Ceramah Gus Baha' Soal Nasab
Transkrip Ceramah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dari video: https://youtu.be/ukVtxGldWOI?si=EhjHMzzuat8NSEon
Umatnya Nabi seperti itu mulai dulu; ada yang moderat, ada yang keras, ada yang setengah keras setengah moderat, ada pula yang mengambil sikap: “Urip mangan turu, mangan turu, ngenteni mati”
(Hidup hanya makan tidur, makan tidur, menunggu mati) [0:00:00, 0:01:21]. Itu lebih baik ketimbang memiliki ijtihad tetapi tidak jelas [0:00:06].
Mengenai hal itu ada riwayatnya:
“Satakuunu fitanun, al-qaa’idu fiihaa khairun min al-qaa’imi, wal-qaa’imu fiihaa khairun min al-maasyi, wal-maasyi fiihaa khairun min as-saa’ii…” [0:00:14, 0:28:14].
Nanti di akhir zaman itu akan banyak fitnah, kata Rasulullah [0:00:14]. Orang yang duduk lebih baik ketimbang yang berdiri, yang berdiri lebih baik ketimbang yang berjalan, yang berjalan biasa lebih baik ketimbang yang berjalan bergegas [0:00:25, 0:28:32]. “Man tasyarrafa lahaa tastasyriphu”—fitnah itu, siapa yang terlibat di dalamnya, maka ia akan semakin parah [0:00:31, 0:28:39].
Sehingga semenjak itu, ulama berpikir bahwa nanti di akhir zaman kalau ada fitnah, sebaiknya seseorang mengambil sikap sepasif-pasifnya, secuek-cueknya [0:00:31, 0:28:49]. Jadi semua syarah hadis (syuruhul hadits) sepakat, makna hadis ini apa? Orang disuruh bersikap secuek mungkin [0:00:42, 0:28:59].
Bagaimana mungkin makhluk yang sekarang sedang saleh kamu pastikan selalu saleh? Padahal dia makhluk yang bisa berubah [0:00:53, 0:29:58]. Sementara yang B misalnya fasik, lalu kamu berpikir, "Wah, kalau dipimpin si B pasti rusak negara ini." Bagaimana kamu bisa memastikan si B yang fasik akan selalu fasik? Biasa saja, bisa jadi dia husnul khatimah [0:01:03, 0:30:09]. Yang fasik pas memimpin malah jadi saleh, yang saleh pas memimpin justru jadi fasik [0:01:10, 0:30:15].
Akhirnya ulama, karena tahu sifat manusia itu berubah-ubah dan kendali sepenuhnya di tangan Allah, sikapnya menjadi "tidak jelas" [0:01:18, 0:30:20]. Saya ini termasuk orang yang terkenal "tidak jelas" [0:01:18, 0:30:23]. Ikut Pangeran (Allah), siapa pun yang jadi pemimpin, saya loyal [0:01:18, 0:30:23]. Wah, kalau ikut Pangeran ya kacau? Wah, lebih kacau lagi kalau tidak ikut Pangeran [0:01:25, 0:30:30]. Akhirnya ya sudah, kita mau apa coba? [0:01:33]
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wa-shalatu wa-salamu 'ala asyrafal mursalin, nabiyyina wa habibina Muhammadin, wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in. [0:01:33]
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat Rektor, Dekan, dan semua dosen civitas akademika UI (Universitas Indonesia) [0:01:45]. Ini saya mohon maaf, sebetulnya tidak perlu minta maaf karena memang macet tadi, macet di jalan [0:01:57].
Saya mau membaca bab tentang:
“Fashlun fii naf’il ‘ibaad bi-kullil bilaad”
Bab yang menerangkan bahwa seharusnya seseorang memberi manfaat kapan pun dia berada dan di mana pun dia berada [0:01:57, 0:02:08]. Jadi, kapan pun dan di mana pun dia berada [0:02:08]. Allah Ta'ala berfirman menceritakan perkataan Nabi Isa:
“Wa ja’alanii mubaarakan ainamaa kuntu…” (Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada) [0:02:20].
Artinya, “Fii an-naf’i li-’ibaadihi ainamaa kunna” [0:02:20]. Di sini diterangkan: “An-naf’u naf’aani, naf’un fii al-an wa naf’un fii al-abdan, wal-barakah katsiratul iradah…” [0:02:36]. Maka Allah menjadikan Nabi Isa sebagai orang yang memberi manfaat kepada para hamba-Nya di mana pun dan kapan pun berada [0:02:36].
Jadi, yang perlu saya terangkan, di antara sifat dasar orang-orang baik adalah di mana saja dan kapan saja itu selalu memberi manfaat, termasuk tentu saja saat situasi paling sulit [0:02:50]. Jadi Nabi Isa menceritakan dirinya, “Wa ja’alanii mubaarakan ainamaa kuntu”—saya ditakdirkan Allah berada di mana saja selalu membawa berkah dan memberi kemanfaatan bagi orang lain [0:03:05].
Kisah Tiga Pasang Nabi yang Seperiode
Ada beberapa cerita tentang para nabi. Perlu diketahui, ada tiga pasang nabi yang hidup seperiode [0:03:18].
Nabi Ibrahim dan Nabi Luth. Nabi Ibrahim itu dengan Nabi Luth hubungannya adalah paman dan keponakan [0:03:29].
Nabi Musa dan Nabi Harun. Sebetulnya yang utama menjadi nabi itu Nabi Musa, tetapi karena Nabi Musa mengalami alsan (lisannya agak kurang jelas/cadel), beliau meminta kepada Allah supaya Nabi Harun dijadikan nabi juga untuk membantunya [0:03:40].
Nabi Isa dan Nabi Yahya. Nabi Yahya bin Zakaria, sedangkan Nabi Isa ini adalah keponakan Nabi Zakaria. Kira-kira kalau dalam istilah Jawa, hubungan antara Yahya dan Isa itu adalah misanan (sepupu) [0:03:48].
Jadi, ada tiga pasang nabi yang seperiode, tetapi yang paling berkompeten dan sederajat (se-level) itu hanya Nabi Isa dan Nabi Yahya [0:04:08]. Sebab, Nabi Luth dan Nabi Ibrahim itu beda level; karena Luth keponakannya, hubungannya kira-kira seperti murid dan guru [0:04:21]. Nabi Musa dan Nabi Harun juga tidak selevel dalam otoritas, karena Nabi Harun diangkat menjadi nabi atas permohonan Nabi Musa [0:04:30]. Sehingga meskipun Harun itu kakaknya, beliau tidak berani membantah Nabi Musa [0:04:30].
Asal-usul Lisannya Nabi Musa yang Alsak (Cadel)
Dalam cerita beliau, Nabi Musa itu alsak atau altsagh, lisannya agak kelu atau cadel [0:04:39]. Tetapi ini adalah alsak yang membawa berkah [0:04:48].
Dulu ceritanya, Musa kecil—karena beliau seorang calon nabi—kalau melihat Firaun itu marahnya bukan main [0:04:48]. Padahal sejak kecil dirawat oleh Firaun [0:04:56]. Singkat cerita, mulai kecil sudah usil. Kalau melihat Firaun, jenggotnya dipakai mainan, pokoknya nakal [0:04:56, 0:05:04]. Lama-kelamaan Firaun curiga, mengingat Musa ini keturunan Israel. Firaun mulai yakin kalau keusilan anak ini disengaja [0:05:04]. Akhirnya Firaun berniat membunuh Musa [0:05:17].
Tetapi istri Firaun (Asiyah) membela, "Musa itu masih anak kecil." Jadi perbuatannya itu bawaan anak kecil, bukan bawaan kebencian terhadap orang Qibthi (orang Mesir kuno) [0:05:17, 0:05:29]. Dalam bahasa kitab kuno, Mesir itu disebut Egypt, Al-Qibthi, makanya ada sahabat Nabi bernama Mariah Al-Qibthiyah [0:05:29, 0:05:36]. Secara bahasa Arab, kata "Mesir" itu unik, karena Misra itu sebetulnya maknanya adalah kota [0:05:36, 0:05:45]. Kalau kamu bilang, "Kamu mau ke mana?" "Ke Misr (Mesir)." Itu artinya "Ke kota." Nah, kota mana? Ya kota Mesir [0:05:45, 0:05:52]. Itu bisa jadi debat kusir. Sama seperti kita berkata, "Kamu sekolah di mana?" "Di madrasah." Padahal madrasah terjemahannya ya sekolah [0:05:52].
Kemudian oleh istrinya Firaun diusulkan, "Begini saja, buktikan kalau Musa itu memang masih anak kecil (belum berakal)." Masyhur dalam cerita, Musa kecil disuguhi bara api dan buah apel [0:05:57, 0:06:11]. Sebetulnya Musa kecil ini sudah pintar dan mau memilih apel, tetapi oleh Malaikat Jibril tangannya diarahkan untuk mengambil bara api [0:06:11, 0:06:20]. Bara api itu diambil lalu dikunyah [0:06:20]. Itulah yang menyebabkan lisan Nabi Musa menjadi alsak, agak pelat atau cadel [0:06:20, 0:06:29].
Ketika kelak diutus menjadi rasul, hal ini akan merepotkan karena beliau harus menyampaikan risalah tetapi lisannya kurang cakap [0:06:29, 0:06:40]. Akhirnya Nabi Musa bersikap realistis dan berdoa kepada Allah:
“Wa akhii Haaruunu huwa aph-shahu minni lisaanan fa-arsilhu ma’iya rid-an yushaddiqunii…” (Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantu untuk membenarkan perkataanku) [0:06:40, 0:06:52].
Akhirnya Allah mengabulkan doa Nabi Musa, kemudian Harun dijadikan sebagai rasul [0:07:04]. Sehingga meskipun satu angkatan, Harun dan Musa ini tidak selevel, artinya Harun sangat segan dan patuh kepada Musa [0:07:04].
Perbedaan Manhaj Dakwah Nabi Yahya dan Nabi Isa
Yang ketiga, Nabi Yahya dan Nabi Isa [0:07:12]. Umur mereka seangkatan, kecerdasannya dan waktu pengangkatan nabinya pun sama-sama sejak kecil [0:07:12, 0:07:20]. Kita tahu Nabi Yahya termasuk yang diberi khitab oleh Allah:
“Yaa Yahyaa khudzil-kitaaba bi-quwwatin, wa aatainaahul-hukma shabiyyaa” (Wahai Yahya, ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh, dan Kami berikan kepadanya hikmah/kenabian selagi ia masih anak-anak) [0:07:20, 0:07:31].
Sama halnya dengan Nabi Isa yang dinyatakan dalam Al-Qur'an: “Wa yukallimun-naasa fii al-mahdi wa kahlaa…” (Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa) [0:07:31, 0:07:45].
Karena selevel, kedua nabi ini menjadi figur besar dalam manhaj (metode) dakwah [0:07:45]. Karena hubungannya sepupu, kedua nabi ini memiliki pendekatan berbeda saat mengunjungi suatu daerah [0:07:57].

Nabi Yahya: Jika singgah di suatu kampung, beliau pasti bertanya, "Orang sini yang paling saleh siapa? Yang paling baik siapa?" Lalu beliau bertamu dan menginap di rumah orang baik tersebut [0:07:57, 0:08:15].

Nabi Isa: Sebaliknya, Nabi Isa akan bertanya, "Orang sini yang paling nakal siapa? Yang paling bajingan siapa?" Lalu Nabi Isa singgah di tempat orang nakal itu [0:08:15, 0:08:24].
Akhirnya muncul pertanyaan dari Nabi Yahya: “Lima tanzilu ‘alaa syiraarin-naas?” (Mengapa kamu selalu singgah di tempat orang-orang yang nakal?) [0:08:24, 0:08:34]. Masyhur sekali, Nabi Isa menjawab:
“Innamaa ana thabiibun, udaawil-mardhaa.” (Sesungguhnya aku ini ibarat seorang dokter, dan pekerjaanku tentu menyembuhkan orang-orang yang sedang sakit) [0:08:34, 0:08:44].
Kedua nabi ini sering berdebat—tentu saja debat yang baik (mujadalah hasanah)—dan itu menjadi punjer (pusat/inti) ilmu yang melahirkan manhaj ilmu yang besar antara Yahya dan Isa [0:08:44, 0:08:55].
Nabi Yahya itu pembawaannya tampak tegang dan panik saking takutnya kepada Allah [0:08:55, 0:09:02]. Sedangkan Nabi Isa itu pembawaannya rileks; berkumpul dengan orang nakal pun beliau tetap rileks [0:09:02, 0:09:15]. Akhirnya ada tanya-jawab yang sekaligus memicu dua manhaj berbeda [0:09:15].
Nabi Isa bertanya, "Mengapa kamu sering bermuka masam (abasa)?" [0:09:15, 0:09:24]. Sebaliknya Nabi Yahya bertanya, "Kenapa kamu sering tersenyum dan tertawa? Seakan-akan (ka-annaka) kamu sudah merasa aman dari makar dan azab Allah (makrillah), seolah-olah kamu orang paling benar yang tidak akan pernah salah." [0:09:24, 0:09:45]. Nabi Isa membalas, "Kamu sendiri sering bermuka masam seakan-akan (ka-annaka) kamu sudah putus asa dari rahmat Allah (rahmatillah)." [0:09:45, 0:09:53].
Hal ini kemudian menjadi manhaj besar dalam Islam [0:09:53]. Kalau terlalu banyak tersenyum, dianggap sebagai orang yang tidak punya perasaan bersalah atas dosa [0:09:53, 0:10:03]. Tetapi kalau terlalu masam dan merengut, seakan-akan rahmat Allah itu sempit dan tidak cukup untuk mengelola manusia [0:10:03, 0:10:12].
Ulama Ummati ka-Anbiya’i Bani Isra’il
Masyhur dalam sebuah hadis, Nabi bersabda: “’Ulamau ummatii ka-anbiyaa’i Bani Israa’iil” (Ulama umatku itu kapasitasnya atau fungsinya setingkat dengan nabi-nabi Bani Israel) [0:10:12, 0:10:21]. Karena ketika umat ini tidak lagi ditunggui oleh para nabi setelah Rasulullah SAW, maka yang menjaga dan menuntun umat hanyalah ulama [0:10:30, 0:10:41]. Ulama ini sudah cukup mewakili peran para nabi Bani Israel [0:10:41].
Banyak syarihul hadits (para penyusun syarah hadis) menjelaskan mengapa Nabi tidak bersabda "Ulama umatku seperti diriku (kamitslii)", melainkan "seperti nabi-nabi Bani Israel" [0:10:41, 0:10:51]. Sebab, nabi-nabi Bani Israel itu karakternya bermacam-macam [0:10:51, 0:11:04]. Di antaranya ada yang memilih tidak menikah, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa [0:11:04].
Di kalangan umat Nabi Muhammad pun ada orang yang alim 'allamah yang ilmunya melegenda, yaitu Imam An-Nawawi, yang tidak menikah sampai wafat (kapundut) [0:11:04, 0:11:16]. Meskipun dalam ajaran syariat Nabi dinyatakan “An-nikaahu sunnatii” (Nikah adalah sunnahku), selalu ada orang yang ditakdirkan tidak menikah karena masyghul—sangat sibuk mengurus dan mengabdi pada ilmu, bukan karena tidak laku [0:11:16, 0:11:25]. Jelas sekali bukan karena tidak laku; Imam An-Nawawi itu orangnya tampan dan normal, tetapi karena sibuk menulis, beliau sampai wafat tidak sempat menikah [0:11:25, 0:11:35].
Imam Sibawaih juga sama, beliau sangat mencintai ilmu sehingga "istri utamanya" ya ilmu itu sendiri [0:11:35, 0:11:40]. Arti nama Sibawaih itu adalah aroma apel, karena beliau sangat tampan sampai banyak wanita yang menyukainya [0:11:40, 0:11:47]. Akhirnya beliau menikah, tetapi tidak pernah menggauli istrinya karena belajar terus [0:11:47]. Pernah suatu ketika beliau ke pasar—dulu belum ada supermarket—untuk membeli kertas, kitab-kitabnya justru dibakar semua oleh istrinya karena cemburu dikira suaminya menduakannya. Akhirnya sang istri malah diceraikan oleh Imam Sibawaih [0:11:47, 0:12:03].
Lalu ada lagi kisah umat Nabi yang paling unik di dunia. Mungkin Pak Dosen atau kiai pun tidak akan bisa menirunya [0:12:03, 0:12:12]. Ada sepasang suami istri; suaminya tampan sekali, istrinya cantik sekali [0:12:12]. Tahu-tahu sudah 10 tahun membina rumah tangga, mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri [0:12:12, 0:12:19]. Kisahnya, ketika malam pertama si suami melihat istrinya begitu cantik, dia langsung melakukan sujud syukur dan shalat terus saking bahagianya dianugerahi istri yang cantik dan salehah [0:12:19, 0:12:28]. Begitupun sang istri, melihat suaminya begitu tampan, dia juga shalat syukur terus-menerus [0:12:28, 0:12:35]. Hal itu berlangsung berhari-hari sampai bertahun-tahun [0:12:35].
Hingga suatu hari mereka mengobrol, "Dik, kita ini sudah menikah berapa lama ya?" Setelah dihitung, rasanya sudah 10 tahun tetapi belum pernah berhubungan badan [0:12:35, 0:12:44]. Oh, itu tidak terbayangkan! Kalau ketampanan dan kecantikan bertemu mungkin begitu. Tapi kalau sama-sama kurang menarik, mungkin yang satu langsung minta cerai (nunggu rapak). Nah, ini sama-sama rupawan [0:12:44, 0:12:53].
Mengapa kualitas ulama Rasulullah bisa seperti nabi Bani Israel? Karena agama dan umat ini sudah tidak ditunggui langsung oleh nabi, sehingga mau tidak mau kualitas ulamanya—berkat berkah (barokah) Nabi—dibuat berkualitas seperti para nabi Bani Israel [0:12:53, 0:13:11].
Cerminan Karakter Para Nabi pada Sahabat Nabi
Hal ini penting saya utarakan supaya bisa dicek dalam hadis-hadis sahih [0:13:11, 0:13:23]. Misalnya begini, ketika Nabi memenangkan Perang Badar, ada para tawanan perang (asraa Badr) [0:13:23]. Nabi suka bermusyawarah dan berembuk [0:13:23, 0:13:33].
Nabi bertanya, "Wahai Abu Bakar, menurutmu tawanan ini sebaiknya diapakan?" Abu Bakar menjawab, "Hum 'asyiiratuka (Mereka itu keluargamu sendiri), orang-orang Quraisy. Sebaiknya dibebaskan saja dengan syarat membayar tebusan. Nanti uang tebusan itu kita kelola untuk memperkuat Islam, dan mereka pun akan merasa berutang jasa karena yang seharusnya dihukum mati justru kita bebaskan." [0:13:33, 0:13:53].
Lalu Nabi bertanya, "Bagaimana kalau menurutmu, wahai Umar?" Umar menjawab, "Mereka ini kan orang-orang yang dulu ingin membunuhmu, menghabisimu, dan sudah mengusirmu. Setelah tertangkap, ya dihukum mati saja, kok repot?" [0:13:53, 0:14:10].
Mendengar hal itu, Rasulullah spontan bersabda:
“Inna mitslaka yaa Abaa Bakrin ka-mitsli Ibrahim…” (Sesungguhnya perumpamaanmu wahai Abu Bakar, seperti Nabi Ibrahim) [0:14:10].
Nabi Ibrahim itu unik, cara memandang umatnya dipenuhi dengan rasa syafaqah (sangat penuh kasih sayang) [0:14:21]. Cara berpikir Nabi Ibrahim adalah:
“Fa-man tabi’anii fa-innahu minnii, wa man ‘ashaanii fa-innaka ghafuurun rahiim” (Maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) [0:14:21, 0:14:42].
Jadi, orang yang mendurhakai beliau tidak langsung didoakan masuk neraka, melainkan diserahkan kepada Allah yang Maha Pengampun [0:14:42, 0:14:50].
Lalu Nabi bersabda kepada Umar, "Wahai Umar, kamu ini mirip dengan Nabi Nuh." Nabi Nuh itu inginnya semua orang kafir dihabisi di muka bumi [0:14:50, 0:15:02]. Masyhur doa Nabi Nuh agar jangan ada orang kafir yang tersisa, hingga diturunkanlah banjir topan [0:15:02].
Kalau kalian bertanya, "Lalu apa bedanya dengan kelompok garis keras zaman sekarang?" Bedanya ya jauh sekali! Kalau Nabi Nuh, rasa benci beliau kepada orang kafir itu diserahkan sepenuhnya kepada pemiliknya, yaitu Allah. Sehingga Allah sendiri yang menghukum mereka dengan banjir bandang [0:15:02, 0:15:16]. Sedangkan kita sekarang kadang bertindak dan menghakimi sendiri, sehingga berpotensi salah [0:15:16, 0:15:24].
