Kamis, 05 Februari 2026

BISMILLAAH

 *Betapa Berharganya* Dipilih menjadi manusia dan beragama Islam dan dididik untuk beriman kepada Allah Sang Pencipta segala sesuatu. Kita ada sebagai *Bismillaahi* Dzat Al Bukti Wujud-NYA (Shifat), Dan *Billaahi* yakni dengan-NYA kita hidup dalam karunia-NYA dalam dunia hingga akhirat, dan *Minallaah* yakni tak satupun yang adanya segala sesuatu itu selain hanya sebab Wujud (ADA) Allah, *Ilaallaahi* yakni Kepada-NYA pula berakhir dan kembalinya segala sesuatu. *'Alallaah* maka hendaklah kita hanya bersandar diri kepada Allah (bukan kepada segala sesuatu termasuk diri sendiri). Semuanya ini akan lenyap, dan tak berguna apapun yang dititipkan Allah selain *Di Manfaatkan untuk Iman & 'Amal‼️*

 *Mengapa kamu diciptakan dan diberi Ni'mat?* Sebab ada amanat dan tugas bersyukur. *Mengapa kamu diberi kesulitan, mushibah dan beribadah?* Sebab ada tugas bershabar dan bertawakkal. *Mengapa kamu diberi Ilmu, kekuatan, keahlian, kedudukan jabatan, harta, dan kemudahan?* Sebab ada tugas yaitu berbuat kebaikan. *Mengapa kamu diberikan pengajaran Agama?* Sebab ada tugas menyaksikan kebenaran Allah dan bertaqwa kepada Allah yaitu mengikuti petunjuk Allah dan selalu terhubung sebagai hamba dengan Allah agar selamat dunia dan akhirat. Jika kamu _tidak memahami agama dengan baik dan benar,_ itu akan membuatmu *KUFUR* atas segala karunia ni'mat yang yang besar dari Allah dan *KAFIR* kepada-Nya‼️

 *Biarkan saja‼️*  Kalau tidak mau diatur dan dinasehati untuk segera berubah ya sudah biar sajalah. Kalau tidak mau merubah sikap dan tetap buruk sikap, nanti akan ada waktunya *Allah sendiri yang akan memberi peringatan‼️*  Tapi kalau sudah begitu biasanya sudah agak terlambat sih. Mestinya mau menurut dengan nasehat yang baik untuk kemajuan diri. Tapi masih saja *suka memakai pemikirannya sendiri yang terbatas.* Orang yang terbatas ilmu dan belum banyak pengalaman dalam kehidupan ya pasti akan mengalami banyak kendala. Terutama bagi *kaum muda* dan juga bagi yang usianya sudah menginjak *dewasa apalagi menua,* tapi tak mau segera bijak dalam menjalani kehidupan.

Ada yang *berani* tapi tak mesti kuat, sehingga bisa dikalahkan. Ada yang *takut* tapi karena tak ingin masalah, sehingga selamat dalam menghadapi persoalan. Ada yang *pandai* tapi sembarangan, itu akibat kecerobohan akhirnya mendapat rugi sial atau celaka. Ada yang *lemah* tapi telaten, sehingga mampu menjalani. Ada yang *muda* tapi jangkauannya pemikirannya lebih sehingga mampu meraih prestasi. Ada yang *tua* tapi masih bersemangat, sehingga berhasil meraih. Ada yang *hebat* tapi tak disukai karena wataknya, sehingga kesulitan dalam kehidupannya. Ada yang *sederhana* dan simple tapi berkeyakinan kuat, maka mampu melewati banyak tantangan. Ada pula yang *tak punya apa-apa,*  selain merasa.

Dan ada yang *kaya* tapi tidak pelit dan bersyukur maka ia selalu hidup dalam keberkahan. Ada yang *miskin* yang shabar sehingga bisa menjalani kehidupannya dengan kebahagiaan. Ada yang *kaya* tapi sangat pelitnya, dan tak mau bersyukur karena rakusnya, maka ia selalu hidup dalam kelelahan dan tertekan. Ada yang *miskin* yang menjalani kehidupan selalu dengan keluh kesahan, sehingga kesusahan tak ada hentinya. Ada yang *beriman* kepada Allah, dan *kokoh keyakinannya kepada Tuhan-NYA,* maka pasti ia mendapatkan dalam hidup di dunia atau di akhirat. Ada yang *mengaku beriman,* tapi selalu menbenci ketentuan-NYA bila tak sesuai harapannya, maka ia hidup dalam kesempitan & jauh dari Rahmat Allah.

*"SELURUHNYA HANYA WASILAH"*  Sebab pemegang seluruh ketentuan hanya Allah. Tiada yang berdaya dengan seluruh apa yang ada ditangannya selain dengan Idzin Allah semata. Jika lebih mengutamakan atau mengandalkan apa yang ada pada dirinya, maka itu *salah jalan* namanya. Sesungguhnya Allah hanya memerintahkan beribadah, sedangkan wasilah adalah *AMANAH yakni Titipan Allah* agar dengannya kita _bisa melaksanakan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah._ Jikalau Allah pemberi wasilah diabaikan itu artinya *menjauhi Allah.* Sungguh bahwa segala amanah hanya bisa dipegang oleh yang memiliki *kesetiaan kepada agama, berakhlaq mulia dan bertujuan hidup menjadi hamba Allah yang sebenarnya.*

 Jadi... Jangan pernah sekalipun merasa *tahu, kuat, mampu, punya atau berdaya upaya‼️*  Walaupun hanya menelan air, menggerakkan jari, berkedip atau bahkan yang lebih sepele daripada itu, *kita baru mampu dan dapat meraih manfaat setelah ada Idzin Allah.* Kita _tak bisa lepas dari kebergantungan kepada Allah_ ... Lebih-lebih di saat kita sedang terpuruk atau sakit atau mengalami kesukaran & musibah. *Hanya Allah* yang kita harapkan, hanya DIA yang dapat menolong dari segala yang tak disukai, hanya Allah yang bisa melindungi kita dari marabahaya dan dan yang kita takuti. *Bukan diri sendiri, bukan harta & jabatan, bukan kepandaian & keahlian kita, bukan manusia atau siapapun dari makhluk.*

*Kebaikan* itu bergantung kepada Allah sebab DIA Pemiliknya, *Kesejahteraan* itu bergantung kepada Allah sebab DIA Pemegangnya, *Keberkahan* itu bergantung kepada Allah sebab DIA Pemberinya, *Kemuliaan* itu tergantung sebab DIA Penentunya‼️ Maka hendaklah kita mengakuinya dan Berkata, *"Sungguh Sholatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku itu Milik Allah‼️"* Janganlah sampai terpedaya oleh _hawa nafsu yang jahat, setan yang memperdaya dan kesibukan dunia yang melalaikan_ dari urusan utama *menghamba kepada Allah dan tujuan hidup yang baik & benar* sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Agar selalu ingatkan diri sendiri dan selalu *memohon taufiq hidayah 'inayah & ma'unah kepada Allah.*

