Ceramah Gus Baha' dan Prof. Mahfud MD di acara Haul KH Abdul Hamid Pasuruan Agustus 2026

 


Bagian 1: Ceramah Gus Baha (Ngaji Kitab Ithaf & Konsep Sujudul Qolbi)

"Man ashbaha aaminan fii sirbihi..." (0:00) Kita di rumah tidak ada teror, tidak ada ancaman pembunuhan, "mu'aafan fii jasadihi" (sehat badannya) (0:00), "'indahu quutu yaumihi" (hari itu ada yang bisa kita makan) (0:00), kata Nabi apa? "Faka-annamaa hiizat lahud-dunyaa" (maka seakan-akan dunia diberikan kepadanya) (0:08). Nah, gara-gara kita ingin berlebihan, itu terus yang membuat kita mengeluh (0:08).

Bismillahirrahmanirrahim. Saya bacakan dari kitab Muslim, Nafsika Sujud, dan di dalam Shahih Muslim Kitab al-Iman (0:18):

"Idzaa qora'abnu Aadamas-sajdata fasajada, tazalasy-syaithaanu yabkii yaquulu: Yaa wailahu! Umirabnu Aadama bissujuudi fasajada falahul-jannah, wa umirtu bissujuudi fa-abaitu faliyannaar." (0:18)

Nah, ini yang dari kitab Ithaf (0:18). Ya, saya pernah memberikan beberapa orang Kitab Ithaf (0:54). Ithaf (Ithafus Sadatil Muttaqin) itu syarahnya apa? Syarahnya Kitab Ihya 'Ulumiddin (0:54). Secara sanad, kita ini dekat sekali dengan shahibul Ithaf yang dikarang oleh Sayyid Murtadha az-Zabidi (1:05). Misalnya, yang ditulis oleh Mbah Maimoen Zubair, guru kita semua (1:05). Mbah Moen ngaji ke Mbah Zubair (1:15). Mbah Zubair ngaji ke Mbah Faqih Maskumambang (dulu Wakil Rais Akbar, wakilnya Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy'ari) (1:15). Mbah Hasyim ngaji ke Syekh Mahfudz Termas (1:24). Syekh Mahfudz ngaji ke abahnya, Mbah Abdul Manan (1:24). Terus sampai ke shahibul Ithaf (1:24).

Mulai dulu sampai sekarang, kitab kesayangan kita adalah Kitab Ihya (1:24). Dulu Mbah Hamid Pasuruan terkenal sekali ngaji bersama mbahnya Habib Taufiq, Habib Ja'far, dulu di Lasem (1:35). Kita semua pasti pernah ngaji Ihya (1:43). Nah, yang tidak ada di Ihya itu poin ini, yang saya baca menggunakan model pesantren, yaitu tentang Sujudul Qolbi (Sujudnya Hati) (1:43).

Sujud secara fikih itu hanya melibatkan tujuh anggota tubuh: "Umirtu an asjuda 'alaa sab'ati a'dzumin" (1:52). Yaitu: al-jabhah (kening), al-yadain (kedua tangan), ar-rukbatain (kedua lutut), dan al-qodamain (kedua telapak kaki) (1:52). Yang belum didiskusikan dalam fikih itu adalah Sujudul Qolbi (sujudnya hati) (2:04). Tentang Sujudul Qolbi ini, saya percaya diri sekali menceritakannya (2:04). Bukan karena sombong, tapi saya senang kalau mengaji ada pentashih-nya (yang mengoreksi/memverifikasi) (2:04), ada Mbah Idris, Habib Zain, ada Habib Taufiq (2:15). Nanti bisa mendapat hadiah kalau benar (2:15). Jangan seperti kiai-kiai amatir (2:15). Kalau mengaji di depan orang bodoh dia percaya diri, tapi kalau masuk ke lingkungan orang pintar malah tidak percaya diri. Itu sesat, itu keliru! (2:26)

Dulu Imam Syafi'i itu sangat percaya diri karena kalau mengaji langsung di depan Imam Malik (2:32). Saya pun percaya diri membaca kitab (2:32). Dulu saya sering membaca di depan Mbah Moen, dan ternyata tidak salah, seringnya benar (2:39). Ya begitulah kiai (2:39). Kalau kalian membaca di depan orang awam, kamu membaca 'man abaa' menjadi 'min 'abdi' pun tidak masalah bagi mereka, kan? (2:39)

Saya pernah ditanya oleh seorang kiai, "Gus, nama saya itu ada di dalam kitab. Teksnya berbunyi: Qoola ibnu Abii..." (2:45) Dia mengartikannya, "Anake bapak ingsun niku..." (anak bapak saya) (2:52). Saya jawab, "Ora, kulo iku Ibnu Ubay, ora ono hubungane mek kowe!" (Bukan, maksud kitab itu Ibnu Ubay, tidak ada hubungannya dengan kamu!) (2:52).