Maka dalam hadis-hadis sahih disebutkan bahwa kelak di padang mahsyar, Nabi Nuh tidak bisa memberikan syafaat [0:15:24]. Salah satu sebabnya adalah beliau pernah maksudno (menyumpahi/mendoakan buruk) kaumnya [0:15:24, 0:16:01]. Ini adalah hadis sahih, ada di kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim [0:15:24, 0:15:35]. Untungnya, orang-orang di kota yang bertanya kadang juga tidak terlalu paham hadis, jadi amanlah [0:15:35, 0:15:42].
Dalam bahasa Arab, kata da'aa zadin (menggunakan lam) berarti mendoakan kebaikan, sedangkan da'aa 'alaihi berarti mendoakan keburukan [0:15:42, 0:16:01]. Orang Jawa menyebutnya ada doa dan ada pasod (sumpah serapah). Nabi Nuh adalah orang yang pernah mendoakan keburukan bagi kaumnya [0:16:01].
Kutub Wali: Mazharul Jalal dan Mazharul Jamal
Saya cerita sedikit tentang komparasi akademik ini. Ada ulama besar namanya Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah yang sangat masyhur di Indonesia [0:16:20, 0:16:30]. Pernah ada seorang muridnya meminta ijazah, "Wahai Abul Hasan Asy-Syadzili, tolong saya diberi ijazah agar saya tidak pernah berbuat maksiat lagi di bumi ini. Karena saya sangat takut kepada Allah, dan jika bermaksiat saya merasa tidak nyaman dengan-Nya." [0:16:31, 0:16:46].
Mendengar hal itu, Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili malah marah besar, "Apakah kamu ingin agar sifat Maghfirah (Maha Pengampun) Allah tidak tampak lagi di bumi ini? Kalau kamu tidak pernah maksiat, berarti maghfirah Allah tidak akan terlihat karena tidak ada yang diampuni." [0:16:46, 0:16:56]. Tentu ini adalah konteks diskusi ilmiah (cerita ilmiah), bukan berarti mendukung orang untuk berbuat maksiat [0:16:56, 0:17:04].
Sebaliknya, ada Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (shohibul ratib). Suatu ketika ada orang fasik hidup berkeliaran mengganggu ketertiban masyarakat dan ketertiban agama [0:17:04, 0:17:12]. Lalu ada seorang kiai mendoakan agar orang fasik itu diberikan pertobatan atau diberikan panjang umur agar nanti bisa bertobat [0:17:12].
Mendengar doa itu, Habib Abdullah Al-Haddad justru marah besar, beliau menyitir riwayat: “Man da’aa li-zhaalimin bil-baqaa’i fa-qad ahabba an yu’shallaahu fii ardhih” (Barangsiapa mendoakan orang zalim/fasik agar panjang umur, berarti dia senang Allah didurhakai di bumi-Nya) [0:17:12, 0:17:32].
Akhirnya, jalur ini melahirkan dua kutub tarekat yang besar; yang satu Tarekat Syadziliyah dan yang satu Tarekat Haddadiyah [0:17:32, 0:17:41]. Mengapa? Karena yang satu merupakan cerminan karakter Nabi Isa, dan yang satu lagi cerminan karakter Nabi Yahya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “’Ulamau ummatii ka-anbiyaa’i Bani Israa’iil.” [0:17:41, 0:17:50].
Dalam aplikasi pengajaran pun demikian [0:17:51]. Diceritakan dalam kitab-kitab, jika ada orang sowan ke Habib Abdullah Al-Haddad, beliau akan bertanya, "Kamu mengaji kepada siapa?" "Kepada si A." "Pernahkah dia menangis saat mengajar?" "Tidak pernah." Kata beliau, "Sudah, tidak usah diteruskan mengaji kepada orang seperti itu, hatinya keras (atine atos) karena tidak bisa menangis." [0:17:51, 0:18:17].
Sebaliknya, jika orang sowan ke Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dan ditanya hal yang sama, "Pernahkah gurumu tertawa atau bercanda saat mengajar?" "Tidak pernah." Kata beliau, "Sudah, tidak usah mengaji kepada orang itu, dia orang yang tidak bisa bersyukur." [0:18:17, 0:18:26].
Akhirnya orang-orang seperti kita ini menjadi tidak jelas semua; menangis ya bisa, tertawa (guyu) ya bisa [0:18:26, 0:18:33]. Cuma celakanya, kalau kita menangis itu biasanya karena tidak punya uang, dan kalau tertawa karena sedang punya uang [0:18:33, 0:18:40]. Itu masalahnya. Tetapi kalau para wali dulu tidak begitu. Kalau mereka tersenyum, itu saking yakinnya bahwa rahmat Allah itu sangat luas (wa-wasi’at rahmatahu). Dan kalau mereka menangis, itu karena takut akan azab Allah [0:18:40, 0:18:46]. Kalau kita kan sangat materialistik [0:18:46].
Sebenarnya, menangis dan tersenyum itu adalah suatu keharusan karena Allah memiliki Mazharul Jalal (penampakan keagungan-Nya) dan Mazharul Jamal (penampakan keindahan-Nya) [0:18:55]. Ketika Allah menampakkan sifat keagungan-Nya, maka kita semestinya merasa takut dan bergetar, sehingga merengut atau menangis [0:18:55, 0:19:03]. Tetapi terkadang Allah menampakkan Diri sebagai Mazharul Jamal, sehingga memunculkan rasa cinta (asyik) dan kegembiraan, maka orang yang merengut justru salah [0:19:03, 0:19:13]. Makanya dalam ilmu tasawuf, kutub kewalian itu hanya terbagi dua: yaitu mereka yang berada di maqam Mazharul Jalal atau di maqam Mazharul Jamal [0:19:13, 0:19:23].
Contoh Mazharul Jalal adalah ketika Nabi Musa saking rindunya ingin melihat Allah, beliau berdoa: “Rabbi arinii anzhur ilaik” (Ya Tuhanku, tampakkanlah Diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu) [0:19:23, 0:19:34]. Allah menanggapi dengan Jalal-Nya. Sifat Allah itu Qadim (Maha Terdahulu/Abadi) dan Superior, tentu tidak layak tersentuh oleh barang yang hadits (makhluk yang baru/profan) [0:19:34, 0:19:42]. Sehingga ketika “Fa-lammaa tajallaa rabbuhu lil-jabali ja’alahu dakkan wa kharra Muusaa sha’iqaa” (Maka tatkala Tuhannya menampakkan Diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan) [0:19:42, 0:19:51].
Bagaimanapun hebatnya seorang nabi, dia tetaplah makhluk yang fana dan tidak akan kuat menampung Zat yang Qadim [0:19:51, 0:20:02]. Gunung pun hancur dan Nabi Musa pingsan [0:20:02, 0:20:10].
Namun, ketika Allah menampilkan Mazharul Jamal—Allah dengan keindahan dan kasih sayang-Nya memberikan hak kepada makhluk-Nya untuk melihat Diri-Nya kelak di akhirat [0:20:10, 0:20:20]. Ayat Al-Qur'an menyebutkan: “Wujuuhun yauma’idzin naadhirah, ilaa rabbihaa naazhirah” (Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat) [0:20:20].
Tetapi apakah melihat-Nya itu seperti saya melihat Pak Dosen, melihat Pak Rektor, atau melihat teman-teman? Tentu tidak bisa, karena Allah tetap menggariskan: “Laa tudrikuhu al-abshaaru wa huwa yudriku al-abshaar” (Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan) [0:20:29, 0:20:38]. Karena di balik Jamal-Nya Allah juga memiliki Jalal-Nya, dan di balik Jalal-Nya Ia juga memiliki Jamal-Nya [0:20:38, 0:20:47]. Di dalam Al-Qur'an hal ini diulang beberapa kali supaya pemahaman kita proporsional [0:20:47].
Logika Teologis Ahlu Sunnah wal Jama'ah
Mengapa Ahlussunnah wal Jama'ah tetap berkeyakinan bahwa Allah bisa dilihat di akhirat nanti? Logikanya begini: “Fa-inna kulla maujuudin yushahhu an yuraa” (Sesungguhnya setiap yang ada/wujud itu sah dan logis untuk dapat dilihat) [0:20:58]. Allah itu Zat yang nyata-nyata wujud dan memiliki eksistensi [0:21:07]. Di mana-mana, sesuatu yang wujud itu layak untuk bisa dilihat [0:21:07].
Lalu pertanyaannya, kenapa kita tidak bisa melihat Allah sekarang dan harus menunggu di akhirat nanti? Karena mata kita sekarang ini masih bersifat profan dan fana [0:21:08, 0:21:18]. Sementara kelak setelah kita berada di surga, fisik dan tubuh kita didesain oleh Allah untuk menjadi abadi [0:21:18, 0:21:26]. Karena desain fisik kita sudah abadi, maka kita menjadi layak untuk melihat Zat yang Maha Abadi [0:21:26, 0:21:35].
Tetapi pertanyaannya, kenapa kita tidak bisa meliputi (ihathah) atau melihat sampai paham betul hakikat Zat-Nya? Kembali ke ayat “Laa tudrikuhu al-abshaar” [0:21:35, 0:21:44]. Sifat abadi kita makhluk adalah "diabadikan" (surga diabadikan, neraka diabadikan), sedangkan Allah abadi dengan Diri-Nya sendiri, yaitu Al-Qayyum atau Qiyamuhu bi-nafsihi (berdiri sendiri) [0:21:44, 0:21:54].
Oleh karena itu, kaum Mu'tazilah menentang keras pendapat bahwa orang di surga bisa melihat Allah [0:21:54]. Cara berpikir Mu'tazilah: melihat itu berarti yang dilihat harus berada di suatu arah atau tempat, sementara Allah itu maha suci dan terbebas dari arah dan tempat [0:21:54, 0:22:04]. Namun bagi Ahlussunnah, cara berpikirnya tidak melulu seperti itu [0:22:11]. Melihat itu esensinya adalah menjadi tahu [0:22:11]. Dan proses menjadi tahu itu tidak melulu harus lewat mata lahiriah, melainkan tahu ya tahu saja [0:22:12, 0:22:26]. Itulah cara berpikir Ahlussunnah wal Jama'ah [0:22:26].
Saya beri bocoran mengapa mazhab Ahlussunnah ini dipilih oleh mayoritas (jumhur) ulama di dunia; karena Ahlussunnah dianggap memiliki pikiran yang lebih orisinal [0:22:26, 0:22:35]. Misalnya kalau Ahlussunnah ditanya, "Kenapa kamu melihat?" "Ya karena melihat saja." "Kenapa kamu mendengar?" "Ya karena mendengar saja." Kesannya memang tidak rasional seperti jawaban orang yang kurang pintar [0:22:35, 0:22:43]. Tetapi sebetulnya, secara hakikat itulah yang benar [0:22:43, 0:22:51].
Bagi Ahlussunnah, esensi melihat itu adalah menjadi tahu [0:22:51]. Menjadi tahu itu bisa lewat mendengar, melihat, dikasih tahu, atau bersentuhan [0:22:51, 0:23:01]. Sebab itu di dalam Al-Qur'an ada ayat: “Alaa ya’lamu man khalaqa?” (Apakah Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui?) [0:23:01, 0:23:11].
Mengapa Allah selalu tahu? Karena Allah yang menciptakan [0:23:11]. Kalau pengetahuanmu bersandar pada mata, maka saat jaraknya jauh kamu tidak akan melihat, atau jika matamu buta kamu tidak tahu, atau jika barangnya tertutupi kamu juga tidak tahu [0:23:11, 0:23:27]. Tetapi kalau kamu tahu karena kamu yang menciptakan barang itu, maka pengetahuanmu akan konstan dan terus-menerus [0:23:27, 0:23:37].
Misalnya, saya ini seorang tukang batu [0:23:37]. Saya ingat betul ketika saya ikut membangun Monas, pulpen saya tertanam di dalam struktur bangunan Monas [0:23:37, 0:23:45]. Saya ingat pulpen saya berwarna putih, tertanam 2 meter dari pondasi [0:23:45]. Setelah saya pulang ke Jogja dan ditanya orang, "Di dalam Monas ada apa?" "Ada pulpen, posisinya 2 meter dari pondasi." Kenapa saya tahu? Karena saya yang menaruh dan "menciptakan" posisi itu [0:23:45, 0:23:57]. Karena faktor penciptaan itulah tahu saya menjadi terus-menerus [0:23:57]. Berbeda jika tahu karena mata; begitu barangnya tertutup dinding, kita sudah tidak tahu lagi [0:23:57, 0:24:06].
Kalau ada yang memprotes, "Tetapi bisa saja Gus, barang itu dicuri orang kemudian Anda tidak tahu?" Mengapa saya menjadi tidak tahu? Karena saya sudah tidak menciptakan atau mengendalikan suasana itu lagi [0:24:14, 0:24:27]. Selama saya yang menciptakan dan mengendalikannya, maka saya akan tahu terus [0:24:27]. Karena Allah yang menciptakan segala hal yang ada di bumi ini, maka Allah tahu terus [0:24:27, 0:24:34]. Allah tahu cara membuat kuman, tahu bahwa kuman memiliki organ tubuh, dan organ tubuh kuman tersebut ternyata juga ditempeli kuman lagi [0:24:34, 0:24:43]. Sungguh tidak terbayangkan oleh logika kita [0:24:43].
Maka dari itu Allah berfirman: “Innallaaha laa yastahyii an yadhriba matsalan maa ba’uudhatan fa-maa fauqahaa…” (Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu) [0:24:43, 0:24:52]. Mengapa nyamuk? Karena penciptaan nyamuk itu sebenarnya jauh lebih dahsyat ketimbang gajah [0:24:52]. Para pematung jika disuruh membuat patung gajah, mereka masih sanggup [0:24:52, 0:25:03]. Tetapi kalau disuruh membuat patung nyamuk—tidak usah disuruh menghidupkannya, patungnya saja sekecil itu—pasti kesulitan [0:25:03, 0:25:11]. Padahal nyamuk sekecil itu memiliki organ tubuh yang lengkap di dalamnya [0:25:11]. Bagaimana struktur organ tubuh nyamuk itu? Organnya punya kuman, kumannya punya organ lagi, dan organnya punya kuman lagi [0:25:11, 0:25:21].
Maka bagi orang-orang alim, membaca dan merenungkan penciptaan nyamuk itu lebih menjadi ayat (tanda kebesaran) Allah ketimbang sekadar melihat dinosaurus [0:25:21, 0:25:31]. Tetapi orang awam sekarang kan tidak tertarik dengan analogi seperti itu [0:25:31]. Perasaan orang alim dengan orang awam itu berbeda [0:25:31, 0:25:42]. Kalau orang awam melihat mukjizat atau tanda kebesaran itu harus yang tampak dahsyat secara fisik, seperti dinosaurus atau gajah yang besar baru berkomentar, "Wow!" [0:25:42]. Sedangkan orang alim tidak, mereka melihat nyamuk saja sudah mengagumi kebesaran Allah [0:25:42, 0:25:48].
Kealiman seperti inilah yang senantiasa terjaga di dalam umat nabi Muhammad SAW [0:25:48, 0:25:58]. Karena ketika umat ini tidak ditunggui langsung oleh para nabi, Allah menjamin melalui lisan Rasul-Nya bahwa ulama umat ini diberi kemampuan pewarisan seperti nabi-nabi Bani Israel—tentu saja bukan dalam hal keutamaan derajat kenabian (fadilah) [0:25:58, 0:26:07].
Bersandar pada Sifat Tauhid Allah dalam Menghadapi Zaman
Mengapa hal itu terjadi? Karena para nabi terdahulu mewakili sekian banyak karakter [0:26:07]. Kalau kita sangat mencintai Indonesia, maka kita akan bersikap tegas kepada siapa pun yang ingin menghancurkan Indonesia; itu kira-kira cerminan karakter dari Nabi Nuh [0:26:07, 0:26:16]. Kalau kita sangat mencintai Allah, maka kita akan benci sebenci-bencinya kepada orang yang mendurhakai Allah [0:26:16, 0:26:23].
Tetapi masalahnya, Allah yang kita cintai itu memaklumatkan Diri-Nya memiliki sifat Al-Ghafur (Maha Pengampun) [0:26:23, 0:26:33]. Jadi kalau kita bersikap terlalu kasar kepada hamba-Nya, bukankah Zat yang kita cintai itu justru bersifat Maha Pengampun? Di sinilah posisi Nabi Ibrahim [0:26:33, 0:26:41]. Beliau sebetulnya sangat jengkel kepada orang yang durhaka kepada Allah, tetapi bagaimana bisa terus-menerus jengkel sementara Zat yang mengenalkan tauhid itu bersikap Maha Pengampun? Maka mau tidak mau, ada riwayat yang mengatakan: “Takhallaquu bi-akhlaaqillah” (Berakhlaklah kalian dengan akhlak-akhlak Allah) [0:26:41, 0:26:48]. Akhirnya ya sudah, kita mau apa coba? [0:26:48, 0:27:03]
Kira-kira kalau kamu mencintai seseorang, potensinya kan ada dua [0:27:03]. Pertama, bersikap protektif [0:27:03]. Ada telepon masuk langsung diinterogasi, "Ini dari siapa? Wanita atau pria?" Sikap protektif itu bukti cinta atau bukti suuzan (berprasangka buruk)? Kita kan tidak tahu [0:27:03, 0:27:12]. Kedua, misalnya kamu cinta pada seorang wanita, lalu dia berkirim pesan dengan lelaki lain kamu biarkan, jalan dengan lelaki lain kamu biarkan, bernostalgia dengan mantan pacarnya juga kamu biarkan [0:27:12, 0:27:22]. Apakah itu bukti cinta atau sekadar pembiaran? Sama-sama tidak jelas [0:27:22, 0:27:29].
Nah, analogi mencintai Allah itu kira-kira seperti itu [0:27:29]. Golongan yang satu bersikap protektif: Allah harus menjadi satu-satunya Zat yang disembah, tidak boleh didurhakai, dan tidak boleh dikhianati, sehingga bawaannya sangat keras dan tegas sekali; ini jalurnya Nabi Nuh [0:27:29, 0:27:37]. Di sisi lain ada jalurnya Nabi Ibrahim, karena Zat yang kita cintai itu bersifat Maha Pengampun, maka jika kita terlalu tegas dan kaku, justru tidak selaras dengan sifat Ghafur-Nya Allah [0:27:37, 0:27:51].
Umat Nabi sejak dulu memang terbagi seperti itu; ada yang moderat, ada yang keras, ada yang setengah keras setengah moderat, dan ada yang mengambil sikap pasif: "Urip mangan turu, mangan turu, wis ngenteni mati" (Hidup hanya makan tidur, makan tidur, menunggu mati) [0:27:51, 0:28:00]. Sikap pasif itu jauh lebih baik ketimbang memiliki ijtihad pemikiran tetapi arahnya tidak jelas [0:28:00, 0:28:06].
Mengenai hal ini ada riwayat di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim: suatu saat ibadah terbaik akhir umatku adalah tidur [0:28:06, 0:28:14]. Maksudnya tidur di sini adalah tidak ikut mengambil sikap atau memperkeruh keadaan di tengah fitnah [0:28:14]. Masyhur riwayatnya:
“Satakuunu fitanun, al-qaa’idu fiihaa khairun min al-qaa’imi, wal-qaa’imu fiihaa khairun min al-maasyi…” [0:28:14].
Artinya nanti di akhir zaman banyak fitnah, orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan biasa, yang berjalan biasa lebih baik dari yang berjalan bergegas [0:28:24, 0:28:32]. Barangsiapa yang mendekati fitnah tersebut, maka fitnah itu akan menyeretnya [0:28:39].
Sehingga semenjak itu, ulama berpikir jika kelak terjadi fitnah sosial atau politik, sebaiknya orang mengambil sikap sepasif mungkin, secuek mungkin [0:28:39, 0:28:49]. Semua syarah hadis sepakat, makna hadis ini adalah perintah untuk bersikap cuek [0:28:49, 0:28:59].
Contoh kecil dalam urusan pemilihan presiden [0:28:59]. Mungkin para intelektual tidak terlalu merasakannya, tetapi ulama memiliki cara berpikir yang berbeda [0:29:11]. Dalam pemilihan presiden, bupati, atau gubernur, kubu yang satu fanatik memilih si A dan kubu lainnya fanatik milih si B [0:29:11, 0:29:17]. Kubu A berkata, "Wah, kalau negara ini tidak dipimpin si A, tidak dibupateti si A, negara ini akan rusak!" Mungkin pendapat itu ada benarnya dari segi rekam jejak si A yang bagus [0:29:17, 0:29:25].
Tetapi pertanyaannya, secara ketauhidan, bagaimana bisa Anda menggantungkan nasib kesejahteraan sebuah bangsa mutlak kepada makhluk? [0:29:25, 0:29:34]. Pemikiran tauhid Anda tidak terusik dengan kalimat seperti itu? Bagi intelektual mungkin itu hal biasa, tetapi bagi ulama, ungkapan "Kalau dipimpin si A pasti Indonesia makmur, kalau dipimpin bupati A pasti Sleman atau Bantul makmur" itu melukai tauhid [0:29:34, 0:29:58].
Bagaimana mungkin makhluk yang sekarang sedang tampak saleh bisa kamu pastikan akan selalu saleh? Padahal dia makhluk yang dinamis dan bisa berubah [0:29:58, 0:30:08]. Sementara si B yang dinilai fasik, bagaimana kamu bisa memastikan si B yang fasik akan selamanya fasik? Biasa saja, bisa jadi di akhir hayatnya dia husnul khatimah [0:30:08, 0:30:15]. Banyak kejadian orang yang fasik pas memimpin malah berubah menjadi saleh, dan orang yang saleh pas memimpin justru tergoda menjadi fasik [0:30:15].
Akhirnya ulama, karena tahu sifat manusia itu fluktuatif dan kendali bolak-baliknya hati ada di tangan Allah, memilih bersikap "tidak jelas" [0:30:15, 0:30:23]. Saya ini termasuk orang yang terkenal tidak jelas dalam urusan politik [0:30:23]. Kalau ditanya, "Gus, sampean milih presiden mana?" Saya ikut ketetapan Pangeran (Allah) saja, siapa pun yang ditakdirkan jadi pemimpin, saya loyal [0:30:23, 0:30:30]. Pemikiran ulama memang berbeda dan tidak melulu bersambung dengan pola pikir politik praktis [0:30:30, 0:30:47].
Bahkan bapak saya dulu ketika mendidik saya, caranya begini [0:30:47]. Kalau mengirimi saya uang pondok dulu lewat wesel, misalnya jatah saya Rp500.000, bapak pasti menambahkan Rp100.000 [0:30:47, 0:30:58]. Tambahannya itu diniatkan, "Ini uang untuk kamu jajan bersama teman-temanmu." Jadi selalu ada uang saku pokok dan ada uang untuk sedekah kawan [0:30:58, 0:31:04].
Dulu saya sering bertanya, "Kenapa Bapak sangat menghormati teman-teman saya?" Kata Bapak, "Kamu mondok itu, andai bapak tidak bisa mencukupi, yang akan menolong dan mencukupimu ya teman-temanmu sendiri." Ternyata teori itu betul [0:31:04, 0:31:13]. Rata-rata anak kuliah atau anak pondok, kiriman bulanan dari orang tuanya dalam 8 hari sudah habis [0:31:13, 0:31:21]. Berarti masih ada sisa 22 hari ke depan [0:31:21]. Kok mereka bisa bertahan hidup? Itu kan berkat berkah kebaikan teman-temannya yang saling berbagi [0:31:21, 0:31:28]. Malah yang agak nakal (meling), kiriman 1 hari sudah habis, berarti ada 29 hari dia bergantung dan ditolong sana-sini [0:31:28].
Sehingga Nabi dulu cara bersabdanya unik: “Da’un-naasa yarzuqillaahu ba’dhahum min ba’dhin” (Biarkanlah manusia itu, Allah memberi rezeki kepada sebagian mereka melalui sebagian yang lain) [0:31:36].
Pernah suatu ketika terjadi inflasi atau kelangkaan barang (defisit) di Madinah [0:31:36, 0:31:49]. Beberapa pakar ekonomi datang menghadap Rasulullah, "Ya Rasulullah, sa'ir (Tolong tetapkan kebijakan harga standar pasar)." Tetapi apa jawaban Nabi?
“Laa tusa’iruu, fa-innallaaha huwal-musa’ir…” (Janganlah kalian menetapkan harga standar, karena sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga) [0:31:49, 0:32:00].
Lalu sahabat bertanya, "Kenapa engkau tidak mau menetapkan harga standar ya Rasulullah? Padahal demi stabilitas negara harga harus ditentukan." Kata Nabi, "Aku tidak ingin menjumpai Allah kelak dalam keadaan berbuat zalim (kepada salah satu pihak pedagang atau pembeli)." [0:32:00, 0:32:08].
Dalam kacamata teori ekonomi modern, sikap ini mungkin dianggap menimbulkan masalah [0:32:08, 0:32:16]. Tetapi menurut pakar ilmu hakikat, hal itu sama sekali tidak masalah [0:32:16, 0:32:25]. Logika pakar hakikat begini: misalnya ada orang menimbun barang supaya harganya melonjak mahal [0:32:25, 0:32:35]. Dia terus menimbunnya menunggu harga memuncak [0:32:35]. Lama-kelamaan dia akan sadar sendiri kalau timbunannya tidak ada gunanya, karena ternyata masyarakat tidak memiliki daya beli dan tidak ada yang membeli [0:32:35, 0:32:45]. Ketika orang tidak punya kemampuan membeli, si penimbun pun akhirnya tidak kunjung mendapatkan uang [0:32:45, 0:32:52].
Kalau kalian menyanggah, "Tetapi Gus, kalau kita tidak membeli barang pokok kan kita bisa mati karena kehabisan stok?" Nah, di situlah letak masalah tauhid Anda! Bagaimana mungkin kamu membayangkan seorang makhluk tidak bisa hidup atau tidak kebagian rezeki hanya karena ulah penimbun? [0:32:52, 0:33:00]. Nabi adalah orang yang sudah mencapai derajat hakikat tertinggi, sehingga tidak pernah mengkhawatirkan hal-hal horizontal seperti itu [0:33:00, 0:33:10]. Yang sering bermasalah itu adalah ketauhidan kita, sehingga selalu dibayangi ketakutan, "Wah, kalau negara kaos bagaimana? Wah, kalau ekonomi jatuh kita makan apa? Wah, kalau negara tidak stabil kita gimana?" Pemikiran seperti itu tidak perlu berlebihan [0:33:10, 0:33:19].
Dulu ketika kita dijajah Belanda, kiai-kiai kita seperti Mbah Hasyim Asy'ari dan Mbah Ahmad Dahlan tetap bisa menuntut ilmu ke Mekah sampai menjadi ulama yang alim 'allamah [0:33:19, 0:33:29]. Kedua beliau berguru kepada syekh yang sama, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi [0:33:29, 0:33:37]. Hanya saja Mbah Hasyim lebih memperdalam kepada Syekh Mahfudz Termas, sedangkan Mbah Ahmad Dahlan lebih menekuni jalur Syekh Ahmad Khatib [0:33:37, 0:33:44]. Jadi, dua tokoh besar bangsa ini mengaji pada guru yang sama di Mekah saat Indonesia masih dijajah Belanda [0:33:44, 0:33:50].
Sekarang kita sudah merdeka dan tidak dijajah, malah jarang yang mondok ke sana [0:33:50]. Buyut-buyut saya zaman dulu sudah menunaikan ibadah haji [0:33:50, 0:33:57]. Buyut kelima saya berkisah, dulu di Arab kalau ingin mencari tempat berteduh, mereka masuk ke celah gua yang ukurannya sangat sempit [0:33:57, 0:34:07]. Masuk gua itu hanya muat kepalanya saja, sedangkan kakinya masih berada di luar [0:34:07, 0:34:14]. Gua di Arab itu tidak seperti gua di Indonesia yang luas [0:34:14]. Gua di Arab kebanyakan hanya berupa celah-celah di antara batu-batu besar [0:34:14, 0:34:19].
Sehingga ketika Rasulullah hijrah ke Madinah dan bersembunyi di Gua Tsur, Abu Bakar merasa khawatir, "Bagaimana ya Rasulullah, andai orang-orang kafir di depan gua itu melihat ke arah bawah kaki mereka? Pasti mereka akan melihat kita." [0:34:19, 0:34:28]. Karena ukuran gua di sana itu memang sempit, satu tubuh saja tidak bisa masuk penuh [0:34:28, 0:34:35]. Berbeda dengan gua di Indonesia yang mobil pun kadang bisa masuk [0:34:35]. Dulu mbah saya kalau istirahat ya masuk gua separuh badan, separuhnya lagi masih di luar [0:34:43].
Lalu sekarang kita mengeluh, "Wah, kalau negara tidak stabil, kita tidak bisa naik haji." Padahal dulu zaman dijajah Belanda pun orang-orang tetap bisa berangkat haji [0:34:43, 0:34:52]. Soal kebahagiaan, nenek moyang kita dulu anaknya banyak, padahal hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Nyatanya anak-anaknya tumbuh banyak dan mereka pun tetap merasakan kebahagiaan [0:34:52, 0:35:08].
Artinya begini; tentu kita semua tidak ingin dijajah lagi, tetapi kita ini sering kali ikut-ikutan cemas berlebihan (latah), "Wah kalau ekonomi jatuh kita makan apa?" Kita tidak perlu sekadar bersandar pada hitungan manusia [0:35:08, 0:35:16]. Rahmat Allah Ta'ala itu adrokatna—rahmat Allah pasti akan menemukan dan menjangkau kita dalam kondisi apa pun dan dalam keadaan bagaimanapun [0:35:16, 0:35:24].
Ini adalah cara berpikir tauhid [0:35:24]. Sehingga Nabi tidak pernah mencemaskan, "Wah, kelak kalau aku tiada, umatku bagaimana jika tidak aku tunggui?" Umat ini senantiasa ditunggui oleh Allah [0:35:24, 0:35:34]. Maka masyhur dalam hadis sahih: “Laa tazaarul thaa’ifatun min ummatii zaahiriina ‘alal-haqqi…” (Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa membela kebenaran dan tidak akan terkalahkan oleh kesesatan sampai hari kiamat) [0:35:34, 0:35:51].
Mengapa cara berpikir orang tauhid itu sederhana? Karena Allah menamakan Diri-Nya sebagai Al-Hadi (Zat Penunjuk Jalan), dan sifat Allah itu pasti nafidzah (pasti terlaksana dan berlaku) karena Allah tidak mungkin terkalahkan [0:35:51, 0:36:01]. Sama halnya ketika Allah menyifati Diri-Nya sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), maka orang segoblok apa pun, selumpuh apa pun, dan selemah apa pun, tetap akan mendapatkan rezeki dari Allah [0:36:01, 0:36:11]. Begitu pula saat Allah menyifati Diri-Nya sebagai Al-Hadi yang memberi petunjuk, maka di zaman serusak apa pun, manusia akan tetap mendapatkan hidayah petunjuk [0:36:11, 0:36:20].
Jadi kita tidak perlu khawatir berlebihan, "Wah, nanti kalau zaman sudah rusak, nasib agama Islam bagaimana?" Ya coba lihat sekarang, nasib Islam bagaimana? Ya tetap baik-baik saja [0:36:20, 0:36:30]. Dulu dakwah Islam ditunggui oleh Wali Songo, pengikutnya banyak [0:36:30]. Sekarang tidak ada Wali Songo, yang menunggui dakwah adalah para dosen yang mengajar, para kiai yang berpidato [0:36:30, 0:36:45].
Andai kita memakai definisi ikhlas yang murni, mungkin tidak ada satu pun dari kita yang lolos masuk surga karena masih mengharapkan gaji atau amplop (salam templek) [0:36:45]. Tetapi meskipun demikian, agama Islam tetap berjalan syiar [0:36:45]. Mengapa agama ini tetap berjalan? Karena Allah-lah Al-Hadi, Sang Penunjuk Jalan [0:36:45, 0:36:53]. Ketika Allah menyifati Diri-Nya sebagai penunjuk jalan, maka sifat-Nya pasti terjadi karena Allah tidak pernah gagal [0:36:53, 0:37:02]. Sehingga agama ini akan tetap eksis sampai akhir zaman [0:37:02].
Lihatlah di Amerika, seperti apa pun narasi Islamofobia di sana, dari hari ke hari jumlah orang yang masuk Islam justru bertambah banyak [0:37:02, 0:37:11]. Di Eropa dan Australia pun demikian [0:37:11]. Andaikan kita memakai teori sosial, di dunia yang sudah sangat materialistik seperti ini, secara lahiriah orang-orang akan meninggalkan agama [0:37:11, 0:37:19]. Nyatanya tidak juga [0:37:19]. Saya pernah di Korea selama seminggu [0:37:19]. Di negara yang mayoritas ateis itu, para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang ke sana niat awalnya mencari uang, ternyata di sana mereka malah kepikiran mendirikan masjid dan membentuk komunitas Islam [0:37:19, 0:37:27]. Siapa yang menggerakkan hati mereka kalau bukan Allah Subhanahu wa Ta'ala? [0:37:27].
Jadi, mari kita benahi cara berpikir tauhid kita [0:37:33]. Saya mohon sekali di pengajian ini, kalimat “Wa ja’alanii mubaarakan ainamaa kuntu” dijadikan landasan berpikir [0:37:33, 0:37:40]. Kita mungkin mewarisi karakter dari nabi tertentu, dan jika kita cenderung condong pada manhaj nabi ini atau nabi itu, hal tersebut sah-sah saja [0:37:40, 0:37:50]. Karena “’Ulamau ummatii ka-anbiyaa’i Bani Israa’iil” [0:37:50].
Ada ulama yang memilih manhaj seperti Nabi Isa yang fokus merangkul dan mengurusi orang-orang nakal, itu bagus karena nabi itu ibarat dokter yang menyembuhkan orang sakit [0:37:50, 0:38:05]. Namun, ada pula yang seperti Nabi Yahya yang hanya mau berkawan dengan orang-orang saleh, karena beliau tahu berkawan dengan orang fasik itu berisiko memengaruhi iman kita yang masih pas-pasan [0:38:05, 0:38:13]. Dirimu sendiri saja belum sehat betul, kalau berteman dengan orang yang berpenyakit tentu rawan tertular [0:38:13, 0:38:22].
Tetapi sebaliknya, kalau kamu memposisikan diri sebagai dokter spesialis paru-paru tetapi hanya mau berteman dengan orang-orang yang sehat, lalu bagaimana kamu melakukan penelitian dan pengobatanmu? Itu kan namanya dokter aneh [0:38:22, 0:38:40]. Di sinilah letak keseimbangan manhaj dari dua figur agung, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa 'alaihimas salam [0:38:40, 0:38:55].
Komentar
Posting Komentar