*Syethan* mendatangi kita dari berbagai arah dan *membawa fitnahan* tanpa kita sadari, *membawa tipudaya* tanpa kita sadari, *membawa namimah* (ajakan permusuhan) tanpa kita sadari, *membawa bujuk rayuan* menyesatkan dam menjauhkan diri kita dari kedekatan dengan Allah tanpa kita sadari, *membawa suatu urusan* yang mengeluarkan kita dari bimbingan petunjuk Allah tanpa kita sadari pula. Semua itu telah diperingatkan Allah agar kita memposisikan syethan *sebagai musuh nyata.*  _Pastinya syethan bukan kawan, bukan pemberi penasehat dan bukan pula orang kepercayaan)._ Berjagala dan berlindunglah kepada Allah dari segala  kejahatan mereka *"La'natullaah Alyhim"* yang sangat halus dan licik itu.

Janganlah mengajak *hawa nafsu* untuk berembuk, jangan menerima *nasehat dari syethan,* jangan mempercayai yang bukan dari *petunjuk Allah dan Rosulullaah ﷺ.* Jika *memperturutkan keinginan* hawa nafsu, jika *enggan bersyukur* atas ni'mat telah Allah berikan dan jika *enggan bershabar* atas ketentuan Allah, jika *mengeluh* soal kehidupan, jika *meragukan* kebaikan dan kebenaran ketetapan Allah dan saat memandang cukup atas *pemikiran sendiri* dalam menjalani suatu urusan. Sema itu artinya *tanpa arah (sesat)* sebab tanpa petunjuk Allah & Rosulullaah ﷺ. Hal itu merupakan _jalan yang mudah bagi syethan_ untuk mempengaruhi dan _keadaan yang luas_ bagi syethan untuk *menguasai diri kita.*

Tak ada jalan selain *selalu berdzikir pada Allah dan selalu bersyukur* atas segala Ni'mat-NYA, dan *selalu bersabar* atas segala ketentuan Allah. Dan jangan selalu *mengikuti hawa nafsu* keinginan duniawi. Jangan *melakukan sesuatu* yang _datangnya tiba-tiba_ pada pemikiran kita‼️Sebab  *pemikiran itu* bukan selalu dari diri kita sendiri, jika bukan didapat dari ajaran agama, maka pasti itu dari syethan‼️ *Perasaan kita* tak selalu benar dari diri kita sendiri, jika akhirnya bisa membawa akibat permusuhan, pasti itu dari syethan‼️  Jika kita dapati suatu perasaan dalam benak kita dan hal itu  membuat kita kurang syukur dan shabar, lalu jadi syak ragu kepada Allah, maka pasti dari syethan‼️

*Tak Disadari atau Salah Mengira*  Manusia yang sedang berbuat jahat itu bukanlah seperti tak kita lihat, bukan pula seperti yang kita perkirakan. Sebab manusia yang sedang melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa itu ternyata *tidak sebenar-benarnya sadar!* Mereka sedang *terlena, tak sadarkan diri oleh pengaruh sihir atau hipnotis atau bujuk rayu syethan.* Mereka *tidak sedang sendirian* melainkan sedang _ditemani syethan!_  Jika hawa nafsu ditundukkan dan syethan disingkirkan, manusia itu akan tersadar lalu bertaubat (kembali) kepada Allah. _Perbuatan aniaya yang merugikan membahayakan dirinya dan orang lain_ yang diperbuat seseorang adalah *bukti nyata penguasaan syethan atas manusia‼️*

*"Inilah Dakwah Para Syethan"* Setiap yang merusuhi dalam *pemikiran,*  setiap yang mengacaukan dalam *perasaan,* setiap yang membatasi *kebahagiaan hati,* setiap mengeruhkan *suasana,* setiap yang merenggangkan hubungan *kekeluargaan - kerukunan,* setiap yang menyuarakan *permusuhan,* setiap yang membatasi terlaksananya *kebaikan,* setiap yang mencegah tersebarnya *kemanfaatan (kikir),* setiap yang mengajak kepada *memperturutkan kelalaian* setiap yang mengajak kepada *kerugian & kerusakan,*  setiap yang menyuruh pandangan yang *mendengki,* setiap yang mencegah *pendengaran tersumbat* dari kebenaran dan menjauhi agama... Itulah *dakwah para syethan‼️*

Pada *Petunjuk Allah* ada ketenangan, ada kedamaian, ada kesejahteraan, ada keselamatan, ada keamanan, ada kesehatan, ada kemanfaatan, ada kebahagiaan, ada kemenangan, ada harapan, ada kepastian dan ada kebaikan yang berlimpah tak ada habisnya yaitu keberkahan. Pada *Suri Teladan Rosulullah* ﷺ ada chikmah, ada keutamaan (fadhilah), ada rahmat (karunia) yang bertaburan tiada hingganya, ada kebaikan di dunia hingga akhirat. Pada  *Hati Yang Suci* ada kebenaran yang diyaqini dan peri_kehidupan sejati. Sebagai perisai Islam Iman Ichsan dan Irfan serta ada kemuliaan derajat (attachiyyah), ada kesejahteraan (sholawah), ada keberkahan (mubarokah), ada kebaikan berlimpah (thoyyibah) dunia akhirat‼️

*Kalimat Penyesatan Syethan.* Adakah yang paling menyesatkan dari yang *mendakwahkan tauchid* tapi dengan jalan bertentangan dengan Prinsip-Prinsip Tauchid yang diajarkan Rosulullaah‼️ Dan yang mengaku *berprinsip dan berpegang kepada As-Sunnah* dengan jalan bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran sunnah Nabi Muhammad ﷺ itu sendiri‼️ Dan mengajak-ajak kembai kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan jalan Pemikiran & Tafsirannya sendiri‼️ Syethan hendak menyesatkan manusia dengan *Slogan-Slogan Penuh Tipuan Syethan* hendak mengajak manusia yang *Belajar Agama Tanpa Bimbingan Yang Seharusnya.* Mereka *yang tertipu mengira* bahwa merekalah orang-orang yang Baik, yang Benar & Suci Tauchidnya‼️

Mereka yang tertipu syethan ini adalah *penerus keangkuhan Dzul-Khuwaysiroh* kepada Nabi Muhammad ﷺ , dimana ia menyuruh Nabi Muhammad ﷺ berbuat adil. Padahal Nabi adalah pilihan Allah dan Paling 'Ādil (عادل).  Mereka memandang menilai menganggap menuduh kaum muslimin selain mereka telah *Berbuat kesesatan (dhollah), Berbuat kekafiran (Kafir), Berbuat kesyirikan (musyrik) dan Berbuat Bid'ah (mubtadi')'.*  Tanpa terasa mereka telah memasuki kerugian dan celaka yang sangat besar oleh sebab perkataan dan penuduhan dan keyakinan mereka sendiri yaitu *tadhlil, takfir, tasyrik dan tabdi'.*  Akibatnya mereka sendirilah yang sesat (dholl), yang kafir, yang musyrik dan ahli bid'ah (mubtdi').

*Apa Itu Persoalan?*  Ada 2 hal yang dilihat. Pertama: Persoalannya dan Kedua : orang yang menyelesaikan persoalan. Apakah yang menjadi Persoalan itu ? Ia ada saat kita tak mampu mengatasinya, saat tak berpetunjuk untuk menuntaskannya, saat kita lemah dan bodoh atas apa yang mesti dilakukan. Apakah persoalan itu tak ada ? Ia selalu ada dan tak mesti selesai dipersoalannya. Palestina tak kunjung selesai dijajah oleh Israel. Apakah rakyat Palestina terlepas dari itu ? Tidak! Penjajahan masih berlangsung. Tapi mereka selesai dengan *tak mempersoalkannya lagi.* Mereka selesaikan di dalam diri mereka. Mereka menghadapinya dengan tekad merdeka / syahid. Selesai hawa nafsu dengan petunjuk Allah.

*Beribadah*  Apa itu ibadah? Adapun yang ditemukan dalam kenyataan ada 4 macam. *Pertama:* mereka yang dikategorikan *penyembah* dalam istilah *menjalankan kewajiban taat rutin kepada Allah* dalam *islam jasadi dan Iman Shodri* disebut *bersyari'at.* Ada kata berat & ringan dalam menjalani ketaatan. Pada hubungan dengan Allah berbicara _pahala & dosa._ *Kedua:* mereka yang dikategorikan *Pengharap Allah* dalam istilah *merasa butuh* untuk menjalin hubungan dengan Allah lebih mengarah. Pembahasan soal *iman qalbi* disebut *berthoriqoh.* Ada kata Syukur & Shabar. Pada hubungan dengan Allah berbicara _sudah dekat & masih jauh_ dari Allah.

*Ketiga:* mereka yang dikategorikan *Pencari Allah* dalam istilah *Pergi menuju kepada Allah* dengan Ichsan Fuadi disebut *Berhaqiqat.* Ada istilah *sampai & belum sampai* kepada Allah. Pada hubungan dengan Allah ada kata Tawakkal, Ikhlash & Ridho.*Keempat:* mereka yang dikategorikan *Pengenal Allah* dalam istilah *pertemuan dengan Allah* dalam Irfan Lubbi disebut *Berma'rifat.* Ada istilah *sempurna mengenal & belum sempurna mengenal* Pada hubungan dengan Allah ada kata Cinta & Rindu._Shodr, Qalb, Fu’ad, dan Lubb,_ keempat kata tersebut pada umumnya sering disebut *HATI,*  sedangkan _Sirr_ itu *Rahasia Allah.*

Tak ada yang perlu dibahas tentang *"Bagaimana Allah Terhadapku‼️"*  Hanya Allah Yang Paling Mengerti, Memahami, Mengetahui dan Bijaksana dalam Rachman Rachim-NYA atas diriku.  Sedangkan aku hanyalah hamba-NYA yang harus *percaya tanpa jika, dan yaqin tanpa kalau* .... terhadap-NYA‼️ Istiqomah *dalam tha'at penghambaan* dan Istiqomah dalam *tawbat* dan Istiqomah *mengandalkan Peranan Robb-ku* dalam urusan kehidupanku. *Berharap* hanya kepada Allah semata ... bukan selain-NYA dan _tidak juga diriku sendiri‼️_ Itulah kebenaran yang harus diyakini & diikuti. Semoga beroleh *kemenangan keberuntungan kebahagiaan dunia & akhirat* dengan penyertaan Ampunan dan Rachmat Ridho Allah selalu‼️

Saat *bencana telah mengepung secara merata dan tak perduli siapa dan bagaimana,* barulah menyebut Allah Allah Allah‼️ Semuanya itu diakibatkan maksiat & membiarkan kemaksiatan terjadi dihadapan mata. Bila orang tua tak peduli anaknya, bila guru tak peduli muridnya, bila 'alim ulama' tak peduli ummatnya, maka kehidupan kehilangan essensinya. Akhlak Mulia tak ditegakkan dan Ilmu tak dapat dirasakan manfaatnya, Kesia-siaan & Kesenangan duniawi diperturutkan, bahkan perbuatan² dosa dianggap biasa... Hari akhirat melenyap dari ingatan, seakan takkan pernah terjadi. Tapi saat mushibah melanda, ketakutan & kesusahan sudah merengek-rengek minta pertolongan Allah. Bagaimana jika telah dalam Qubur‼️

*Teruslah Bergerak, Allah Menilaimu* Hidup itu seperti naik sepeda; kalau kita berhenti mengayuh, kita bakal kehilangan keseimbangan. Begitu juga hati kita. Kalau kita _berhenti berikhtiar dan bersandar pada Allah,_ iman kita pun mudah goyah. *Islam nggak minta kita jadi yang tercepat, tapi meminta kita untuk istiqamah.* Jadi, nggak masalah kalau langkahmu hari ini _terasa lambat atau lelah mulai menyapa._ Allah nggak cuma melihat hasil akhir, tapi Dia sangat menghargai setiap langkah sabar dan doa yang kamu panjatkan.

Sangat sesuai Janji-Nya di QS. Al-‘Ankabut: 69, mereka yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya pasti *akan dibukakan jalan keluar yang tak terduga.* Kalau lelah, beristirahatlah sebentar. Tapi jangan pernah menyerah‼️ Langkah kecilmu hari ini adalah cara Allah membimbingmu menuju takdir terindah yang sudah DIA siapkan dengan penuh cinta. Karena sesungguhnya ada yang hendak *DIA LIHAT* yakni seberapa percaya dan yakinnya dirimu kepada-NYA. *Bahwa DIA tak sedikitpun bermaksud buruk kepadamu, tapi hanya rencana kebaikan bagimu.*

*Persoalannya Apa? Caranya menyelesaikannya bagaimana?*

Apakah persoalan dunia, akhirat dan agama dapat diselesaikan dengan cara tertentu? Ya.. tentunya urusan harus diselesaikan dengan ilmu! Tanpa ilmu takkan bisa! Ilmu dunia, agama & akhirat. Tapi *ilmu harus tunduk kepada Iman* yaitu *selaras dengan kebenaran* dalam berkeyakinan & selaras dengan *prinsip-prinsip syari'at Islam.* Terlebih harus disertai akhlaq mulia pada manusia juga kesyukuran, keshabaran, ketaqwaan, dan ketawakkalan kepada Allah. Tujuan selesainya urusan adalah *selamat  dunia - akhirat dan mencari ridho Allah.* Jika berhasil meraih keduanya maka selesailah persoalan‼️

*Apa Sebenarnya Persoalan Itu?* Sebenar-benarnya persoalan adalah ketika kita *tidak selaras dengan ilmu dan agama.* Tidaklah benar bahwa apa yang sedang dihadapi manusia dapat dikatakan sebagai persoalan. Sebab setiap orang diberi Allah kapasitas ilmu dan kemampuan masing-masing yang telah sesuai dengan apa yang disuguhkan Allah kepadanya. Jadi tidaklah tepat jika dikatakan bahwa ada persoalan atas dirinya.  Yang ada ia enggan menghadapinya. Sebab *Allah tak memberi bebanan melebihi batas kemampuannya‼️* Jika apa yang dihadapkan Allah kepadanya dianggap sebagai persoalan, padahal Allah telah *memberikan petunjuk jalan penyelesaiannya.*  Itu artinya telah menuduh Allah berbuat aniaya‼️

Itu terjadi sebab manusia _enggan menggunakan petunjuk Allah_ maka jadilah itulah yang bisa kita katakan sebagai yang *sebenar-benarnya persoalan‼️*  Jika manusia menjalankan apa-apa yang dihadapkan oleh Allah dengan cara atau jalan yang bertentangan dengan petunjuk Allah, maka itulah persoalan yang *sangat parah‼️* Dan  itu berakibat buruk bagi dirinya dalam kehidupan dunia bahkan mengorbankan kehidupan akhirat‼️ *Sesungguhnya dunia bukanlah persoalan sedikitpun‼️* Sebab kehidupan dunia itu hanya _setara dengan sebagian waktu pagi dari kehidupan sehari di akhirat._ Tiada sebanding dunia dengan kekekalan akhirat. Bahaya jika menganggap dunia sebagai persoalan dan menyelisihi Petunjuk Allah‼️

Berhati-hatilah dari *merasa cukup* setelah memiliki segalanya! Sebab tak satupun yang *dapat mencukupi* dalam hal kebaikan selain Allah dan tak satupun yang *dapat melindungi* dari hal yang buruk selain Allah ! 

Dan kebaikan hakiki adalah *Menjadi Hamba Allah* yang menjadikan *tha'at* sebagai panduan dan menjadikan *taqwa* jalan kehidupan, dan menjadikan *shabar dan sholat* sebagai penolong, dan menjadikan *syukur* sebagai peningkat dan *tawakkal* sebagai pencukup serta *ikhlash* sebagai pemurni dan pelembut hati.

Jika kita merujuk pada dalil-dalil Al-Qur'an, sifat-sifat yang Anda sebutkan memiliki kedudukan yang sangat fundamental sebagai pilar kehidupan seorang mukmin:

*1. Tha'at (Ketaatan) sebagai Panduan*

Ketaatan bukan sekadar rutinitas, melainkan  *standar kebenaran.* Allah memerintahkan ketaatan mutlak kepada-Nya dan Rasul-Nya sebagai otoritas tertinggi dalam mengambil keputusan hidup.

Dalil:  _"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu..._" QS. An-Nisa: 59. 

*2. Taqwa sebagai Jalan (Bekal) Kehidupan

Dalam Al-Qur'an, takwa disebut sebagai *"sebaik-baik bekal"*. Ia adalah navigasi yang menjaga hamba agar tetap berada di jalur yang benar selama menempuh perjalanan dunia menuju akhirat. 

Dalil: "..._Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..."_ QS. Al-Baqarah: 197. 

*3. Sabar dan Sholat sebagai Penolong

Sabar seringkali dipasangkan dengan shalat sebagai kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai ujian hidup yang berat. 

Dalil: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." QS. Al-Baqarah: 45


*4. Syukur sebagai Peningkat (Akselerator)

Syukur adalah kunci "investasi" langit. Allah menjanjikan tambahan nikmat yang berlipat ganda bagi mereka yang mau mengakuinya dengan hati, lisan, dan amal. 

Dalil: _"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu..."_ QS. Ibrahim: 7.  

*5. Tawakkal sebagai Pencukup

Saat seorang hamba sudah menyerahkan segala urusannya kepada Allah setelah berikhtiar, maka Allah sendiri yang akan mengambil alih segala kebutuhannya. 

Dalil:  _"...Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."_  QS. At-Talaq: 3. 

*6. Ikhlash sebagai Pemurni (Pelembut) Hati* Meskipun kata "pelembut" adalah metafora yang indah, dalam Al-Qur'an ikhlash adalah syarat diterimanya amal dan perlindungan dari godaan syethan. Hati yang ikhlas akan menjadi lembut karena hanya terisi oleh keridaan Allah, bukan keras karena ego atau riya. 

Prinsip: Ketaatan yang murni hanya untuk Allah QS. Al-Bayyinah : 5 menjadikan jiwa tenang dan hati tidak mudah goyah oleh pujian atau cercaan manusia.  

Dalam Al-Qur'an, Taqwa bukan sekadar *"rasa takut", melainkan sebuah sistem navigasi spiritual yang memiliki fungsi sangat krusial bagi kehidupan seorang hamba. Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an, takwa berfungsi sebagai:

*1. Furqan (Pembeda & Kompas Moral)*  Takwa berfungsi sebagai _kecerdasan spiritual_ yang memungkinkan seseorang membedakan antara kebenaran (haqq) dan kebatilan (bathil), terutama di situasi yang abu-abu. Dalil: _"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu..."_  QS. Al-Anfal: 29. 

*2. Makhraja (Pemberi Jalan Keluar).*  Dalam dinamika kehidupan, takwa adalah "kunci" yang membukakan pintu-pintu solusi dari arah yang mustahil secara logika manusia. 

Dalil: _"...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar (makhraja) baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya..."_ QS. At-Talaq: 2-3

*3. Libas (Pakaian Pelindung)

Al-Qur'an mengibaratkan takwa sebagai pakaian. Fungsinya adalah menutupi "aurat" (kekurangan/aib) jiwa dan melindungi manusia dari pengaruh buruk lingkungan maupun hawa nafsu. 

Dalil: "...Tetapi pakaian takwa (libasut taqwa), itulah yang paling baik..." QS. Al-A'raf: 26. 

*4. Yusr (Pemberi Kemudahan Urusan)* 

Takwa berfungsi sebagai pelancar dalam setiap urusan. Allah menjanjikan bahwa bagi mereka yang menjaga takwanya, hambatan-hambatan hidup akan terasa lebih ringan. 

Dalil: "...Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan (yusra) baginya dalam urusannya." QS. At-Talaq: 4

*5. Mi'yar (Standar Kemuliaan)* 

Di pandangan Allah, takwa adalah satu-satunya alat ukur (standard) kemuliaan manusia, meniadakan sekat kasta, harta, maupun jabatan.  

Dalil: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa..." QS. Al-Hujurat: 13

Jika diibaratkan, ketaatan adalah bahan bakarnya, sedangkan takwa adalah perisai dan kompasnya. Tanpa takwa, seseorang bisa terus berjalan (taat secara lahiriah), namun rentan tertusuk "duri" fitnah dunia karena kehilangan kewaspadaan.  

Membangun benteng takwa di tengah dunia yang penuh distraksi membutuhkan strategi yang praktis namun konsisten. Berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur'an, berikut adalah langkah-langkah untuk menjadikannya "perisai" dalam keseharian.

*1. Muraqabah (Menghadirkan Rasa Diawasi)*  Takwa adalah kewaspadaan. Langkah pertama adalah *melatih kesadaran* bahwa _Allah menyaksikan setiap lintasan pikiran dan gerak-gerik kita, bahkan saat sendirian._ Bertanya pada diri sendiri sejenak:  *"Apakah langkah yang saya ambil ini diridhai-Nya?"*

*2. Tafakkur & Al-Qur'an sebagai Navigasi*  Menjadikan Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tapi *rujukan petunjuk kehidupan* saat menghadapi dilema moral. Menghadapi masalah, urusan apapun tegakkan prinsip Al Qur'an misalkan kejujuran dalam bisnis, kesabaran dalam keluarga). 

*3. Suhbah (Lingkungan yang Mendukung)*  Takwa sangat sulit dijaga sendirian. Al-Qur'an memerintahkan kita untuk bersama orang-orang yang jujur dan benar agar "frekuensi" takwa kita terjaga. Energi positif dari orang lain yang baik dan benar yaitu para sholih sangat mempengaruhi positif kedalam jiwa. *4. Muhasabah (Evaluasi Berkala).*  Takwa tumbuh melalui evaluasi. Sebelum tidur, tinjau kembali "catatan perjalanan" hari itu. *Pagi:* Niatkan setiap aktivitas sebagai bentuk Tha'at. *Siang:* Gunakan Shabar saat lelah dan Syukur saat mendapat kemudahan. *Malam:* Akui kesalahan dan bersihkan hati dengan Ikhlash.

*5. Membangun Kewaspadaan Dini*  Dalam Al-Qur'an, orang bertakwa adalah mereka yang segera sadar saat syethan menyentuh hatinya (QS. Al-A'raf: 201).  Jika hati mulai merasa angkuh atau iri, segera *"reset (takholli)"* dengan dzikir. Ini adalah fungsi takwa sebagai perisai instan.

*Ringkasannya* Takwa _bukan tentang menjadi sempurna tanpa dosa,_ tapi tentang *seberapa cepat kita kembali ke jalur yang benar* setiap kali kita mulai melenceng.

Selasa, 20 Januari 2026

JINN TAMPAK DAN TAK TAMPAK (Diambil dari pelbagai sumber)

Berdasarkan ajaran Islam, jin (termasuk setan dan iblis) pada dasarnya adalah makhluk gaib yang tidak nampak oleh mata manusia dalam wujud aslinya sejak awal penciptaan manusia. 

Berikut adalah rincian mengenai fenomena ini:

Sejak Penciptaan Adam: Jin dan setan diciptakan sebelum manusia dari api yang bergolak, dan mereka berada di alam yang berbeda, sehingga wujud asli mereka tidak bisa dilihat manusia biasa.

Permohonan Nabi Syits AS: Salah satu riwayat menyebutkan bahwa interaksi langsung antara jin dan manusia mulai terpisah dan terbatas setelah permohonan Nabi Syits AS kepada Allah SWT.

Wujud Asli vs Penjelmaan: Manusia secara umum tidak mampu melihat wujud asli jin. Setan/jin hanya bisa dilihat manusia ketika mereka menjelma (menyerupai) menjadi manusia atau hewan.

Interaksi di Masa Rasulullah: Meskipun sudah jarang, pada masa Rasulullah SAW, setan pernah terlihat dalam bentuk penjelmaan (misalnya dalam kisah-kisah di hadits Shahih Bukhari).

Dasar Al-Qur'an: Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam QS. Al-A'raf ayat 27, yang menjelaskan bahwa jin dan pengikutnya melihat manusia dari tempat yang manusia tidak bisa melihat mereka. 

Jadi, setan tak nampak dalam wujud aslinya kepada manusia sejak awal penciptaan, karena mereka adalah makhluk gaib. 

*

Mengapa Manusia Tidak Bisa Melihat Jin? Ini Kisahnya

CoreNews.id, Jakata – Kisah Nabi Syits, sebagai nabi kedua setelah Adam AS, memiliki potensi untuk menjadi kisah inspiratif bagi umat Islam. Beliau adalah putra dari Nabi Adam AS dan Hawa, yang melanjutkan kenabian di dunia setelah ayahnya.

Dapat dikatakan bahwa Nabi Syits menempati posisi sebagai nabi kedua setelah Nabi Adam AS. Beliau juga berperan sebagai guru bagi Nabi Idris AS, yang pertama kali memperkenalkan ilmu baca-tulis, ilmu falak, seni menjinakkan kuda, dan berbagai pengetahuan lainnya.

Dalam kisah, Nabi Syits diceritakan mempunyai risalah yang menyebabkan pisahnya alam manusia dan jin. Penasaran seperti apa kisah lengkapnya, yuk simak!

Nabi Syits mempunyai risalah memisahkan dunia manusia dan dunia jin. Berkat Risalah beliau, Allah kemudian memisahkan alam manusia dengan alam jin.

Sebelum Syits bertugas, dahulu masih bisa dilihat jin atau syaitan yang berkeliaran. Jarak mereka dengan manusia tidak ada. Belakangan Adam telah diperlihatkan jumlah manusia angka keturunannya yang bertambah.

Kemudian Nabi Adam AS berdoa semoga ada di antara anaknya yang melanjutkan risalah. Kemudian, terpilihlah di antara anaknya yakni Syits menjadi orang yang menutup pandangan manusia melihat jin.

Nabi Syits diizinkan oleh Allah mendapatkan wasilah dari Nabi Adam. Hal ini tak Nabi Adam sampaikan kepada Qabil. Secara diam-diam Syits diajarkan Nabi Adam mengenai ilmu rahasia itu. Syits kemudian bergerak dan berdakwah di berbagai pulau.

*


Jinn

Artikel ini berisi tentang konsep jin yang berasal dari folklor Arab pra-Islam. Untuk gambaran Islam yang lebih luas, lihat Setan dalam Islam. Untuk makhluk gaib lain dalam budaya Islam, lihat Div (mitologi).

Beberapa istilah beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Jinni (disambiguasi)Jinn (disambiguasi)Djinn (disambiguasi), dan Genie (disambiguasi).

Jinn (Arab: جِنّ‎), juga diromanisasi sebagai djinn atau dianglikanisasi sebagai genies, adalah makhluk supernatural dalam agama Arab pra-Islam dan Islam.[1] Seperti manusia, jin bertanggung jawab atas perbuatan mereka dan dapat menjadi orang-orang yang beriman (Mu'minun) atau orang-orang kafir (kuffar), bergantung pada apakah mereka menerima petunjuk Tuhan.

Jin
Makhluk misterius
Nama lain:
Djinn, jen, genies, Cin, Xhindi
Kelompok
Supernatural being

Karena jin tidak bersifat jahat secara bawaan maupun baik secara bawaan, Islam mengakui keberadaan makhluk-makhluk spiritual dari agama-agama lain dan dapat mengadaptasinya selama ekspansinya. Dengan demikian, jin bukanlah konsep yang secara ketat hanya terdapat dalam Islam; mereka dapat merepresentasikan berbagai kepercayaan pagan yang diintegrasikan ke dalam Islam.[2][a] Islam menempatkan jin dan manusia pada kedudukan yang sejajar dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan keduanya sama-sama tunduk pada pengadilan Ilahi dan kehidupan akhirat.[4] Al-Qur’an mengecam praktik masyarakat Arab pra-Islam pada masa Jahiliyyah yang menyembah atau meminta perlindungan kepada jin.[5]

Meskipun secara alami tidak terlihat, jin diyakini tersusun dari tubuh yang halus dan lembut (أَجْسَامajsām) dan memiliki kemampuan berubah wujud, biasanya memilih untuk menampakkan diri sebagai ular, tetapi juga sebagai kalajengking
kadal, atau manusia. Interaksi jin dengan manusia dapat bersifat negatif, positif, atau netral; dan dapat berkisar dari hubungan yang biasa hingga sangat intim, bahkan melibatkan aktivitas seksual dan menghasilkan keturunan hibrida. Namun, jin jarang mencampuri urusan manusia dan lebih memilih hidup di antara sesamanya dalam tatanan sosial yang mirip dengan suku-suku Arab. Apabila diganggu atau disakiti oleh manusia, mereka biasanya membalas dengan cara yang serupa, dengan interaksi paling ekstrem berupa kerasukan tubuh manusia, sehingga memerlukan pengusiran jin.

Jin individu muncul pada jimat dan azimat. Mereka dipanggil untuk perlindungan atau bantuan magis, sering kali di bawah kepemimpinan seorang raja. Banyak orang yang mempercayai jin mengenakan jimat untuk melindungi diri dari gangguan mereka, karena jin dapat dipanggil oleh penyihir atau dukun untuk mencelakai orang lain. Kepercayaan yang umum menyatakan bahwa jin tidak dapat menyakiti seseorang yang mengenakan benda bertuliskan nama Allah (الله, Allāh).
Kepercayaan dan praktik folkloris semacam ini, meskipun dahulu sangat umum di seluruh dunia Muslim, semakin banyak mendapat penolakan karena kaitannya dengan perbuatan syirik.

*

Kisah Nabi Syits AS dan Permohonan Pemisahan Dunia Jin dan Manusia

MUSLIMIDIA Home Kisah Nabi Kisah Nabi Syits AS dan Permohonan Pemisahan Dunia Jin dan Manusia Kisah Nabi Syits AS dan Permohonan Pemisahan Dunia Jin dan Manusia Nabi Syits AS adalah salah satu nabi awal dalam Islam, yang diutus oleh Allah SWT setelah wafatnya Nabi Adam AS. Namanya, yang berarti "hadiah" atau "pemberian," mencerminkan perannya sebagai penerus risalah setelah kejadian tragis terbunuhnya Habil oleh Qabil. Syits AS dipilih oleh Allah SWT untuk melanjutkan misi Nabi Adam AS, menjaga ajaran tauhid, dan mengarahkan umat manusia pada kehidupan yang benar di bawah perintah Allah. Namun, salah satu aspek menarik dari kisah Nabi Syits AS adalah permohonannya kepada Allah SWT untuk memisahkan dunia jin dan manusia. Keputusan ini bukanlah tanpa sebab, dan peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah manusia dan jin.

Dalam artikel ini, kita akan mendalami latar belakang serta alasan di balik permintaan pemisahan dunia jin dan manusia yang diajukan oleh Nabi Syits AS, serta dampak dari pemisahan tersebut. Interaksi Awal antara Jin dan Manusia.

Sebelum membahas permintaan pemisahan ini, penting untuk memahami bagaimana hubungan antara manusia dan jin di masa awal penciptaan. Jin diciptakan oleh Allah dari api sebelum penciptaan manusia, dan keduanya, baik jin maupun manusia, sama-sama memiliki kebebasan berkehendak untuk memilih jalan kebenaran atau kesesatan.

Jin terdiri dari dua golongan: jin yang saleh dan beriman kepada Allah, serta jin yang kafir dan menolak ajaran-Nya, termasuk golongan iblis.

Di masa Nabi Adam AS, terdapat interaksi yang lebih terbuka antara jin dan manusia. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada saat itu, manusia dan jin hidup berdampingan dan memiliki interaksi yang cukup dekat.

Jin memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki manusia, seperti kemampuan bergerak dengan cepat dan berubah bentuk, serta tak kasatmata oleh manusia. Namun, interaksi ini, meskipun pada awalnya seimbang, lambat laun membawa masalah besar.

Penyimpangan Keturunan Qabil dan Pengaruh Jin Setelah tragedi pembunuhan Habil oleh Qabil, keturunan Qabil mulai membentuk kelompok yang terpisah dari keturunan Syits AS. Keturunan Qabil dikenal karena menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Adam AS dan hidup dalam kehidupan yang penuh dengan penyimpangan moral serta keburukan. Jin-jin yang jahat, yang termasuk golongan iblis, melihat keturunan Qabil sebagai peluang untuk menyebarkan kerusakan di bumi. Mereka mulai memengaruhi keturunan Qabil dengan memperkenalkan berbagai bentuk kemaksiatan, seperti penyembahan berhala, musik yang menyesatkan, dan gaya hidup hedonis. 

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa keturunan Qabil mulai menggunakan pengaruh jin untuk tujuan-tujuan tertentu. Jin-jin yang jahat membisikan keinginan buruk, nafsu, dan kesenangan duniawi yang berlebihan kepada manusia. Akibatnya, keturunan Qabil semakin jauh dari ajaran tauhid dan hidup dalam dekadensi spiritual dan moral. Jin kafir, yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi pikiran dan perasaan manusia, mengambil keuntungan dari kelemahan spiritual manusia yang mulai terbuai oleh gemerlapnya dunia.


Kerusakan yang Terjadi karena Pengaruh Jin Pengaruh jin terhadap keturunan Qabil menciptakan kekacauan besar. Keturunan Syits AS, yang tetap teguh pada ajaran tauhid, mulai merasa terancam oleh penyimpangan yang terjadi di sekitar mereka. Ketika penyimpangan ini semakin meluas, banyak orang mulai terpengaruh oleh jin dan meninggalkan ajaran Syits AS. Keterbukaan antara dunia jin dan manusia memperparah masalah ini. Jin jahat mulai menyusup ke dalam kehidupan manusia, tidak hanya memengaruhi akhlak mereka tetapi juga merusak hubungan sosial dan spiritual yang sehat. Lebih buruk lagi, keturunan Qabil yang terpengaruh oleh jin mulai membentuk budaya yang penuh dengan ritual menyimpang dan kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran tauhid. Mereka mulai menyembah jin atau entitas gaib lainnya yang sebenarnya adalah jin yang menyamar, menjadikan jin sebagai dewa atau dewi dalam kehidupan mereka. Inilah awal dari penyebaran berhala dan ritual-ritual yang menyesatkan.


Permintaan Nabi Syits AS untuk Pemisahan Melihat kerusakan yang terjadi akibat pengaruh jin terhadap umat manusia, Nabi Syits AS, sebagai seorang nabi yang diberi amanah untuk menjaga keturunan Adam AS di jalan kebenaran, merasa perlu untuk mengambil tindakan. Ia menyadari bahwa interaksi yang terlalu dekat antara jin dan manusia membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Oleh karena itu, Nabi Syits AS memohon kepada Allah SWT untuk memisahkan dunia jin dan manusia agar umat manusia bisa terhindar dari godaan jin yang jahat. Alasan utama di balik permintaan ini adalah untuk menjaga keturunan manusia dari pengaruh destruktif jin.


Syits AS ingin memastikan bahwa umat manusia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Allah tanpa terganggu oleh bisikan dan pengaruh buruk dari jin.
Permohonan ini juga mencerminkan kepedulian Syits AS terhadap umatnya, karena sebagai nabi, tanggung jawab utama Syits AS adalah memimpin umatnya menuju keselamatan spiritual dan moral.


Pemisahan Dunia Jin dan Manusia oleh Allah SWT Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Syits AS dan memisahkan dunia jin dan manusia. Setelah pemisahan ini, interaksi antara jin dan manusia menjadi terbatas. Manusia tidak lagi dapat melihat jin secara langsung, kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Jin tidak lagi bisa dengan mudah masuk ke dalam kehidupan manusia dan memengaruhi mereka secara langsung. Meskipun jin masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi manusia melalui bisikan, seperti yang dilakukan oleh setan, tetapi pengaruh langsung mereka terhadap kehidupan fisik manusia berkurang drastis.


Pemisahan ini juga menandai awal dari pembatasan wilayah hidup antara manusia dan jin. Manusia diberi dunia fisik yang mereka tinggali, sementara jin memiliki dimensi atau alam mereka sendiri yang berbeda dari manusia. Pemisahan ini memungkinkan umat manusia untuk lebih fokus pada ibadah kepada Allah SWT dan menghindari pengaruh buruk jin dalam kehidupan sehari-hari.


Hikmah di Balik Pemisahan 

Dunia Jin dan Manusia Menghindari Pengaruh Buruk: Pemisahan dunia jin dan manusia membantu manusia terhindar dari pengaruh langsung jin jahat yang bisa merusak moral, akhlak, dan keimanan mereka. Meskipun jin masih bisa mempengaruhi manusia melalui bisikan, pemisahan ini mengurangi kemungkinan interaksi fisik atau nyata yang bisa membawa lebih banyak keburukan. Memberikan Kesempatan untuk Ibadah yang Lebih Baik: Dengan berkurangnya godaan langsung dari jin, manusia memiliki lebih banyak kesempatan untuk fokus pada ibadah kepada Allah dan menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan yang diperkenalkan oleh jin kafir. 

Pemisahan ini memungkinkan manusia untuk memperkuat spiritualitas mereka dan menjaga kesucian iman. Menjaga Keseimbangan Alam: Pemisahan antara jin dan manusia juga menciptakan keseimbangan alam yang lebih baik. Dengan hidup dalam dimensi yang berbeda, manusia dan jin tidak lagi saling mengganggu, dan masing-masing dapat menjalankan peran mereka sesuai dengan kehendak Allah. Penutup Kisah Nabi Syits AS dan permintaan pemisahan dunia jin dan manusia membawa banyak pelajaran penting. Syits AS menyadari bahaya besar yang ditimbulkan oleh interaksi terlalu dekat antara jin dan manusia, terutama dalam hal godaan spiritual dan moral. Dengan memohon kepada Allah SWT untuk memisahkan kedua dunia ini, Syits AS menunjukkan kepedulian besar terhadap umatnya dan keinginan untuk menjaga mereka di jalan yang benar. 

Pemisahan ini merupakan rahmat dari Allah SWT yang memungkinkan manusia untuk hidup lebih tenang, bebas dari pengaruh buruk jin, dan lebih fokus pada pengabdian kepada Sang Pencipta.

Sumber artikel : https://www.muslimidia.com/2024/10/kisah-nabi-syits-as-dan-permohonan.html?m=1

5 Penampakan Setan dalam Wujud Manusia di Masa Rasulullah SAW

 11/08/2024 21:08  ADMIN

JAKARTA, MUI.OR.ID- Di antara kemampuan yang dimiliki setan adalah menunjukkan penampakan dan menjelma bentuk ke makhluk lainya seperti manusia atau binatang.

Sejarah mencatat, penampakan setan dalam bentuk manusia pada masa Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:

Pertama, setan mendatangi Nabi SAW dengan membawa obor api untuk membakar wajah beliau dan mengganggu sholat beliau. Nabi SAW bersabda, "Aku melaknatmu dengan laknat Allah sebanyak tiga kali."Seandainya bukan karena seruan saudaranya, Sulaiman, niscaya beliau akan mengambil obor api tersebut lalu mengikatkannya di salah satu tiang masjid di Madinah." (HR Bukhari Abu Hurairah dan Abu Darda): Sumber: Shahih al-Bukhari | Nomor: 1210)

Kedua, setan menyamar sebagai seorang syekh terkemuka dari penduduk Najd, dan hadir di Dar al-Nadwa untuk bersepakat membunuh Nabi SAW pada Kamis, 26 Safar tahun ke-14 Hijriyah, bertepatan dengan 12 September 622 Masehi, yaitu sekitar dua setengah bulan setelah Fathu Makkah (Ibn Hisyam 1/480, 481, 482); (Al-Rahiq Al-Makhtum, 141-143).

Ketiga, kehadirannya di depan pintu rumah Nabi SAW untuk memberitahu orang-orang yang mengepungnya di dalam rumah beliau agar menyerang beliau dengan tebasan pedang satu eksekutor saja, dan ternyata beliau telah keluar; (Ibnu Hisyam 1/483, Zad al-Ma'ad 2/52, (al-Rahiq al-Makhtum 146).

Keempat, kemiripannya dengan Suraqah bin Malik bin Jasyim dengan kaum musyrikin pada Perang Badar pada tahun kedua Hijrah,Tafsir Al Qurthubi tentang firman-Nya:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS Al Anfal: 48).

Kelima, kehadirannya pada Perang Uhud di bulan Syawal tahun ketiga Hijriyah, ketika kaum musyrikin dikalahkan di awal peperangan, dan Iblis berteriak, yaitu teriakan yang kedua setelah teriakannya yang pertama di Baiat Al Aqabah, dengan mengatakan, "Wahai hamba-hamba Allah, saudara-saudaramu." Orang pertama dari mereka berbalik, dan dia dan orang terakhir mereka yang gugur.

Hudzaifah menengok ternyata adalah ayahnya, Al-Yaman, dia berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, ayahku ayahku, demi Allah, mereka tidak menahan diri sampai mereka membunuhnya." Rasulullah berkata, "Huzaifah, Allah telah mengampunimu." Urwah berkata, "Masih ada sisa-sisa kebaikan dalam diri Huzaifah hingga dia meninggal." (HR Bukhari dari Aisyah RA. Shahih al-Bukhari | No: 3290 | Khulashah Hukm al-Muhaddits: [Sahih] Bukhari (3290).

9 Persamaan Antara Manusia dan Jin, Apa Saja?

Oleh admin• Agustus 21, 2022• 3 Menit

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Dari segi etimologi, jin berasal dari kata “janna-yajunnu” yang artinya menutupi, menyembunyikan, menjadi gelap, atau merahasiakan. Jin berarti yang tersembunyi, terhalang dan tertutup. Disebut jin, karena makhluk ini terhalang dari pandangan alias tidak dapat dilihat.

Menurut Muchammad Ichsan dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (07/10/2020) menyebutkan bahwa meski tak kasat mata, berdasarkan keterangan Al Quran dan Hadis terdapat beberapa persamaan antara manusia dan jin, di antaranya:


1. Jin dan manusia sama-sama hidup di muka bumi ini meskipun berbeda alam.

Alam jin adalah alam yang berdiri sendiri, ia terpisah dan berbeda dengan alam manusia namun keduanya hidup dalam dunia yang sama, kadang tinggal dalam rumah yang dibangun atau didiami manusia.


2. Jin dan manusia sama-sama diciptakan Allah.

Menurut banyak riwayat bangsa jin sudah lebih dulu diciptakan sebelum manusia, jadi jumlah bangsa jin diperkirakan lebih banyak dari pada manusia. Allah berfirman: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 27).


3. Jin dan manusia sama-sama tidak kekal, alias akan mati sesuai ajal masing-masing. Yang dijamin hidup sampai kiamat hanyalah Iblis.


4. Jin dan manusia sama-sama makan, minum, berjenis kelamin, mempunyai hawa nafsu, berketurunan.

Mereka sama-sama berkeluarga, berkelompok dan berbangsa-bangsa. Hal ini berdasarkan hadis Dari Ibnu Mas’ud RA. [diriwayatkan] bahwa para jin datang kepada Nabi SAW. dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Nabi SAW. bersabda kepada mereka: “Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim). Dalam Al Quran disebutkan: “Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripadaKu, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi: 50).


5. Jin selalu membersamai manusia.

Hal ini sebagaimana dalam hadis: Dari Ibnu Mas’ud RA. [diriwayatkan] berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak seorang pun diantara kalian kecuali bersamanya ada qarinnya dari Jin. Para sahabat bertanya: ‘Engkau juga wahai Rasulullah? jawab Rasulullah: “Saya juga demikian, tetapi Allah telah menolong saya mengatasinya sehingga saya selamat, maka ia tidak menyuruhku kecuali kepada yang baik.’” (HR. Muslim).

6. Jin dan manusia sama-sama diciptakan oleh Allah dan mempunyai taklif atau beban untuk menyembah-Nya.

Allah berfirman: “Telah Ku ciptakan jin dan manusia, hanya untuk menyembahKu.” (QS. adz-Dzariat: 56).


7. Jin dan manusia mempunyai akal dan nafsu.

Karena itulah, ada jin dan manusia yang mukmin dan ada yang kafir, ada yang taat ada pula yang suka maksiat, ada yang pintar dan ada pula yang bodoh. Dalam Al Quran diterangkan: “Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an), yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami” (QS. Al-Jinn: 1-2).

Di ayat lain disebutkan: “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al-Jin: 14).


8. Jin dan manusia sama-sama mempunyai Rasul.

Allah berfirman: “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. AlAn’am: 130).


9. Jin dan manusia mempunyai hati, mata dan telinga.

Dalam Al Quran disebutkan: “Sungguh Kami jadikan kebanyakan jin dan manusia sebagai penghuni jahanam, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah makhluk yang lalai.” (al-A’raf: 179). Terkait apakah hati, mata, dan telinga jin persis sama seperti manusia atau tidak, wallahu a’lam.



****

***

**