Ceramah Gus Baha: Cara Menyikapi Fakta Sosial yang Mengecewakan



Ceramah Gus Baha: Cara Menyikapi Fakta Sosial yang Mengecewakan"Niki rungokno tenan. Ada sekian fakta sosial yang mungkin Anda kecewa. Bisa karena itu keinginan tidak kesampaian, atau khayal yang tidak kesampaian, atau apa saja. Dengan mensucikan Allah itu, kita tetap benar sebagai hamba. Misale contoh ngeten: mungkin Anda risi dengan kotoran yang di rumah Anda. Mungkin Anda risi dengan bangkai yang di lingkungan Anda. Tapi coba tanya yang berkepentingan. Niki cerita tasawuf niku, ben koyo wong alim tenan, koyo ilmu hakikat. Takokno yang berkepentingan. Misale wonten kotoran sapi banyak di belakang rumah. Mungkin orang-orang priayi di situ jijik. Tapi takokno pakar-pakar sing ahli pupuk, 'Oh, seneng! Seneng, masih ada pupuk!' Mungkin wonten bangkai kodok, jenengan gak seneng. Tapi takono ayam, 'Seneng!' Sehingga kita disuruh dilatih Nabi, disuruh baca: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ‘Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi.’ Kita mentasbihkan Allah itu ‘adada khalqihi’ (sebanyak jumlah makhluk-Nya). Semua makhluk yang diciptakan Allah, termasuk mungkin yang Anda gak suka, Anda gak siap, Anda musuhan dengan makhluk itu. Tapi tetap: ‘Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi’, sesuai jumlah makhluk-Nya Allah, termasuk mungkin makhluk yang kita gak senang. Sehingga tasbih ini yang menjadi alasan ya, alasan kita min ahlil jannah (termasuk penghuni surga). Apapun kecewa kita, tetap kita baca: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ ‘Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi, wa rida nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midada kalimatihi.’ Mulane kulo pilih kata tasbih. Banyak orang yang karena terlalu fikih, mungkin enggak siap dengan hakikat-hakikat sing dikerjakno Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tapi bagi orang-orang yang sudah makamnya—kalau dalam bahasa pondok niku nggih—nggih santai-santai mawon. Dadi niki bener-bener kulo niat kepengin ya, kepengin lah kulo jenengan kabeh min ahlil jannah. Ah."

Catatan Editor & Penjelasan Istilah: Adada khalqihi (عَدَدَ خَلْقِهِ): Ditulis lengkap dengan teks Arab dan transliterasi yang benar (menggunakan huruf 'kh' dan tanda petik atas untuk 'ain). Min ahlil jannah (مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ): Istilah Arab-Pesantren yang berarti "termasuk golongan penduduk surga". Kata Dialek Jawa yang Dirapikan: Kata seperti ngeten (begini), takokno (tanyakanlah), sing (yang), wonten (ada), jenengan (Anda), dan kulo (saya) dipertahankan agar roh dari ceramah khas Nahdlatul Ulama (NU) tetap terasa kuat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAM NERAKA ATASNYA.... SIAPA SAJA MEREKA & YANG MEREKA LAKUKAN?

PARA SALAF SHOLIH DAN PARA PENGIKUTNYA

BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH