Selasa, 20 Januari 2026

JINN TAMPAK DAN TAK TAMPAK (Diambil dari pelbagai sumber)

Berdasarkan ajaran Islam, jin (termasuk setan dan iblis) pada dasarnya adalah makhluk gaib yang tidak nampak oleh mata manusia dalam wujud aslinya sejak awal penciptaan manusia. 

Berikut adalah rincian mengenai fenomena ini:

Sejak Penciptaan Adam: Jin dan setan diciptakan sebelum manusia dari api yang bergolak, dan mereka berada di alam yang berbeda, sehingga wujud asli mereka tidak bisa dilihat manusia biasa.

Permohonan Nabi Syits AS: Salah satu riwayat menyebutkan bahwa interaksi langsung antara jin dan manusia mulai terpisah dan terbatas setelah permohonan Nabi Syits AS kepada Allah SWT.

Wujud Asli vs Penjelmaan: Manusia secara umum tidak mampu melihat wujud asli jin. Setan/jin hanya bisa dilihat manusia ketika mereka menjelma (menyerupai) menjadi manusia atau hewan.

Interaksi di Masa Rasulullah: Meskipun sudah jarang, pada masa Rasulullah SAW, setan pernah terlihat dalam bentuk penjelmaan (misalnya dalam kisah-kisah di hadits Shahih Bukhari).

Dasar Al-Qur'an: Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam QS. Al-A'raf ayat 27, yang menjelaskan bahwa jin dan pengikutnya melihat manusia dari tempat yang manusia tidak bisa melihat mereka. 

Jadi, setan tak nampak dalam wujud aslinya kepada manusia sejak awal penciptaan, karena mereka adalah makhluk gaib. 

*

Mengapa Manusia Tidak Bisa Melihat Jin? Ini Kisahnya

CoreNews.id, Jakata – Kisah Nabi Syits, sebagai nabi kedua setelah Adam AS, memiliki potensi untuk menjadi kisah inspiratif bagi umat Islam. Beliau adalah putra dari Nabi Adam AS dan Hawa, yang melanjutkan kenabian di dunia setelah ayahnya.

Dapat dikatakan bahwa Nabi Syits menempati posisi sebagai nabi kedua setelah Nabi Adam AS. Beliau juga berperan sebagai guru bagi Nabi Idris AS, yang pertama kali memperkenalkan ilmu baca-tulis, ilmu falak, seni menjinakkan kuda, dan berbagai pengetahuan lainnya.

Dalam kisah, Nabi Syits diceritakan mempunyai risalah yang menyebabkan pisahnya alam manusia dan jin. Penasaran seperti apa kisah lengkapnya, yuk simak!

Nabi Syits mempunyai risalah memisahkan dunia manusia dan dunia jin. Berkat Risalah beliau, Allah kemudian memisahkan alam manusia dengan alam jin.

Sebelum Syits bertugas, dahulu masih bisa dilihat jin atau syaitan yang berkeliaran. Jarak mereka dengan manusia tidak ada. Belakangan Adam telah diperlihatkan jumlah manusia angka keturunannya yang bertambah.

Kemudian Nabi Adam AS berdoa semoga ada di antara anaknya yang melanjutkan risalah. Kemudian, terpilihlah di antara anaknya yakni Syits menjadi orang yang menutup pandangan manusia melihat jin.

Nabi Syits diizinkan oleh Allah mendapatkan wasilah dari Nabi Adam. Hal ini tak Nabi Adam sampaikan kepada Qabil. Secara diam-diam Syits diajarkan Nabi Adam mengenai ilmu rahasia itu. Syits kemudian bergerak dan berdakwah di berbagai pulau.

*


Jinn

Artikel ini berisi tentang konsep jin yang berasal dari folklor Arab pra-Islam. Untuk gambaran Islam yang lebih luas, lihat Setan dalam Islam. Untuk makhluk gaib lain dalam budaya Islam, lihat Div (mitologi).

Beberapa istilah beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Jinni (disambiguasi)Jinn (disambiguasi)Djinn (disambiguasi), dan Genie (disambiguasi).

Jinn (Arab: جِنّ‎), juga diromanisasi sebagai djinn atau dianglikanisasi sebagai genies, adalah makhluk supernatural dalam agama Arab pra-Islam dan Islam.[1] Seperti manusia, jin bertanggung jawab atas perbuatan mereka dan dapat menjadi orang-orang yang beriman (Mu'minun) atau orang-orang kafir (kuffar), bergantung pada apakah mereka menerima petunjuk Tuhan.

Jin
Makhluk misterius
Nama lain:
Djinn, jen, genies, Cin, Xhindi
Kelompok
Supernatural being

Karena jin tidak bersifat jahat secara bawaan maupun baik secara bawaan, Islam mengakui keberadaan makhluk-makhluk spiritual dari agama-agama lain dan dapat mengadaptasinya selama ekspansinya. Dengan demikian, jin bukanlah konsep yang secara ketat hanya terdapat dalam Islam; mereka dapat merepresentasikan berbagai kepercayaan pagan yang diintegrasikan ke dalam Islam.[2][a] Islam menempatkan jin dan manusia pada kedudukan yang sejajar dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan keduanya sama-sama tunduk pada pengadilan Ilahi dan kehidupan akhirat.[4] Al-Qur’an mengecam praktik masyarakat Arab pra-Islam pada masa Jahiliyyah yang menyembah atau meminta perlindungan kepada jin.[5]

Meskipun secara alami tidak terlihat, jin diyakini tersusun dari tubuh yang halus dan lembut (أَجْسَامajsām) dan memiliki kemampuan berubah wujud, biasanya memilih untuk menampakkan diri sebagai ular, tetapi juga sebagai kalajengking
kadal, atau manusia. Interaksi jin dengan manusia dapat bersifat negatif, positif, atau netral; dan dapat berkisar dari hubungan yang biasa hingga sangat intim, bahkan melibatkan aktivitas seksual dan menghasilkan keturunan hibrida. Namun, jin jarang mencampuri urusan manusia dan lebih memilih hidup di antara sesamanya dalam tatanan sosial yang mirip dengan suku-suku Arab. Apabila diganggu atau disakiti oleh manusia, mereka biasanya membalas dengan cara yang serupa, dengan interaksi paling ekstrem berupa kerasukan tubuh manusia, sehingga memerlukan pengusiran jin.

Jin individu muncul pada jimat dan azimat. Mereka dipanggil untuk perlindungan atau bantuan magis, sering kali di bawah kepemimpinan seorang raja. Banyak orang yang mempercayai jin mengenakan jimat untuk melindungi diri dari gangguan mereka, karena jin dapat dipanggil oleh penyihir atau dukun untuk mencelakai orang lain. Kepercayaan yang umum menyatakan bahwa jin tidak dapat menyakiti seseorang yang mengenakan benda bertuliskan nama Allah (الله, Allāh).
Kepercayaan dan praktik folkloris semacam ini, meskipun dahulu sangat umum di seluruh dunia Muslim, semakin banyak mendapat penolakan karena kaitannya dengan perbuatan syirik.

*

Kisah Nabi Syits AS dan Permohonan Pemisahan Dunia Jin dan Manusia

MUSLIMIDIA Home Kisah Nabi Kisah Nabi Syits AS dan Permohonan Pemisahan Dunia Jin dan Manusia Kisah Nabi Syits AS dan Permohonan Pemisahan Dunia Jin dan Manusia Nabi Syits AS adalah salah satu nabi awal dalam Islam, yang diutus oleh Allah SWT setelah wafatnya Nabi Adam AS. Namanya, yang berarti "hadiah" atau "pemberian," mencerminkan perannya sebagai penerus risalah setelah kejadian tragis terbunuhnya Habil oleh Qabil. Syits AS dipilih oleh Allah SWT untuk melanjutkan misi Nabi Adam AS, menjaga ajaran tauhid, dan mengarahkan umat manusia pada kehidupan yang benar di bawah perintah Allah. Namun, salah satu aspek menarik dari kisah Nabi Syits AS adalah permohonannya kepada Allah SWT untuk memisahkan dunia jin dan manusia. Keputusan ini bukanlah tanpa sebab, dan peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah manusia dan jin.

Dalam artikel ini, kita akan mendalami latar belakang serta alasan di balik permintaan pemisahan dunia jin dan manusia yang diajukan oleh Nabi Syits AS, serta dampak dari pemisahan tersebut. Interaksi Awal antara Jin dan Manusia.

Sebelum membahas permintaan pemisahan ini, penting untuk memahami bagaimana hubungan antara manusia dan jin di masa awal penciptaan. Jin diciptakan oleh Allah dari api sebelum penciptaan manusia, dan keduanya, baik jin maupun manusia, sama-sama memiliki kebebasan berkehendak untuk memilih jalan kebenaran atau kesesatan.

Jin terdiri dari dua golongan: jin yang saleh dan beriman kepada Allah, serta jin yang kafir dan menolak ajaran-Nya, termasuk golongan iblis.

Di masa Nabi Adam AS, terdapat interaksi yang lebih terbuka antara jin dan manusia. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada saat itu, manusia dan jin hidup berdampingan dan memiliki interaksi yang cukup dekat.

Jin memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki manusia, seperti kemampuan bergerak dengan cepat dan berubah bentuk, serta tak kasatmata oleh manusia. Namun, interaksi ini, meskipun pada awalnya seimbang, lambat laun membawa masalah besar.

Penyimpangan Keturunan Qabil dan Pengaruh Jin Setelah tragedi pembunuhan Habil oleh Qabil, keturunan Qabil mulai membentuk kelompok yang terpisah dari keturunan Syits AS. Keturunan Qabil dikenal karena menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Adam AS dan hidup dalam kehidupan yang penuh dengan penyimpangan moral serta keburukan. Jin-jin yang jahat, yang termasuk golongan iblis, melihat keturunan Qabil sebagai peluang untuk menyebarkan kerusakan di bumi. Mereka mulai memengaruhi keturunan Qabil dengan memperkenalkan berbagai bentuk kemaksiatan, seperti penyembahan berhala, musik yang menyesatkan, dan gaya hidup hedonis. 

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa keturunan Qabil mulai menggunakan pengaruh jin untuk tujuan-tujuan tertentu. Jin-jin yang jahat membisikan keinginan buruk, nafsu, dan kesenangan duniawi yang berlebihan kepada manusia. Akibatnya, keturunan Qabil semakin jauh dari ajaran tauhid dan hidup dalam dekadensi spiritual dan moral. Jin kafir, yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi pikiran dan perasaan manusia, mengambil keuntungan dari kelemahan spiritual manusia yang mulai terbuai oleh gemerlapnya dunia.


Kerusakan yang Terjadi karena Pengaruh Jin Pengaruh jin terhadap keturunan Qabil menciptakan kekacauan besar. Keturunan Syits AS, yang tetap teguh pada ajaran tauhid, mulai merasa terancam oleh penyimpangan yang terjadi di sekitar mereka. Ketika penyimpangan ini semakin meluas, banyak orang mulai terpengaruh oleh jin dan meninggalkan ajaran Syits AS. Keterbukaan antara dunia jin dan manusia memperparah masalah ini. Jin jahat mulai menyusup ke dalam kehidupan manusia, tidak hanya memengaruhi akhlak mereka tetapi juga merusak hubungan sosial dan spiritual yang sehat. Lebih buruk lagi, keturunan Qabil yang terpengaruh oleh jin mulai membentuk budaya yang penuh dengan ritual menyimpang dan kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran tauhid. Mereka mulai menyembah jin atau entitas gaib lainnya yang sebenarnya adalah jin yang menyamar, menjadikan jin sebagai dewa atau dewi dalam kehidupan mereka. Inilah awal dari penyebaran berhala dan ritual-ritual yang menyesatkan.


Permintaan Nabi Syits AS untuk Pemisahan Melihat kerusakan yang terjadi akibat pengaruh jin terhadap umat manusia, Nabi Syits AS, sebagai seorang nabi yang diberi amanah untuk menjaga keturunan Adam AS di jalan kebenaran, merasa perlu untuk mengambil tindakan. Ia menyadari bahwa interaksi yang terlalu dekat antara jin dan manusia membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Oleh karena itu, Nabi Syits AS memohon kepada Allah SWT untuk memisahkan dunia jin dan manusia agar umat manusia bisa terhindar dari godaan jin yang jahat. Alasan utama di balik permintaan ini adalah untuk menjaga keturunan manusia dari pengaruh destruktif jin.


Syits AS ingin memastikan bahwa umat manusia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Allah tanpa terganggu oleh bisikan dan pengaruh buruk dari jin.
Permohonan ini juga mencerminkan kepedulian Syits AS terhadap umatnya, karena sebagai nabi, tanggung jawab utama Syits AS adalah memimpin umatnya menuju keselamatan spiritual dan moral.


Pemisahan Dunia Jin dan Manusia oleh Allah SWT Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Syits AS dan memisahkan dunia jin dan manusia. Setelah pemisahan ini, interaksi antara jin dan manusia menjadi terbatas. Manusia tidak lagi dapat melihat jin secara langsung, kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Jin tidak lagi bisa dengan mudah masuk ke dalam kehidupan manusia dan memengaruhi mereka secara langsung. Meskipun jin masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi manusia melalui bisikan, seperti yang dilakukan oleh setan, tetapi pengaruh langsung mereka terhadap kehidupan fisik manusia berkurang drastis.


Pemisahan ini juga menandai awal dari pembatasan wilayah hidup antara manusia dan jin. Manusia diberi dunia fisik yang mereka tinggali, sementara jin memiliki dimensi atau alam mereka sendiri yang berbeda dari manusia. Pemisahan ini memungkinkan umat manusia untuk lebih fokus pada ibadah kepada Allah SWT dan menghindari pengaruh buruk jin dalam kehidupan sehari-hari.


Hikmah di Balik Pemisahan 

Dunia Jin dan Manusia Menghindari Pengaruh Buruk: Pemisahan dunia jin dan manusia membantu manusia terhindar dari pengaruh langsung jin jahat yang bisa merusak moral, akhlak, dan keimanan mereka. Meskipun jin masih bisa mempengaruhi manusia melalui bisikan, pemisahan ini mengurangi kemungkinan interaksi fisik atau nyata yang bisa membawa lebih banyak keburukan. Memberikan Kesempatan untuk Ibadah yang Lebih Baik: Dengan berkurangnya godaan langsung dari jin, manusia memiliki lebih banyak kesempatan untuk fokus pada ibadah kepada Allah dan menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan yang diperkenalkan oleh jin kafir. 

Pemisahan ini memungkinkan manusia untuk memperkuat spiritualitas mereka dan menjaga kesucian iman. Menjaga Keseimbangan Alam: Pemisahan antara jin dan manusia juga menciptakan keseimbangan alam yang lebih baik. Dengan hidup dalam dimensi yang berbeda, manusia dan jin tidak lagi saling mengganggu, dan masing-masing dapat menjalankan peran mereka sesuai dengan kehendak Allah. Penutup Kisah Nabi Syits AS dan permintaan pemisahan dunia jin dan manusia membawa banyak pelajaran penting. Syits AS menyadari bahaya besar yang ditimbulkan oleh interaksi terlalu dekat antara jin dan manusia, terutama dalam hal godaan spiritual dan moral. Dengan memohon kepada Allah SWT untuk memisahkan kedua dunia ini, Syits AS menunjukkan kepedulian besar terhadap umatnya dan keinginan untuk menjaga mereka di jalan yang benar. 

Pemisahan ini merupakan rahmat dari Allah SWT yang memungkinkan manusia untuk hidup lebih tenang, bebas dari pengaruh buruk jin, dan lebih fokus pada pengabdian kepada Sang Pencipta.

Sumber artikel : https://www.muslimidia.com/2024/10/kisah-nabi-syits-as-dan-permohonan.html?m=1

5 Penampakan Setan dalam Wujud Manusia di Masa Rasulullah SAW

 11/08/2024 21:08  ADMIN

JAKARTA, MUI.OR.ID- Di antara kemampuan yang dimiliki setan adalah menunjukkan penampakan dan menjelma bentuk ke makhluk lainya seperti manusia atau binatang.

Sejarah mencatat, penampakan setan dalam bentuk manusia pada masa Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:

Pertama, setan mendatangi Nabi SAW dengan membawa obor api untuk membakar wajah beliau dan mengganggu sholat beliau. Nabi SAW bersabda, "Aku melaknatmu dengan laknat Allah sebanyak tiga kali."Seandainya bukan karena seruan saudaranya, Sulaiman, niscaya beliau akan mengambil obor api tersebut lalu mengikatkannya di salah satu tiang masjid di Madinah." (HR Bukhari Abu Hurairah dan Abu Darda): Sumber: Shahih al-Bukhari | Nomor: 1210)

Kedua, setan menyamar sebagai seorang syekh terkemuka dari penduduk Najd, dan hadir di Dar al-Nadwa untuk bersepakat membunuh Nabi SAW pada Kamis, 26 Safar tahun ke-14 Hijriyah, bertepatan dengan 12 September 622 Masehi, yaitu sekitar dua setengah bulan setelah Fathu Makkah (Ibn Hisyam 1/480, 481, 482); (Al-Rahiq Al-Makhtum, 141-143).

Ketiga, kehadirannya di depan pintu rumah Nabi SAW untuk memberitahu orang-orang yang mengepungnya di dalam rumah beliau agar menyerang beliau dengan tebasan pedang satu eksekutor saja, dan ternyata beliau telah keluar; (Ibnu Hisyam 1/483, Zad al-Ma'ad 2/52, (al-Rahiq al-Makhtum 146).

Keempat, kemiripannya dengan Suraqah bin Malik bin Jasyim dengan kaum musyrikin pada Perang Badar pada tahun kedua Hijrah,Tafsir Al Qurthubi tentang firman-Nya:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS Al Anfal: 48).

Kelima, kehadirannya pada Perang Uhud di bulan Syawal tahun ketiga Hijriyah, ketika kaum musyrikin dikalahkan di awal peperangan, dan Iblis berteriak, yaitu teriakan yang kedua setelah teriakannya yang pertama di Baiat Al Aqabah, dengan mengatakan, "Wahai hamba-hamba Allah, saudara-saudaramu." Orang pertama dari mereka berbalik, dan dia dan orang terakhir mereka yang gugur.

Hudzaifah menengok ternyata adalah ayahnya, Al-Yaman, dia berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, ayahku ayahku, demi Allah, mereka tidak menahan diri sampai mereka membunuhnya." Rasulullah berkata, "Huzaifah, Allah telah mengampunimu." Urwah berkata, "Masih ada sisa-sisa kebaikan dalam diri Huzaifah hingga dia meninggal." (HR Bukhari dari Aisyah RA. Shahih al-Bukhari | No: 3290 | Khulashah Hukm al-Muhaddits: [Sahih] Bukhari (3290).

9 Persamaan Antara Manusia dan Jin, Apa Saja?

Oleh admin• Agustus 21, 2022• 3 Menit

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Dari segi etimologi, jin berasal dari kata “janna-yajunnu” yang artinya menutupi, menyembunyikan, menjadi gelap, atau merahasiakan. Jin berarti yang tersembunyi, terhalang dan tertutup. Disebut jin, karena makhluk ini terhalang dari pandangan alias tidak dapat dilihat.

Menurut Muchammad Ichsan dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (07/10/2020) menyebutkan bahwa meski tak kasat mata, berdasarkan keterangan Al Quran dan Hadis terdapat beberapa persamaan antara manusia dan jin, di antaranya:


1. Jin dan manusia sama-sama hidup di muka bumi ini meskipun berbeda alam.

Alam jin adalah alam yang berdiri sendiri, ia terpisah dan berbeda dengan alam manusia namun keduanya hidup dalam dunia yang sama, kadang tinggal dalam rumah yang dibangun atau didiami manusia.


2. Jin dan manusia sama-sama diciptakan Allah.

Menurut banyak riwayat bangsa jin sudah lebih dulu diciptakan sebelum manusia, jadi jumlah bangsa jin diperkirakan lebih banyak dari pada manusia. Allah berfirman: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 27).


3. Jin dan manusia sama-sama tidak kekal, alias akan mati sesuai ajal masing-masing. Yang dijamin hidup sampai kiamat hanyalah Iblis.


4. Jin dan manusia sama-sama makan, minum, berjenis kelamin, mempunyai hawa nafsu, berketurunan.

Mereka sama-sama berkeluarga, berkelompok dan berbangsa-bangsa. Hal ini berdasarkan hadis Dari Ibnu Mas’ud RA. [diriwayatkan] bahwa para jin datang kepada Nabi SAW. dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Nabi SAW. bersabda kepada mereka: “Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim). Dalam Al Quran disebutkan: “Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripadaKu, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi: 50).


5. Jin selalu membersamai manusia.

Hal ini sebagaimana dalam hadis: Dari Ibnu Mas’ud RA. [diriwayatkan] berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak seorang pun diantara kalian kecuali bersamanya ada qarinnya dari Jin. Para sahabat bertanya: ‘Engkau juga wahai Rasulullah? jawab Rasulullah: “Saya juga demikian, tetapi Allah telah menolong saya mengatasinya sehingga saya selamat, maka ia tidak menyuruhku kecuali kepada yang baik.’” (HR. Muslim).

6. Jin dan manusia sama-sama diciptakan oleh Allah dan mempunyai taklif atau beban untuk menyembah-Nya.

Allah berfirman: “Telah Ku ciptakan jin dan manusia, hanya untuk menyembahKu.” (QS. adz-Dzariat: 56).


7. Jin dan manusia mempunyai akal dan nafsu.

Karena itulah, ada jin dan manusia yang mukmin dan ada yang kafir, ada yang taat ada pula yang suka maksiat, ada yang pintar dan ada pula yang bodoh. Dalam Al Quran diterangkan: “Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an), yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami” (QS. Al-Jinn: 1-2).

Di ayat lain disebutkan: “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al-Jin: 14).


8. Jin dan manusia sama-sama mempunyai Rasul.

Allah berfirman: “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. AlAn’am: 130).


9. Jin dan manusia mempunyai hati, mata dan telinga.

Dalam Al Quran disebutkan: “Sungguh Kami jadikan kebanyakan jin dan manusia sebagai penghuni jahanam, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah makhluk yang lalai.” (al-A’raf: 179). Terkait apakah hati, mata, dan telinga jin persis sama seperti manusia atau tidak, wallahu a’lam.



****

***

**