Rabu, 16 Juli 2025

PENYEBAB GANGGUAN JIN DAN SETAN

 PENYEBAB GANGGUAN JIN DAN SETAN

Gangguan jin dan setan seringkali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa sebab yang menjadi pintu masuk atau pemicu lemahnya pertahanan jiwa, sehingga jin dan setan mudah mempengaruhi atau bahkan menguasai diri seseorang. Berikut ini beberapa penyebab utamanya:

1. Tekanan Pekerjaan dan Beban Kehidupan

Seseorang yang mengalami tekanan berat karena tugas atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya akan merasa tertekan secara psikis. Stres dan depresi pun muncul. Jiwa yang lemah ini menjadi sasaran empuk bagi gangguan jin dan setan, yang akan menjerumuskan ke hal-hal negatif dan membahayakan, baik secara mental maupun spiritual.

2. Hubungan Tak Islami (Cinta Nafsu dan Zina)

Hubungan yang tidak dilandasi syariat—seperti pacaran, zina, hingga penggunaan sihir atau pelet untuk mendapatkan cinta—akan membuka ruang bagi jin dan setan. Akibatnya bisa fatal: kehamilan di luar nikah, sakit hati, bunuh diri, pembunuhan, hingga gangguan jiwa yang berkepanjangan.

3. Perceraian Orang Tua

Anak-anak korban perceraian sering mengalami tekanan batin yang berat. Keadaan ini dapat dimanfaatkan oleh jin untuk menyusup, membuat anak malas beribadah, durhaka kepada orang tua, hingga berubah akhlaknya menjadi buruk.

4. Mengamalkan Amalan Syirik

Segala bentuk amalan yang tidak berdasar pada Al-Qur’an dan Sunnah, atau campur aduk antara ajaran Islam dan non-Islam, termasuk bentuk kesyirikan, akan membuka pintu bagi masuknya jin. Mereka bisa mempengaruhi tubuh, pikiran, hingga ibadah seseorang sehingga menjadi lalai dan rusak.

5. Kekecewaan karena Cinta Dunia yang Berlebihan

Ketika harapan duniawi tidak terpenuhi, kekecewaan akan muncul. Jika jiwa tak kuat, kekecewaan ini menjadi celah masuk bagi jin. Ia bisa menyusup ke dalam tubuh dan mempengaruhi emosi serta akal seseorang, bahkan menjerumuskan pada keputusasaan dan tindakan berbahaya.

6. Kemarahan yang Meledak-ledak

Amarah yang tak terkendali membuka pintu lebar bagi setan untuk menguasai manusia. Ibarat bola yang dipermainkan, manusia yang dikuasai amarah bisa melakukan kejahatan tanpa sadar, termasuk pembunuhan atau tindakan brutal lainnya.

7. Kesedihan yang Mendalam

Kesedihan yang berlebihan, jika tidak dibentengi dengan iman yang kuat, bisa mengguncang jiwa dan akal. Dalam keadaan ini, jin dengan mudah mempengaruhi hingga menyurup, menyebabkan depresi berat, stres kronis, bahkan gila.

8. Cinta Dunia Berlebihan

Cinta berlebih terhadap dunia seperti rumah mewah, harta, wanita, anak, emas, bisnis, jabatan, pangkat, hingga game online (seperti Mobile Legend) bisa membutakan hati. Jika tidak tercapai atau direnggut, seseorang bisa mengalami tekanan batin berat, yang kemudian menjadi celah masuk bagi jin. Tak sedikit yang mengalami gangguan jiwa, bahkan kerasukan, hanya karena dipisahkan dari kesenangan duniawinya.

Penutup

Segala bentuk kelebihan dalam urusan dunia, tanpa diimbangi kesadaran iman dan kontrol diri, akan membahayakan jiwa dan membuka ruang bagi gangguan jin dan setan. Jika tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat secara syar’i, maka akibatnya bisa fatal: gangguan psikis, gangguan fisik, hingga kerasukan.

Karenanya, ruqyah syar’iyyah, taubat, serta kembali memperkuat akidah dan ibadah adalah langkah penting dalam mengatasi dan mencegah gangguan ini.

Jika Anda ingin versi ini ditambahkan referensi dari Al-Qur’an dan Hadis, atau dijadikan materi ceramah, saya siap bantu lanjutkan.

ADAT JAWA & SYAIKH SUBAKIR

 

ADAT JAWA & SYAIKH SUBAKIR

Bahwa inti adat dan agama asli orang Jawa adalah berakhlak mulia (bermoral tinggi), bertuhan kepada Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak dapat digambarkan wujud-Nya, yang menciptakan semesta besar (alam raya) dan semesta kecil (manusia). Tuhan ini bersifat welas asih (kasih sayang)Maha Agung, dan sangat dekat dengan manusia melalui wakil-Nya berupa sukma (nyawa).

Inilah hakikat yang pernah diungkap oleh Sabdo Palon dalam kisah sejarah Kapitayan Jawa Kuna.

Jelas sekali bahwa ajaran Islam sangat sejalan dengan ajaran Kapitayan Jawa Kuna, yakni ajaran tentang budi pekerti luhur, akhlak yang mulia, serta pengakuan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Maka, Kapitayan tidaklah sama dengan agama-agama baru seperti Hindu atau Buddha yang datang belakangan ke tanah Jawa.

Inti ajaran orang Jawa adalah soal akhlak dan ketuhanan, bukan ritual-ritual luar semata. Dan ternyata, ajaran ini sangat selaras dengan Islam, baik dalam visi ketuhanan maupun nilai kemanusiaannya.

Yang merusak adat dan kapitayan orang Jawa bukanlah Islam, bukan pula orang Arab yang telah memeluk Islam. Justru, adat kuno Arab yang rusak (jahiliyyah) dahulu telah diperbaiki oleh Rasulullah. Dan kini, budaya Islam yang berkembang sudah membawa nilai-nilai luhur tersebut ke seluruh dunia.

Sebaliknya, pengaruh budaya Barat-lah yang justru banyak merusak adat, moralitas, dan spiritualitas masyarakat Jawa.

Maka, tak jadi masalah jika sisi luar bangunan ibadah di Jawa masih menampilkan ornamen-ornamen Hindu atau Buddha, sementara sisi dalamnya berisi nilai-nilai Islam. Ini bukanlah perkawinan agama, melainkan wujud akulturasi simbolik yang tidak menyalahi inti ajaran Jawa, karena:

Yang penting adalah isinya: akhlak dan tauhid. Bukan kulit luarnya.

Jika Anda menginginkan versi yang lebih ilmiah, sastra, atau bernuansa pidato, saya bisa bantu sesuaikan.