Maka dari itu, di pesantren ada guyonan tentang orang meninggal gara-gara salah membaca titik (2:52). Gurunya bilang: "Habbatun saudaa' dawaa'un min kulli daa'" (Jintan hitam adalah obat dari segala penyakit) (3:00). Si murid ini menambahi titiknya kelebihan satu (menjadi huruf Jim dan Ya), ditulis: "Hayyatun saudaa'" (Ular kobra hitam) (3:11). Akhirnya dia mencari ular kobra hitam karena ijazah yang ada di pikirannya adalah hayyatun saudaa' obat segala penyakit (3:22). Ya akhirnya dia mati dipatok ular karena salah membaca titik itu (3:22). Makanya, salah titik itu bahaya betul (3:31). Saya tadi sewaktu Mbah Idris menyuruh saya untuk mengakadkan nikah, saya tidak berani (3:31). Karena dulu ada kisah kiai yang sangat ingin poligami, pas mengakadkan nikah dia malah berucap: "Qobiltu nikahaha wa taziid..." (Saya terima nikahnya dan nambah lagi) (3:40). Jadi para kiai yang masih ingin menikah lagi, tidak usah mengakadkan nikah, itu riskan! (3:40) Nanti refleks terucap "qobiltu" yang salah, itu cerminan dari harapannya (3:48).

Jadi kalau mengaji dulu, qoro'uu 'alasy-syekh (murid membaca di depan syekh) (3:58). Dulu Imam Malik itu tidak pernah membacakan kitabnya (3:58). Semua yang bersanad ke beliau harus muridnya yang membaca, sehingga sekali pintar, ya pintar betul (4:11). Sekarang kan tidak, orang mengaji ke kiai, kiainya yang membaca dengan benar, muridnya ada yang di pojokan, ada yang mengantuk, ada yang mengkhayal (4:20). Jadi kacau semua hasilnya (4:26). Itu tidak boleh (4:26). Itu cerita dulu, kalau cerita sekarang ya seperti ini (4:26).

Saya bacakan tentang Sujudul Qolbi:

"I'lam... (ngerti siro) annahu... (saktemene kelakuan) yajibu sujuudu 'alal qolbi." (4:33)

Jadi, hati itu harus sujud dan tunduk kepada kehendak Allah SWT (4:33). Dan Sujudul Qolbi itu: "Sujuudun laa rof'a walaa i'tidaala ba'dahu." (4:43) Sujud yang tidak ada bangun dan tidak ada iktidal lagi setelahnya (4:43). Kalau hati kita sudah sujud, kita tidak akan pernah ingin berhenti (4:52). Seperti kita semua, mengapa kuat menerima ujian? Karena hati kita tunduk pada prinsip: "Masyaa-Allahu kaana wa maa lam yasya' lam yakun" (Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi) (4:52). Kita tunduk apa pun kekecewaan kita (5:03).

Makanya Nabi Muhammad SAW memuji orang mukmin: "'Ajaban li-amril mukmin, inna amrahu kullahu khair." (5:03) Orang mukmin itu hatinya sujud, sehingga ditimpa apa saja tetap merasa tenang dan senang (5:13). "In ashobathul sarraa-u syakara fakaana khoiran lahu, wa in ashobathul dharraa-u shabara fakaana khoiran lahu." (5:13)

Makanya kadang-kadang saya jadi kiai itu ya susah, sering didalili oleh santri-santri memakai dalil orang yang mencari ilmu: "Man salaka thoriiqon yaltamisu fiihi 'ilman, sahhallallahu lahu thoriiqon ilal jannah." (5:24) Dulu Mbah Hamid (abahnya Mbah Idris) keluarga Lasem itu, kalau ada orang ke sini sudah umur 60 tahun tetap disuruh menghafalkan Al-Qur'an (5:36). Ada yang baru hafal 2 juz lalu mati, ada yang baru 1 juz meninggal (5:45). Mbah Hamid ditanya, "Kenapa sudah tua kok tetap disuruh menghafal Al-Qur'an?" Beliau menjawab, "Ben matine iku jek salaka thoriiqoh, jek golek ilmu." (Agar matinya itu masih dalam keadaan menempuh jalan mencari ilmu) (5:53). Jadi ketika mati dan dipanggil Allah, ditanya: "He wong sing hafal Al-Qur'an." Dia menjawab: "Ora hafal-hafal Gusti." (5:53) Tapi kan lumayan, statusnya masih disebut sebagai orang yang sedang berusaha menghafalkan Al-Qur'an (6:02). Terus saya diledek oleh santri-santri, "Gus, hadis itu kanggo santri, lah hadis kanggo kiaine ono?" (Gus, hadis itu untuk santri, lalu hadis untuk kiainya ada?) (6:02) Karena kiai sudah tidak masuk kategori 'yaltamisu fiihi 'ilman' lagi (6:10). Akhirnya saya sebagai kiai harus mencari dalil khusus untuk kiai, tapi sudahlah tidak usah, dalilnya sudah banyak (6:10).

Saya teruskan, karena ini mengaji di depan orang-orang yang ma'ruf bil wilayah (dikenal kewaliannya) (6:22). Saya cerita tentang wali (6:32). Di dalam Kitab Ithaf syarah Ihya, Sahl bin Abdullah at-Tustari (ada yang membaca at-Tusturi) rahimahullah (6:32), menceritakan pada awal mulanya beliau melihat hatinya itu sujud (6:42). Kisah ini ada di Kitab Ithaf juz 5 halaman 60 ya (6:42). Yang punya kitabnya bisa dicari, yang tidak punya ya sudah pakai fotokopi ini saja, bisa dipakai jimat (6:57).

"Falam yajid..." Maka dia tidak menjumpai seorang pun yang mengerti tentang apa yang dia rasakan ini (7:07). Intinya, semua orang yang dia tanya tidak ada yang paham (7:18). Sampai akhirnya beliau harus berangkat ke daerah Abadan untuk bertanya kepada seorang syekh tentang Sujudul Qolbi ini (7:18). Syekh di Abadan itu menjawab: "Hati itu sekali sujud, maka akan selamanya sujud." (7:34) Maka di sanalah beliau menemukan kesembuhan (syifauhu) dan menetapi khidmahnya (wazima khidmatahu) (7:34).

Saya beri contoh, ini tidak berniat menggurui tetapi valid secara tadwin (catatan sejarah) (7:34). Umar bin Abdul Aziz itu terkenal sebagai Khamisul Khulafaur Rasyidin (Khalifah kelima) (7:48). Beliau orang yang sangat adil (7:57). Ketika beliau mau meninggal dunia, orang-orang di sekitarnya menangis semua (7:57). Beliau lalu berkata, "Kenapa kamu menangisi saya? Memangnya kalau saya mati, saya mau ke mana? Ilaa Robbin Kariim (kepada Tuhan Yang Maha Pemurah)." (7:57) Ketika saya di dunia, Allah itu Robbun Kariim, di akhirat pun sifat-Nya tetap sama, Ilaa Robbin Kariim (8:07). Masalahnya apa? Dunia dan akhirat itu Tuhannya sama! (8:14) Kesadaran itu sudah menyatu dalam jiwanya: "Inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Robbil 'aalamiin." (8:14) Kesadaran ini bukan karena kita angkuh yakin pasti husnul khatimah atau yakin pasti jadi ahli surga, bukan! Melainkan karena kita yakin bahwa Allah itu Rahman dan Rahim (8:27).

Makanya itu hebatnya Nabi (8:27). Nabi Muhammad SAW itu kalau mengijazahi kita untuk menghadapi kematian, kita tidak disuruh banyak berdoa, melainkan disuruh agar akhir kalam kita berucap kalimat tauhid (8:36). Doa itu kadang membuat psikis kita ragu, "Kira-kira doa potongan seperti saya ini dikabulkan atau tidak?" (8:36) Tetapi kalau kamu menyifati Allah dengan sifat-sifat-Nya yang agung (bisifatihil 'ulaa) dan nama-nama-Nya yang luar biasa (wa asmaa-ihi), itu pasti benar dan aman (8:45). Menyifati Allah itu pasti benar, sedangkan kalau kita berdoa, belum tentu mustajab (8:52). Makanya, "Man kaana aakhiru kalaamihi Laa ilaaha illallah dakholal jannah." (9:00) Di sana tidak ada teks yang menyuruh untuk berdoa (9:00).

Dulu saya juga sempat janggal, mengapa Nabi tidak menyuruh berdoa? Ya karena doa itu memicu psikis kita berpikir dikabulkan atau tidak (9:08). Tetapi kalau kamu memuji dan menyifati Allah, kamu pasti selamat (9:08). Makanya ketika ada sahabat yang suka sekali membaca Surat al-Ikhlas di setiap salatnya, ditanya oleh Nabi alasannya (9:15). Sahabat itu menjawab, "Liannahaa shifatur-Rahman, fa-ana uhibbu an aqro-a bihaa" (Karena di dalamnya berisi sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, maka saya suka membacanya) (11:34). Kata Nabi apa? "Hubbuka iyyaahaa adkholakal jannah" (Kecintaanmu pada surat itu memasukkanmu ke dalam surga) (9:15). Malaikat tidak bisa membatalkan fakta bahwa kita suka kalimat Laa ilaaha illallah atau suka surat Qul huwallahu ahad (9:28). Tetapi malaikat bisa saja menyalahkan kita karena urusan doa (9:28).

Misalnya kita berdoa: "Ya Allah, berikan saya istri yang cantik, hafidzah, dan shalihah." (9:37) Itu pasti bisa disalahkan oleh malaikat, "Itu bukan jatahmu!" (9:37) Dan bisa jadi perempuan itu juga berdoa, "A'udzu billahi minka" (Aku berlindung kepada Allah darimu) (9:37). Dan Allah tentu lebih mendengar doa perempuan yang terzalimi itu daripada doa egois kita (9:48). Misalnya saya berdoa supaya menjadi kiai besar, malaikat mungkin berkata, "Masak kiai seperti ini tidak ikhlas, ingin menyaingi yang lebih sepuh dari dia." (9:48) Jadi, doa itu banyak "korban"-nya kalau dituruti (9:57).

Ini kisah nyata. Ada orang saleh yang kaya raya berkata, "Gus, doakan saya semakin kaya agar saya bisa merawat 1.000 anak yatim." (10:04) Saya jawab, "Wah, doa kamu tidak benar." (10:04) Merawat anak yatim itu memang bagus, tetapi agar anak itu berstatus yatim, berarti bapaknya harus mati dulu, kan? (10:13) Berarti isi doamu secara tidak langsung meminta agar bapak-bapak mereka dimatikan agar kamu bisa merawat anaknya? (10:13) Artinya, doa itu bisa memicu masalah (10:21). Di dalam Kitab Hikam diceritakan kisah yang terkenal tentang seorang calon wali (mungkin masih wali amatir) (10:21). Pekerjaannya adalah sebagai hamal (kuli panggul di pasar) (10:32). Setiap kali mendapatkan hasil yang cukup untuk membeli satu piring makanan, dia langsung pulang dan berdoa (10:32). Dia berdoa di kamarnya, "Ya Allah, saya ini mencintai Engkau. Saya ini hanya butuh makan satu piring sehari, mengapa saya harus lelah menjadi kuli panggul? Berikanlah saya rezeki yang tanpa perlu bekerja lagi." (10:40) Besoknya ketika dia di pasar, entah bagaimana ceritanya dia dituduh mencuri lalu dipenjara (10:52). Di dalam penjara, setiap pagi dan sore dia diberi makan gratis tanpa perlu bekerja lagi (10:52). Nah, makanya doa itu kadang mendatangkan masalah kalau salah mintanya (10:59). Ada juga seorang istri bertanya, "Gus, doakan suami saya agar gampang bersyukur." Saya jawab, "Oh, kalau dia bersyukur nanti ditambah nikmatnya (la-in syakartum la-aziidannakum), jangan-jangan nikmatnya berupa nambah istri lagi, apa kamu siap?" (10:59)

Tetapi kalau kamu memuji Allah (ngelem Allah), itu mutlak aman (11:11). Makanya, "Laa ahada ahabbu ilaihil madhu minallah." (11:11) Allah itu sangat suka dipuji (11:25). Makanya Surat al-Ikhlas itu disebut surat Ikhlas karena orang yang membacanya tidak punya kepentingan duniawi apa pun kecuali murni memuji Allah SWT (11:44). Nah, hatinya kita semua orang mukmin sebenarnya sudah sujud seperti itu (11:44). Coba lihat, berapa juta suami yang dimarahi istrinya tetapi tetap tertawa? (11:52) Karena mereka yakin, dimarahi istri itu adalah jalan ninja menjadi wali (11:52). Mau jadi wali lewat jalur alim atau jalur sedekah dirasa berat, maka jalur paling realistis adalah sabar menghadapi istri (12:02). Itu cerita yang sangat masyhur di Yaman tentang wali-wali yang berkah kewaliannya muncul karena bersabar menghadapi omelan istrinya (12:12). Tapi semoga saya tidak lewat jalur itu, bahaya (12:22).

Jadi, konsep Sujudul Qolbi bagi kita orang Islam itu sudah luar biasa (12:22). Makanya Nabi bersabda kalau bisa akhir kalam kita adalah mengingat Allah (12:34), setidaknya membaca tasbih dan tidak protes (tangkis) kepada Allah SWT (12:34). Kitab Ithaf menyebutkan bahwa jika hati manusia sudah sujud, maka sempurnalah makrifat dan penjagaannya (fa qod kamulat ma'rifatuhu wa 'ishmatuhu) (12:42). Orang tersebut akan terjaga (12:56). Namun, karena dia bukan Nabi, maka dia disebut Mahfudz (yang dijaga dari dosa) (13:15). Istilah Ma'shum hanya khusus untuk Rasulullah SAW dan para Nabi (13:15). Digunakan istilah Hifdzan atau Mahfudz sebagai bentuk adab kepada para Nabi (aadaban ma'al anbiyaa') (13:23). "Fa illam yasjudil qolbu falaisa bi mahfuudzin." (Jika hati belum sujud, maka dia belum terjaga) (13:35). Ini adalah masalah yang sangat detail, dalam, dan agung dalam thariqah tasawuf (13:35). Makam ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang tertentu yang sudah langka (13:46).

Kita tahu dalam sejarah (tarikh), bagaimana Bilal bin Rabah disiksa oleh Umayah bin Khalaf (13:55). Dalam semua riwayat, Bilal tidak berdoa meminta keselamatan, dia hanya berucap: "Ahad... Ahad... Ahad..." (14:09) Sebab kalau dia meminta tolong dan saat itu belum langsung ditolong, nanti setannya akan berbisik, "Katanya Allah dekat, kok tidak menolong?" Makanya, Ikrar (bertauhid) itu tingkatannya di atas doa (14:17). Saya sering menyampaikan kepada para kiai, kalau memberikan ijazah doa agak dikurangi lah, karena yang doanya belum terkabul itu sudah banyak (14:26). Tetapi tauhidnya yang harus ditinggikan, karena tauhid adalah yang paling utama: "Fa'lam annahu Laa ilaaha illallah." (14:33)

Doa itu silakan saja, kita berharap mustajab, tetapi secara ilmu kita harus yakin pada konsep Hikam: "Mataa a'thooka asyhadaka birrohu, wa mataa mana'aka asyhadaka qohrohu." (14:45) Ketika Allah memberi, Dia ingin memperlihatkan kebaikan-Nya kepadamu (14:55). Dan ketika kamu berdoa lalu tidak diberi, Allah ingin mengenalkan diri-Nya bahwa Dia adalah Zat Yang Maha Memaksa (Al-Qohhar), yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun (15:04). Andaikan semua doa dikabulkan, dunia ini akan kacau (15:12). Semua orang ingin jadi presiden, semua ingin berwajah tampan, semua ingin punya istri banyak, maka dunia akan kacau (15:12). Jadi, tidak dikabulkannya sebagian doa itu adalah berkah agar dunia tetap seimbang (15:20). Allah tidak hanya ingin dikenal sebagai Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan), tetapi juga sebagai Al-Qohhar dan Al-Jabbar (15:28).

Saya itu saking hormatnya kepada umat Rasulullah SAW, saya tidak pernah mengaji tanpa belajar terlebih dahulu (16:02). Saya membaca banyak sekali kitab karangan abuya dari Habib Zain (16:11). Termasuk mengapa saya jarang menyebut nama Allah secara sembarangan, itu karena mengikuti mazhab Imam Malik (16:11). Karakter Mazhab Maliki itu, sebagaimana diceritakan oleh Sayyid Muhammad, Imam Malik bin Anas pernah didatangi orang yang meminta bantuan (16:18). Kebetulan beliau sedang tidak membawa uang, padahal semua wali itu pasti dermawan (16:24). Beliau tidak mengucapkan "Razaqakallah" atau kalimat doa sejenisnya, melainkan langsung berkata, "Nanti datang saja ke rumah saya, tak kasih," atau "Besok saya beri." (16:31) Muridnya bertanya, "Mengapa engkau tidak mendoakannya saja?" Imam Malik menjawab, "Anaa ujiillu ismallah (Saya sangat mengagungkan nama Allah) (16:38). Saya tidak suka menyebut nama Allah di depan orang yang sedang tidak suka mendengarnya (16:38). Orang yang datang meminta bantuan itu butuhnya uang, bukan butuh doa (16:50)." Intinya, kita harus menjaga kehormatan nama Allah di hadapan orang yang sedang fokus pada urusan materi (16:50). Sama seperti anak cucu kita, kalau datang kan maunya diberi uang saku, kalau cuma dikasih doa pasti dalam hatinya bilang, "Doa saya sendiri juga bisa." (17:10) Makanya Mbah Hamid Pasuruan terkenal sangat dermawan, karena beliau paham psikologi orang yang datang (17:17). Begitu pula kenangan orang-orang terhadap Mbah Moen dan Habib Taufiq (17:24).

Di dalam Kitab Qowa'idul Ahkam karya Sultanul Ulama Izzuddin bin Abdissalam diceritakan, sewaktu Sayyidina Umar pertama kali menjadi khalifah, beliau menceritakan Nabi pernah berpidato di atas mimbar dan bersabda: "Innallaha qod kallafanii an asyrifa 'anhud-du'aa'." (17:46) Allah membatasi saya agar umat ini tidak sedikit-sedikit hanya berdoa tanpa usaha (17:55). Sebab kalau sering berdoa secara instan, misalnya diberi ijazah Salat Duha agar kaya, padahal orang Tionghoa tidak pernah Duha ya bisa kaya (18:07). Atau membaca Surat Yasin 40 kali agar mendapat istri cantik, ternyata istrinya tetap biasa saja, nanti yang dikomplain adalah agamanya (18:16).

Padahal kalau menggunakan ilmu, semua yang diciptakan Allah dan diberikan kepadamu itu memiliki hikmah yang banyak (18:16). Punya istri kurang cantik, alhamdulillah tidak ada orang lain yang melirik (18:27). Punya istri galak, alhamdulillah orang lain tidak akan berani menggoda (18:27). Pokoknya dengan ilmu, hidup menjadi lebih tenang (18:36). Agama ini memang unik (18:36). Nabi Muhammad SAW selalu menguatkan keyakinan akidah terlebih dahulu (18:44).

Terakhir, kisah tentang doa ketika Nabi sedang bersandar di dekat Ka'bah (18:44). Hadis ini shahih dalam Kitab Bukhari. Khabbab bin al-Arat datang dan berkata, "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar suasana batin kami tenang? Kita ini sudah disiksa, diancam, dan ditekan, mengapa engkau tidak berdoa?" (18:54) Nabi langsung bangkit dan marah (19:02). Beliau bersabda, "Umat-umat sebelum kalian itu ada yang digergaji tubuhnya menjadi dua namun tetap mempertahankan imannya. Ada yang dibakar hidup-hidup namun tetap iman. Kalian ini terlalu terburu-buru!" (19:10) Nabi mengingatkan agar kita menikmati nikmatnya iman terlebih dahulu, baru kemudian urusan doa (19:21). Ini bukan berarti saya melarang kalian berdoa, sebab ad-du'aa-u hual 'ibaadah (doa adalah inti ibadah) (19:34), melainkan ini adalah masalah prioritas (19:34).

Kita bisa melakukan apa saja karena Allah SWT (19:47). Kita memuji Allah terlebih dahulu melalui kalimat: Alhamdulillahi Robbil 'aalamiin, ar-Rahman ar-Rahim, Maaliki yaumiddiin, Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin (19:47). Baru pada ayat terakhir kita berdoa: Ihdinash-shirothol mustaqiim (19:58). Itu pun doa meminta hidayah (19:58). Nah, sekarang kalau orang menyebut kata doa, pasti konotasinya adalah meminta uang banyak, istri cantik, dan pangkat lancar (19:58). Saya tidak sedang marah, ini biasa saja sebagai pelajaran bagi kita tentang esensi Sujudul Qolbi (20:06).

Jika hati sudah sujud, maka ia akan terjaga ('ushimal qolbu') (20:18). Mengenai makam ini, orang-orang hebat pun kadang bingung ini masuk makam apa (20:18). Seperti jawaban Abu Yazid al-Busthami ketika ditanya, beliau hanya menjawab kalimat Al-Qur'an: "Wa kaana amrullahi qodaron maqduuroo" (Dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti terjadi) (20:38).

Contoh paling gampang adalah Uni Soviet (20:48). Di bawahnya dulu ada negara-negara muslim yang terkoptasi dalam sistem komunis (20:58). Meskipun ditekan sedemikian rupa, hati masyarakatnya tetap Mahfudz (terjaga imannya), dan ketika merdeka mereka kembali menjadi negara Islam (20:58). Indonesia juga sama, dijajah Belanda 350 tahun dan dijajah Jepang, pesantren tetap jalan, tauhid tetap jalan, istighasah tetap jalan (21:07). Begitu merdeka, pekikan Allahu Akbar membahana dan lahirlah UUD 1945 (21:20). Semua itu atas rahmat Allah SWT (21:28). Hati orang Indonesia itu hebat, meskipun dijajah dan miskin, mereka tetap menikmati kebenaran Allah dan konsisten membaca: "Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah fii kulli lamhatin wa nafasin 'adada maa wasi'ahu 'ilmullah." (21:28) Kesadaran tauhid (ikrar) inilah yang utama (21:37). Jangan sampai urusan tauhid ini diturunkan levelnya hanya demi ego doa pribadi, yang kalau setahun belum dikabulkan langsung mengeluh doanya tidak mustajab (21:49).

Saran saya, yang nomor satu itu adalah mematangkan Akidah (22:08). Kita merasa miskin sering kali hanya karena cara pandang kita yang salah (22:17). Menganggap kebahagiaan itu harus memiliki mobil mewah sekelas Alphard, itu adalah tanda kebodohan (jahalah) (22:17). Nabi Muhammad SAW mengajarkan kesederhanaan: "Man ashbaha aaminan... mu'aafan fii jasadihi..." (22:25) Hidup itu simpel, tidak usah selalu ingin dihormati orang lain (22:36). Kadang-kadang kita berkumpul dengan orang banyak karena tuntutan tugas seperti acara ini (22:54). Intinya, mari kita ikuti ajaran Nabi agar hati kita senantiasa sujud kepada-Nya (23:00).

Di dalam kitab tasawuf, satu-satunya hal yang paling dikritik tajam adalah sifat Thoma' (berharap kepada makhluk) (23:33). Kaum sufisme tidak sibuk mengkritik orang kikir (bakhil), karena menurut mereka, tuduhan kikir itu lahir dari sifat thoma' kita (23:42). Misalnya, saya berharap diberi uang Rp10 juta oleh seseorang tetapi tidak diberi, lalu saya menuduhnya kikir (23:49). Padahal penilaian kikir itu subjektif karena kita punya keinginan (thoma') kepada hartanya (23:56). Jika dari awal kita tidak punya rasa thoma' dan menerapkan sifat Istighna' (merasa cukup dan tidak butuh kepada makhluk) (24:37), kita tidak akan pernah sibuk menilai dan menghakimi orang lain (24:31).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengajarkan kaidah hidup yang sangat mudah tentang implementasi Sujudul Qolbi:

"Ahsin ilaa man syi'ta takun amiirahu (Berbuat baiklah kepada siapa saja yang kamu kehendaki, maka kamu akan menjadi pemimpinnya) (25:43). Wastaghni 'an man syi'ta takun nadiirahu (Dan merasa cukuplah/jangan butuh kepada siapa saja yang kamu kehendaki, maka kamu akan menjadi setara dengannya)." (26:25)

Ketika Abu Yazid al-Busthami ditanya, "Apakah orang yang sudah makrifat bisa melakukan maksiat?" (26:34) Beliau tidak menjawab "ya" atau "tidak" secara tekstual, melainkan menjawab dengan pendekatan adab karena kemakrifatannya kepada Allah (26:48).

Sama halnya dalam sejarah, mengapa ketika terjadi perang antara Sayyidina Ali dan Sayyidina Muawiyah, peristiwa Waq'atul Jamal, konflik Dinasti Abbasiyah dan Umayah, hingga era Walisongo di Indonesia (26:57)—ada yang pro Sunan Kudus, pro Sunan Kalijaga, kisah Arya Penangsang, dan ikhtilaf ulama lainnya (27:19)—mereka secara politik berbeda pendapat (khilaf bainanas), tetapi hubungan hati mereka dengan Allah tetap baik-baik saja karena mereka memiliki Sujudul Qolbi (27:19). Prinsipnya adalah Al-Qur'an: "Alaa bidzikrillahi tathma-innul quluub" (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram) (27:29).

Semoga ini menjadi berkah untuk kita semua. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (28:41)




Bagian 2: Kuliah Prof. Mahfud MD (Peran Santri & Penegakan Hukum NKRI)

(Sambutan Moderator/Gus Misbahul Munir) (28:59)
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih kepada Bapak Moderator, Saudara Misbahul Munir (28:59). Beliau ini adalah teman saya sejak kira-kira 20 tahun yang lalu sewaktu saya ikut memimpin PKB bersama Gus Dur (28:59). Pada waktu itu terjadi dinamika dan konflik internal pengurus hingga Gus Dur banyak memberhentikan pimpinan cabang (29:14). Nah, salah seorang yang sering dijadikan ujung tombak untuk menetralisir situasi adalah Pak Misbahul Munir ini (29:29). Sehingga saya kenal betul beliau sangat aktif di PKB, di pesantren, dan di NU (29:41).

Hadirin sekalian, saya memiliki waktu satu jam lebih sedikit (29:53). Saya akan membaginya menjadi dua sesi (29:53). Pertama, saya sampaikan pengantar tentang peran santri dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (30:06). Sesi kedua, kita buka tanya jawab atau diskusi dua arah agar suasana seminar ini menjadi lebih hidup (30:06).

Saudara sekalian, mengapa kaum santri harus menjaga NKRI? (30:22) Karena menurut konstitusi dan sejarah kemerdekaan, NKRI ini merdeka "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa" (30:38). Kemerdekaan ini dicapai setelah melalui perjuangan berat yang mengorbankan jiwa dan raga, serta perdebatan intelektual yang panjang di kalangan tokoh bangsa (31:13), termasuk di dalamnya peran besar para santri dan pondok pesantren (31:33).

Dua hari ini saya berkeliling ke beberapa pesantren dan melihat perkembangannya luar biasa hebat (31:46). Gedung dan kampusnya sudah maju seperti kampus universitas di Amerika (31:58). Kemarin saya ke Situbondo (Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo), sekarang di sini (PP Salafiyah Pasuruan), dan beberapa waktu lalu saya juga ke Pesantren Tebuireng dan Lirboyo (31:58). Kemajuan ini bisa kita rasakan karena Indonesia merdeka (32:27). Sebelum merdeka, pesantren sering kali dianggap sebagai tempat pendidikan yang kumuh dan kampungan (32:27). Dulu ada rasa minder jika disebut santri (32:41). Tetapi sekarang lihatlah, lulusan pesantren sudah menempati berbagai posisi strategis dalam pemerintahan dan masyarakat (32:41). Ada yang menjadi Presiden (Gus Dur), Wakil Presiden (KH. Ma'ruf Amin), menteri, Ketua Mahkamah Konstitusi, hingga Hakim Agung (32:55). Pak Artidjo Alkostar yang sangat terkenal integritasnya di Mahkamah Agung itu dulu adalah lulusan dari Situbondo (33:05). Di DPR, posisi Gubernur, dan Bupati pun sudah banyak yang berlatar belakang santri (33:17).

NKRI yang kita jaga ini adalah negara yang memiliki ideologi sendiri, yaitu Ideologi Pancasila (33:54), serta memiliki konstitusi UUD 1945 (34:09). Pancasila ini berfungsi mempersatukan berbagai ikatan primordial yang biasanya rentan memecah belah bangsa (34:09). Di belahan dunia lain, perbedaan agama bisa memecah sebuah negara (34:28). India Hindustan yang besar sebelum merdeka harus pecah karena wilayah Pakistan ingin mendirikan negara Islam sendiri, sementara India bagian utara menginginkan negara sekuler dengan dominasi Hindu (34:28). Kemudian Pakistan pecah lagi melahirkan negara Bangladesh karena perbedaan ras dan warna kulit (34:57). Tetapi kita di Indonesia tidak demikian (35:10). Meskipun kita berbeda agama dan suku, kita sepakat bersatu dalam wadah Negara Kesatuan (35:10). Ada enam agama resmi yang diakui undang-undang, dan aliran kepercayaan lainnya pun dilindungi oleh negara (35:10).

Sebelum Indonesia merdeka, memang terjadi perdebatan sengit antara kelompok yang menginginkan negara sekuler murni dan kelompok yang menginginkan negara Islam (35:32). Andaikan pada waktu itu para ulama dan kiai bersikap kaku dan menolak kompromi, maka Republik Indonesia tidak akan pernah lahir (36:04). Mengingat umat Islam adalah mayoritas mutlak (87%), secara demokratis tentu wajar jika ada aspirasi negara Islam (36:24). Namun, para ulama pesantren dan tokoh-tokoh nasional di BPUPKI mengambil jalan ijtihad untuk bermusyawarah dan sepakat mendirikan NKRI berdasarkan Pancasila (37:36). Oleh sebab itu, Menteri Agama RI Jenderal Alamsyah Ratu Perwiranegara pernah mengatakan bahwa Pancasila adalah hadiah terbesar dari umat Islam kepada Republik Indonesia (37:00). Maka Pancasila adalah Miytsaqon Gholiidzoo (perjanjian yang kokoh) yang tidak boleh diganggu gugat lagi (38:01).

Setelah merdeka pun, kemerdekaan kita mau dihancurkan kembali oleh Belanda melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) (38:15). Saat kondisi negara genting dan hampir hancur, keluarlah Resolusi Jihad dari Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945 (38:43). Beliau menyatakan bahwa membela dan mempertahankan tanah air dari penjajah hukumnya adalah Fardhu 'Ain bagi setiap umat Islam yang berada dalam radius tertentu (38:43). Resolusi Jihad inilah yang membakar semangat perlawanan hingga meletuslah peristiwa heroik 10 November di Surabaya yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan (38:56).

Setiap kali ada upaya yang mengancam kedaulatan negara, kaum santri selalu tampil di garda terdepan (38:56). Pada tahun 1965 saat PKI melakukan pemberontakan, golongan santri yang secara politik diwadahi oleh Nahdlatul Ulama menjadi benteng pertahanan bangsa (39:27). Komitmen NU terhadap Pancasila dikuatkan secara final pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 (39:42). NU menegaskan bahwa Pancasila adalah ideologi yang sudah final (44:02). Indonesia dikategorikan sebagai Darul Miytsaq atau Darul 'Ahdi (negara kesepakatan) (39:56). Secara syariat, barang siapa yang mengkhianati kesepakatan bersama dan melakukan pemberontakan bersenjata tanpa melalui konsensus baru, maka mereka dikategorikan sebagai Bughat (40:14). Dan terhadap bughat, negara memiliki legalitas untuk menindaknya demi menjaga kedamaian (40:26). Itulah landasan kaum santri melawan gerakan radikal bersenjata seperti DI/TII maupun Permesta di masa lalu (40:26).

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, ada dua jenis rongrongan berbahaya yang kita hadapi:

Radikalisme Ekstrem dan Separatisme: Gerakan yang anti-Pancasila dan ingin mengganti ideologi negara secara paksa (41:32). Tantangan ini sekarang relatif sudah bisa diatasi oleh aparat penegak hukum dan konsensus politik demokrasi (42:15). Negara sudah membuka jalur konstitusional melalui Pemilu jika ada kelompok yang ingin menawarkan konsep baru (42:26). Sejarah mencatat, pada Pemilu 1999 pasca-Reformasi, Presiden BJ Habibie menantang semua kelompok untuk menyalurkan aspirasi politiknya secara sah melalui Pemilu, bukan lewat jalur teror atau bom (43:03). Hasilnya, mayoritas mutlak rakyat tetap memilih partai yang berasaskan Pancasila (43:33). Di sinilah kita melihat bahwa substansi penyelenggaraan negara kita sebenarnya sudah bernilai Islami, meskipun tidak menggunakan nama formal Islam (44:35). Kaidah fikih menyatakan: "Al-Ibrotu fil islaami bil jauhari laa bil madzhar" (Patokan dasar dalam Islam adalah pada substansi nilai-nilainya, bukan pada tampilan formalistiknya) (44:47). Nilai substansi tersebut mencakup perlindungan hak asasi manusia, penegakan hukum yang adil, kejujuran pemimpin, dan pemerintahan yang bersih (clean governance) (45:05).


Ketidakadilan dan Korupsi yang Merajalela: Ini adalah penyakit kedua yang sekarang menjadi ancaman paling serius bagi eksistensi NKRI (45:53). Radikalisme dan terorisme bisa kita tumpas karena instrumen hukum dan aparat kita kuat untuk itu (46:19). Namun, melawan korupsi jauh lebih sulit karena sifatnya yang berjamaah dan sistemik (46:34). Terjadi fenomena saling sandera politik (50:51). Seseorang yang ingin bertobat atau bertindak jujur sering kali tidak bisa bergerak karena dikunci oleh kesalahan masa lalunya atau ditekan oleh jejaring kekuasaan di atasnya (50:51).


Ketidakadilan dan pelemahan penegakan hukum inilah yang memicu potensi disintegrasi di daerah (53:30). Muncul riak-riak kekecewaan di berbagai daerah kaya sumber daya alam, seperti di Aceh, Kalimantan, atau Papua, karena mereka merasa dieksploitasi sementara rakyat daerahnya tetap miskin (55:48). Jika ketidakadilan ini dibiarkan, akan muncul Public Distrust (ketidakpercayaan publik kepada pemerintah) (53:30). Dan jika kepercayaan sudah hilang, masyarakat akan cenderung melakukan Social Disobedience (pembangkangan sosial) yang membahayakan persatuan bangsa (53:39).

Oleh karena itu, tugas sejarah kaum santri zaman sekarang bukan lagi berdebat tentang ideologi negara—karena hal itu sudah selesai ditashih oleh para ulama kita (47:14)—melainkan berjuang menegakkan hukum dan keadilan (54:12). Hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas (58:58). Pelanggaran hukum yang merusak hak publik harus diberantas. Penegakan hukum yang konsisten merupakan bentuk pengejawantahan dari Al-Maqashid asy-Syari'ah, yaitu menjaga agama (hifdzuddin), menjaga jiwa (hifdzun-nafs), menjaga harta (hifdzul-maal), menjaga akal (hifdzul-'aql), dan menjaga keturunan/nasab (hifdzun-nasab) (1:19:05).

Mari kita jaga NKRI ini bersama-sama (1:16:54). Masa depan Indonesia terletak pada persaingan mutu, integritas, dan semangat transformasi yang dimiliki oleh generasi muda santri (1:23:04).

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (54:27)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAM NERAKA ATASNYA.... SIAPA SAJA MEREKA & YANG MEREKA LAKUKAN?

PARA SALAF SHOLIH DAN PARA PENGIKUTNYA

BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH