tidak tulus: "Ingin kaya agar bisa merendahkan orang yang dulu pernah mengejek saya." (3:09) Lho, belum apa-apa kok sudah menyimpan dendam (3:09)? Akhirnya mati sebelum kaya (3:17). Berarti matinya dalam keadaan miskin sekaligus menyimpan hasud (3:17). Itu namanya ngenes (sengsara) dunia akhirat (3:28).

Maka dari itu, santai saja (3:28). Kalau ditakdirkan miskin, anggap saja itu meringankan hisab, karena tidak banyak harta yang harus dipertanggungjawabkan (3:28). Mau menghisab apa kalau tidak punya apa-apa (3:36)?

Menjaga Kebahagiaan dalam Ketaatan

Saya mohon sekali, Islam itu mengawal kebahagiaan (3:36). Bahkan menjadi bahagia itu adalah perintah Islam (3:43). Mengapa? Karena dengan merasa bahagia dalam ketaatan, diharapkan orang Islam tidak mencari kesenangan lewat jalur maksiat (3:43).

Ciri utama seorang wali Allah adalah:

“Alā inna awliyā’allāhi lā khawfun ‘alayhim wa lā hum yaḥzanūn.”
(Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati) (3:57).


Sehingga ulama dulu itu hidupnya rileks serileks-rileksnya (4:08). Termasuk Imam Syafi'i, beliau melihat apa saja selalu dibawa rileks (4:08).

Kalau disenangi orang, alhamdulillah, itu berkah memiliki teman dalam kebaikan (4:18).


Kalau dineng (didiamkan) atau dibenci tetangga, ya alhamdulillah, berkahnya dibenci tetangga adalah mereka tidak akan berani datang untuk berutang atau meminta tolong (4:18).


Rileks saja (4:26)! Imam Syafi'i pernah mengatakan sebuah kalimat masyhur:

“Wa man asā’a ilaika fa qad aṭlaqaka.”
(Orang yang berbuat buruk kepadamu, pada hakikatnya dia telah membebaskanmu) (4:26).


Enak bukan kalau hidup dibawa seperti itu (4:35)? Kalau kalian kan tidak (4:35). "Kok dia membenci saya ya? Salah saya apa?" (4:47) Akhirnya muncul sifat ujub, merasa diri tidak punya salah (4:47).

Sama seperti urusan rumah tangga (4:47). Ketika istri mengomel: "Kurang apa saya sebagai suami?" (4:47) Ya kurang banyak! Sudah tidak tampan, tidak kaya pula (4:55). Kalau diterangkan begitu malah tambah parah, bukan (4:55)? Sudah, rileks saja (5:07). Kalau istri sedang mengomel, anggap saja: "Alhamdulillah, saya dapat pahala sabar tanpa biaya." (5:07) Lagipula mengomel itu butuh energi, paling lama 3 jam juga akan berhenti sendiri (5:07). Ambil nilai positifnya: "Baguslah dia mengomel kepada suaminya sendiri, bayangkan kalau dia mengomel kepada suami tetangga, malah repot nanti." (5:15)

Ulama dulu itu sangat gampang melihat hidup (5:27). Rasulullah ﷺ pun demikian (5:27). Suatu hari beliau bertanya kepada Sayyidatina Aisyah, "Wahai Aisyah, apakah ada sarapan?" (5:36)
"Tidak ada, ya Rasulullah." (5:36)
"Ya sudah, kalau begitu saya berpuasa hari ini." (5:36)
Enteng sekali (5:43)! Nabi itu sangat rileks (5:43).

Mengajarkan kebaikan pun beliau bawa rileks (5:43). Lah, sekarang ini banyak orang—mungkin karena kurang membaca literatur Islam—membuat agama tampak seperti aturan yang bengis, merepotkan, dan mengekang (5:52). Padahal tidak seperti itu (6:01). “Yurīdullāhu bikumul yusra wa lā yurīdu bikumul ‘usr.” (Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu) (6:01).

Pernah ada sahabat yang menjadi makmum shalat jamaah yang diimami oleh sahabat Mu'adz bin Jabal (6:10). Karena Mu'adz membaca Surat Al-Baqarah, sahabat yang bekerja sebagai petani ini memilih mufāraqah (memisahkan diri dari jamaah) lalu menyelesaikan shalatnya sendiri karena harus melanjutkan pekerjaan (6:10).

Mu'adz kemudian melaporkan hal ini kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, orang ini munafik, di tengah-tengah shalat dia mufāraqah meninggalkan saya." (6:10)
Namun, yang disalahkan oleh Nabi bukanlah orang yang memisahkan diri tadi, melainkan Imamnya (6:22). Nabi menegur, "A fattānun anta yā Mu’ādz?" (Apakah kamu mau menjadi penyebar fitnah/troublemaker, wahai Mu'adz?) (6:22) Masa mengimami kaum petani memakai Surat Al-Baqarah (6:31)? Jadi, kalau menjadi imam shalat untuk masyarakat umum, shalatnya harus dipercepat (6:31). Nabi itu sangat memahami keadaan (6:42).

Nabi juga pernah sedang mengajar di masjid, lalu ada tetangga lewat membawa cangkul menuju kebunnya (6:42). Sebagian sahabat nggrundel (menggerutu), "Orang ini bagaimana, ada Nabi sedang mengajar kok malah ditinggal ke kebun, tidak ikut mengaji." (6:59)
Apa jawaban Nabi? "Melihat orang itu, dia sebetulnya sedang mengamalkan sunah saya." (6:59)
Sahabat bertanya, "Kenapa begitu, ya Rasulullah?" (7:07)
"Dia bekerja mencari nafkah yang halal untuk menghidupi keluarganya, dan itu adalah ajaran saya." (7:07)

Jadi, yang mengaji mengamalkan ajaran Nabi, yang tidak mengaji karena bekerja menafkahi keluarga juga mengamalkan ajaran Nabi (7:15). Segampang itu (7:15)! Kisah ini bisa kalian lihat dalam Kitab Ihyā’ ‘Ulūmiddīn pada Bab Faḍīlatul Kasbi (Keutamaan Bekerja/Mencari Nafkah) (7:25).

Makanya penting sekali mendakwahkan Islam itu berdasarkan sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rasulullah ﷺ (7:32).

Manhaj Al-Qur'an dalam Melawan Maksiat

Sesuatu yang dilarang Allah itu pasti membawa mudarat (7:43). Mengapa kita melarang seseorang bergantung pada narkoba atau ganja (7:43)? Bagi ahlullāh (orang-orang dekat dengan Allah), dasarnya tentu karena takut kepada Allah (7:53). Namun secara logika umum, kita membencinya karena efek buruknya nyata: mengakibatkan sakau, menghilangkan kesadaran, hingga kebangkrutan ekonomi (8:03).

Di antara manhaj (metode) Al-Qur'an ketika mentaqbīh (memburuk-burukkan) maksiat adalah dengan memberikan stigma buruk pada perbuatan tersebut (8:18). Seperti ayat: “Innahū kāna fāḥisyah... innahū kāna fāḥisyatan wa sā’a sabīlā.” (Sesungguhnya perbuatan itu adalah suatu kekejian dan seburuk-buruk jalan) (8:28). Ayat ini diulang beberapa kali agar manusia memiliki kecakapan untuk menganggap maksiat sebagai sesuatu yang fāḥisyah—sesuatu yang tidak rasional, tidak positif, dan pasti berdampak negatif (8:28).

Sebagaimana ayat yang dibacakan oleh qari tadi: “Kuntum khayra ummatin ukhrijat linnāsi ta’murūna bil ma’rūfi wa tanhawna ‘anil munkar” (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar) (8:49). Untuk berhenti dari kemungkaran diperlukan taqbīkh (stigmasi buruk) terhadap kemungkaran tersebut (9:01).

Contohnya seperti cara Nabi menyadarkan seorang pemuda yang ingin masuk Islam tapi meminta izin agar tetap boleh berzina (9:13). Permintaan ini tentu agak sableng (19:01). Para sahabat sempat melarang dan menahannya karena permintaannya tidak masuk akal (19:11). Ketika Nabi mendengar kegaduhan itu, Nabi meminta pemuda tersebut dihadapkan kepada beliau (19:19).

Nabi tidak langsung mengancamnya dengan neraka atau azab (19:49). Nabi justru mengajaknya berlogika:
"Atuḥibbuhū li ummik?" (Apakah kamu suka jika ibumu dizinai orang banyak?) (19:57)
Pemuda yang agak preman itu menjawab, "Demi Allah, tidak ya Rasulullah. Orang yang menzinai ibu saya akan saya bacok!" (19:57)
Nabi melanjutkan, "Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada putrimu? Pada bibimu dari jalur ayah? Pada bibimu dari jalur ibu? Pada saudara perempuanmu?" (20:06)
Nabi mengeset ulang logika di otak anak muda itu tentang betapa buruk dan hinanya zina (20:25). Akhirnya pemuda itu berkata, "Hasbuka yā Rasūlallāh (Cukup ya Rasulullah), sekarang tidak ada sesuatu yang paling saya benci melebihi zina." (20:44)

Allah menanamkan rasa benci terhadap zina di hatinya berkat tarbiah (pendidikan) Rasulullah ﷺ (20:54). Ini yang sering lolos dari kita sebagai dai (21:08). Menghindari maksiat itu jangan hanya ditakut-takuti dengan neraka, tapi bangun juga rangkaian pikiran yang logis yang membuat seseorang memiliki harga diri untuk anti terhadap maksiat (21:08).

Problem manusia adalah mereka selalu mencari kebahagiaan atau kesenangan sesaat (9:35). Maka cara melawannya adalah: keinginan senang lewat maksiat harus dilawan dengan rasa nyaman dalam ketaatan (9:48).

Ulama terdahulu memiliki kalimatul munājat—kalimat hubungan pribadi dengan Allah yang membuat hati mereka nyaman (10:00). Ini yang diajarkan dalam kitab-kitab tasawuf (10:12). Tasawuf sukses mengajarkan cara memandang alam raya ini dengan rasa nyaman, termasuk terhadap hal-hal yang mengecewakan (10:12).

Kisah-Kisah Keindahan Hati Para Ulama

Pernah suatu ketika, Imam Ahmad (atau ulama sesaleh beliau) dipanggil oleh seorang pemuda tetangganya (10:23). "Wahai Ahmad, datanglah ke rumah saya." (10:44) Imam Ahmad datang (10:44). Begitu sampai, pemuda itu berkata, "Saya sudah tidak butuh kamu, pulanglah." (10:53) Imam Ahmad pun pulang dengan tenang (10:53).

Sampai di rumah, dipanggil lagi, "Wahai Ahmad, datang ke sini lagi." (10:53) Dipanggil lalu disuruh pulang sampai tiga kali (11:01). Dan ekspresi Imam Ahmad tetap tersenyum, nyaman, tidak tersinggung, dan tidak terprovokasi sama sekali (11:09).

Lama-lama pemuda itu heran dan bertanya, "Wahai Ahmad, kamu saya perlakukan seperti ini kok tidak tersinggung? Malah tersenyum dan tampak happy?" (11:21)
Jawab Imam Ahmad yang unik: "Wahai pemuda, ketika kamu memanggil saya, saya senang sekali karena menuruti perintah Nabi: 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hormatilah tetangganya' (Ikramul Jar) (11:28). Jadi saya senang karena bisa mengamalkan perintah Allah. Saat kamu menyuruh saya pulang, ya saya pulang. Disuruh datang, ya saya datang. Saya tidak ada urusan dengan kamu, urusan saya hanya dengan Allah SWT." (11:56)

Nah, kalau bapak-bapak bisa sabar saat istrinya mengomel, itu bagus (12:04). Jangan mau didikte oleh emosi makhluk (12:12). Masa seorang Rektor, seorang Habib, atau seorang tokoh bisa didikte oleh makhluk (12:20)? Yang berhak mendikte kita hanyalah Allah SWT melalui ajaran-Nya, seperti: “Wa ‘āsyirūhunna bil ma’rūf” (Dan bergaullah dengan mereka secara patut) (12:30).

Cara melihat istri yang cerewet: "Alhamdulillah, ini ada pahala gratis tanpa modal, cukup modal sabar." (12:41) Bayangkan kalau istri sedang mesra, biasanya minta diajak ke mall, biayanya malah tinggi (12:41). Lebih murah mana: dapat pahala lewat dimarahi istri atau lewat menemani ke mall (12:53)? Pilih yang pertama saja, tidak usah modal (13:01)! Jadi kalau istri sedang marah, anggap saja itu rezeki pahala tanpa biaya (13:01).

Ulama dulu melihat dunia itu selalu penuh kebahagiaan (happy) (13:21). Pernah Imam Syafi'i diberi tahu oleh seseorang, "Orang yang tadi mencium tangan Anda dengan takzim, di belakang Anda dia menghujat Anda." (13:21)
Jawab Imam Syafi'i santai, "Ya baguslah." (13:29)
Orang yang melapor kaget, "Kenapa bagus, ya Aba Abdillah?" (13:29)
"Berarti saya masih berwibawa di depannya, sampai dia tidak berani menghujat saya secara langsung." (13:38) Dipandang enteng saja (13:45)!

Pernah juga Imam Syafi'i diberi tahu, "Separuh dari penduduk kampung ini tidak menyukai Anda." (13:54)
Beliau menjawab, "Baguslah." (14:02)
"Kenapa?" (14:02)
"Kalau mereka tidak suka dan tidak rukun dengan saya, mereka tidak akan berani berutang kepada saya." (14:02) Kira-kira yang sering berutang itu teman yang rukun atau orang yang sedang musuhan? Tentu teman yang rukun (14:10). Jadi rukun itu kenikmatan, tidak rukun pun ada sisi kenikmatannya (14:40). Orang dulu serileks itu melihat dunia (14:49).

Meraih Ridha Allah dengan Cara Sederhana

Ulama-ulama dahulu menjadi wali bukan selalu karena jumlah ibadah ritualnya yang sangat banyak (30:50). Ibadah mereka biasa saja, tetapi qulūbuhum ma’allāh (hati mereka selalu lekat dengan Allah) (30:58).

Contohnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz (31:07). Ketika beliau hendak wafat, beliau tampak sangat gembira, sementara orang-orang di sekitarnya menangis (31:28). Beliau bertanya, "Mengapa kalian menangis? Memangnya kalau saya mati, saya mau ke mana? Saya mau menuju kepada Zat yang terbaik (Allah Ar-Hamur Rahimin), daripada hidup di dunia melihat tingkah laku kalian." (31:28)

Sama halnya dengan Jalaluddin Rumi (31:39). Ketika murid-muridnya menangis menjelang wafatnya, beliau justru marah, "Harusnya kalian membuat pesta (malam pertemuan), karena saya akan bertemu dengan Kekasih saya (Allah), malah kalian tangisi. Bodoh sekali kalian." (31:49)

Sebab itu, para wali sering berdoa:

“Waj’al khayra ayyāmī yawma alqāka fīh.”
(Dan jadikanlah hari terbaikku adalah hari saat aku bertemu dengan-Mu) (32:10).


Beda dengan kita yang kalau mendengar kematian bawaannya takut; entah takut dosa, takut Malaikat Izrail, atau takut Malaikat Munkar dan Nakir (32:32). Padahal kata Nabi, cara pandang terhadap hidup dan mati itu simpel saja (32:39):

Jika kita hidup, jadikan hidup sebagai sarana menambah kebaikan (ziyādatan lī fī kulli khayr) (33:09).


Jika kita mati, anggaplah kematian sebagai akhir dari segala potensi keburukan dan dosa kita (wal mawta rāḥatan min kulli syarr) (33:09).


Ke depan, kita masih memiliki potensi berbuat dosa atau maksiat (34:03). Apa yang bisa menghentikan potensi maksiat tersebut? Jawabannya adalah mati (34:03). Berarti mati itu ada sisi baiknya (33:44).

Makanya dalam tradisi ulama pesantren, jika ada orang yang semasa hidupnya dikenal nakal lalu mati, kyainya pasti memimpin kesaksian dengan bertanya kepada pelayat, "Umat ini sae, nggih?" (Orang ini baik, kan?) (33:19). Meskipun para pelayat awalnya ragu, sang kyai tetap menuntun, "Sae, nggih!" (33:36) Mengapa dinilai baik? Karena dengan matinya orang tersebut, dia sudah tidak bisa melakukan maksiat lagi (33:44). Nabi melihat hidup dan mati segampang itu (33:52).

Bahkan, ada ulama yang mengatakan bahwa hukum "mubah" itu sejatinya tidak ada dalam artian kosong (37:33). Mengapa? Karena tidak ada satu pun perkara mubah yang kita lakukan (seperti tidur, mengobrol ringan, atau cangkrukan), kecuali pada saat yang bersamaan kita sedang meninggalkan keharaman (37:55). Dan meninggalkan keharaman hukumnya adalah wajib (38:28). Berarti saat melakukan hal mubah, kita sedang menggugurkan kewajiban meninggalkan maksiat (38:28).

Pernah Syekh Abu Yazid Al-Busthami yang rajin ibadah semalaman bertanya kepada Allah, "Ya Allah, siapakah orang yang maqam (derajat)-nya setara dengan saya?" (38:28)
Allah menjawab, "Orang yang tidur di sebelahmu itu." (38:48)
Abu Yazid heran, "Bagaimana bisa, Ya Allah? Dia kan tidur terus sedangkan saya ibadah?" (38:55)
Dijawab, "Dia tidur berarti dia sukses mengistirahatkan dirinya dari potensi berbuat maksiat." (38:55) Jadi bagi orang yang punya potensi maksiat, tidur itu jauh lebih baik daripada melek tapi keluyuran berbuat dosa (38:55).

Sikap Ulama terhadap Harta dan Jabatan

Ada juga pelajaran penting dari kisah Nabi Ayub AS yang tercantum dalam Shahīh Bukhārī (41:18). Suatu ketika saat beliau sudah kaya raya, beliau sedang berada di kamar, lalu dijatuhi seekor belalang emas (41:50). Beliau mengejarnya dan mengumpulkan belalang-belalang emas tersebut ke dalam sakunya sampai penuh (41:56).

Allah kemudian mengujinya (menggojloknya), "Wahai Ayub, kamu kan sudah menjadi nabi-Ku, mengapa kamu masih begitu rakus mengumpulkan harta sebanyak itu?" (42:07)
Jawaban Nabi Ayub sangat indah: "Ya Allah, siapa yang bisa merasa kenyang dari limpahan rahmat-Mu?" (42:16) Beliau memandang emas itu bukan sebagai materi semata, melainkan sebagai bentuk perwujudan rahmat Allah (42:26).

Sama halnya dengan Imam Syafi'i di masa mudanya (43:02). Dulu beliau hanya mengidolakan guru-guru yang miskin dan hidup bersahaja seperti Sufyan Ats-Tsauri dan Sufyan bin 'Uyainah (43:02). Beliau sempat tidak menyukai guru yang kaya raya (43:02). Namun, guru-gurunya menyarankan agar dia pergi mengaji kepada Imam Malik di Madinah (43:20).

Ternyata, Imam Malik itu luar biasa kaya raya (43:28). Karpet di rumahnya sangat tebal dan halus, kalau mengajar beliau duduk di kursi yang tinggi dan menggunakan wewangian dupa Arab yang sangat mahal (43:28). Ketika Imam Syafi'i sudah dinyatakan alim dan selesai menimba ilmu, Imam Malik membiayai perjalanan Imam Syafi'i ke Irak untuk belajar kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani (murid utama Imam Abu Hanifah) (43:44). Imam Malik membayari sewa kafilahnya (kalau zaman sekarang seperti memesankan Grab) dan memberinya pesangon satu kantong uang emas yang nilainya besar sekali (44:02).

Imam Syafi'i mulai berpikir: "Kiai kaya yang selama ini saya kritik ternyata sangat dermawan, sedangkan kiai miskin yang saya puji-puji belum pernah memberi pesangon sesesar ini karena memang tidak punya." (44:34)

Begitu sampai di Irak bertemu Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, beliau melihat sang ulama pakar ushul fikih tersebut sedang menghitung tumpukan emas dan uang miliaran di ruang tamu, bukan di dalam kamar (44:41).

Melihat Imam Syafi'i yang tampak kaget, Muhammad bin Hasan menegurnya, "Apakah kamu heran melihat ulama memiliki harta sebanyak ini? Sudah, kalau kamu tidak suka ulama kaya, harta ini akan saya serahkan saja kepada orang-orang fasik agar dipakai untuk bersenang-senang, dugem, main perempuan, atau beli narkoba." (45:05)
Imam Syafi'i spontan menjawab, "Jangan, jangan! Lebih baik jenengan saja yang kaya." (45:22)

Semenjak kejadian itu, mindset Imam Syafi'i berubah total (45:30). Pangkat, kedudukan, dan kekayaan jika dikelola oleh orang-orang saleh, maka akan bertransformasi menjadi energi positif yang luar biasa (46:00). Sebaliknya, jika institusi, akreditasi, atau jabatan strategis diabaikan oleh orang saleh karena alasan zuhud yang salah, maka ruang-ruang otoritas tersebut akan dikuasai oleh orang fasik dan digunakan sebagai kekuatan maksiat (45:30).

Jika bupati atau pemimpinnya orang fasik, mungkin kebijakannya adalah mengizinkan perjudian atau tempat maksiat demi menghibur rakyat (46:50). Namun jika yang menjabat adalah orang saleh, maka lahirlah peraturan daerah (perda) yang menolak penyakit masyarakat (47:01). Maka dari itu, kesempatan yang baik harus diperjuangkan oleh orang-orang yang saleh (47:52).

Ulama dulu begitu rileks dalam menafsirkan segala hal karena segalanya dianalisis menggunakan perangkat ilmu (48:29). Ciri utama wali Allah adalah: “Alā inna awliyā’allāhi lā khaufun ‘alayhim wa lā hum yaḥzanūn”—tidak ada rasa takut, tidak ada rasa susah, karena mereka selalu melihat segala sesuatu dengan pandangan yang ringan dan bersandar penuh kepada Allah SWT (50:05).

Semoga berkah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (50:22)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAM NERAKA ATASNYA.... SIAPA SAJA MEREKA & YANG MEREKA LAKUKAN?

PARA SALAF SHOLIH DAN PARA PENGIKUTNYA

BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH