Ceramah dalam Halaqoh Soal Kenabian dan Kerasulan Muhammad ﷺ Oleh Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi

 


Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi.

Teks ini dikelompokkan berdasarkan struktur dialog antara pembawa acara (interviewer) dan Syaikh Asy-Sya’rawi agar alur pemikiran dan kedalaman maknanya mudah dipahami (0:31). Semua kutipan ayat Al-Qur'an, istilah ilmiah, serta kaidah kebahasaan telah diverifikasi dan disempurnakan sesuai teks aslinya (2:51).

TRANSKRIP MATANG CERAMAH SYAIKH MUTAWALLI ASY-SYA’RAWI

Bagian 1: Pembukaan oleh Pembawa Acara

Pembawa Acara:
Ayyuha al-ikhwah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (0:00). Dalam halaqah (episode) hari ini, kami persembahkan sebuah hadiah yang telah lama dinantikan oleh jutaan pemirsa di Mesir, serta di seluruh dunia Arab dan Islam (0:04). Kami tidak ingin berlama-lama dalam memberikan pengantar yang mungkin hanya akan menjadi pemborosan kata (0:06). Pemirsa membutuhkan setiap detik dari halaqah ini untuk mereguk kebahagiaan dalam pertemuan ini (0:31).

Pembicara kita dalam halaqah ini adalah Fadhilah al-Ustadz Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Profesor pada Fakultas Syariah di Universitas Raja Abdul Aziz, Kerajaan Arab Saudi (0:40). Di awal, saya memohon maaf atas sedikit gangguan pada suara saya (0:53). Namun, andai pun suara saya sehat walafiat, saya rasa saya tidak perlu berbicara panjang lebar dalam pertemuan ini (0:53).

Sebab, "tamu" agung kita dalam halaqah ini—meski saya katakan pembicara kita adalah Fadhilah Asy-Syaikh Sya’rawi—sesungguhnya tema utama kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam (1:09). Betapa banyak dimensi yang dapat kita gali dari sosok yang tiada tandingannya ini, sosok Baginda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (1:24). Muhammad Rasulullah, Sayyidul Awwalin wal Akhirin (Pemimpin manusia terdahulu dan yang akan datang), yang telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah, yang selalu kita kirimkan selawat dan salam kepadanya di setiap salat kita (1:36).

Ketika kita berbicara tentang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kita merasa sedang berbicara tentang Al-Qur'an, karena akhlak beliau adalah Al-Qur'an (1:53). Setiap dimensi dari kepribadian beliau adalah teladan, qudwah, dan uswah hasanah (2:05). Allah berfirman:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) (2:13)


Dalam halaqah ini, kita akan mengulas dua atau tiga dimensi dari kepribadian beliau (2:22).

Pertama: Terkait dengan kelahiran (maulid) beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam serta beberapa tanda kebesaran dan mukjizat kosmis (al-mu’jizat al-kauniyyah) yang mengiringi kelahiran Sang Pemimpin Umat Manusia tersebut (2:35).


Kedua: Terkait dengan masa kerasulan (bi'tsah) beliau, turunnya wahyu, serta fenomena futur al-wahyi (masa jeda atau terputusnya wahyu untuk sementara waktu) (2:51). Mengapa ada masa kekosongan tersebut, padahal dalam nalar awam manusia, masa penantian yang panjang itu tampak berat untuk ditanggung (3:13)?


Ketiga: Kedudukan agung Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam di sisi Allah Rabbul ‘Izzah (3:25).


Saya sengaja memaparkan semua tema ini di awal agar saya tidak perlu memotong penjelasan Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi di saat beliau sedang menuangkan untaian mutiara ilmunya yang sangat memikat (3:36). Mari kita simak bersama Fadhilah al-Ustadz Asy-Syaikh (4:00).

Bagian 2: Pemaparan Kedudukan Nabi oleh Syaikh Asy-Sya’rawi

Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi:
Bismillahirrahmanirrahim (4:09).
Ahmaduka Rabbi wa asta’inuka, wa ushalli wa usallimu ‘ala khairi khalqihi Sayyidina Muhammad (4:13). Dialah "telinga kebaikan" yang pertama kali mendengar dan menerima transmisi terakhir dari langit ke bumi ini (4:25). Dialah "lisan kebenaran" yang menyampaikan petunjuk bagi makhluk dari Sang Al-Haqq (4:34). Amma ba'du (4:44).

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam teramat agung dan mulia untuk dinilai oleh manusia yang sesama basyar (makhluk) seperti beliau (4:52). Namun, Dzat yang mampu memberikan penilaian hakiki atas kedudukannya adalah Tuhannya, Dzat yang telah memilih dan mengutusnya (4:52). “Apakah (pantas) Dzat yang menciptakan itu tidak mengetahui? Padahal Dia Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Al-Mulk: 14) (5:09).

Jika kita ingin melihat bagaimana penilaian Allah (al-Haqq) terhadap Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam, kita akan mendapati sebuah rahasia kebahasaan dalam Al-Qur'an (5:17). Ketika Allah memanggil para nabi dan rasul lainnya, Allah memanggil mereka langsung dengan nama aslinya (5:27). Allah berfirman: “Wahai Adam!”, “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat dari Kami...”, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah...”, atau “Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (5:27).

Namun, ketika Allah mengarahkan khitab (redaksi dialog) kepada Kekasih Agung-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam, Allah tidak pernah memanggilnya di dalam Al-Qur'an dengan kalimat: "Wahai Muhammad!" atau "Wahai Ahmad!" (5:52). Melainkan, Allah mendahului panggilannya dengan untaian mulia:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ ("Wahai Rasul!") atau يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ ("Wahai Nabi!") (6:03).


Perkara kebahasaan ini memposisikan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada derajat kedekatan yang paling tinggi di sisi Tuhannya (6:03).

Selain itu, kita dapati pula bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah demi menegaskan suatu perkara, Dia bersumpah dengan berbagai macam makhluk kosmis; baik dengan benda mati (jamadat), tumbuh-tumbuhan, hewan, maupun malaikat (6:23). Namun, kita tidak pernah mendapati Allah bersumpah demi kehidupan seorang manusia pun, KECUALI demi kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam (6:36).

Allah bersumpah dengan firman-Nya:

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Demi umurmu (wahai Muhammad), sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan) mereka.” (QS. Al-Hijr: 72) (6:52).


Makna La’amruka adalah "Demi kehidupanmu, wahai Muhammad!" (6:52). Maka urusan Rasulullah dan detak kehidupan beliau memiliki kedudukan dan maqam yang luar biasa di sisi Tuhannya (7:01).

Jika manusia memuji sesamanya karena akhlak yang baik, sifat yang mulia, atau perangai yang indah, mereka memujinya berdasarkan standar nilai kemanusiaan mereka yang serba terbatas (7:09). Namun, ketika Sang Pencipta sendiri yang menilai akhlak makhluk-Nya, Dia menilainya pada level tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia (7:31). Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4) (7:31).


Ketika Allah berfirman kepada Rasul-Nya, "Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung," maka itu bukanlah standar akhlak yang remeh dalam pandangan manusia biasa (7:43). Melainkan standar akhlak yang diinginkan oleh Allah (7:55). Rasulullah telah melampaui maqam itu, sehingga beliau diakui sebagai pemilik akhlak yang agung berdasarkan penilaian Allah Yang Maha Agung (7:55).

Bagian 3: Harmonisasi Alam Semesta dan Mukjizat Kelahiran (Maulid)

Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi:
Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki petunjuk bagi makhluk-Nya, sementara manusia sering kali memperturutkan syahwatnya hingga tertimpa kelalaian (ghafiah), manusia cenderung melupakan sebagian dari manhaj (konsep syariat) (7:55). Di saat itulah masyarakat sekitar saling mengingatkan (8:25). Manusia mungkin bisa kembali (awwab) kepada Tuhannya jika jiwanya masih berfungsi sebagai nafsul lawwamah (jiwa yang penuh penyesalan atas dosa) (8:35).

Namun, akan datang suatu fase di mana kerusakan itu tidak lagi bersifat individu, melainkan merata pada level sosial masyarakat (8:41). Ketika masyarakat telah rusak total, maka mutlak diperlukan intervensi dari langit untuk menurunkan manhaj yang baru (8:54). Manhaj baru ini harus dibawa oleh lisan seorang rasul yang baru, dibarengi dengan mukjizat yang baru pula (8:57).

Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berkehendak untuk menutup lembaran risalah samawi dengan risalah Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam (9:07). Tidak ada lagi nabi setelah beliau (9:21). Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah Al-Khatam (Penutup) (9:26). Konsekuensi dari predikat Penutup ini adalah Allah menitipkan sebuah karakteristik (khashishah) khusus di dalam umat ini, yang mana karakteristik umat ini mampu menggantikan peran multiplisitas (banyaknya) nabi dan rasul di zaman dahulu (9:26).

Karena risalah beliau adalah penutup, maka risalahnya wajib memiliki elemen kelangsungan hidup ('anashir al-baqa'), dan umatnya pun harus memiliki elemen penjagaan ('anashir al-hifzh) terhadap risalah ini (9:39). Oleh sebab itu, Nabi bersabda: "Kebaikan akan selalu ada padaku dan pada umatku hingga hari Kiamat." (9:59).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam diutus untuk mengembalikan keharmonisan (insijam) alam semesta dengan manusia (10:35). Makna harmonisasi ini adalah bahwa seluruh alam semesta—baik benda mati, tumbuh-tumbuhan, maupun hewan—semuanya tunduk, patuh, dan berserah diri (musakhkhar) kepada Allah (10:42). Alam tidak mungkin bergerak kecuali atas kehendak Allah (10:57). Namun, manusialah satu-satunya makhluk yang di dalamnya terdapat kelompok yang taat (tha'i') dan kelompok yang durhaka ('ashi) (11:03).

Allah memaparkan ketidakharmonisan manusia ini di hadapan alam semesta yang tunduk membisu melalui firman-Nya:

“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, dan hewan-hewan melata?” (11:10).


Semua jenis makhluk tersebut secara ijmak (aklamasi) bersujud dan melayani ketentuan Allah (11:30). Namun ketika ayat tersebut sampai pada pembahasan manusia, ijmak atau keseragaman itu runtuh (11:33). Allah berfirman:

وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ
“...dan banyak di antara manusia (yang sujud). Tetapi banyak pula (manusia) yang pantas terkena azab.” (QS. Al-Hajj: 18) (11:38).


Seharusnya, manusia hidup harmonis dengan alam semesta dengan cara tunduk pada manhaj Allah, sebagaimana alam raya juga tunduk pada manhaj-Nya (11:42). Alam semesta yang patuh sangat mencintai dan menyatu dengan manusia yang taat (11:53). Sebaliknya, manusia yang maksiat akan menciptakan keretakan dan perpecahan antara dirinya dengan alam raya (12:06). Alamnya tunduk dan khusyuk, sementara manusianya membangkang dan durhaka (12:07).

Maka, ketika Allah mengizinkan lahirnya manhaj terakhir untuk mengembalikan keharmonisan manusia dengan alam, seluruh alam raya bersukacita menyambut kedatangan sang pembawa manhaj tersebut, yaitu Baginda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (12:18).

Jadi, tidak perlu heran jika benda mati bergembira, tumbuh-tumbuhan bersukacita, hewan-hewan bahagia, malaikat berpesta, dan jin yang taat ikut bersyukur atas kelahiran beliau (12:53). Jika sejarah sirah nabawiyah mengabarkan kepada kita tentang adanya irhashat (tanda-tanda kerasulan sebelum masa berstatus nabi) yang mengguncang jagat raya saat kelahiran beliau, kita tidak boleh menganggapnya mustahil (13:09). Sebab alam semesta ini, meskipun tidak memiliki jenis kehidupan biologis seperti kita, mereka memiliki kehidupan khusus, memiliki kesadaran dalam menerima perintah Allah, serta memiliki rasa senang dan sedih (13:27).

Allah merangkum hakikat ini dalam firman-Nya:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra: 44) (13:58).


Sebagian ulama berpendapat bahwa tasbihnya alam semesta adalah tasbih dhalalah (tasbih secara maknawi/indikator keberadaan Tuhan) (14:16). Kita katakan: Pandangan itu boleh saja, namun hal itu tidak menafikan adanya tasbih secara hakiki (suara/bahasa nyata) (14:28). Sebab jika itu hanya tasbih indikator sebagaimana klaim kalian, mengapa Allah berfirman: “Tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka”? Padahal manusia bisa memahami indikator keterciptaan alam (14:28).

Bukti lain adalah Allah mengizinkan sebagian jenis makhluk berdialog dan dipahami oleh manusia pilihan-Nya, seperti Nabi Dawud yang membuat gunung-gunung ikut bertasbih bersamanya (14:44). Begitu pula kisah semut di zaman Nabi Sulaiman: “Berkatalah seorang semut: Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu...” (15:41). Kisah burung Hud-hud yang mengerti konsep tauhid juga membuktikannya: “Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah...” (16:09). Hewan pun tahu siapa yang berhak disembah dan disujudi (16:41).

Maka, jika sirah menceritakan runtuhnya pilar Istana Kisra, padamnya api sesembahan Persia yang tak pernah padam selama seribu tahun, atau keringnya Danau Sawah saat malam kelahiran Nabi, hal itu sama sekali tidak mustahil di hadapan kuasa Allah (17:48).

Perhatikan bagaimana Al-Qur'an menyajikan peristiwa besar dalam Surah Al-Fil yang terjadi pada tahun kelahiran Nabi (18:12). Pasukan bergajah datang untuk menghancurkan Ka'bah (18:12). Mengapa Allah menjaga bangunan fisik Ka'bah pada tahun itu (18:39)? Jawabannya adalah karena pada tahun yang sama, Allah melahirkan sesosok manusia yang kelak akan menjaga nilai maknawi dari Ka'bah tersebut, yaitu Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam (18:57). Penjagaan bangunan fisik Ka'bah dari kehancuran adalah demi menyambut kelahiran sang pembawa risalah tauhid (18:57).

Allah membuka surah tersebut dengan redaksi yang menakjubkan:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” (QS. Al-Fil: 1) (19:17).


Rasulullah secara fisik belum lahir atau masih bayi sehingga tidak melihat langsung peristiwa tersebut (19:28). Namun, mengapa Allah menggunakan kata “Alam tara” (Tidakkah engkau melihat) (19:28)?

Sebab, jika sebuah berita bersumber langsung dari kabar Allah, maka seorang mukmin wajib menerimanya dengan keyakinan penuh seolah-olah ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri (19:42). Kabar dari Allah kedudukannya sama seperti pandangan matamu, bahkan lebih akurat (20:00).

Lalu perhatikan frasa “Fa’ala Rabbuka” (Tuhanmu telah bertindak) (20:14). Penyandaran kata Rabb (Tuhan) kepada kata ganti ka (kamu - Muhammad) menunjukkan bahwa mukjizat dihancurkannya pasukan bergajah tersebut memiliki kaitan erat dengan urusan pengasuhan, penjagaan, dan persiapan bagi kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam (20:14).

Bagian 4: Menjawab Syubhat Kaum Rasionalis Mengenai Surah Al-Fil

Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi:
Ketika Al-Qur'an memaparkan bahwa pasukan bergajah dihancurkan oleh thairan ababil (burung yang berbondong-bondong) yang melempari mereka dengan hijaaratim min sijjil (batu dari tanah yang terbakar) hingga menjadi ka’ashfim ma’kul (seperti daun-daun yang dimakan ulat), sebagian ulama modern ter tergelincir dalam sebuah sikap apologetis (pembelaan yang dipaksakan) (20:43).

Kita sempat dituduh oleh para orientalis bahwa agama Islam tidak sejalan dengan akal pikiran (20:55). Tuduhan ini dilemparkan untuk mendiskreditkan Islam (21:08). Lalu bangkitlah sekelompok orang yang memiliki ghirah (semangat membela) Islam, namun mereka menggunakan pendekatan rasionalisme ekstrem (21:22). Mereka mencoba menakwilkan setiap perkara gaib yang tidak dijangkau oleh akal agar tampak selaras dengan nalar modern, demi menolak tuduhan para orientalis tersebut (21:22). Di antara mereka terdapat tokoh-tokoh sekolah pemikiran rasionalis (al-madaris al-‘aqliyyah) (21:44).

Ketika membahas peristiwa Pasukan Bergajah ini, mereka mengatakan bahwa thairan ababil yang membawa batu sijjil itu sebenarnya adalah metafora dari mikroba, virus, atau bakteri penyakit (cacar) yang dikirim oleh Allah untuk menghancurkan pasukan Abrahah (21:56). Mereka melakukan takwil ini agar peristiwa tersebut terasa masuk akal bagi manusia modern (22:08).

Kita katakan kepada mereka: Kami berterima kasih atas ghirah dan niat baik kalian untuk membawa perkara gaib ke ranah akal (22:08). Namun, agama tidak dinilai dengan cara seperti itu (22:24).

Akal bertugas pada level pondasi paling puncak, yaitu ketika seseorang menggunakan akalnya untuk mengimani keberadaan Allah dan kebenaran risalah-Nya (22:28). Begitu akalmu telah memutuskan untuk beriman kepada Allah, maka engkau harus menerima segala informasi yang datang dari Allah (22:41). Jangan lagi engkau masukkan akalmu untuk mengadili setiap detail parsial dari apa yang difirmankan-Nya (22:41). Jika engkau mengadili setiap detail firman Tuhan dengan akalmu yang terbatas, artinya engkau meruntuhkan kembali konsistensi keimananmu yang pertama (22:54).

Menghormati fungsi akal setelah beriman adalah dengan cara memfungsikannya untuk memverifikasi kevalidan nukilan (tawtsiqan naql)—apakah benar Allah memfirmankan hal tersebut atau tidak (23:02). Jika teksnya valid, maka selesai.

Lagipula, mari kita patahkan argumen takwil mikroba tersebut menggunakan argumen historis dan linguistik yang logis:
Peristiwa tahun gajah terjadi pada tahun kelahiran Nabi (23:15). Beliau diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun (23:26). Berarti, orang-orang kafir Quraisy yang menyaksikan peristiwa tersebut masih hidup saat Al-Qur'an surah Al-Fil diturunkan; usia mereka saat itu mungkin berkisar antara 60 hingga 80 tahun (23:33). Pada saat kejadian tahun gajah, mereka sudah berusia 20, 30, atau 40 tahun (23:43). Mereka melihat langsung runtuhnya pasukan Abrahah (23:49).

Jika kenyataan di lapangan saat itu tidak sesuai dengan apa yang difirmankan Al-Qur'an (yaitu burung nyata yang menjatuhkan batu), melainkan hanya wabah penyakit biasa, niscaya orang-orang kafir Quraisy akan dengan sangat mudah mendustakan Al-Qur'an (23:49). Mereka akan memprotes: "Hai Muhammad, mana ada burung? Kami dulu di sana dan melihat mereka mati karena demam penyakit!" (24:11). Namun kenyataannya, tidak ada satu pun orang Quraisy yang menyangkal isi Surah Al-Fil (24:15). Peristiwa itu terjadi persis seperti yang dikisahkan Al-Qur'an dan dipahami oleh logika orang Arab saat itu (24:21).

Secara kaidah bahasa (dilalah al-fa’), Allah berfirman: “Tarmihim bihijaaratim min sijjil, FA ja’alahum ka’ashfim ma’kul” (25:07). Huruf Fa’ di sana berfungsi sebagai li al-tartib wa al-ta’qib (menunjukkan urutan yang terjadi secara spontan/seketika tanpa jeda waktu) (25:07). Jika kehancuran itu disebabkan oleh mikroba atau virus penyakit, ia membutuhkan masa inkubasi, masa penularan, dan proses pembusukan tubuh yang memakan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu (25:16). Padahal ayat tersebut menggunakan huruf Fa' yang berarti begitu batu mengenai tubuh mereka, saat itu juga tubuh mereka hancur lebur seperti daun yang dikunyah ulat (25:07). Mikroba macam apa yang memiliki kecepatan destruktif seinstan itu (25:26)?

Maka, entah engkau menyebutnya burung secara hakiki atau takwil lainnya, ketahuilah bahwa sunnatullah dan hukum alam dibekukan oleh Allah dalam mukjizat (25:36). Ketika Dzat yang bertindak adalah Tuhanmu (Fa'ala Rabbuka), maka tanggalkanlah semua hukum kausalitas (sebab-akibat) duniawi yang biasa engkau kenal (25:44). Engkau harus percaya sepenuhnya pada kemahakuasaan-Nya (26:06). Keimanan akan menampung hal itu dengan mudah (26:19).

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum arif billah:

“Akal itu laksana kendaraan yang mengantarkanmu tepat sampai ke depan pintu gerbang istana sang raja. Namun, kendaraan tersebut tidak ikut masuk ke dalam bersama dirimu saat menemui sang raja.” (26:22).


Bagian 5: Fenomena Jeda Wahyu (Futur Al-Wahyi) dan Rahasia Surah Ad-Dhuha

Pembawa Acara:
Penjelasan Fadhilah Asy-Syaikh Sya’rawi dalam poin ini sungguh telah menjawab banyak sekali bisikan hati (khawathir) dan tanda tanya yang sering mengusik pikiran orang ketika membaca kitab-kitab sirah terkait fenomena mukjizat maulid Nabi (26:34). Selama ini sebagian orang menceritakannya dengan sikap ragu atau sekadar taklid tanpa bisa membela validitasnya secara rasional-keimanan (27:22). Bahkan ada yang menganggap Nabi tidak butuh mukjizat kosmis seperti itu (27:42).

Kini, setelah jelas bagi kita dari pemaparan Syaikh bahwa misi Nabi adalah mengembalikan harmoni alam semesta dan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, maka fenomena kosmis tersebut menjadi sangat logis dalam timbangan iman (28:00).

Sekarang, mari kita beralih ke poin berikutnya mengenai masa futur al-wahyi atau jeda turunnya wahyu (38:13). Malaikat Jibril sempat tidak turun menemui Rasulullah dalam waktu yang cukup lama (38:45). Mengapa tidak diturunkan saja secara bertubi-tubi di awal agar beliau mantap, baru kemudian diuji (39:18)? Al-Qur'an mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya: “Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.” Mohon analisisnya, Syaikh (39:36).

Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi:
Wahyu memiliki banyak makna dalam Al-Qur'an; ada wahyu kepada bumi, wahyu kepada hewan (lebah), wahyu kepada malaikat, dan wahyu kepada manusia saleh (ibu Nabi Musa/kaum Hawariyyun) (40:16). Secara bahasa, wahyu adalah al-i’lam bi khafa’ (penyampaian informasi secara tersembunyi/samar) (40:16). Bahkan syaitan pun melakukan "wahyu" (bisikan kesesatan) kepada para walinya (40:56). Namun jika kata wahyu mutlak diucapkan, maka maknanya adalah wahyu dari Allah kepada para rasul-Nya (41:08).

Cara Allah menyampaikan wahyu kepada rasul-Nya ada tiga jalan sebagaimana disebutkan dalam Surah Asy-Syura ayat 51:

Dikompakkan/dihunjamkan langsung sebuah makna ke dalam hati sanubari Nabi (al-ilham) (41:30).


Allah berdialog langsung dari balik hijab (seperti saat kewajiban salat di Sidratul Muntaha) (41:30).


Allah mengutus utusan dari malaikat (Jibril) untuk menyampaikan wahyu dengan izin-Nya (41:30).


Otentisitas teks Al-Qur'an seluruhnya ditetapkan melalui jalur ketiga, yaitu melalui Malaikat Jibril (42:11). Sebab jalur penghunjaman makna ke dalam hati berpotensi diklaim sebagai lintasan pikiran biasa oleh orang-orang skeptis (42:11). Sedangkan kedatangan Jibril membawa dampak fenomena fisik dan perubahan kimiawi yang luar biasa pada tubuh madiyah (fisik) Nabi (42:24). Tubuh beliau akan bergetar hebat, mengeluarkan keringat dingin yang bercucuran meski di hari yang sangat dingin, dan jika beliau sedang berada di atas unta, unta tersebut akan menderum keberatan menahan bobot wahyu (42:34).

Pertemuan antara entitas malaikat yang murni cahaya (nuraniyyah) dengan entitas manusia yang bermateri fisik (basyariyyah) memerlukan sebuah proses transisi (43:02). Transisi ini terjadi dalam dua bentuk:

Kadang Jibril yang bertransformasi menjadi wujud manusia (seperti menyerupai Sahabat Dihyah al-Kalbi) agar Nabi tidak keberatan (43:13).


Kadang Rasulullah yang ditarik keluar dari sifat kemanusiaannya menuju sifat kemalaikatan agar mampu menyerap wahyu langsung dari wujud asli Jibril (43:41). Pada proses inilah perubahan biokimia tubuh Nabi terjadi dengan sangat berat; beliau mendengar suara mendenging laksana gemerincing lonceng (shashalatul jaras) (43:54). Setelah Jibril pergi, Nabi akan kembali ke sifat kemanusiaannya dalam kondisi lemas dan kedinginan, hingga bersabda: "Zammiluni, datsiruni" (Selimuti aku, selimuti aku!) (44:38).


Proses pelepasan dari dimensi basyariyyah ini teramat melelahkan bagi fisik Nabi (44:57). Oleh karena itu, Allah Sengaja menghentikan sejenak turunnya wahyu (futur al-wahyi) untuk memberikan waktu istirahat bagi fisik beliau (45:17).

Ketika rasa lelah fisik itu telah hilang, yang tersisa di dalam hati Nabi hanyalah kelezatan rasa rindu (al-syawq) untuk bertemu kembali dengan wahyu langit (45:28). Rasa rindu yang membuncah ini memberikan pasokan energi material dan spiritual yang baru bagi Nabi, sehingga pada tanggungan wahyu berikutnya, beliau tidak lagi mengalami kepayahan fisik yang ekstrem seperti di awal kerasulan (46:05). Beliau tidak lagi berteriak minta diselimuti karena rasa rindu telah mengalahkan rasa lelah fisiknya (46:20).

Namun, di saat wahyu sedang dijeda, kaum kafir Makkah mengejek beliau dengan berkata: "Tuhannya Muhammad telah meninggalkannya dan membencinya!" (47:09). Sungguh aneh nalar mereka; saat wahyu turun mereka menuduhnya berbohong, namun saat wahyu dijeda mereka justru sibuk mencarinya (47:09).

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab ejekan mereka menggunakan argumentasi kosmis yang disepakati oleh nalar semua orang melalui permulaan Surah Ad-Dhuha (47:30):

وَالضُّحَىٰ . وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ . مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.” (QS. Ad-Dhuha: 1-3) (47:44).


Allah bersumpah menggunakan dua waktu yang kontras: Waktu Dhuha (siang hari) dan Waktu Malam (47:56). Siang (Dhuha) adalah simbol dari aktivitas, kerja keras, kelelahan, dan pancaran cahaya—inilah representasi saat wahyu sedang turun (48:11). Sedangkan Malam yang sunyi adalah simbol dari ketenangan, keheningan, dan istirahat—inilah representasi masa futur al-wahyi (jeda wahyu) (48:11).

Allah ingin menegaskan: Wahai kaum kafir, dalam kehidupan sehari-hari, kalian bekerja lelah di siang hari dan mutlak membutuhkan keheningan malam untuk mengistirahatkan tubuh kalian (48:11). Apakah jika malam tiba berarti siang telah mati dan tidak akan kembali lagi (48:39)? Tentu tidak. Malam hadir agar kalian bisa menyongsong siang esok hari dengan stamina yang penuh (48:43). Begitu pula dengan jeda wahyu pada diri Muhammad (49:51).

Perhatikan pula keindahan sastra Al-Qur'an (balaghah) pada ayat ketiga:

Pada kalimat “Ma wadda’aka” (Dia tidak meninggalkanmu), Allah menyertakan kata ganti Ka (kamu - Muhammad) (48:56). Karena perpisahan sementara bisa saja terjadi di antara dua pihak yang saling mencintai (49:11).


Namun pada kalimat “Wa ma qala” (Dan Dia tidak membenci), Allah TIDAK mengucapkan “Wa ma qala-ka” (Dan Dia tidak membencimu) (49:30). Allah membuang kata ganti ka di sana karena kebencian hanya diarahkan kepada musuh (49:24). Allah enggan menyandingkan kata ganti Kekasih-Nya (ka) bersambung langsung dengan kata kerja "benci" (qala) demi menjaga kesucian dan keagungan nama Nabi Muhammad (49:30).


Bagian 6: Struktur Matematika Estetika Surah Ad-Dhuha

Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi:
Ada rahasia mukjizat matematis yang sangat indah dalam penyusunan struktur Surah Ad-Dhuha yang terdiri dari sumpah di awal dan sembilan ayat berikutnya (50:23). Jika kita membagi sembilan ayat ini ke dalam matriks tiga kolom vertikal (Ayat 1-3, Ayat 4-6, Ayat 7-9) (50:38), kita akan menemukan korelasi linier yang lurus dan mengagumkan (50:57):

Kelompok Baris I (Hukum/Janji Allah):

“Ma wadda’aka Rabbuka wa ma qala” (Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu) (51:36).


“Wa lal-akhiratu khairul laka minal-ula” (Dan sungguh, yang akhir itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan) (51:36).


“Wa lasaufa yu’thika Rabbuka fa tardha” (Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas) (51:36).


Kelompok Baris II (Bukti Sejarah/Argumentasi Atas Janji Tersebut):
Akan kita dapati bukti historis yang linier pada baris di bawahnya (51:17):

Untuk menjawab janji ke-1 (Allah tidak meninggalkanmu), buktinya ada pada ayat ke-4: أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-mu?”) (52:01). Bagaimana mungkin Allah akan meninggalkanmu sekarang, padahal sejak engkau kecil, yatim, dan belum menjadi rasul pun Allah selalu menjagamu (52:10)?


Untuk menjawab janji ke-2 (Masa depanmu selalu lebih baik), buktinya ada pada ayat ke-5: وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”).


Untuk menjawab janji ke-3 (Allah akan membuatmu berkecukupan/puas), buktinya ada pada ayat ke-6: وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”).


Kelompok Baris III (Tuntutan Etika/Khidmat Sosial):
Lalu pada tiga ayat terakhir merupakan tuntutan amalan (al-mathlubat) yang ditarik tegak lurus dari pembuktian di atas (51:17):

Karena Allah dulu telah melindungimu saat yatim, maka tuntutannya adalah: فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”) (52:30).


Karena Allah dulu telah memberimu petunjuk saat bingung, maka tuntutannya adalah: وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (“Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.”).


Karena Allah dulu telah memberimu kekayaan saat miskin, maka tuntutannya adalah: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”).


Inilah Al-Qur'an, sebuah mukjizat yang tidak membutuhkan ruang perdebatan kosong, melainkan keimanan yang jernih untuk menyerap keagungan maknanya (52:34).

Bagian 7: Penutup

Pembawa Acara:
Syukran lak, terima kasih banyak kepada Fadhilah Asy-Syaikh (52:57). Kata terima kasih saja tentu tidak akan pernah cukup atas untaian ilmu yang berharga ini (53:10). Kita hanya bisa berharap dan berdoa agar Allah mempertemukan kita kembali dalam episode baru bersama Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Profesor Fakultas Syariah di Universitas Raja Abdul Aziz, Kerajaan Arab Saudi (53:10).

Kami mengucapkan terima kasih kepada pemirsa sekalian (53:28). Semoga kita selalu berjumpa dalam kebaikan (53:28). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (53:28).

Catatan Redaksional & Istilah Khusus untuk Editor:

Irhashat (إرهاصات): Tanda-tanda luar biasa atau kejadian supranatural yang terjadi pada diri seorang calon nabi sebelum ia resmi diangkat menjadi nabi/rasul (misal: padamnya api majusi saat Nabi lahir) (13:16).


Futur al-Wahyi (فتور الوحي): Masa jeda atau masa kekosongan di mana Malaikat Jibril tidak turun membawa wahyu dalam kurun waktu tertentu setelah wahyu pertama (Surah Al-'Alaq) turun (38:33).


Madiyah (مادية): Sifat atau dimensi jasmani/fisik material manusia yang memiliki keterbatasan hukum alam (44:57).


Shashalatul Jaras (صلصلة الجرس): Bunyi gemerincing lonceng besi; deskripsi sensorik pendengaran Nabi ketika wahyu turun dalam bentuknya yang paling berat (44:09).


Li al-Tartib wa al-Ta'qib (للترتيب والتعقib): Fungsi huruf konjungsi Fa (فَـ) dalam kaidah bahasa Arab yang menunjukkan bahwa peristiwa kedua terjadi langsung seketika setelah peristiwa pertama tanpa adanya penundaan waktu (25:07).


Apakah transkrip ini sudah sesuai dengan standar penerbitan literatur keislaman yang Anda harapkan, atau ada bagian penafsiran ayat tertentu yang ingin disesuaikan lebih mendalam?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAM NERAKA ATASNYA.... SIAPA SAJA MEREKA & YANG MEREKA LAKUKAN?

PARA SALAF SHOLIH DAN PARA PENGIKUTNYA

BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH