*Betapa Berharganya* Dipilih menjadi manusia dan beragama Islam dan dididik untuk beriman kepada Allah Sang Pencipta segala sesuatu. Kita ada sebagai *Bismillaahi* Dzat Al Bukti Wujud-NYA (Shifat), Dan *Billaahi* yakni dengan-NYA kita hidup dalam karunia-NYA dalam dunia hingga akhirat, dan *Minallaah* yakni tak satupun yang adanya segala sesuatu itu selain hanya sebab Wujud (ADA) Allah, *Ilaallaahi* yakni Kepada-NYA pula berakhir dan kembalinya segala sesuatu. *'Alallaah* maka hendaklah kita hanya bersandar diri kepada Allah (bukan kepada segala sesuatu termasuk diri sendiri). Semuanya ini akan lenyap, dan tak berguna apapun yang dititipkan Allah selain *Di Manfaatkan untuk Iman & 'Amal‼️*
*Mengapa kamu diciptakan dan diberi Ni'mat?* Sebab ada amanat dan tugas bersyukur. *Mengapa kamu diberi kesulitan, mushibah dan beribadah?* Sebab ada tugas bershabar dan bertawakkal. *Mengapa kamu diberi Ilmu, kekuatan, keahlian, kedudukan jabatan, harta, dan kemudahan?* Sebab ada tugas yaitu berbuat kebaikan. *Mengapa kamu diberikan pengajaran Agama?* Sebab ada tugas menyaksikan kebenaran Allah dan bertaqwa kepada Allah yaitu mengikuti petunjuk Allah dan selalu terhubung sebagai hamba dengan Allah agar selamat dunia dan akhirat. Jika kamu _tidak memahami agama dengan baik dan benar,_ itu akan membuatmu *KUFUR* atas segala karunia ni'mat yang yang besar dari Allah dan *KAFIR* kepada-Nya‼️
*Biarkan saja‼️* Kalau tidak mau diatur dan dinasehati untuk segera berubah ya sudah biar sajalah. Kalau tidak mau merubah sikap dan tetap buruk sikap, nanti akan ada waktunya *Allah sendiri yang akan memberi peringatan‼️* Tapi kalau sudah begitu biasanya sudah agak terlambat sih. Mestinya mau menurut dengan nasehat yang baik untuk kemajuan diri. Tapi masih saja *suka memakai pemikirannya sendiri yang terbatas.* Orang yang terbatas ilmu dan belum banyak pengalaman dalam kehidupan ya pasti akan mengalami banyak kendala. Terutama bagi *kaum muda* dan juga bagi yang usianya sudah menginjak *dewasa apalagi menua,* tapi tak mau segera bijak dalam menjalani kehidupan.
Ada yang *berani* tapi tak mesti kuat, sehingga bisa dikalahkan. Ada yang *takut* tapi karena tak ingin masalah, sehingga selamat dalam menghadapi persoalan. Ada yang *pandai* tapi sembarangan, itu akibat kecerobohan akhirnya mendapat rugi sial atau celaka. Ada yang *lemah* tapi telaten, sehingga mampu menjalani. Ada yang *muda* tapi jangkauannya pemikirannya lebih sehingga mampu meraih prestasi. Ada yang *tua* tapi masih bersemangat, sehingga berhasil meraih. Ada yang *hebat* tapi tak disukai karena wataknya, sehingga kesulitan dalam kehidupannya. Ada yang *sederhana* dan simple tapi berkeyakinan kuat, maka mampu melewati banyak tantangan. Ada pula yang *tak punya apa-apa,* selain merasa.
Dan ada yang *kaya* tapi tidak pelit dan bersyukur maka ia selalu hidup dalam keberkahan. Ada yang *miskin* yang shabar sehingga bisa menjalani kehidupannya dengan kebahagiaan. Ada yang *kaya* tapi sangat pelitnya, dan tak mau bersyukur karena rakusnya, maka ia selalu hidup dalam kelelahan dan tertekan. Ada yang *miskin* yang menjalani kehidupan selalu dengan keluh kesahan, sehingga kesusahan tak ada hentinya. Ada yang *beriman* kepada Allah, dan *kokoh keyakinannya kepada Tuhan-NYA,* maka pasti ia mendapatkan dalam hidup di dunia atau di akhirat. Ada yang *mengaku beriman,* tapi selalu menbenci ketentuan-NYA bila tak sesuai harapannya, maka ia hidup dalam kesempitan & jauh dari Rahmat Allah.
*"SELURUHNYA HANYA WASILAH"* Sebab pemegang seluruh ketentuan hanya Allah. Tiada yang berdaya dengan seluruh apa yang ada ditangannya selain dengan Idzin Allah semata. Jika lebih mengutamakan atau mengandalkan apa yang ada pada dirinya, maka itu *salah jalan* namanya. Sesungguhnya Allah hanya memerintahkan beribadah, sedangkan wasilah adalah *AMANAH yakni Titipan Allah* agar dengannya kita _bisa melaksanakan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah._ Jikalau Allah pemberi wasilah diabaikan itu artinya *menjauhi Allah.* Sungguh bahwa segala amanah hanya bisa dipegang oleh yang memiliki *kesetiaan kepada agama, berakhlaq mulia dan bertujuan hidup menjadi hamba Allah yang sebenarnya.*
Jadi... Jangan pernah sekalipun merasa *tahu, kuat, mampu, punya atau berdaya upaya‼️* Walaupun hanya menelan air, menggerakkan jari, berkedip atau bahkan yang lebih sepele daripada itu, *kita baru mampu dan dapat meraih manfaat setelah ada Idzin Allah.* Kita _tak bisa lepas dari kebergantungan kepada Allah_ ... Lebih-lebih di saat kita sedang terpuruk atau sakit atau mengalami kesukaran & musibah. *Hanya Allah* yang kita harapkan, hanya DIA yang dapat menolong dari segala yang tak disukai, hanya Allah yang bisa melindungi kita dari marabahaya dan dan yang kita takuti. *Bukan diri sendiri, bukan harta & jabatan, bukan kepandaian & keahlian kita, bukan manusia atau siapapun dari makhluk.*
*Kebaikan* itu bergantung kepada Allah sebab DIA Pemiliknya, *Kesejahteraan* itu bergantung kepada Allah sebab DIA Pemegangnya, *Keberkahan* itu bergantung kepada Allah sebab DIA Pemberinya, *Kemuliaan* itu tergantung sebab DIA Penentunya‼️ Maka hendaklah kita mengakuinya dan Berkata, *"Sungguh Sholatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku itu Milik Allah‼️"* Janganlah sampai terpedaya oleh _hawa nafsu yang jahat, setan yang memperdaya dan kesibukan dunia yang melalaikan_ dari urusan utama *menghamba kepada Allah dan tujuan hidup yang baik & benar* sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Agar selalu ingatkan diri sendiri dan selalu *memohon taufiq hidayah 'inayah & ma'unah kepada Allah.*
*Syethan* mendatangi kita dari berbagai arah dan *membawa fitnahan* tanpa kita sadari, *membawa tipudaya* tanpa kita sadari, *membawa namimah* (ajakan permusuhan) tanpa kita sadari, *membawa bujuk rayuan* menyesatkan dam menjauhkan diri kita dari kedekatan dengan Allah tanpa kita sadari, *membawa suatu urusan* yang mengeluarkan kita dari bimbingan petunjuk Allah tanpa kita sadari pula. Semua itu telah diperingatkan Allah agar kita memposisikan syethan *sebagai musuh nyata.* _Pastinya syethan bukan kawan, bukan pemberi penasehat dan bukan pula orang kepercayaan)._ Berjagala dan berlindunglah kepada Allah dari segala kejahatan mereka *"La'natullaah Alyhim"* yang sangat halus dan licik itu.
Janganlah mengajak *hawa nafsu* untuk berembuk, jangan menerima *nasehat dari syethan,* jangan mempercayai yang bukan dari *petunjuk Allah dan Rosulullaah ﷺ.* Jika *memperturutkan keinginan* hawa nafsu, jika *enggan bersyukur* atas ni'mat telah Allah berikan dan jika *enggan bershabar* atas ketentuan Allah, jika *mengeluh* soal kehidupan, jika *meragukan* kebaikan dan kebenaran ketetapan Allah dan saat memandang cukup atas *pemikiran sendiri* dalam menjalani suatu urusan. Sema itu artinya *tanpa arah (sesat)* sebab tanpa petunjuk Allah & Rosulullaah ﷺ. Hal itu merupakan _jalan yang mudah bagi syethan_ untuk mempengaruhi dan _keadaan yang luas_ bagi syethan untuk *menguasai diri kita.*
Tak ada jalan selain *selalu berdzikir pada Allah dan selalu bersyukur* atas segala Ni'mat-NYA, dan *selalu bersabar* atas segala ketentuan Allah. Dan jangan selalu *mengikuti hawa nafsu* keinginan duniawi. Jangan *melakukan sesuatu* yang _datangnya tiba-tiba_ pada pemikiran kita‼️Sebab *pemikiran itu* bukan selalu dari diri kita sendiri, jika bukan didapat dari ajaran agama, maka pasti itu dari syethan‼️ *Perasaan kita* tak selalu benar dari diri kita sendiri, jika akhirnya bisa membawa akibat permusuhan, pasti itu dari syethan‼️ Jika kita dapati suatu perasaan dalam benak kita dan hal itu membuat kita kurang syukur dan shabar, lalu jadi syak ragu kepada Allah, maka pasti dari syethan‼️
*Tak Disadari atau Salah Mengira* Manusia yang sedang berbuat jahat itu bukanlah seperti tak kita lihat, bukan pula seperti yang kita perkirakan. Sebab manusia yang sedang melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa itu ternyata *tidak sebenar-benarnya sadar!* Mereka sedang *terlena, tak sadarkan diri oleh pengaruh sihir atau hipnotis atau bujuk rayu syethan.* Mereka *tidak sedang sendirian* melainkan sedang _ditemani syethan!_ Jika hawa nafsu ditundukkan dan syethan disingkirkan, manusia itu akan tersadar lalu bertaubat (kembali) kepada Allah. _Perbuatan aniaya yang merugikan membahayakan dirinya dan orang lain_ yang diperbuat seseorang adalah *bukti nyata penguasaan syethan atas manusia‼️*
*"Inilah Dakwah Para Syethan"* Setiap yang merusuhi dalam *pemikiran,* setiap yang mengacaukan dalam *perasaan,* setiap yang membatasi *kebahagiaan hati,* setiap mengeruhkan *suasana,* setiap yang merenggangkan hubungan *kekeluargaan - kerukunan,* setiap yang menyuarakan *permusuhan,* setiap yang membatasi terlaksananya *kebaikan,* setiap yang mencegah tersebarnya *kemanfaatan (kikir),* setiap yang mengajak kepada *memperturutkan kelalaian* setiap yang mengajak kepada *kerugian & kerusakan,* setiap yang menyuruh pandangan yang *mendengki,* setiap yang mencegah *pendengaran tersumbat* dari kebenaran dan menjauhi agama... Itulah *dakwah para syethan‼️*
Pada *Petunjuk Allah* ada ketenangan, ada kedamaian, ada kesejahteraan, ada keselamatan, ada keamanan, ada kesehatan, ada kemanfaatan, ada kebahagiaan, ada kemenangan, ada harapan, ada kepastian dan ada kebaikan yang berlimpah tak ada habisnya yaitu keberkahan. Pada *Suri Teladan Rosulullah* ﷺ ada chikmah, ada keutamaan (fadhilah), ada rahmat (karunia) yang bertaburan tiada hingganya, ada kebaikan di dunia hingga akhirat. Pada *Hati Yang Suci* ada kebenaran yang diyaqini dan peri_kehidupan sejati. Sebagai perisai Islam Iman Ichsan dan Irfan serta ada kemuliaan derajat (attachiyyah), ada kesejahteraan (sholawah), ada keberkahan (mubarokah), ada kebaikan berlimpah (thoyyibah) dunia akhirat‼️
*Kalimat Penyesatan Syethan.* Adakah yang paling menyesatkan dari yang *mendakwahkan tauchid* tapi dengan jalan bertentangan dengan Prinsip-Prinsip Tauchid yang diajarkan Rosulullaah‼️ Dan yang mengaku *berprinsip dan berpegang kepada As-Sunnah* dengan jalan bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran sunnah Nabi Muhammad ﷺ itu sendiri‼️ Dan mengajak-ajak kembai kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan jalan Pemikiran & Tafsirannya sendiri‼️ Syethan hendak menyesatkan manusia dengan *Slogan-Slogan Penuh Tipuan Syethan* hendak mengajak manusia yang *Belajar Agama Tanpa Bimbingan Yang Seharusnya.* Mereka *yang tertipu mengira* bahwa merekalah orang-orang yang Baik, yang Benar & Suci Tauchidnya‼️
Mereka yang tertipu syethan ini adalah *penerus keangkuhan Dzul-Khuwaysiroh* kepada Nabi Muhammad ﷺ , dimana ia menyuruh Nabi Muhammad ﷺ berbuat adil. Padahal Nabi adalah pilihan Allah dan Paling 'Ādil (عادل). Mereka memandang menilai menganggap menuduh kaum muslimin selain mereka telah *Berbuat kesesatan (dhollah), Berbuat kekafiran (Kafir), Berbuat kesyirikan (musyrik) dan Berbuat Bid'ah (mubtadi')'.* Tanpa terasa mereka telah memasuki kerugian dan celaka yang sangat besar oleh sebab perkataan dan penuduhan dan keyakinan mereka sendiri yaitu *tadhlil, takfir, tasyrik dan tabdi'.* Akibatnya mereka sendirilah yang sesat (dholl), yang kafir, yang musyrik dan ahli bid'ah (mubtdi').
*Apa Itu Persoalan?* Ada 2 hal yang dilihat. Pertama: Persoalannya dan Kedua : orang yang menyelesaikan persoalan. Apakah yang menjadi Persoalan itu ? Ia ada saat kita tak mampu mengatasinya, saat tak berpetunjuk untuk menuntaskannya, saat kita lemah dan bodoh atas apa yang mesti dilakukan. Apakah persoalan itu tak ada ? Ia selalu ada dan tak mesti selesai dipersoalannya. Palestina tak kunjung selesai dijajah oleh Israel. Apakah rakyat Palestina terlepas dari itu ? Tidak! Penjajahan masih berlangsung. Tapi mereka selesai dengan *tak mempersoalkannya lagi.* Mereka selesaikan di dalam diri mereka. Mereka menghadapinya dengan tekad merdeka / syahid. Selesai hawa nafsu dengan petunjuk Allah.
*Beribadah* Apa itu ibadah? Adapun yang ditemukan dalam kenyataan ada 4 macam. *Pertama:* mereka yang dikategorikan *penyembah* dalam istilah *menjalankan kewajiban taat rutin kepada Allah* dalam *islam jasadi dan Iman Shodri* disebut *bersyari'at.* Ada kata berat & ringan dalam menjalani ketaatan. Pada hubungan dengan Allah berbicara _pahala & dosa._ *Kedua:* mereka yang dikategorikan *Pengharap Allah* dalam istilah *merasa butuh* untuk menjalin hubungan dengan Allah lebih mengarah. Pembahasan soal *iman qalbi* disebut *berthoriqoh.* Ada kata Syukur & Shabar. Pada hubungan dengan Allah berbicara _sudah dekat & masih jauh_ dari Allah.
*Ketiga:* mereka yang dikategorikan *Pencari Allah* dalam istilah *Pergi menuju kepada Allah* dengan Ichsan Fuadi disebut *Berhaqiqat.* Ada istilah *sampai & belum sampai* kepada Allah. Pada hubungan dengan Allah ada kata Tawakkal, Ikhlash & Ridho.*Keempat:* mereka yang dikategorikan *Pengenal Allah* dalam istilah *pertemuan dengan Allah* dalam Irfan Lubbi disebut *Berma'rifat.* Ada istilah *sempurna mengenal & belum sempurna mengenal* Pada hubungan dengan Allah ada kata Cinta & Rindu._Shodr, Qalb, Fu’ad, dan Lubb,_ keempat kata tersebut pada umumnya sering disebut *HATI,* sedangkan _Sirr_ itu *Rahasia Allah.*
Tak ada yang perlu dibahas tentang *"Bagaimana Allah Terhadapku‼️"* Hanya Allah Yang Paling Mengerti, Memahami, Mengetahui dan Bijaksana dalam Rachman Rachim-NYA atas diriku. Sedangkan aku hanyalah hamba-NYA yang harus *percaya tanpa jika, dan yaqin tanpa kalau* .... terhadap-NYA‼️ Istiqomah *dalam tha'at penghambaan* dan Istiqomah dalam *tawbat* dan Istiqomah *mengandalkan Peranan Robb-ku* dalam urusan kehidupanku. *Berharap* hanya kepada Allah semata ... bukan selain-NYA dan _tidak juga diriku sendiri‼️_ Itulah kebenaran yang harus diyakini & diikuti. Semoga beroleh *kemenangan keberuntungan kebahagiaan dunia & akhirat* dengan penyertaan Ampunan dan Rachmat Ridho Allah selalu‼️
Saat *bencana telah mengepung secara merata dan tak perduli siapa dan bagaimana,* barulah menyebut Allah Allah Allah‼️ Semuanya itu diakibatkan maksiat & membiarkan kemaksiatan terjadi dihadapan mata. Bila orang tua tak peduli anaknya, bila guru tak peduli muridnya, bila 'alim ulama' tak peduli ummatnya, maka kehidupan kehilangan essensinya. Akhlak Mulia tak ditegakkan dan Ilmu tak dapat dirasakan manfaatnya, Kesia-siaan & Kesenangan duniawi diperturutkan, bahkan perbuatan² dosa dianggap biasa... Hari akhirat melenyap dari ingatan, seakan takkan pernah terjadi. Tapi saat mushibah melanda, ketakutan & kesusahan sudah merengek-rengek minta pertolongan Allah. Bagaimana jika telah dalam Qubur‼️
*Teruslah Bergerak, Allah Menilaimu* Hidup itu seperti naik sepeda; kalau kita berhenti mengayuh, kita bakal kehilangan keseimbangan. Begitu juga hati kita. Kalau kita _berhenti berikhtiar dan bersandar pada Allah,_ iman kita pun mudah goyah. *Islam nggak minta kita jadi yang tercepat, tapi meminta kita untuk istiqamah.* Jadi, nggak masalah kalau langkahmu hari ini _terasa lambat atau lelah mulai menyapa._ Allah nggak cuma melihat hasil akhir, tapi Dia sangat menghargai setiap langkah sabar dan doa yang kamu panjatkan.
Sangat sesuai Janji-Nya di QS. Al-‘Ankabut: 69, mereka yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya pasti *akan dibukakan jalan keluar yang tak terduga.* Kalau lelah, beristirahatlah sebentar. Tapi jangan pernah menyerah‼️ Langkah kecilmu hari ini adalah cara Allah membimbingmu menuju takdir terindah yang sudah DIA siapkan dengan penuh cinta. Karena sesungguhnya ada yang hendak *DIA LIHAT* yakni seberapa percaya dan yakinnya dirimu kepada-NYA. *Bahwa DIA tak sedikitpun bermaksud buruk kepadamu, tapi hanya rencana kebaikan bagimu.*
*Persoalannya Apa? Caranya menyelesaikannya bagaimana?*
Apakah persoalan dunia, akhirat dan agama dapat diselesaikan dengan cara tertentu? Ya.. tentunya urusan harus diselesaikan dengan ilmu! Tanpa ilmu takkan bisa! Ilmu dunia, agama & akhirat. Tapi *ilmu harus tunduk kepada Iman* yaitu *selaras dengan kebenaran* dalam berkeyakinan & selaras dengan *prinsip-prinsip syari'at Islam.* Terlebih harus disertai akhlaq mulia pada manusia juga kesyukuran, keshabaran, ketaqwaan, dan ketawakkalan kepada Allah. Tujuan selesainya urusan adalah *selamat dunia - akhirat dan mencari ridho Allah.* Jika berhasil meraih keduanya maka selesailah persoalan‼️
*Apa Sebenarnya Persoalan Itu?* Sebenar-benarnya persoalan adalah ketika kita *tidak selaras dengan ilmu dan agama.* Tidaklah benar bahwa apa yang sedang dihadapi manusia dapat dikatakan sebagai persoalan. Sebab setiap orang diberi Allah kapasitas ilmu dan kemampuan masing-masing yang telah sesuai dengan apa yang disuguhkan Allah kepadanya. Jadi tidaklah tepat jika dikatakan bahwa ada persoalan atas dirinya. Yang ada ia enggan menghadapinya. Sebab *Allah tak memberi bebanan melebihi batas kemampuannya‼️* Jika apa yang dihadapkan Allah kepadanya dianggap sebagai persoalan, padahal Allah telah *memberikan petunjuk jalan penyelesaiannya.* Itu artinya telah menuduh Allah berbuat aniaya‼️
Itu terjadi sebab manusia _enggan menggunakan petunjuk Allah_ maka jadilah itulah yang bisa kita katakan sebagai yang *sebenar-benarnya persoalan‼️* Jika manusia menjalankan apa-apa yang dihadapkan oleh Allah dengan cara atau jalan yang bertentangan dengan petunjuk Allah, maka itulah persoalan yang *sangat parah‼️* Dan itu berakibat buruk bagi dirinya dalam kehidupan dunia bahkan mengorbankan kehidupan akhirat‼️ *Sesungguhnya dunia bukanlah persoalan sedikitpun‼️* Sebab kehidupan dunia itu hanya _setara dengan sebagian waktu pagi dari kehidupan sehari di akhirat._ Tiada sebanding dunia dengan kekekalan akhirat. Bahaya jika menganggap dunia sebagai persoalan dan menyelisihi Petunjuk Allah‼️
Berhati-hatilah dari *merasa cukup* setelah memiliki segalanya! Sebab tak satupun yang *dapat mencukupi* dalam hal kebaikan selain Allah dan tak satupun yang *dapat melindungi* dari hal yang buruk selain Allah !
Dan kebaikan hakiki adalah *Menjadi Hamba Allah* yang menjadikan *tha'at* sebagai panduan dan menjadikan *taqwa* jalan kehidupan, dan menjadikan *shabar dan sholat* sebagai penolong, dan menjadikan *syukur* sebagai peningkat dan *tawakkal* sebagai pencukup serta *ikhlash* sebagai pemurni dan pelembut hati.
Jika kita merujuk pada dalil-dalil Al-Qur'an, sifat-sifat yang Anda sebutkan memiliki kedudukan yang sangat fundamental sebagai pilar kehidupan seorang mukmin:
*1. Tha'at (Ketaatan) sebagai Panduan*
Ketaatan bukan sekadar rutinitas, melainkan *standar kebenaran.* Allah memerintahkan ketaatan mutlak kepada-Nya dan Rasul-Nya sebagai otoritas tertinggi dalam mengambil keputusan hidup.
Dalil: _"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu..._" QS. An-Nisa: 59.
*2. Taqwa sebagai Jalan (Bekal) Kehidupan*
Dalam Al-Qur'an, takwa disebut sebagai *"sebaik-baik bekal"*. Ia adalah navigasi yang menjaga hamba agar tetap berada di jalur yang benar selama menempuh perjalanan dunia menuju akhirat.
Dalil: "..._Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..."_ QS. Al-Baqarah: 197.
*3. Sabar dan Sholat sebagai Penolong*
Sabar seringkali dipasangkan dengan shalat sebagai kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai ujian hidup yang berat.
Dalil: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." QS. Al-Baqarah: 45.
*4. Syukur sebagai Peningkat (Akselerator)*
Syukur adalah kunci "investasi" langit. Allah menjanjikan tambahan nikmat yang berlipat ganda bagi mereka yang mau mengakuinya dengan hati, lisan, dan amal.
Dalil: _"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu..."_ QS. Ibrahim: 7.
*5. Tawakkal sebagai Pencukup*
Saat seorang hamba sudah menyerahkan segala urusannya kepada Allah setelah berikhtiar, maka Allah sendiri yang akan mengambil alih segala kebutuhannya.
Dalil: _"...Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."_ QS. At-Talaq: 3.
*6. Ikhlash sebagai Pemurni (Pelembut) Hati* Meskipun kata "pelembut" adalah metafora yang indah, dalam Al-Qur'an ikhlash adalah syarat diterimanya amal dan perlindungan dari godaan syethan. Hati yang ikhlas akan menjadi lembut karena hanya terisi oleh keridaan Allah, bukan keras karena ego atau riya.
Prinsip: Ketaatan yang murni hanya untuk Allah QS. Al-Bayyinah : 5 menjadikan jiwa tenang dan hati tidak mudah goyah oleh pujian atau cercaan manusia.
Dalam Al-Qur'an, Taqwa bukan sekadar *"rasa takut", melainkan sebuah sistem navigasi spiritual yang memiliki fungsi sangat krusial bagi kehidupan seorang hamba. Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an, takwa berfungsi sebagai:
*1. Furqan (Pembeda & Kompas Moral)* Takwa berfungsi sebagai _kecerdasan spiritual_ yang memungkinkan seseorang membedakan antara kebenaran (haqq) dan kebatilan (bathil), terutama di situasi yang abu-abu. Dalil: _"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu..."_ QS. Al-Anfal: 29.
*2. Makhraja (Pemberi Jalan Keluar).* Dalam dinamika kehidupan, takwa adalah "kunci" yang membukakan pintu-pintu solusi dari arah yang mustahil secara logika manusia.
Dalil: _"...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar (makhraja) baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya..."_ QS. At-Talaq: 2-3.
*3. Libas (Pakaian Pelindung)*
Al-Qur'an mengibaratkan takwa sebagai pakaian. Fungsinya adalah menutupi "aurat" (kekurangan/aib) jiwa dan melindungi manusia dari pengaruh buruk lingkungan maupun hawa nafsu.
Dalil: "...Tetapi pakaian takwa (libasut taqwa), itulah yang paling baik..." QS. Al-A'raf: 26.
*4. Yusr (Pemberi Kemudahan Urusan)*
Takwa berfungsi sebagai pelancar dalam setiap urusan. Allah menjanjikan bahwa bagi mereka yang menjaga takwanya, hambatan-hambatan hidup akan terasa lebih ringan.
Dalil: "...Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan (yusra) baginya dalam urusannya." QS. At-Talaq: 4.
*5. Mi'yar (Standar Kemuliaan)*
Di pandangan Allah, takwa adalah satu-satunya alat ukur (standard) kemuliaan manusia, meniadakan sekat kasta, harta, maupun jabatan.
Dalil: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa..." QS. Al-Hujurat: 13.
Jika diibaratkan, ketaatan adalah bahan bakarnya, sedangkan takwa adalah perisai dan kompasnya. Tanpa takwa, seseorang bisa terus berjalan (taat secara lahiriah), namun rentan tertusuk "duri" fitnah dunia karena kehilangan kewaspadaan.
Membangun benteng takwa di tengah dunia yang penuh distraksi membutuhkan strategi yang praktis namun konsisten. Berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur'an, berikut adalah langkah-langkah untuk menjadikannya "perisai" dalam keseharian.
*1. Muraqabah (Menghadirkan Rasa Diawasi)* Takwa adalah kewaspadaan. Langkah pertama adalah *melatih kesadaran* bahwa _Allah menyaksikan setiap lintasan pikiran dan gerak-gerik kita, bahkan saat sendirian._ Bertanya pada diri sendiri sejenak: *"Apakah langkah yang saya ambil ini diridhai-Nya?"*
*2. Tafakkur & Al-Qur'an sebagai Navigasi* Menjadikan Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tapi *rujukan petunjuk kehidupan* saat menghadapi dilema moral. Menghadapi masalah, urusan apapun tegakkan prinsip Al Qur'an misalkan kejujuran dalam bisnis, kesabaran dalam keluarga).
*3. Suhbah (Lingkungan yang Mendukung)* Takwa sangat sulit dijaga sendirian. Al-Qur'an memerintahkan kita untuk bersama orang-orang yang jujur dan benar agar "frekuensi" takwa kita terjaga. Energi positif dari orang lain yang baik dan benar yaitu para sholih sangat mempengaruhi positif kedalam jiwa. *4. Muhasabah (Evaluasi Berkala).* Takwa tumbuh melalui evaluasi. Sebelum tidur, tinjau kembali "catatan perjalanan" hari itu. *Pagi:* Niatkan setiap aktivitas sebagai bentuk Tha'at. *Siang:* Gunakan Shabar saat lelah dan Syukur saat mendapat kemudahan. *Malam:* Akui kesalahan dan bersihkan hati dengan Ikhlash.
*5. Membangun Kewaspadaan Dini* Dalam Al-Qur'an, orang bertakwa adalah mereka yang segera sadar saat syethan menyentuh hatinya (QS. Al-A'raf: 201). Jika hati mulai merasa angkuh atau iri, segera *"reset (takholli)"* dengan dzikir. Ini adalah fungsi takwa sebagai perisai instan.
*Ringkasannya* Takwa _bukan tentang menjadi sempurna tanpa dosa,_ tapi tentang *seberapa cepat kita kembali ke jalur yang benar* setiap kali kita mulai melenceng.





